Sekarang, lagi di mobil sambil dengerin lagunya Sixpence None the Richer: There She Goes. Bengong, jadi inget bulu tangkis tadi pagi..
Baru pertama tanding, lawannya udah bu lisma. Alhasil, kalah telak 3-30. Wuiss, itu tanding apa tanding?? Jam terbang rendah, kurang konsentrasi, kurang koordinasi, itu yg buat duet Lini-Nana kalah telah dari duet Lisma-Dina.
Tapi pertandingan masih panjang. Kata nana: masih ada kesempatan untuk juara 1. Hehe.. Like the spirit, sist. Tapi di pertandingan berikutnya, cerewetnya dikurangin ya!
February 27, 2009
February 21, 2009
Songs of my life - Yaasin
Saat itu pertengahan bulan Agustus 1996. Seminggu semenjak tanggal 17 Agustus 1996, di Sragen, pada malam harinya sering terdengar bacaan surah Yaasin yang dilantunkan oleh para tetangga. Bapak, telah almarhum.
Bapak terlahir di Solo, namun dimakamkan di Sragen. Tak ada saudara di sana, hanya keluarga dari Mama. Mama bilang, sebelumnya Bapak pernah bilang ingin sekali tidur di Sragen. Dan begitulah Mama mengartikannya.
Sebulan, dua bulan dan beberapa bulan seterusnya, tiap Kamis malam, sering Mama, saya, Mas Bayu dan Mas Hendro berkumpul untuk membaca Yaasin dan berdoa bersama. Entah sejak kapan, rutinitas itu mulai ditinggalkan. Digantikan dengan cara yang lebih sederhana: Berdoa masing-masing setelah sholat, dan tidak perlu mambaca Yaasin.
Lebih efektif kurasa, karena yang lebih penting bukanlah Yaasin-nya, tapi doa-nya
Bapak terlahir di Solo, namun dimakamkan di Sragen. Tak ada saudara di sana, hanya keluarga dari Mama. Mama bilang, sebelumnya Bapak pernah bilang ingin sekali tidur di Sragen. Dan begitulah Mama mengartikannya.
Sebulan, dua bulan dan beberapa bulan seterusnya, tiap Kamis malam, sering Mama, saya, Mas Bayu dan Mas Hendro berkumpul untuk membaca Yaasin dan berdoa bersama. Entah sejak kapan, rutinitas itu mulai ditinggalkan. Digantikan dengan cara yang lebih sederhana: Berdoa masing-masing setelah sholat, dan tidak perlu mambaca Yaasin.
Lebih efektif kurasa, karena yang lebih penting bukanlah Yaasin-nya, tapi doa-nya
February 19, 2009
Nap Time
Waktu umur 8 tahun, aku ingat, saat mama hendak kembali ke kantor dan meninggalkanku di rumah, ia membuatkanku “tempat tidur” yang nyaman di atas lantai. Selembar selimut tebal sebagai alas, satu bantal di bawah kepalaku dan dua guling di samping kanan dan kiriku.
Tak lupa ia menyalakan kipas angin. Pontianak adalah kota yang panas, sehingga kipas angin menjadi teman yang setia di siang hari.
Aku berbaring di lantai. Memandang mama. Ia berjalan menuju meja buffet dan memasukkan sebuah kaset ke dalam tape. Tak berapa lama terdengar musik riang dari speaker tape. Entah berapa lagu yang kudengar hingga kuterlelap. Satu lagu yang kuingat: Satu Satu Aku Sayang Ibu
Tak lupa ia menyalakan kipas angin. Pontianak adalah kota yang panas, sehingga kipas angin menjadi teman yang setia di siang hari.
Aku berbaring di lantai. Memandang mama. Ia berjalan menuju meja buffet dan memasukkan sebuah kaset ke dalam tape. Tak berapa lama terdengar musik riang dari speaker tape. Entah berapa lagu yang kudengar hingga kuterlelap. Satu lagu yang kuingat: Satu Satu Aku Sayang Ibu
February 16, 2009
Songs of my life - Memandang Alam
Waktu SD, masih sering diajari menyanyi sama guru-guru. Aku ingat, saat ikut kemah sabtu-minggu. Aku dan teman-teman terpaksa diinapkan di Ruang Serbaguna Masjid Mujahiddin. Malam itu, sedang hujan deras di luar.
Seorang guru berdiri di tengah ruangan dan berusaha mengisi kekosongan dengan mengajak anak-anak bernyanyi. Ada satu lagu yang kebanyakan anak belum tahu, sehingga sang guru harus mengajarkannya kepada anak-anak: " Memandang alam dari atas bukit, sejauh pandang kulepaskan...."
Aku telah hapal lagu ini dan mengikuti setiap lirik yang diajarkan oleh sang guru. Seorang teman bertanya kepadaku:
"Kau tau ke lagu ni?"
"Iye lah, mamakku yang ngajar"
Seorang guru berdiri di tengah ruangan dan berusaha mengisi kekosongan dengan mengajak anak-anak bernyanyi. Ada satu lagu yang kebanyakan anak belum tahu, sehingga sang guru harus mengajarkannya kepada anak-anak: " Memandang alam dari atas bukit, sejauh pandang kulepaskan...."
Aku telah hapal lagu ini dan mengikuti setiap lirik yang diajarkan oleh sang guru. Seorang teman bertanya kepadaku:
"Kau tau ke lagu ni?"
"Iye lah, mamakku yang ngajar"
February 01, 2009
Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 9
<<prev part next part >>
13 Mei 2004. Inilah saatnya. Bilik-bilik pencoblosan telah disiapkan. Lobi kampus tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dari berbagai angkatan telah berkumpul untuk melakukan pencoblosan. Satu demi satu, para mahasiswa memasuki bilik dan memberikan suaranya. Tak terkecuali aku.
13 Mei 2004. Inilah saatnya. Bilik-bilik pencoblosan telah disiapkan. Lobi kampus tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dari berbagai angkatan telah berkumpul untuk melakukan pencoblosan. Satu demi satu, para mahasiswa memasuki bilik dan memberikan suaranya. Tak terkecuali aku.
Kubuka dompetku dan kusiapkan kartu mahasiswa. Kutunjukkan kartu itu pada panitia dan aku pun dipersilakan masuk ke dalam bilik. Aku tersenyum melihat kertas yang kupegang. Di dalamnya ada pria yang kusuka sejak lama. Dan dinding-dinding kampus mungkin sudah tahu gambar mana yang akan kucoblos. Segera setelah aku melihat gambarnya. Kucobloskan paku yang ada di atas gambarnya. Lalu kulipat lagi lembar itu.
Hari ini terasa lebih panas dari biasanya. Sinar matahari tampak menembus di balik kaca. Mencari celah-celah yang ingin ia lelehkan. Rasanya enggan menapakkan kaki ke luar gedung ini. Aku teringat dengan Totok. Dimanakah dia saat ini? Kulihat sekelilingku namun aku tak dapat melihat sosoknya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Totok.
“Makan yuk. Aku di ruang”
Aku tersenyum. Dia baik-baik saja. Tanpa pikir panjang, kulangkahkan kakiku keluar ruangan. Melintasi gedung tata usaha. Matahari yang terik sudah terasa tak begitu terik lagi bagiku. Aku hanya ingin segera sampai di ruang.
~~
Hari itu. Di hari yang panas. Sekali lagi kami berkendara mengitari kota. Saat itu aku
teringat akan memori di sebuah warung mie ayam. Dan kami mulai melakukan perjalanan dari utara ke selatan hanya untuk memakan mie ayam kesukaanku.
Mie Ayam Pak Kelik. Lokasinya tidak jauh dari SMA-ku. Memakan mie ayam di sini membangkitkan ingatanku di masa-masa SMA dulu. Masa dimana aku belum mengerti artinya cinta.
Di sana ia bercerita tentang banyak hal. Tentang kehidupannya, keluarganya, mimpi-mimpinya. Beberapa kali mata kami saling bertatapan. Dan selama itu pulalah jantungku terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku merasakan bahwa kedekatan kami saat ini, lebih dari sekedar teman.
~~
Malam telah datang. Hasilnya telah diumumkan. Dan dia kalah. Napasku sedikit tercekat saat mendengarnya. Lalu bagaimana dengan Totok? Apakah ia akan merasa begitu kecewa degan hasil ini?
Kuraih ponselku. Selama beberapa saat kupandangi susunan huruf di atas keypad. Aku bingung harus bilang apa untuk menghiburnya. Lalu kata-kata inilah yang keluar.
“Sabar ya Tok. Tenang aja, aku akan selalu ada buat kamu”
Entah apa yang ada di benaknya saat ia menerima pesan dariku. Beberapa menit kemudian datanglah pesan balasan.
“Makasih ya Tih. InsyaAllah aku ga akan buat kamu kecewa”
Kupandangi ponselku beberapa lama. Kubaca kembali kata per kata pesan darinya. Aku tidak begitu mengerti maksud dari kalimat yang tersebut.
~~
Ya, cinta memiliki caranya yang aneh. Aku bahkan tak tahu kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta padanya dan kapan kami mulai menjalin hubungan. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa prasangka dan tanpa rencana. Dan ya, dengan caranya yang seperti ini pulalah yang membuatku untuk melihatnya dari sisi yang berbeda dan menerimanya apa adanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)