December 16, 2009

matchmaking

usaha perjodohan dengan telekomunikasi pun semakin gencar. semoga PDKT kali ini memantapkan langkahku….

December 14, 2009

mak comblang

awalnya, si bos memperkenalkan ku dengan proteksi. maka sedikit demi sedikit pun ku mulai mendalami proteksi. hampir tiap hari berkutat dengan proteksi, rasa sayang pun mulai tumbuh. di saat ku mulai merasa nyaman dan ngertiin dia, si bos ngenalin ku dengan telekomunikasi.

tampaknya si bos sekarang nyoba nyoblangin ku dengan si telekomunikasi ini. hfff… mulai dari awal lagi. agak susah nggandeng yang satu ini. sekian lama berjalan dengan telekomunikasi, tapi sepertinya hatiku masih terpaut sama yang lama. entah karena cinlok, atau obsesi. setiap ada proteksi, badan ini terasa ditarik buat ngedeketinnya lagi.

pernah terpikir untuk kembali dengan yang lama, namun apa mungkin? si bos udah nyomblangin kita sedemikian rupa.

yah, ada yang bilang, bahwa mungkin jodoh kita bukan pilihan kita dan bukan yang kita suka, tapi pada akhirnya kita harus menyukainya. namun tetap, the first cut is the deepest.

December 10, 2009

reminds me uf us

Do you hear me? I’m talking to you, across the water, across the deep blue ocean, under the open sky, oh my, baby I’m trying

Boy I hear you in my dreams, I feel your whisper across the sea, I keep you with me in my heart, You make it easier when life gets hard

They don’t know how long it takes, waiting for a love like this. Every time we say goodbye, I wish we had one more kiss I’ll wait for you I promise you, I will

And so I’m sailing through the sea, to an island where we’ll meet. You’ll hear the music fill the air, I’ll put a flower in your hair Though the breezes through trees, move so pretty you’re all I see. As the world keeps spinning round, you hold me right here right now

I’m lucky I’m in love with my best friend. Lucky to have been where I have been. Lucky to be coming home again I’m lucky we’re in love every way. Lucky to have stayed where we have stayed. Lucky to be coming home someday

December 07, 2009

not a girl, amlost a women

haha, susah juga membiasakan diri jadi ibu2. mungkin karena keseringan diajak si mami ikut arisan. jadi bosen kumpul ma ibu2. ga jauh dari rumpi dan bicarain sinetron ato ga belanja di mol. ga penting.

bu broto. panggilan itu udah mulai terbiasa di telingaku. nggak tau deh gimana caranya berbaur ma ibu-ibu rumahan. apa ga bakat jadi ibu2 kali ya? atau mungkin karena belum punya momongan jadi kesannya berasa belum emak2.

belum punya anak, ya nyulik anak yang laen dulu. jadi inget diandra n azzam. kurcaci-kurcaci kecil. diandra udah sering cerita, azzam juga dah mulai ngoceh2 niruin yang lagi ngomong. seru kali ya punya anak….

December 06, 2009

who’s beside me

dipikir2 saking seringnya naik pesawat, tapi kayaknya ga pernah nemu orang yang kukenal ya. apa pada jarang naek pesawat kali ya? hehe…

tapi perjalananku kali ini sedikit berbeda. saat badan sudah lelah dan mata mulai ngantuk karena outbond seharian, mata ini serasa melihat ina ab three. dia duduk di seat 23B, sedangkan ku yang duduk di 23F hanya bisa berpaling tak percaya. ah mungkin orang lain dengan dandanan menor, pikirku.

lalu beberapa saat kemudian terlihat sosok seperti nola ab three duduk di sampingnya. dengan dandanan norak juga. pikirku saat itu, ck ck ck , ini tante-tante kenapa dandanannya kayak mau show aja sih, apa nggak bisa dandan yang biasa aja ya (haha).

dan tak lama berselang, petugas pesawat datang dan menanyakan apakah seat di sampingku kosong. kujawab, ya silakan. ketika seorang ibu-ibu hendak duduk di sampingku, seorang ibu2 lain mirip widi ab three menyela dan berkata bahwa 2 seat yang tersisa itu telah ia booking. akhirnya sang ibu yang sudah tampak repot dengan barang bawaannya, mundur mencari seat yang lain. lalu ibu-ibu yang satu lagi bersama dengan anak kecil baby-sitternya dengan sigapnya menempati tempat duduk 23D dan 23E tepat di sampingku.

well, mereka memang ab three. saya baru benar-benar sadar saat itu. tapi, karena mata ini terlalu ngantuk, tak sepatah katapun keluar untuk membuka obrolan. tidur adalah hal yang paling menyenangkan saat itu. toh kupikir, ku tak kenal mereka. yang kutahu hanya lagu mereka, selebihnya nol. alhasil, aksi tidur pun sukses dilakukan mulai dari sebelum landing sampai akhirnya roda pesawat menyentuh landasan. bye-bye ab three, lain kali aja ya kita ngobrol :)

dejavu

dua hari ikut outbond bareng di malino.  jadi inget outbond rohis di kali kuning. cuman bedanya dulu belon jadi muhrim, ga bisa pegang2an dan kelon2an :) sekarang malah ajang pamer kemesraan. habis gimana lagi, jarang ketemu. ada momen spesial, ya harus dimanfaatin to.

yah, lumayan seru lah, liburan kali ini. yang jelas outbond, sekalian pacaran lagi :)

report dikit tentang malino. area dingin di wilayah sulawesi selatan. sedikit menyerupai kali urang, tapi area bermainnya nggak seluas kali urang dan nggak ada air terjun (soalnya kita nggak kesana, nggak tau deh sebenernya ada apa nggak). lokasi ini menjadi salah satu tujuan wisata di sulawesi selatan. bisa ditempuh sekitar 2 jam dari kota makassar.

November 29, 2009

first cook, cook first

pertama kali masakin suami,sekaligus pengalaman pertama masak sendiri. hihihi,setelah setaun nikah,baru kali ini masakin suami. dengan berbekal keyakinan dan keteguhan jiwa plus searching resep di mbah gugel,walhasil..not bad.. jadilah sepanci sup ala kadarnya.

kunjungan kali ini emang beda dari sebelum-sebelumnya. ada hal-hal yang berkurang,namun digantikan dengan kegiatan lain,which is..masak bareng. hehe.. dan dimulailah duet maut tersebut. sehari bisa masak sampe 2 kali. well..that’s fun.

leyeh-leyeh di depan tipi sambil nonton ternyata asik juga. ato sekedar nemenin suami yang lagi bobok, sambil ngaskus. well..now that’s a holiday. (emang sebelumnya apaan?nyetor kali.hihihi)

fuh..andai tiap sabtu-minggu bisa seperti itu..

November 26, 2009

my path?

antara fokus dan multitalent?

kadang bingung memilih jalur karir. satu sisi menginginkan untuk bisa tetap fokus di satu jalur. tapi lama2 terpikir, kalau tetap berada di jalur yang sekarang, mungkin bisa hancur sendiri. entah kenapa, rasanya jalur yang lama terasa lebih nyaman untuk dijalankan. tapi apakah ada hak untuk memilih? harusnya ada. tinggal masalah keberanian untuk memutuskan.

mungkin untuk sementara ini ada baiknya untuk mencoba multitalent dan mendalami beberapa bidang. mungkin hasil kinerja akan menjadi tidak efektif. tapi, untuk seorang yang belum berpengalaman seperti saya, pilihan ini mungkin yang terbaik

November 24, 2009

daydreming

oh.. i must be hallucinating. it’s not what it is. please, wake me up…

August 17, 2009

Hari Kemerdekaan

Ada yang spesial di Hari Kemerdekaan RI ke 64. 

Seru juga jadi panitia 17an... panitia dadakan, dengan dana full donatur :) dan siapakah para donatur tersebut? saya sendiri belum tau siapa saja tepatnya. ada 2 permainan tambahan tahun ini, tangkap belut dan makan kerupuk. ada beberapa orang yang terlihat kurang setuju. tapi dilihat dari antusiasme peserta, banyak yang suka euy... termasuk saya, panitia merangkap peserta :) maklum, warga JJBB hanya segelintir. antara laki2 dan perempuan pun dicampur klasifikasinya. namun, spesialnya lomba 17an tahun ini: ada doorprize, dan sekitar 85 % warga JJBB ikut serta (tidak termasuk para istri pegawai). terima kasih untuk rekan2 yang bersiedia jauh2 dari lapangan untuk datang memeriahkan acara ini. tahun depan diadain lagi ga ya.. masih ada donatur ga ya.. 
 

berikut ini laporan hasil pertandingan: 

Pemenang 1 Lomba Badminton : Pasangan Djaelani & Zainal Arifin 
Pemenang 2 Lomba Badminton : Pasangan Ismadi & Agus 
Pemenang 3 Lomba Badminton : Pasangan Nasir & Fahmi 

Pemenang 1 Lomba Tenis Meja : Pasangan Nasir & Fahmi 
Pemenang 2 Lomba Tenis Meja : Pasangan Sumarno & Zainal Arifin 
Pemenang 3 Lomba Tenis Meja : Pasangan Santoso & Syaiful Azis 

Pemenang 1 Lomba Catur : Tarida Silalahi 
Pemenang 2 Lomba Catur : S. Parlan 
Pemenang 3 Lomba Catur : Charles 

Pemenang 1 Lomba Makan Kerupuk : Nurwandi 
Pemenang 2 Lomba Makan Kerupuk : Sumarno 
Pemenang 3 Lomba Makan Kerupuk : Apriana Kristyanti  

Pemenang 1 Lomba Tangkap Belut : Sutisna 
Pemenang 2 Lomba Tangkap Belut : Asep 
Pemenang 3 Lomba Tangkap Belut : S. Parlan 

Ada yang lebih spesial lagi saat upacara 17an di Muara Karang. Terutama saat nama saya disebut untuk maju ke lapangan dan bergabung dengan teman2 lainnya untuk menerima SK. Meski sebelumnya sudah dilakukan pengarahan singkat, tetap saja dag dig dug saat urutan nomer 8 disebut namanya. (nomer 8, jadi inget PKS). setelah acara, banyak komen dari rekan-rekan dan atasan: 
- sebagian besar bilang : "Selamat ya, kapan makan-makannya?" >> no comment aja ah 
- Pak Yusman bilang : "Masih di JJBB kan?" >> hehe.. masih pak, masih betah di Cawang 
- Pak Dwi Budi bilang : "Nanti kalo laporannya masih jelek, tak jewer!" >> ampunnnn pak!!!

May 21, 2009

it's u

It's u..
i remember..
who sit there,looking at me.
i walk to u,slowly.
it's been a while since the last time we met.

so many feelings in my heart.
just like shaked soda,which is ready 2 blow.
u are there,with wide open hand.
expect to hold me,just like i do.

i remember.
ur hand catch my body gently.
then we kiss.
not passionatly,but with warm and gentle kiss.

i miss u.
really miss u.
miss u..

May 19, 2009

Bout Somebody

Madu dan Racun – Bill Brod ;
Hero – Mariah Carey ;
Bed of roses – Bon Jovi;
Black or White – Michael Jackson ;
Andai Ia Tahu – Kahitna ;
First Love – Utada Hikaru;
I Would Love to Love You – The Corrs ;
Wanita yang Kau Pilih – Rossa ;
Pergi Tuk Kembali – Ello ;
Bunga Jiwaku – Yovie n Nuno ;
A Little Too Not Over You – David Archuletta;

and many more…

May 05, 2009

Alhamdulillah


Filed under Sampah Organik by tukang sampah on 05-05-2009



Hampir seperempat abad menjalani hidup, kadang rasa syukur terlupakan…

Dulu kuingat, berharap masuk SMA unggulan. Dengan berbekal predikat NEM terbaik di SMP pinggiran, aku sudah berlapang dada jika pun harus masuk SMA nomer dua. But my wish came true..

Lalu berharap masuk di salah satu universitas negeri di Yogya. Serangkaian les kujalani meskipun tanpa ambisi namun yakin bakal ketrima. -Astaghfirullah, takabur banget- Still my wish came true..

Lalu berharap bertemu teman-teman yang supportif, dalam akademis maupun non akademis. My wish came true…

Lalu berharap hanya pacaran sekali lalu menikah dengan calon suami yang seperti suamiku. My wish came true…

Lalu berharap pendadaran dapat nilai sekian dan lulus kuliah dengan nilai sekian sekian. Meskipun agak terseok-seok hanya untuk mengejar predikat “LULUS”, my wish came true just like that..

Lalu berharap mendapat pekerjaan yang lumayan. Aku tahu kemampuanku dalam negosiasi sangat payah. Setelah berkali-kali gagal tes, ada juga dua perusahaan yang cukup besar bersedia menampungku. Well, my wish came true..

Lalu berharap setelah pendidikan di Bogor akan ditempatkan dimana senior-senior di sana mendukungku. I got more.. Having these kind and nice seniors, and placed in big city are just more than enough.

I got more than i wish . Lalu untuk apa aku mengeluh?

March 14, 2009

Suralaya, part 2

Sepi.. hanya debur ombak yang mejadi latar kisahku kali ini..

Pertama kali kubuka pintu kamar ini, hal pertama yang terlintas di benakku adalah: "I wish my husband were here" 

Sekarang, setelah seharian terpanggang di bawah terik matahari, di sinilah aku. Dari kejauhan kulihat lampu berkilauan dari kapa-kapal yang singgah di dermaga. Berharap sebuah kapal datang berlabuh tepat di depanku, mengantarkanmu ke hadapanku. 

But, it must be impossible. Well then, maybe i'll just enjoy this moment by myself...

March 11, 2009

Suralaya

Dua hari yang lalu. Pas liburan maulid, masuk kerja (nggak kerja2 amat sih)... Seperti biasa, sama Pak Bekti, n bapak2 dari P3B. Selama pengetesan panel PLC, Mas Hanafi dari Areva nyetel one and the only song: Hijau Daun - Suara(Ku Berharap). Diulang ulang. Terus Menerus. Tanpa berhenti. 

Nggak kerasa, selama itu, mulailah doktrin itu masuk... Pertama denger ngangguk angguk. Kesekian kalinya lagu itu diputar, ikut bersenandung. Lama kelamaan, ikut nyanyi reffnya. Walhasil, sekarang lagu itu ada di playlist Winamp-ku, hasil dari download di 4shared.com

*Go Indonesian, but still hearing those western songs

Back to Suralaya. Pas habis manuver tegangan, nyoba masuk di switchyard 500 kV. Pak Imam bilang, kalo tangan 2 orang dideketin bisa ada loncatan listrik bahkan bisa sampe ada kilatan. Alhasil, saya yang masih ndeso, cobalah bereksperimen. Dan "zzztttt..." Ada suaranya! nggak ada kilatan sih, tapi wow.. saya yang ndeso pun tertawa...

March 03, 2009

Not songs of my life - Yolanda

I would rather not to sing any of Kangen Band songs. But patheticly, my mouth keep singing this song today. Hmpfff.... do their songs are really good?????

February 27, 2009

Songs of my life - There She Goes

Sekarang, lagi di mobil sambil dengerin lagunya Sixpence None the Richer: There She Goes. Bengong, jadi inget bulu tangkis tadi pagi..

Baru pertama tanding, lawannya udah bu lisma. Alhasil, kalah telak 3-30. Wuiss, itu tanding apa tanding?? Jam terbang rendah, kurang konsentrasi, kurang koordinasi, itu yg buat duet Lini-Nana kalah telah dari duet Lisma-Dina. 

Tapi pertandingan masih panjang. Kata nana: masih ada kesempatan untuk juara 1. Hehe.. Like the spirit, sist. Tapi di pertandingan berikutnya, cerewetnya dikurangin ya!

February 21, 2009

Songs of my life - Yaasin

Saat itu pertengahan bulan Agustus 1996. Seminggu semenjak tanggal 17 Agustus 1996, di Sragen, pada malam harinya sering terdengar bacaan surah Yaasin yang dilantunkan oleh para tetangga. Bapak, telah almarhum. 

Bapak terlahir di Solo, namun dimakamkan di Sragen. Tak ada saudara di sana, hanya keluarga dari Mama. Mama bilang, sebelumnya Bapak pernah bilang ingin sekali tidur di Sragen. Dan begitulah Mama mengartikannya.

Sebulan, dua bulan dan beberapa bulan seterusnya, tiap Kamis malam, sering Mama, saya, Mas Bayu dan Mas Hendro berkumpul untuk membaca Yaasin dan berdoa bersama. Entah sejak kapan, rutinitas itu mulai ditinggalkan. Digantikan dengan cara yang lebih sederhana: Berdoa masing-masing setelah sholat, dan tidak perlu mambaca Yaasin. 

Lebih efektif kurasa, karena yang lebih penting bukanlah Yaasin-nya, tapi doa-nya

February 19, 2009

Nap Time

Waktu umur 8 tahun, aku ingat, saat mama hendak kembali ke kantor dan meninggalkanku di rumah, ia membuatkanku “tempat tidur” yang nyaman di atas lantai. Selembar selimut tebal sebagai alas, satu bantal di bawah kepalaku dan dua guling di samping kanan dan kiriku.

Tak lupa ia menyalakan kipas angin. Pontianak adalah kota yang panas, sehingga kipas angin menjadi teman yang setia di siang hari.

 Aku berbaring di lantai. Memandang mama. Ia berjalan menuju meja buffet dan memasukkan sebuah kaset ke dalam tape. Tak berapa lama terdengar musik riang dari speaker tape. Entah berapa lagu yang kudengar hingga kuterlelap. Satu lagu yang kuingat: Satu Satu Aku Sayang Ibu

February 16, 2009

Songs of my life - Memandang Alam

Waktu SD, masih sering diajari menyanyi sama guru-guru. Aku ingat, saat ikut kemah sabtu-minggu. Aku dan teman-teman terpaksa diinapkan di Ruang Serbaguna Masjid Mujahiddin. Malam itu, sedang hujan deras di luar. 

Seorang guru berdiri di tengah ruangan dan berusaha mengisi kekosongan dengan mengajak anak-anak bernyanyi. Ada satu lagu yang kebanyakan anak belum tahu, sehingga sang guru harus mengajarkannya kepada anak-anak: " Memandang alam dari atas bukit, sejauh pandang kulepaskan...." 

Aku telah hapal lagu ini dan mengikuti setiap lirik yang diajarkan oleh sang guru. Seorang teman bertanya kepadaku: 
"Kau tau ke lagu ni?"  
"Iye lah, mamakku yang ngajar"

February 01, 2009

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 9

<<prev part   next part >>

13 Mei 2004. Inilah saatnya. Bilik-bilik pencoblosan telah disiapkan. Lobi kampus tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dari berbagai angkatan telah berkumpul untuk melakukan pencoblosan. Satu demi satu, para mahasiswa memasuki bilik dan memberikan suaranya. Tak terkecuali aku.

Kubuka dompetku dan kusiapkan kartu mahasiswa. Kutunjukkan kartu itu pada panitia dan aku pun dipersilakan masuk ke dalam bilik. Aku tersenyum melihat kertas yang kupegang. Di dalamnya ada pria yang kusuka sejak lama. Dan dinding-dinding kampus mungkin sudah tahu gambar mana yang akan kucoblos. Segera setelah aku melihat gambarnya. Kucobloskan paku yang ada di atas gambarnya. Lalu kulipat lagi lembar itu.

Hari ini terasa lebih panas dari biasanya. Sinar matahari tampak menembus di balik kaca. Mencari celah-celah yang ingin ia lelehkan. Rasanya enggan menapakkan kaki ke luar gedung ini. Aku teringat dengan Totok. Dimanakah dia saat ini? Kulihat sekelilingku namun aku tak dapat melihat sosoknya.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Totok.

“Makan yuk. Aku di ruang”

Aku tersenyum. Dia baik-baik saja. Tanpa pikir panjang, kulangkahkan kakiku keluar ruangan. Melintasi gedung tata usaha. Matahari yang terik sudah terasa tak begitu terik lagi bagiku. Aku hanya ingin segera sampai di ruang.

~~

Hari itu. Di hari yang panas. Sekali lagi kami berkendara mengitari kota. Saat itu aku
teringat akan memori di sebuah warung mie ayam. Dan kami mulai melakukan perjalanan dari utara ke selatan hanya untuk memakan mie ayam kesukaanku.

Mie Ayam Pak Kelik. Lokasinya tidak jauh dari SMA-ku. Memakan mie ayam di sini membangkitkan ingatanku di masa-masa SMA dulu. Masa dimana aku belum mengerti artinya cinta.

Di sana ia bercerita tentang banyak hal. Tentang kehidupannya, keluarganya, mimpi-mimpinya. Beberapa kali mata kami saling bertatapan. Dan selama itu pulalah jantungku terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku merasakan bahwa kedekatan kami saat ini, lebih dari sekedar teman.

~~

Malam telah datang. Hasilnya telah diumumkan. Dan dia kalah. Napasku sedikit tercekat saat mendengarnya. Lalu bagaimana dengan Totok? Apakah ia akan merasa begitu kecewa degan hasil ini?

Kuraih ponselku. Selama beberapa saat kupandangi susunan huruf di atas keypad. Aku bingung harus bilang apa untuk menghiburnya. Lalu kata-kata inilah yang keluar.

“Sabar ya Tok. Tenang aja, aku akan selalu ada buat kamu”

Entah apa yang ada di benaknya saat ia menerima pesan dariku. Beberapa menit kemudian datanglah pesan balasan.

“Makasih ya Tih. InsyaAllah aku ga akan buat kamu kecewa”

Kupandangi ponselku beberapa lama. Kubaca kembali kata per kata pesan darinya. Aku tidak begitu mengerti maksud dari kalimat yang tersebut.

~~

Ya, cinta memiliki caranya yang aneh. Aku bahkan tak tahu kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta padanya dan kapan kami mulai menjalin hubungan. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa prasangka dan tanpa rencana. Dan ya, dengan caranya yang seperti ini pulalah yang membuatku untuk melihatnya dari sisi yang berbeda dan menerimanya apa adanya.

January 25, 2009

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 8

<<prev part   next part >>

Mei 2004. Ia hentikan kata-katanya sejenak untuk meminum jus alpukat yang dipesannya. Akhir-akhir ini kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Ini makan siang ke sekian kalinya yang kami lalui bersama. Sikapnya padaku sedikit berbeda akhir-akhir ini. Seolah-olah ia ingin mengikat kakiku untuk mengikutinya kemanapun ia mau.

Akhir-akhir ini ia selalu mencemaskan tentang pencalonan dirinya sebagai Ketua Badan Mahasiswa Jurusan, tantang ekspektasi orang terhadapnya dan tentang pendapat miring sebagian orang akan dirinya. Ya, dia butuh teman bicara. Mungkin di saat-saat seperti ini, saat beberapa orang mencemooh dan bahkan menjauhinya, tak begitu banyak orang yang dapat mendengarnya berkeluh kesah. Dan di sinilah aku, untuk kesekian kalinya, berusaha menjadi teman baginya.

“Ahh.. aku lagi pengen sticker Tazmanian Devil nih…” ceplosku spontan saat melihat motor bertempelkan sticker dengan tokoh lucu itu.

“Ya udah, ayo kita cari” balas Totok sambil beranjak dari kursinya.

Aku hanya bisa terhenyak. Aku tidak benar-benar ingin mencarinya saat ini juga, namun dia tampak begitu bersemangat untuk mengantarku mencarikannya.

“Oh..? Oke…” jawabku sedikit ragu.

Dan di siang yang panas itu, kami pun mengendarai sepeda motor mengelilingi kota hanya untuk mencari selembar sticker. Sebuah sticker yang sederhana. Namun ternyata tak mudah untuk mencarinya. Beberapa toko buku sudah kami singgahi, namun tak satupun yang sesuai dengan keinginanku. Aku benar-benar tidak enak padanya. Ingin sebenarnya mengakhiri pencarian ini, namun dia tampak masih begitu bersemangat mencari tempat-tempat yang mungkin menjual barang yang kucari.

Tiba-tiba aku teringat suatu tempat dimana aku selalu menghabiskan waktu saat aku masih duduk di SMP. Ya, toko itu pasti menjual yang kucari. Dengan segera kami pun meluncur ke tempat itu. Dan benar, setelah lebih dari sepuluh kilometer kami berkeliling kota, di sinilah kami akhiri pencarian tak terencana ini. Di tempat yang hanya berjarak 1 kilometer dari rumahku.

Aku tertawa geli sekaligus senang saat mendapatkannya. Pikirku, baik sekali Totok mau mengantarku keliling-keliling kota hanya untuk mencari selembar sticker konyol ini. Mungkin ia benar-benar sedang bosan saat ini.

January 01, 2009

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 7


Maret 2004. Hatiku lelah. Namun ia terus datang mencariku. Membuatku terus terpuruk. Suatu siang saat kami makan bersama, ia mengungkapkan isi pikirannya lagi. Kali ini tentang keluh kesahnya selama menjalani masa kampanye sebagai calon ketua Badan Mahasiswa Jurusan. Saat kusinggung tentang kedekatannya dengan Indri, ia mengelak. Ia mengatakan dengan tegas bahwa ia sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Saat ini, waktu yang ia miliki sudah habis untuk memikirkan kuliah dan pencalonannya ini. Sejenak aku merasa lega.  Itu berarti pintu untukku pun sudah tertutup, dan aku bisa fokus untuk tetap menjadi teman baginya.
 
Beberapa hari berlalu, dan sikapnya tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Bukannya menjauh, namun kali ini sikapnya seolah-olah ia ingin lebih dekat denganku. Namun hatiku sudah terlalu lelah.

Pada saat yang sama, aku pun mulai banyak menghabiskan waktu bersama Sakti. Tak jauh beda dengan Totok, Sakti sangat ramah dan baik. Dengannya aku merasa lebih nyaman dan aman. Nyaman dalam berteman, dan aman dari rasa suka. Dia nasrani dan aku muslim. Jadi tak mungkin kami saling suka.

Dengan Sakti, aku dapat bernapas bebas di dalam lingkar pertemanan. Beberapa kali aku ke rumahnya untuk diajarkan bahasa pemrograman, dan dia pun beberapa kali ke rumah untuk belajar bersama. Lain waktu kami menghabiskan jam makan siang bersama sembari menunggu jam kuliah siang dimulai. Tak jarang aku menumpung pulang dengannya, karena rumah kami tak begitu jauh.

Pada suatu siang sebelum pulang, aku dan Sakti mampir ke warung untuk membeli jus. Aku memilih jus tomat, dan dia seperti biasa. Jus Alpukat. Saat kami hendak minum, ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Totok.

“Tih, lagi dimana, tolong bawain disket yang kutitipin ke kamu dong. Terus ada yang mau aku omongin. Penting nih. Kutunggu di ruang ya ”

Oh iya. Aku baru ingat dengan disket itu. Dengan cepat kubalas pesannya.

“iya Tok, bentar lagi. Aku lagi beli jus nih. Mau nitip ga?”

“boleh deh, alpukat ya”

Pilihan yang sama dengan Sakti. Dengan segera kupesankan satu lagi untuk dibungkus. Sebenarnya aku merasa tidak enak dengan Sakti yang harus mengantarkanku balik ke ruang. Untungnya ia tidak keberatan dan segera meminta pelayan untuk membungkus jus kami.

Sesampai di ruangan, aku dan Sakti masuk dan menemukan Totok di sana sedang terbaring di atas karpet. Kusapa dia dengan senyuman lebar, namun ia hanya menjawab dengan mulut tertutup.

"Hmm," gumamnya.

Aku dan Sakti pun masuk ke dalam ruangan. Sebuah disket dan plastik berisikan jus pesanan Totok segera kuberikan padanya. Ia menerimanya. Sembari meminum jusku, aku bertanya padanya.

“Katanya ada yang penting. Ada apa?”

“Nggak papa, besok aja. Pusing nih” katanya sambil mengangkat lengannya dan menutupi mukanya.

Dalam hati ku bertanya. Apakah dia sedang sakit? Ataukah dia sedang ada masalah terkait dengan pencalonannya? Namun aku tak ingin lagi terjabak dengan segala permasalahan yang dihadapinya. Sembari bercanda dengan Sakti, aku menghabiskan minumku. Sedangkan Totok, tetap terdiam dalam tidurnya. Ia bahkan belum menyentuh minumannya.