Januari 2004. Menjelang Hari Raya Idul Adha, Totok ingin sekali mengadakan acara bakar-bakar di halaman LP. Ia selalu bersemangat dengan ada acara-acara seperti ini. Dia lah yang paling heboh. Ini itu, dia ungkapkan idenya seolah-olah itu semua adalah hal yang gampang.
Saat acara itu mulai dirancang, tiba-tiba aku teringat dengan teman SMA-ku. Kupikir, mungkin akan sangat menyenangkan jika mereka bisa hadir dalam acara ini. Tokok pun menyambut baik ideku itu. Maka kuperkenalkan temanku Indri dan Widya kepadanya.
Dengan mudah, ia pun akrab dengan mereka. Terutama Indri. Ia cantik dan menarik. Sudah sepantasnya Totok tertarik dengannya pula. Sebelum kuperkenalkan mereka pun, aku sudah menduga hal ini akan terjadi.
Beberapa kali sudah mereka jalan bersama. Sebenarnya sakit hati ini mendengar itu semua baik dari mulut Tatok ataupun dari Indri. Namun aku tak mungkin cemburu dengan sahabat sendiri.
Sehari sebelum acara, kami merencanakan untuk berkumpul dan mempersiapkan segala sesuatunya. Menu, bentuk acara, sampai dengan perangkat yang digunakan. Maka ditentukanlah tempat berkumpul, di ruang LP tepat jam 10 pagi.
Sudah hampir jam setengah sepuluh, aku bahkan belum sampai di tempat pemberhentian bis. Dengan sedikit berlari, akhirnya kunaiki juga bis berwarna kuning kesukaanku. Kulirik jam di ponsel. Sudah jam sepuluh kurang seperempat. Mungkin aku agak terlambat. Lalu jempolku mulai bermain di atas tombol ponsel.
“Tok, udah sampai ruang belum?”
Send. Messege Delivered. Beberapa menit kemudian datang SMS balasan darinya.
“Udah, aku sama Indri”
Aku tertegun. Dia bersama Indri. Dan untuk kesekian kalinya aku harus melihat kedekatan Totok dengan gadis lain. Hanya saja kali ini dengan sahabatku sendiri.
Dengan berat kulangkahkan kakiku turun dari bis. Mataku menerawang. Aku tahu hal ini pasti akan terjadi ini. Namun rasanya aku tak siap dengan situasi seperti ini. Sepanjang perjalanan aku terus berusaha untuk menghadapi perasaaan ini. Rasanya seperti berjalan menuju kuburan yang kugali sendiri. Kucoba menenangkan pikiran dan menata hatiku. Aku berharap bisa tetap tersenyum sesampainya di sana.
Tinggal beberapa langkah lagi. Kutegapkan badanku, kutarik nafasku dalam-dalam. Kupercepat langkahku dan kuhibur diriku dengan nyanyian. Sesampainya di depan pintu ruang LP, kulongokkan wajahku. Dan di sanalah mereka. Hanya berdua.
Aku tersenyum. Sekali lagi hatiku hancur. Ternyata mereka berdua telah berada di sana sejak jam delapan. Jam delapan? Itu sejak dua jam yang lalu! Namun aku tak berani menerka-nerka apa saja yang telah mereka bicarakan selama itu.
Kami berbicara sebentar dan tak lama kemudian Indri pun pulang. Beberapa saat kemudian datanglah Widya. Bertiga kami menyusun daftar keperluan yang harus dibeli. Setelah daftar itu jadi, ia menyerahkannya padaku untuk segala pembeliannya. Sedangkan Totok, dia melanjutkan perjalanannya pulang ke kosnya.
Saat itu, aku merasa seperti pecundang. Yang sedang dikerjai habis-habisan oleh orang yang kusuka. Tak kusangka hari ini akan menjadi hari yang buruk buatku.
Kali ini aku kalah telak. Aku dikalahkan oleh hatiku. Dan aku merasa sangat lelah atas kondisi seperti ini. Semakin ingin ku melupakannya, semakin aku terikat olehnya. Mungkin ini saatnya untuk benar-benar menjauh darinya.
No comments:
Post a Comment