Agustus 2003. Keramaian seperti ini mengembalikan ingatanku pada keramaian yang sama, satu tahun yang lalu. Ospek. Penyambutan mahasiswa baru.
Aku berjalan sembari menangkap semua kenangan setahun yang lalu. Saat aku masih menjadi salah satu dari mahasiswa baru. Lugu. Bangun pagi-pagi agar tidak terlambat. Mengerjakan tugas yang diberikan para senior agar tidak terkena hukuman. Berkenalan dengan teman-teman baru dari berbagai macam latar belakang dan budaya. Jatuh suka pada pemandu ospek di kelompokku. Cemburu pada temanku yang cantik.
Senyum tipis mengembang di bibirku saat mengingat itu semua. Kini aku di sini bukan sebagai mahasiswa tertindas. Bukan sebagai senior yang menindas. Dan bukan pula sebagai penolong para mahasiswa baru itu.
Kubaca-baca kembali lembar pendaftaran yang telah kuterima. Aku lupa, apakah setahun yang lalu aku juga pernah mengisi blangko seperti ini. Waktu itu, ruangan yang kami gunakan bukanlah ruangan yang saat ini kami tempati. Ironisnya, dulu kami harus menumpang dan berbagi ruang dengan organisasi lain.
Namun, kini kondisinya sudah jauh lebih baik. Kami telah memiliki ruangan sendiri. Beberapa kegiatan sudah kami lakukan untuk mengangkat eksistensi kami. Kuakui, semua itu tak luput dari upaya Totok untuk menghidupkan organisasi ini. Meskipun tak sepenuhnya atas upayanya, tapi semangatnya dalam berorganisasi selalu ia sebarkan pada seluruh anggota lainnya. Termasuk pula aku. Menjalani kegiatan bersamanya tampak sangat mudah kulalui.
Ah, azan dzuhur sudah berkumandang. Saatnya rehat sejenak dan meluangkan waktu untuk menyembah Sang Pemberi Hidup. Kutaruh kembali lembaran-lembaran pendaftaran ke tumpukan lembaran lainnya. Kulangkahkan kaki perlahan menuju musholla. Beberapa kali aku berpapasan dengan para mahasiswa baru. Mereka mengenakan pakaian hitam-putih dan topi khas warna-warni, membuat mereka tampak begitu lucu. Mungkin begitu pula aku setahun yang lalu.
Aku berjalan melintasi gedung tata usaha. Kupandangi sekeliling. Pikiranku kembali melayang pada tahun lalu. Aku sempat iri pada seorang gadis di kelompokku yang digemari karena kecantikannya. Saat dia dekat dengan orang yang kutaksir, panas rasanya dada ini.
Senyum tipis mengembang di bibirku saat mengingat itu semua. Kini aku di sini bukan sebagai mahasiswa tertindas. Bukan sebagai senior yang menindas. Dan bukan pula sebagai penolong para mahasiswa baru itu.
Kubaca-baca kembali lembar pendaftaran yang telah kuterima. Aku lupa, apakah setahun yang lalu aku juga pernah mengisi blangko seperti ini. Waktu itu, ruangan yang kami gunakan bukanlah ruangan yang saat ini kami tempati. Ironisnya, dulu kami harus menumpang dan berbagi ruang dengan organisasi lain.
Namun, kini kondisinya sudah jauh lebih baik. Kami telah memiliki ruangan sendiri. Beberapa kegiatan sudah kami lakukan untuk mengangkat eksistensi kami. Kuakui, semua itu tak luput dari upaya Totok untuk menghidupkan organisasi ini. Meskipun tak sepenuhnya atas upayanya, tapi semangatnya dalam berorganisasi selalu ia sebarkan pada seluruh anggota lainnya. Termasuk pula aku. Menjalani kegiatan bersamanya tampak sangat mudah kulalui.
Ah, azan dzuhur sudah berkumandang. Saatnya rehat sejenak dan meluangkan waktu untuk menyembah Sang Pemberi Hidup. Kutaruh kembali lembaran-lembaran pendaftaran ke tumpukan lembaran lainnya. Kulangkahkan kaki perlahan menuju musholla. Beberapa kali aku berpapasan dengan para mahasiswa baru. Mereka mengenakan pakaian hitam-putih dan topi khas warna-warni, membuat mereka tampak begitu lucu. Mungkin begitu pula aku setahun yang lalu.
Aku berjalan melintasi gedung tata usaha. Kupandangi sekeliling. Pikiranku kembali melayang pada tahun lalu. Aku sempat iri pada seorang gadis di kelompokku yang digemari karena kecantikannya. Saat dia dekat dengan orang yang kutaksir, panas rasanya dada ini.
Ya.. seperti kisah klasik di setiap ospek, setiap mahasiswi baru pasti sempat menaruh hati pada seseorang. Entah itu mahasiswa baru yang lain, senior, atau para pemandu ospek. Dan begitu pula aku. Saat itu aku sempat naksir pemandu ospek di kelompokku. Aku kembali tersenyum. Rasanya geli mengingatnya kembali.
Saat ini, Totok menjadi salah satu pemandu ospek mahasiswa-mahasiswi baru. Ia tak pernah terlihat di ruangan LP selama pendaftaran peserta dibuka. Apakah dia sudah mendapatkan penggemar seperti aku menggemari pemandu ospekku dulu? Kalau iya, mungkin aku juga akan cemburu.
Saat ini, Totok menjadi salah satu pemandu ospek mahasiswa-mahasiswi baru. Ia tak pernah terlihat di ruangan LP selama pendaftaran peserta dibuka. Apakah dia sudah mendapatkan penggemar seperti aku menggemari pemandu ospekku dulu? Kalau iya, mungkin aku juga akan cemburu.
Akhir-akhir ini aku mulai merasakan perasaan yang berbeda terhadap Totok. Aku mulai suka padanya. Bukan hanya sekedar naksir, tapi benar-benar suka. Suatu hal yang jarang atau bahkan belum pernah kuakui sebelumnya. Dulu, setiap aku suka pada seseorang, hatiku selalu menyangkal. Namun kali ini, kutahu persis isi hatiku. Aku suka padanya.
Lorong musholla tampak begitu padat. Beberapa mahasiswa baru ikut menggunakan musholla Jurusan Teknik. Saat itulah, aku berpapasan dengan Totok. Ia juga sedang menuju ke musholla. Senyumku mengembang. Kusapa dia, dan diapun menyapaku. Sedikit pembicaraan yang kami ungkapkan, lalu kami kembali berjalan menuju musholla. Ia berjalan beberapa langkah di depanku. Dan dari sanalah aku dapat menatapnya dari belakang. Ia tidak akan menyadari bahwa aku tengah mengagumi tubuhnya sambil berjalan. Aku hanya bisa tersenyum mentertawakan diriku sendiri.
Apa yang bisa diharapkan dari seorang gadis yang tengah jatuh cinta? Menjadi pacarnya? Sejumlah pertanyaan menyerbu batinku.
Ah, tidak. Tidak pernah terpikirkan sekalipun menjadi pendampingnya. Bahkan untuk memikirkan dia juga suka padaku pun, aku tak berani. Dengan segudang teman yang ia miliki, pasti ia telah memiliki setidaknya satu tambatan di hatinya. Dan itu pasti bukan aku.
Namun, aku tetap menyimpan perasaan ini untuk sekian lama. Di balik semua gejolak penolakan dalam diriku, aku tetap bertahan pada rasa sukaku padanya.
Menyukainya adalah suatu hal yang berbeda. Indah, sekaligus menyakitkan. Membuatku mampu melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan. Membuatku ingin merasakan apa yang ia rasakan. Membuatku ingin menghiburnya saat ia sedih. Membuatku ingin selalu ada untuknya.
Namun, aku tetap menyimpan perasaan ini untuk sekian lama. Di balik semua gejolak penolakan dalam diriku, aku tetap bertahan pada rasa sukaku padanya.
Menyukainya adalah suatu hal yang berbeda. Indah, sekaligus menyakitkan. Membuatku mampu melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan. Membuatku ingin merasakan apa yang ia rasakan. Membuatku ingin menghiburnya saat ia sedih. Membuatku ingin selalu ada untuknya.