February 19, 2024

Time For Us

19 Februari 2024


40 lokasi = 40 kali perjalanan dinas = 40 minggu

Andaikan semua lokasi itu harus sudah tuntas dikunjungi dalam 1 tahun, artinya hanya tersisa 14 minggu dia menghabiskan waktu di Jakarta. Itu pun belum worst casenya yang bisa aja tambah lokasi, atau tambah durasi sampai 2 minggu per lokasi. Dan belum lagi dipotong hari untuk kegiatan golf-nya yang penting itu. Kesimpulannya, kesempatan bagi kami untuk meluangkan waktu bersama hanyalah setipis lembaran pink di buku nota. Dan mau tak mau, aku harus merelakannya.

Sedikit berlebihan? Bisa jadi. Tapi sebenernya ini self defense mechanism dariku, agar aku tidak mengharapkan waktu yang lebih banyak darinya. Karena aku tak mau kecewa. Anggap saja LDR.

But, knowing you'll not gonna be here for the most of time, it breaks my heart. Aku tahu tidak kehilangan dia, aku hanya kehilangan waktunya untuk bersama kami. Namun ini membangkitkan ingatanku saat aku masih kecil. Saat di mana aku bertanya-tanya, mengapa ibuku bisa sebegitu sedihnya saat ditinggal ayahku dinas ke luar kota. Dan kini aku mengalaminya. 

Lalu aku ingat, saat dimana karir ayahku mulai menanjak naik. Beberapa acara pelantikan, kami diajak untuk menyaksikan betapa besarnya sosok ayah kami di mata kami yang kecil. 

Ingatan kembali bergulir, dimana tak lama, ayahku meninggalkan kami.

Sejujurnya, sejak dulu, aku selalu dibayang-bayangi oleh kehidupan keluargaku. Ibuku dan kedua budhe-ku. Ajal memisahkan mereka dengan suami tercintanya, dan harus merawat anak-anaknya sendirian. 

Kebetulannya lagi, kemudian nenekku dan nenek dari suamiku pun harus hidup tanpa suami di kehidupannya yang senja. Mambuatku mengambil benang kesimpulan, bahwa sangatlah umum terjadi jika sang suami lebih dahulu dipanggil yang maha kuasa. 

Perpisahan memang suatu keniscayaan. Karena kita tak tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi dia yang meninggalkanku terlebih dahulu, atau pun sebaliknya. 

Sehingga dalam relung hatiku, aku selalu berfikir harus siap untuk kehilangan nya suatu saat nanti. Dan hal sebenarnya mendasari motivasiku untuk menjadi working mom, dan untuk bisa mandiri.

But, we'll never know what happen next. Aku hanya perlu melakukan yang terbaik selama waktu itu masih ada. Dan aku tak akan menyia-nyiakan waktu yang berharga ini. Agar aku tak kecewa di kemudian hari.

And I pray for the best happen to all of us. You, me and our daughters.

February 17, 2024

Good Enough For You

14 February 2024

Hari ini aku menyaksikan betapa cekatannya dia saat bertugas menjadi KPPS. Praktis hampir seluruh fungsi dijalankan olehnya. Mulai dari membagikan kertas suara, nempelin Kertas Pemungutan Suara, nggeser - nggeser meja, membuka Kertas suara satu per satu, mengumumkan hasil suara pemilihan, dan lain sebagainya. Hampir tak terlihat waktu dimana dia duduk santai di kursinya, sementara anggota KPPS yang lainnya masih sering terlihat duduk dan mengamati.

Namun aku tak dapat pula menuntut kontribusi lebih dari mereka. Karena aku pun tahu betul sifat dari suamiku ini. Dia yang selalu menginginkan segala sesuatunya dapat  selesai dengan cepat. Betapa dia sanggup melakukan semuanya sendiri. Sehingga seringkali ia tampak lebih dominan dibandingkan yang lain dalam setiap kegiatan.

Meskipun begitu, melihatnya jungkir balik seperti ini rasanya menghancurkan hatiku. Rasanya ingin berteriak " Someone, please give him a hand! At least you could do this or that! ". Suamiku ini juga manusia lho, dia bisa juga capek. Dan pastilah dia capek setengah mati. 

Namun sekali lagi, aku tak akan menyalahkan mereka, ataupun mengharapkan kerjasama yang lebih baik dari mereka. Aku hanya bisa mengharapkan kesehatan untuk suamiku. Semoga lelahnya hari ini dapat memberikan kontribusi y ang terbaik untuk negara. 

Hanya segelas STMJ yang dapat terpikirkan olehku untuk dapat menjadi sumber tambahan stamina untuknya. Maka sore itu, kubulatkan hatiku untuk mengirimkan segelas STMJ untuknya. Meskipun bisikan untuk mengurungkan niat ini sempat beberapa kali mengoyahkan hati ku memberatkan langkahku, tapi keinginanku untuk berkontribusi sangatlah besar. Aku ingin menjadi support system untuk suamiku. Dan betul saja, malam itu aku pun tak bisa tertidur hingga dia pulang dengan aman di rumah. 

Kontribusi. Kadang inilah yang sering mengganggu pikiranku. Dia yang selalu serba bisa. Entah itu peran sebagi suami, ataupun peran sebagai bapak rumah tangga. Mulai dari mencari nafkah, benerin genteng, benerin keran, belanja ke pasar, memasak, nyuci, nyetrika, daan lain sebagainya. Hampir tak ada yang tidak bisa dikerjakannya.

Membuatku bertanya pada diriku. "Apa kontribusimu sih? Kalaupun ada, kayaknya nggak gede gede amat." Pikiran ini kadang membuatku merasa kecil, tidak berguna. Seperti yang pernah kukatakan padanya via WA. Dan dia hanya membalas "Ngawur.

Pernah suatu saat dia menyadarkanku betapa aku lalai menjalankan tugasku saat di ranjang. Ya, kurasa dia benar. Entah bagaimana bisa kita menjadi sedingin itu satu sama lain. Sementara yang sebenarnya yang kita inginkan adalah sama sekali kebalikannya. Ku inginkan kelembutan dan perhatiannya. Dia pun menginginkan sambutan hangatku.

Padahal tak jarang pula aku membayangkan bercumbu dengannya, mencoba segala hal yang belum pernah kita lakukan. Salahku, aku selalu menunggunya melakukan semua hal tersebut. Sementara aku, terlalu takut untuk memulai sesuatu. 

Perkataannya telah menamparku, menyadarkanku bahwa kebahagiaan harus diusahakan. Dan selama ini aku terlalu malas untuk berusaha. Terlalu sibuk mendengarkan bisikan yang menggoyahkan niatku. " Malu dong" .  " Ah kayaknya dia nggak suka deh". " Udah lah, lain kali aja". Dan aku pun kembali menjadi wanita yang sedingin bunga es di freezer kulkas.

Aku tidak ingin kembali menjadi wanita seperti itu. Mungkin aku belum sepenuhnya menjadi wanita yang hangat.  Namun setidaknya aku sudah sedikit mencair menjadi sedingin air galon mode cool. Lagipula, perubahan yang baik tidak pernah instan bukan?

To my husband, I want to be good enough for you. And, please help me to be one.