October 08, 2011

Road to our little – Step 4 – HSG

Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.

Tes HSG ( HisteroSalfingoGrafi). Ada yang bilang ditiup/tiup rahim, ada juga yang bilang rontgen rahim. Awalnya sih saya nggak ngerti apa dan bagaimana tes HSG ini. Tapi setelah browsing-browsing di inet, menemukan artikel ini:

Pada pasangan yang infertil (tidak subur), sering dilakukan pemeriksaan yang dinamakan HSG (Histero-salpingo-grafi). HSG dilakukan guna mendeteksi kondisi rahim dan saluran indung telur. HSG mempergunakan sinar X dan cairan khusus yang memberikan reaksi warna putih jika di beri sinar X, sehingga akan “tercetak” bentuk rahim dan saluran indung telur (tuba). Sehingga dokter dapat menentukan ada tidaknya kerusakan atau sumbatan pada saluran reproduksi dimaksud. sumber

Tapi yang membuatku sedikit deg-deg-an adalah pada bagian ini:

Dimasukkan spekulum untuk memperlihatkan mulut leher rahim.
Kateter kecil lalu dimasukkan ke dalam rahim melalui liang leher rahim.
Zat pewarna rontgen lalu dimasukkan perlahan2 ke dalam rahim lewat kateter.

Hiyy… bayangin, sesuatu dimasukkan ke dalam tubuh kita. Yang jelas, pasti rasanya berbeda dengan USG Transvagina. Apalagi ngeliat testimoni para blogger yang pernah melakukan tes HSG ini. Ada yang bilang sakit banget, ada yang bilang sakit biasa. Tapi ada juga yang bilang nggak sakit. Ah, untuk yang terakhir pasti hanya testimoni yang memberi keberanian pada mereka yang akan menjalani tes HSG.

Pada hari kedua menstruasi, saya pun segera menghubungi bagian radiologi RS Haji. Saya pun dijadwalkan untuk melakukan tes HSG pada hari ke-11, yaitu hari Jum’at. Ketika hal ini saya infokan ke suami, ternyata suami nggak bisa nemenin, karena pas dia jadi juri buat lomba karya inovasi…. Hiks…. Sedihnya hati ini… Gelisah tak menentu… (halah, lebay). Untungnya mbakku bersedia nemenin.

Malam sebelum hari-H, keberanianku sempat menciut dan berfikir untuk mundur saja. Apalagi sang suami sedang tidak ada di samping. Tapi dengan bismillah, akhirnya tekadku pun bulat kembali. Pagi harinya, sepanjang perjalan, tak sedikitpun keinginan untuk mundur ataupun rasa takut muncul. Anehnya, malah terngiang-ngiang musiknya Beethoven yang “symphony no7″, dengan irama yang menghentak-hentak . Entahlahlah, hati ini tampak sedang bersemangat sekali menanti serangkaian tes di hadapan.

Kami tiba di lab radiologi pukul 9.45. Berkat mbak yang menemani, tak terasa nama saya akhirnya dipanggil juga pada pukul 11.15. Jantung mulai berdegup lebih kencang, saat memasuki ruang radiologi. Pertama saya disuruh untuk mengosongkan kandung kemih alias pipis, lalu berganti pakaian khusus pasien. Kemudian saya diminta untuk berbaring sembari sang petugas membetulkan letak peralatan yang akan digunakan untuk mengambil foto rontgen. Setelah itu saya pun diminta untuk duduk kembali dan meninggalkan saya sendiri untuk memanggil si dokter radiologi. Pada saat itu saya dihadapkan pada beberapa peralatan yang tergeletak di meja di samping saya. Ada selang, penjepit, alat suntik dengan maupun tanpa jarum, dan juga mangkok kecil yang berisi air berwarna merah kecoklatan. Berkat berburu informasi dari internet, saya sudah bisa membayangkan fungsi dari masing-masing alat.

Setelah beberapa saat, sang petugas kembali lagi, “Bu, tunggu sebentar ya, dokternya lagi ada USG.” Yeah… nggak papa lah… Dan selama waktu menunggu pun, musik Beethoven “symphony no7″ pun kembali terngiang-ngiang. Kali ini intro movement no.4. Halah… ini sih namanya korban Nodame Cantabile.

Lebih dari seperempat jam saya menunggu, akhirnya bu dokter datang juga. Dengan singkat bu dokter memberikan penjelasan dan menjelaskan bahwa reaksi dari tes HSG ini memang berbeda-beda pada tiap orang. Saya pun hanya mengangguk. Kali ini saya disuruh duduk di ujung meja, lalu berbaring dengan kaki berpijak di pinggir meja pula, kalo istilah jowone “ngangkang”.

Seperti yang pernah dijabarkan di situs, saya merasakan tiap langkah yang dilakukan. Pada saat spekulum dimasukkan melalui mulut rahim, saya sempat kaget, dan bu dokter meminta saya untuk relaks saja. Saya pun mencoba untuk lebih me-relaks-kan diri lagi. Setelah Spekulum terpasang, saya merasakan sesuatu bergerak ke dalam rahim saya. Ya, kateter mulai dimasukkan dan rasa mulas mulai terasa. Beberapa saat kemudian saya merasakan sesuatu mengaliri perut bagian bawah saya, dan rasanya nyeri. Seperti nyeri ketika sedang haid hari pertama, hanya saja bagi saya yang tidak pernah merasakan nyeri yang berlebihan pada hari pertama, rasanya tetap lebih menyakitkan dibandingkan nyeri haid. Bu dokter pun meminta saya untuk mengambil nafas teratur. Tarik nafas dari hidung, hembuskan lewat mulut.

Setelah bu dokter selesai memasukkan cairan ke tubuhku, saya diminta untuk mundur dan berbaring dengan kaki lurus. Dengan menahan rasa sakit, saya pun melakukan apa yang diinstruksikan. Lalu saya merasakan papan rontgen yang saya tiduri mulai bergerak miring sehingga posisi kepala berada lebih bawah dibandingkan dengan kaki. Sampai dengan tahap ini, rasa nyeri sudah berkurang, hanya terasa penuh di perut. Setelah beberapa saat, papan rontgen mulai kembali ke posisi semula, dan saya pun diminta untuk miring ke kiri sejenak lalu miring ke kanan untuk difoto. Sampai dengan pemotretan yang terakhir, rasa sakit pun sudah hilang. Saat bu dokter mempersilakan untuk tetap berbaring sampai rasa sakit saya hilang, saya hanya tersenyum dan berkata bahwa sudah tidak terasa sakit lagi. Saya pun dipersilakan turun dan berganti baju. Seperti yang dianjurkan oleh pada sebuah blog yang pernah kukunjungi, saya pun memakai pembalut agar sisa cairan rontgen tertampung di pembalut.

Secara keseluruhan, proses tes tidaklah lama. Mungkin hanya sekitar 5-10 menit. Dan rasa sakit yang dialami saat tes pun hanya sebentar. Well… I did it!! Alhamdulillah…

Karena waktu telah menunjukkan pukul 11.45, saya dan mbak pun memutuskan untuk mencari makanan di kantin sembari menunggu hasil tes keluar. Pukul 12.30, kami kembali lagi ke lab radiologi untuk mengambil hasil test, namun ternyata hasil tersebut belum keluar, Terpaksa kami menunggu kembali. Pada tahap ini, rasa nyeri mulai menyerang kembali. Nah, sakit yang ini yang lebih menyakitkan daripada sakit yang saya rasakan pada saat tes. Mungkin karena intervalnya yang lebih lama. Sempat berpikir juga untuk pulang saja dan mengambil hasil tes pada malam harinya. Namun tak beberapa lama kemudian si petugas pun memanggil namaku. Ajaibnya, saat berjalan menuju tempat pengambilan hasil rontgen, rasa sakit yang baru saja saya rasakan sedikit demi sedikit mulai berkurang. Terlebih saat saya membuka hasil lab: “Bentuk normal dan besar. Tuba faloppi patent.”

Alhamdulillah…

Kami pun segera pulang untuk menghindari datangnya rasa sakit susulan. Kali ini selama perjalanan yang terngiang-ngiang adalah musiknya Gershwin yang “Rhapsody In Blue”, dengan irama yang kocak dan ceria. Haha… ya.. saya lagi bahagia…

So far so good… Ready 4 the next step…

October 06, 2011

Balada Jembatan Jejadian

Waktu SD, aku sering diajak jalan-jalan naik mobil ama Bapak ke Mempawah, ke Sebrang, ke Sanggau, de el el. Kadang-kadang liburan, sering juga diajak sekalian pas Bapak lagi tugas. Tip mobil waktu itu masih oke bangets. Lagu yang paling kuinget waktu itu lagu-lagu-nya Arie Wibowo (The Bill & Brod): “Madu dan Racun”, “Singkong dan Keju (Anak Singkong)”

Pernah suatu waktu, saat pulang dari Sanggau, rasanya seperti terkena serangan mabuk darat. Mas Hendro di samping berisik nyanyi-nyanyi terus. Aku cuma bisa diam memandang satu per satu pohon yang terlewati. Lalu mobil berbelok, keluar dari jalan raya. Katanya Pak Sopir sih pengen ngambil jalan alternatif yang baru. Kondisi jalannya bagus, sepertinya baru di-aspal. Tapi ada yang ganjil. Sepanjang perjalanan, tak satu pun mobil lain yang melintas. Ketegangan mulai terasa setelah jalan yang kami lewati sudah menyempit dan tidak tertutup aspal. Meskipun kondisi jalan seperti ini bertebaran di Kalimanatan, aku tetap saja nggak bisa tenang. Dengan tebing di sebelah kiri, jurang di sebelah kanan, dan turunan yang tak kunjung landai. Apa iya semua jalan di kalimanatan seperti ini, pikirku.

oh mi got….. Aku yang tadinya duduk ngelendot di samping pintu, kini mengambil posisi duduk siap ala anak SD di kelas. Mataku yang tadinya teruju ke jendela samping, kini mengikuti arah pandangan Pak Sopir sambil berharap ada seberkas harapan di depan sana. Tapi bukannya asa yang kudapat tapi pemandangan yang lebih mencengangkan. Samar-samar dari kejauhan terlihat sebuah jembatan, tepatnya setengah jembatan. OMIGOT… itu jembatan belum jadi!!! alamak… gimane lah ni… jalannye sempit, gimane lah mobilnye bise balek… begitulah kira-kira bahasa Pontianak-nya.

Pak Sopir akhirnya menghentikan mobilnya tepat sebelum belokan. Dengan memasukkan rem tangan dan ngganjal roda dengan batu, Pak Sopir pun berjalan meninggalkan kami sambil menitipkan harapan yang lain. Ia berharap belokan yang akan kami lewati tidak menuju ke jembatan jejadian itu. Rasanya seperti setahun sejak terakhir kali aku liat punngung Pak Sopir dari ujung belokan itu sampai akhirnya ia kembali dengan wajah yang tanpa ekspresi. Setelah sampai di mobil, dia berkata pelan “Kita putar balik, Pak”. Kyaaaaa…..! bener kannn…..!

Aku cuma bisa pasrah dan berharap perhitungan Pak Sopir dalam mengamabil manuver kali ini benar-benar presisi. Yang jelas, faktanya aku nggak bakalan bisa nulis ini kalo perhitungan Pak Sopir itu salah. Yeah, ternyata kemampuan Pak Sopir dalam menguasai mobil patut diberi acungan jempol. Kalo jaman dulu udah ada pesbuk mungkin udah tak kasih “Like”. Dan ajaibnya, serangan mabok darat yang tadinya lagi gencar-gencarnya jadi ilang begitu aja. Mungkin karena ketutupan ama serangan shock kali ya…

Ngemeng-ngemeng, apa kabar jembatan setengah jadi itu ya. Pasti sekarang udah jadi. Apa malah udah ambrol?