February 27, 2017

Piece of My Heart ~ Season 2 ~ Ch 10

<<prev part   next part >>

2004. "Minggu depan Ernie datang ke Jogja," katanya padaku.

Ernie. Aku pernah dengar kisahnya tentang Ernie. Dia pernah dekat dengan cewek ini semasa SMA. Dan ketika di bangku kuliah, sempat beberapa kali Totok mencoba menjalin komunikasi dengannya. Kesan yang kutangkap adalah, mereka pernah saling suka. Hanya saja Totok tidak pernah berani mengungkapkannya, and Ernie is playing hard-to-get.

"Rencananya mau aku ajak jalan bareng ke Pantai Sundak," lanjutnya.

Kami pun berdebat tentang rencananya ini. But he win his argument.

"Kasihan udah jauh-jauh datang dari Surabaya ke Jogja. Gapapa, nanti juga kan jalannya bareng sama kamu, sama anak-anak juga. Coba bayangin misalnya kamu ada di posisi dia. Dia itu jarang-jarang lho dibolehin sama keluarganya jalan sendirian kayak gini."

He's always being a gentleman. This time I hate it.

"Tenang aja, dia bukan apa-apa. Udah kuanggap adik. Nanti juga toh aku kenalin ke dia, kalo kamu itu calonku. Jadi nggak usah khawatir."

I. Hate. This.

Kenapa sih dia harus pake ngajak Ernie jalan. Ke Sundak lagi. Bagiku, Sundak adalah milik kami. Geng Piramida. Geng dimana aku, Totok dan kedelapan orang yang lain, bergabung buat sekedar ngumpul-ngumpul, ngegosip, belajar, bikin contekan, nyari duit, dan ngabisin duit hasil keringat kita sendiri.

Kenapa sih dia nggak bisa bilang gini "Maaf, aku udah punya calon, dan aku nggak mau nyakitin hatinya dengan jalan dengan kamu"

Dan kenapa aku setuju aja?

Entahlah. Kurasa aku hanya takut mengkonfrontasi keputusannya, takut dianggap kekanak-kanakan, takut dianggap over reacting, takut kehilangannya.

~~

Pagi ini adalah pagi yang aneh. Kami, geng piramida, bakalan jalan-jalan lagi ke Sundak. Tapi bukan senang yang kurasakan. Bagaimana tidak, kali ini aku naik motor boncengan sama Mirna. Dan Totok, dia boncengin siapa lagi kalo bukan Ernie. Katanya, hanya dia yang Ernie kenal di sini. Ngeselin banget kan.

Aku sebel, dia selalu sembunyi di balik jubah Gentleman dan mengatas-namakan kasihan.

Dan aku yakin, kali ini aku nggak akan bisa menikmati perjalananku ke Sundak. Entah apa yang dibicarakan anak-anak tentang situasi ini. Aku yakin mereka membicarakanku dan mencemooh keputusan Totok. Aku pun tak peduli. Aku hanya berdoa, semoga aku sanggup melalui hari ini dengan tegar dan tanpa rasa kecewa. Yang bisa kulakukan hanyalah menunjukkan senyumku pada mereka, meskipun aku tahu mereka melihat sebersit kecemasan di wajahku.

Sepanjang perjalanan, tiba-tiba aku menjadi sosok yang pendiam. Yang ada di benakku hanya, bagaimana nanti aku harus menghadapi sosok Ernie.

Satu persatu lokasi kami kunjungi, gugusan pantai yang telah berkali-kali kuinjakkan kaki di atasnya. Namun kali ini bagiku bagaikan berada di tempat yang asing. Tak sedetikpun aku menikmati perjalanan ini.

Melihat Ernie yang selalu berada di dekat Totok. Ya, hatiku sakit. Namun betapa pahitnya yang kurasakan, aku hanya bisa tersenyum.

Salah seorang dari geng piramida datang menghampiriku dan menepuk pundakku "Sabar ya, Tih."
Hampir saja aku menangis. Namun tidak. Tidak kali ini. Tidak di depan semuanya.

Satu hal yang pasti, i know he'll keep his promises, so i won't give up. Banyak hal yang telah kualami untuk mendapatkannya. Hatiku tak akan lelah mencintainya. And this won't stop me from loving him.