January 25, 2009

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 8

<<prev part   next part >>

Mei 2004. Ia hentikan kata-katanya sejenak untuk meminum jus alpukat yang dipesannya. Akhir-akhir ini kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Ini makan siang ke sekian kalinya yang kami lalui bersama. Sikapnya padaku sedikit berbeda akhir-akhir ini. Seolah-olah ia ingin mengikat kakiku untuk mengikutinya kemanapun ia mau.

Akhir-akhir ini ia selalu mencemaskan tentang pencalonan dirinya sebagai Ketua Badan Mahasiswa Jurusan, tantang ekspektasi orang terhadapnya dan tentang pendapat miring sebagian orang akan dirinya. Ya, dia butuh teman bicara. Mungkin di saat-saat seperti ini, saat beberapa orang mencemooh dan bahkan menjauhinya, tak begitu banyak orang yang dapat mendengarnya berkeluh kesah. Dan di sinilah aku, untuk kesekian kalinya, berusaha menjadi teman baginya.

“Ahh.. aku lagi pengen sticker Tazmanian Devil nih…” ceplosku spontan saat melihat motor bertempelkan sticker dengan tokoh lucu itu.

“Ya udah, ayo kita cari” balas Totok sambil beranjak dari kursinya.

Aku hanya bisa terhenyak. Aku tidak benar-benar ingin mencarinya saat ini juga, namun dia tampak begitu bersemangat untuk mengantarku mencarikannya.

“Oh..? Oke…” jawabku sedikit ragu.

Dan di siang yang panas itu, kami pun mengendarai sepeda motor mengelilingi kota hanya untuk mencari selembar sticker. Sebuah sticker yang sederhana. Namun ternyata tak mudah untuk mencarinya. Beberapa toko buku sudah kami singgahi, namun tak satupun yang sesuai dengan keinginanku. Aku benar-benar tidak enak padanya. Ingin sebenarnya mengakhiri pencarian ini, namun dia tampak masih begitu bersemangat mencari tempat-tempat yang mungkin menjual barang yang kucari.

Tiba-tiba aku teringat suatu tempat dimana aku selalu menghabiskan waktu saat aku masih duduk di SMP. Ya, toko itu pasti menjual yang kucari. Dengan segera kami pun meluncur ke tempat itu. Dan benar, setelah lebih dari sepuluh kilometer kami berkeliling kota, di sinilah kami akhiri pencarian tak terencana ini. Di tempat yang hanya berjarak 1 kilometer dari rumahku.

Aku tertawa geli sekaligus senang saat mendapatkannya. Pikirku, baik sekali Totok mau mengantarku keliling-keliling kota hanya untuk mencari selembar sticker konyol ini. Mungkin ia benar-benar sedang bosan saat ini.

January 01, 2009

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 7


Maret 2004. Hatiku lelah. Namun ia terus datang mencariku. Membuatku terus terpuruk. Suatu siang saat kami makan bersama, ia mengungkapkan isi pikirannya lagi. Kali ini tentang keluh kesahnya selama menjalani masa kampanye sebagai calon ketua Badan Mahasiswa Jurusan. Saat kusinggung tentang kedekatannya dengan Indri, ia mengelak. Ia mengatakan dengan tegas bahwa ia sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Saat ini, waktu yang ia miliki sudah habis untuk memikirkan kuliah dan pencalonannya ini. Sejenak aku merasa lega.  Itu berarti pintu untukku pun sudah tertutup, dan aku bisa fokus untuk tetap menjadi teman baginya.
 
Beberapa hari berlalu, dan sikapnya tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Bukannya menjauh, namun kali ini sikapnya seolah-olah ia ingin lebih dekat denganku. Namun hatiku sudah terlalu lelah.

Pada saat yang sama, aku pun mulai banyak menghabiskan waktu bersama Sakti. Tak jauh beda dengan Totok, Sakti sangat ramah dan baik. Dengannya aku merasa lebih nyaman dan aman. Nyaman dalam berteman, dan aman dari rasa suka. Dia nasrani dan aku muslim. Jadi tak mungkin kami saling suka.

Dengan Sakti, aku dapat bernapas bebas di dalam lingkar pertemanan. Beberapa kali aku ke rumahnya untuk diajarkan bahasa pemrograman, dan dia pun beberapa kali ke rumah untuk belajar bersama. Lain waktu kami menghabiskan jam makan siang bersama sembari menunggu jam kuliah siang dimulai. Tak jarang aku menumpung pulang dengannya, karena rumah kami tak begitu jauh.

Pada suatu siang sebelum pulang, aku dan Sakti mampir ke warung untuk membeli jus. Aku memilih jus tomat, dan dia seperti biasa. Jus Alpukat. Saat kami hendak minum, ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Totok.

“Tih, lagi dimana, tolong bawain disket yang kutitipin ke kamu dong. Terus ada yang mau aku omongin. Penting nih. Kutunggu di ruang ya ”

Oh iya. Aku baru ingat dengan disket itu. Dengan cepat kubalas pesannya.

“iya Tok, bentar lagi. Aku lagi beli jus nih. Mau nitip ga?”

“boleh deh, alpukat ya”

Pilihan yang sama dengan Sakti. Dengan segera kupesankan satu lagi untuk dibungkus. Sebenarnya aku merasa tidak enak dengan Sakti yang harus mengantarkanku balik ke ruang. Untungnya ia tidak keberatan dan segera meminta pelayan untuk membungkus jus kami.

Sesampai di ruangan, aku dan Sakti masuk dan menemukan Totok di sana sedang terbaring di atas karpet. Kusapa dia dengan senyuman lebar, namun ia hanya menjawab dengan mulut tertutup.

"Hmm," gumamnya.

Aku dan Sakti pun masuk ke dalam ruangan. Sebuah disket dan plastik berisikan jus pesanan Totok segera kuberikan padanya. Ia menerimanya. Sembari meminum jusku, aku bertanya padanya.

“Katanya ada yang penting. Ada apa?”

“Nggak papa, besok aja. Pusing nih” katanya sambil mengangkat lengannya dan menutupi mukanya.

Dalam hati ku bertanya. Apakah dia sedang sakit? Ataukah dia sedang ada masalah terkait dengan pencalonannya? Namun aku tak ingin lagi terjabak dengan segala permasalahan yang dihadapinya. Sembari bercanda dengan Sakti, aku menghabiskan minumku. Sedangkan Totok, tetap terdiam dalam tidurnya. Ia bahkan belum menyentuh minumannya.