December 26, 2008

piece of my heart – OST 2

Antara Ada dan Tiada
by Utopia

Setiap ku melihatmu
Ku terasa di hati
Kau punya segalanya
Yang aku impikan

Dan anganku tak henti
Sajak tentang bayangmu
Walau kutahu
Kau tak pernah anggapku ada

Ku tak bisa menggapaimu
Takkan pernah bisa
Walau sudah letih aku
Tak mungkin lepas lagi

Kau hanya mimpi bagiku
Tak untuk jadi nyata
Dan sgala rasa buatmu
Harus padam dan berakhir

<<prev part   next part >>


December 17, 2008

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 6


Januari 2004. Menjelang Hari Raya Idul Adha, Totok ingin sekali mengadakan acara bakar-bakar di halaman LP. Ia selalu bersemangat dengan ada acara-acara seperti ini. Dia lah yang paling heboh. Ini itu, dia ungkapkan idenya seolah-olah itu semua adalah hal yang gampang.

Saat acara itu mulai dirancang, tiba-tiba aku teringat dengan teman SMA-ku. Kupikir, mungkin akan sangat menyenangkan jika mereka bisa hadir dalam acara ini. Tokok pun menyambut baik ideku itu. Maka kuperkenalkan temanku Indri dan Widya kepadanya.

Dengan mudah, ia pun akrab dengan mereka. Terutama Indri. Ia cantik dan menarik. Sudah sepantasnya Totok tertarik dengannya pula. Sebelum kuperkenalkan mereka pun, aku sudah menduga hal ini akan terjadi.

Beberapa kali sudah mereka jalan bersama. Sebenarnya sakit hati ini mendengar itu semua baik dari mulut Tatok ataupun dari Indri. Namun aku tak mungkin cemburu dengan sahabat sendiri. 

Sehari sebelum acara, kami merencanakan untuk berkumpul dan mempersiapkan segala sesuatunya. Menu, bentuk acara, sampai dengan perangkat yang digunakan. Maka ditentukanlah tempat berkumpul, di ruang LP tepat jam 10 pagi. 

Sudah hampir jam setengah sepuluh, aku bahkan belum sampai di tempat pemberhentian bis. Dengan sedikit berlari, akhirnya kunaiki juga bis berwarna kuning kesukaanku. Kulirik jam di ponsel. Sudah jam sepuluh kurang seperempat. Mungkin aku agak terlambat. Lalu jempolku mulai bermain di atas tombol ponsel.

“Tok, udah sampai ruang belum?”

Send. Messege Delivered. Beberapa menit kemudian datang SMS balasan darinya.

“Udah, aku sama Indri”

Aku tertegun. Dia bersama Indri. Dan untuk kesekian kalinya aku harus melihat kedekatan Totok dengan gadis lain. Hanya saja kali ini dengan sahabatku sendiri. 

Dengan berat kulangkahkan kakiku turun dari bis. Mataku menerawang. Aku tahu hal ini pasti akan terjadi ini. Namun rasanya aku tak siap dengan situasi seperti ini. Sepanjang perjalanan aku terus berusaha untuk menghadapi perasaaan ini. Rasanya seperti berjalan menuju kuburan yang kugali sendiri. Kucoba menenangkan pikiran dan menata hatiku. Aku berharap bisa tetap tersenyum sesampainya di sana.

Tinggal beberapa langkah lagi. Kutegapkan badanku, kutarik nafasku dalam-dalam. Kupercepat langkahku dan kuhibur diriku dengan nyanyian. Sesampainya di depan pintu ruang LP, kulongokkan wajahku. Dan di sanalah mereka. Hanya berdua.

Aku tersenyum. Sekali lagi hatiku hancur. Ternyata mereka berdua telah berada di sana sejak jam delapan. Jam delapan? Itu sejak dua jam yang lalu! Namun aku tak berani menerka-nerka apa saja yang telah mereka bicarakan selama itu.

Kami berbicara sebentar dan tak lama kemudian Indri pun pulang. Beberapa saat kemudian datanglah Widya. Bertiga kami menyusun daftar keperluan yang harus dibeli. Setelah daftar itu jadi, ia menyerahkannya padaku untuk segala pembeliannya. Sedangkan Totok, dia melanjutkan perjalanannya pulang ke kosnya.

Saat itu, aku merasa seperti pecundang. Yang sedang dikerjai habis-habisan oleh orang yang kusuka. Tak kusangka hari ini akan menjadi hari yang buruk buatku.

Kali ini aku kalah telak. Aku dikalahkan oleh hatiku. Dan aku merasa sangat lelah atas kondisi seperti ini. Semakin ingin ku melupakannya, semakin aku terikat olehnya. Mungkin ini saatnya untuk benar-benar menjauh darinya. 

December 01, 2008

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 5


Oktober 2003. Suatu sore, aku mampir ke kosnya untuk meminjam buku. Di sana, ia mulai bercerita. Kali ini tentang seseorang yang belum pernah kudengar atau bertemu sebelumnya, Dina. Pikirku, yang mana lagi ini?

Aku masih suka padanya, namun aku tetap ingin menjadi teman baik baginya. Jadi kutelan saja semua ceritanya. Entah bagaimana, kali ini aku lebih dapat menata hatiku. Mungkin saja Dina akan ia pilih sebagai calon pendampingnya kelak. Sangat mungkin malah. Untungnya, aku sudah dapat menerima segala keluh kesah-nya dengan lapang dada. 

Di hari yang lain, ia ingin memperkenalkanku dengan Dina. Aku tak tahu pasti apa yang kurasakan. Saat ini aku menjalankan peran sebagai teman untuknya. Hanya itu yang bisa kulakukan bukan? 

Ia menghentikan motor yang kami naiki tepat di depan sebuah rumah kos-kosan. Beberapa saat kemudian, muncullah sosok gadis. Ia mengenakan jilbab lebar dan baju yang longgar. Dalam benakku, seperti inikah selera Totok?

Aku menyapanya dengan senyuman. Dari raut wajahnya tampak bahwa ia tidak begitu gembira. Dia pasti sedikit kecewa dengan kehadiranku saat itu. Terlebih melihatku yang berboncengan dengan Tatok.

Aku pun turun dari motor. Kami berencana untuk makan siang bersama di sebuah warung yang letaknya tak jauh dari sana. Totok menunggangi motornya. Sementara aku menemani Dina berjalan kaki menuju ke warung tersebut. Selama perjalanan, aku dapat menerka apa yang sedang Dina rasakan saat ini. Mungkin persis seperti yang kurasakan saat melihat kedekatan antara Totok dan Kanita.

Aku hanya bisa berusaha untuk ramah. Aku sama sekali tak bermaksud untuk melampiaskan rasa sakitku pada Dina. Sama sekali tidak. Jika kelak Dina lah calon pendamping Totok, ia harus dapat menerima Totok apa adanya. Dengan segudang teman yang Totok miliki. 

~~

Sembari memasang sepatu, kumasukkan beberapa buku ke dalam tasku. Ibuku sudah berada di luar dan bersiap di dalam mobil. Hari ini ada kuliah pagi, jadi kali ini aku menumpang ibuku untuk berangkat ke kampus. 

15 menit sudah berlalu, kini kami telah sampai di tikungan samping kampus. Dari kejauhan aku melihat sosok yang sangat kukenal. Motor itu. Helm itu. Jaket itu. Ya, Totok. Dalam hati kupikir, akan kemana dia? Dia tampak agak terburu-buru. Tanpa sadar, mataku tak bisa berpaling darinya. Setiap detik, setiap gerakan kecil, mataku tertuju padanya. Tiba-tiba dunia terasa hening dan berhenti berputar. Yang terdengar hanyalah suara jantungku yang berdegup kencang.

Hal ini terjadi lagi. Suatu perasaan saat aku menatap dalam-dalam pria yang kusuka dari kejauhan. Dari suatu titik dimana dia tak akan menyadari bahwa aku sedang menatapnya. Dan perasaan ini sangatlah nyata.

Ternyata aku masih sangat sangat sangat menyukainya. 

November 20, 2008

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 4


Kelas sudah selesai, tapi sosok Totok sudah hilang dari pandanganku. Cepat sekali dia pergi, pikirku. Padahal baru saja aku lihat dia di kelas ini. 

Saat aku mencapai lobi lantai dasar, kusapu pandanganku ke sekeliling ruangan. Dan disitulah dia, sedang bercengkrama dengan Kanita. Mereka tampak sangat akrab, saling melempar canda dan tertawa bersama. Perasaan apa ini yang kurasakan. Dada ini terasa panas.

Beberapa hari ini memang mereka terlihat sangat dekat. Aku masih suka dengan Totok. Haruskah kupadamkan rasa ini? Haruskah aku saksikan kedekatannya dengan gadis lain?

Aku berjalan mendekati mereka dengan senyuman. Menutupi rasa sejuta yang sedang bergejolak di hatiku. Aku pun mulai bergabung dengan mereka. Bercanda bersama, meski hati ini terasa pahit.

Ya, aku harus segera padamkan rasa sukaku terhadap Totok. Aku tak mau terbakar oleh rasa ini. Ku coba berbagai cara untuk menghalau getaran setiap kulihat dirinya. Namun rasa itu selalu ada dan tak mau hilang. Mampukah aku berteman dengan orang yang ku suka? Mampukah aku tetap tersenyum saat hatiku terbakar? 

“Tih, ke Berkah yuk”  tanyanya membuyarkan lamunanku.

Kanita telah pulang. Kini tinggal aku, dia dan Mirna. Warung Berkah adalah warung makan langganan mahasiswa. Rasanya lumayan, dan harganya tentu saja murah. Sebenarnya aku sedang tak ingin makan, namun aku tak pernah bisa menolak ajakannya. Dan kami pun berjalan menuju parkiran dan mengambil motor masing-masing untuk pergi ke warung Berkah. Aku berboncengan dengan Mirna.

Sesampainya di Berkah kami pun memilih menu masing-masing. Aku hanya pesan segelas es teh. Selama dia menyantap makanannya, ia bercerita tentang kedekatannya dengan Kanita. Tentang masalah yang sedang dialami Kanita. Sebenarnya aku tak begitu tertarik mendengarkan ceritanya, namun aku sedikit penasaran bagaimana sebenarnya perasaan Tatok terhadap Kanita. Ia sempat berucap bahwa Kanita bukanlah tipenya. Namun apapun itu, aku telah membulatkan tekad untuk menghentikan rasa ini.

~~

Hari-hari berlalu. Ternyata, menghapus rasa suka itu sulit. Berulang kali kucoba, namun tak pernah berhasil. Terlebih kesibukan kami di organisasi yang sama membuat aku dan Totok lebih sering bertemu. 

LP bukanlah satu-satunya organisasi yang mempertemukan aku dan Totok. Beberapa kegiatan lainnya, seperti Rohis, Forum Muda Insinyur dan satu lagi, Pyramida. Maka, tak satu hari pun kulewatkan tanpa bertemu dan diskusi dengannya. Hal ini membuatku semakin sulit untuk melepaskan hatiku dari cengkeramannya.

Siang ini ada perkenalan kepengurusan di tiap jurusan. Sebagai panitia, dia tampak lebih sibuk dari pada senior lainnya. Pada beberapa kesempatan ia sering datang padaku. Entah untuk alasan yang tak jelas. Pernah ia minta padaku untuk menyalinkan sesuatu di bukunya, dan di lain kesempatan ia datang padaku hanya untuk menitipkan sebatang pulpen. 

Hati ini sebenarnya lelah. Di mana dia selalu muncul di saat aku ingin jauh darinya. Jadi kuputuskan, kusimpan saja rasa ini. Entah mengapa meskipun sakit, semua  yang kualami ini tetap terasa indah.  

Sorenya, aku mampir ke kosnya untuk meminjam buku. Di sana, ia mulai bercerita lagi. Dan aku pun mencoba untuk menjadi teman yang baik baginya. Kali ini ia bercerita tentang seseorang, Dina. Pikirku, yang mana lagi ini?

Dan benar saja, dengan membuka hatiku atas segala perasaan yang akan kuterima, aku dapat menjalaninya dengan lebih lapang. 

November 16, 2008

piece of my heart – OST 1

Serpihan Hati
by Utopia

Di mata mu,
aku tak bermakna,
tak punyai arti apa-apa.

Kau hanya inginkan ku,
saat kau perlu,
tak pernah berubah.

Kadang ingin
ku tinggalkan semua,
pedih hati, menahan dusta.

Di atas pedih ini,
aku sendiri,
selalu sendiri.

serpihan hati ini kupeluk erat
akan kubawa sampai kumati
memendam rasa ini sendirian
ku tak tau mengapaaku tak bisa melupakanmu...

kupercaya suatu hari nanti
aku akan merebut hatimu
walau harus menunggu 
sampai ku tak mampu menunggumu lagi........

November 15, 2008

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 3


September 2003. Hari yang indah. Aku, kakakku dan ibuku sedang melakukan perjalanan ke Solo. Kali ini, kami akan menginap di sebuah hotel. Jarang-jarang kami menginap di Solo. Biasanya kami melakukan perjalan pulang pergi dalam sehari. Selama perjalanan pikiranku melayang pada Totok. Sedang apa dia di Yogya? 

Aneh. Bahkan sebelumnya aku tak pernah peduli apa yang dia lakukan ketika sabtu minggu. Tapi perjalanan ini membuatku menjadi sedikit melankolis. Sepanjang perjalanan aku mengharapkan SMS darinya. Akan tetapi, setiap kupandangi layar ponsel, yang tertampil hanyalah layar utama. Tanpa notifikasi.

Saat malam menjelang, pikiranku entah berada dimana. Aku memberanikan diri untuk menghubunginya terlebih dahulu. Kutekan tombol keypad di ponsel.
“Tok, gimana, tugasku udah dikumpulin? Ada tugas lagi nggak?”

Kata-kata itu adalah kata terbaik yang terpikirkan. Satu menit, dua menit, 5 menit, tak ada balasan. Saat aku hendak terlelep, ponselku berbunyi. Ada SMS masuk, pasti dari dia. Kubaca ponselku.

“Udah. Gak ada tugas”

Titik. Dingin. Dan aku menarik selimutku dan meringkuk. Malam ini terasa sangat dingin.

Aku terbangun oleh silaunya sinar matahari pagi. Ponselku ternyata masih berada dalam genggamanku. Kubaca kembali layarnya, lalu kuingat kembali betapa dinginnya tadi malam. Kutulis kembali sebuah pesan singkat.

“Tok, ntar aq nitip absen ya”

Dan benar, kali ini bahkan untuk 100 menit, tak ada jawaban darinya. Aku bangkit dari tempat tidurku. Hari masih pagi. Aku berjalan ke arah jendela dan memandangi kolam renang. Beberapa menit berenang pasti dapat menyegarkan badan dan menenangkan batinku. Dalam sekejap aku dan kakakku sudah berada di dalam kolam renang. Berenang sambil bercanda. Satu hal yang selalu tak ketinggalan saat kami berenang bersama, yaitu lomba adu kecepatan berenang. Untuk saat ini cukuplah keluargaku sebagai penghiburku.

October 17, 2008

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 2

<<prev part   next part >>

Agustus 2003. Keramaian seperti ini mengembalikan ingatanku pada keramaian yang sama, satu tahun yang lalu. Ospek. Penyambutan mahasiswa baru. 

Aku berjalan sembari menangkap semua kenangan setahun yang lalu. Saat aku masih menjadi salah satu dari mahasiswa baru. Lugu. Bangun pagi-pagi agar tidak terlambat. Mengerjakan tugas yang diberikan para senior agar tidak terkena hukuman. Berkenalan dengan teman-teman baru dari berbagai macam latar belakang dan budaya. Jatuh suka pada pemandu ospek di kelompokku. Cemburu pada temanku yang cantik.

Senyum tipis mengembang di bibirku saat mengingat itu semua. Kini aku di sini bukan sebagai mahasiswa tertindas. Bukan sebagai senior yang menindas. Dan bukan pula sebagai penolong para mahasiswa baru itu.

Kubaca-baca kembali lembar pendaftaran yang telah kuterima. Aku lupa, apakah setahun yang lalu aku juga pernah mengisi blangko seperti ini. Waktu itu, ruangan yang kami gunakan bukanlah ruangan yang saat ini kami tempati. Ironisnya, dulu kami harus menumpang dan berbagi ruang dengan organisasi lain. 

Namun, kini kondisinya sudah jauh lebih baik. Kami telah memiliki ruangan sendiri. Beberapa kegiatan sudah kami lakukan untuk mengangkat eksistensi kami. Kuakui, semua itu tak luput dari upaya Totok untuk menghidupkan organisasi ini. Meskipun tak sepenuhnya atas upayanya, tapi semangatnya dalam berorganisasi selalu ia sebarkan pada seluruh anggota lainnya. Termasuk pula aku. Menjalani kegiatan bersamanya tampak sangat mudah kulalui.

Ah, azan dzuhur sudah berkumandang. Saatnya rehat sejenak dan meluangkan waktu untuk menyembah Sang Pemberi Hidup. Kutaruh kembali lembaran-lembaran pendaftaran ke tumpukan lembaran lainnya. Kulangkahkan kaki perlahan menuju musholla. Beberapa kali aku berpapasan dengan para mahasiswa baru. Mereka mengenakan pakaian hitam-putih dan topi khas warna-warni, membuat mereka tampak begitu lucu. Mungkin begitu pula aku setahun yang lalu.

Aku berjalan melintasi gedung tata usaha. Kupandangi sekeliling. Pikiranku kembali melayang pada tahun lalu. Aku sempat iri pada seorang gadis di kelompokku yang digemari karena kecantikannya. Saat dia dekat dengan orang yang kutaksir, panas rasanya dada ini. 

Ya.. seperti kisah klasik di setiap ospek, setiap mahasiswi baru pasti sempat menaruh hati pada seseorang. Entah itu mahasiswa baru yang lain, senior, atau para pemandu ospek. Dan begitu pula aku. Saat itu aku sempat naksir pemandu ospek di kelompokku. Aku kembali tersenyum. Rasanya geli mengingatnya kembali.

Saat ini, Totok menjadi salah satu pemandu ospek mahasiswa-mahasiswi baru. Ia tak pernah terlihat di ruangan LP selama pendaftaran peserta dibuka. Apakah dia sudah mendapatkan penggemar seperti aku menggemari pemandu ospekku dulu? Kalau iya, mungkin aku juga akan cemburu.

Akhir-akhir ini aku mulai merasakan perasaan yang berbeda terhadap Totok. Aku mulai suka padanya. Bukan hanya sekedar naksir, tapi benar-benar suka. Suatu hal yang jarang atau bahkan belum pernah kuakui sebelumnya. Dulu, setiap aku suka pada seseorang, hatiku selalu menyangkal. Namun kali ini, kutahu persis isi hatiku. Aku suka padanya.

Lorong musholla tampak begitu padat. Beberapa mahasiswa baru ikut menggunakan musholla Jurusan Teknik. Saat itulah, aku berpapasan dengan Totok. Ia juga sedang menuju ke musholla. Senyumku mengembang. Kusapa dia, dan diapun menyapaku. Sedikit pembicaraan yang kami ungkapkan, lalu kami kembali berjalan menuju musholla. Ia berjalan beberapa langkah di depanku. Dan dari sanalah aku dapat menatapnya dari belakang. Ia tidak akan menyadari bahwa aku tengah mengagumi tubuhnya sambil berjalan. Aku hanya bisa tersenyum mentertawakan diriku sendiri.

Apa yang bisa diharapkan dari seorang gadis yang tengah jatuh cinta? Menjadi pacarnya? Sejumlah pertanyaan menyerbu batinku.

Ah, tidak. Tidak pernah terpikirkan sekalipun menjadi pendampingnya. Bahkan untuk memikirkan dia juga suka padaku pun, aku tak berani. Dengan segudang teman yang ia miliki, pasti ia telah memiliki setidaknya satu tambatan di hatinya. Dan itu pasti bukan aku.

Namun, aku tetap menyimpan perasaan ini untuk sekian lama. Di balik semua gejolak penolakan dalam diriku, aku tetap bertahan pada rasa sukaku padanya.

Menyukainya adalah suatu hal yang berbeda. Indah, sekaligus menyakitkan. Membuatku mampu melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan. Membuatku ingin merasakan apa yang ia rasakan. Membuatku ingin menghiburnya saat ia sedih. Membuatku ingin selalu ada untuknya.

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 1

Cerita ini bermula dari pertemuanku dengannya di lapangan sepak bola. Ia duduk di atas motornya, berkerumun dengan teman-temannya. Dan kami pun berkenalan.

"Totok," katanya sambil menjabat tanganku. 

"Ratih," jawabku.

Aku teringat beberapa waktu yang lalu saat sepulang kuliah. Shinta menjelaskan bagian organsisasi yang ada pada salah satu organasisasi kampus yang akan kuikuti. Lalu aku memutuskan mengikuti bagian pengambangan. "Ok, bagian pengembangan ya. Berarti nanti kamu satu bagian sama Totok," kata Shinta.

Oh, jadi ini yang namanya Totok, pikirku. Sosoknya sederhana, humble dan ceria. Tipe orang yang gampang berbaur dengan orang baru. Tak ada kesan yang mendalam saat itu. Aku hanya berpikir, mungkin nanti aku akan banyak berinteraksi dengan orang ini. Tanpa ku tahu, bahwa nantinya akan lebih dari sekedar pertemuan di organisasi kampus saja.

Kami bergabung pada organisasi kampus yang sama. Lembaga Penelitian, yang sering kami singkat dengan LP. Sebuah organisasi kecil, dengan anggota yang aktif mungkin tak lebih dari 10 orang. Dan bahkan kami harus berbagi ruang dengan organisasi lain. Entah mengapa waktu itu aku memilih organisasi ini. Mungkin takdir.

Ya, di sinilah aku mulai banyak berinteraksi dengannya. Mulai dari kepanitiaan, pengurus harian, nonton film  sambil menunggu jam kuliah, ngebolang ke pantai dan segudang kegiatan lainnya. Dan di ruang kecil itu pula lah yang menjadi saksi senyum dan tangis kami.