<<prev part next part >>
Mei 2004. Ia hentikan kata-katanya sejenak untuk meminum jus alpukat yang dipesannya. Akhir-akhir ini kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Ini makan siang ke sekian kalinya yang kami lalui bersama. Sikapnya padaku sedikit berbeda akhir-akhir ini. Seolah-olah ia ingin mengikat kakiku untuk mengikutinya kemanapun ia mau.
Mei 2004. Ia hentikan kata-katanya sejenak untuk meminum jus alpukat yang dipesannya. Akhir-akhir ini kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Ini makan siang ke sekian kalinya yang kami lalui bersama. Sikapnya padaku sedikit berbeda akhir-akhir ini. Seolah-olah ia ingin mengikat kakiku untuk mengikutinya kemanapun ia mau.
Akhir-akhir ini ia selalu mencemaskan tentang pencalonan dirinya sebagai Ketua Badan Mahasiswa Jurusan, tantang ekspektasi orang terhadapnya dan tentang pendapat miring sebagian orang akan dirinya. Ya, dia butuh teman bicara. Mungkin di saat-saat seperti ini, saat beberapa orang mencemooh dan bahkan menjauhinya, tak begitu banyak orang yang dapat mendengarnya berkeluh kesah. Dan di sinilah aku, untuk kesekian kalinya, berusaha menjadi teman baginya.
“Ahh.. aku lagi pengen sticker Tazmanian Devil nih…” ceplosku spontan saat melihat motor bertempelkan sticker dengan tokoh lucu itu.
“Ya udah, ayo kita cari” balas Totok sambil beranjak dari kursinya.
Aku hanya bisa terhenyak. Aku tidak benar-benar ingin mencarinya saat ini juga, namun dia tampak begitu bersemangat untuk mengantarku mencarikannya.
“Oh..? Oke…” jawabku sedikit ragu.
Dan di siang yang panas itu, kami pun mengendarai sepeda motor mengelilingi kota hanya untuk mencari selembar sticker. Sebuah sticker yang sederhana. Namun ternyata tak mudah untuk mencarinya. Beberapa toko buku sudah kami singgahi, namun tak satupun yang sesuai dengan keinginanku. Aku benar-benar tidak enak padanya. Ingin sebenarnya mengakhiri pencarian ini, namun dia tampak masih begitu bersemangat mencari tempat-tempat yang mungkin menjual barang yang kucari.
Tiba-tiba aku teringat suatu tempat dimana aku selalu menghabiskan waktu saat aku masih duduk di SMP. Ya, toko itu pasti menjual yang kucari. Dengan segera kami pun meluncur ke tempat itu. Dan benar, setelah lebih dari sepuluh kilometer kami berkeliling kota, di sinilah kami akhiri pencarian tak terencana ini. Di tempat yang hanya berjarak 1 kilometer dari rumahku.
Aku tertawa geli sekaligus senang saat mendapatkannya. Pikirku, baik sekali Totok mau mengantarku keliling-keliling kota hanya untuk mencari selembar sticker konyol ini. Mungkin ia benar-benar sedang bosan saat ini.