Tak terasa dalam 3 bulan lagi usia pernikahan kami sudah menginjak tahun ke tiga. Tempat berlindung sudah ada. Alat transportasi pun sudah memadai. Namun ada yang kurang, belum ada tangis bayi. Dua tahun berpisah telah melenakan kami dalam situasi pemakluman atas belum memiliki momongan. Dan sekarang, setelah banyak dari teman sebaya kami yang telah memiliki buah hati, yang tidak hanya satu, kami pun mulai mencari jalan untuk mengejar ketinggalan kami. Yah, meskipun terdengar sedikit terlambat, akhirnya kami pun memberanikan diri untuk berkonsultasi ke dokter.
Dokter pertama kami, kami “temukan” dengan cara yang sedikit tidak lazim. Dengan tanpa informasi di tangan, kami langsung meluncur ke RS Mitra Keluarga Bekasi, berharap dapat menemukan dokter kandungan berkualitas di sana. Dan sesampainya di depan meja pendaftaran, kami pun kebingungan ketika ditanya ingin bertemu dengan dokter siapa. Kala itu, satu-satunya kualifikasi yang kuinginkana adalah “dokter kandungan wanita”. Dan bertanyalah aku kepada petigas pendaftaran “Dokter kandungan yang cewek siapa ya, mbak?”. Suamiku pun menambahi “dan yang paling senior, mbak?”. Jadilah kami diarahkan untuk menemui Dr. Lidya Liliana.
Begitu nama saya dipanggil, saya pun masuk. Dan dimulailah tanya-jawab yang terbilang singkat. Kemudian dr. Lidya memintaku untuk tiduran di tempat tidur untuk dilakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini seperti yang kulihat di film-film yang pernah kutonton. Sebuah alat disentuhkan ke perutku tanpa perantara baju. Dan sebuah gambar hitam-putih tertampil di monitor. Sang dokter pun dengan seksama memperhatikan monitor sambil menggerak-gerakkan alat USG di atas perutku. Tak beberapa lama. dr. Lidya mempersilakan kepadaku untuk kembali duduk di meja konsultasi.
Di sana, dr. Lidya mulai menjelaskan bahwa bentuk kandunganku bagus, hanya saja bentuk-nya sedikit berbeda. Namun keanehan ini adalah hal yang minor dan tidak perlu diambil tindakan lebih lanjut dan juga tidak perlu menggunakan “gaya” khusus. Dan karena sebelumnya kami telah menjelaskan bahwa kami baru berkumpul kembali selama 6 bulan ini, dr. Lidya hanya menyarankan untuk melakukan sistem kalender, tanpa perlu melakukan tes-tes yang lain ataupun mengkonsumsi obat-obatan atau vitamin tertentu. Menurut sepengetahuan saya, memang serangkaian tes diperlukan bagi pasangan yang telah menikah lebih dari 1 tahun namun belum memiliki anak. Dan dalam pemahaman dr. Lidya, umur pernikahanku juga tidak lebih dari 1 tahun. Sehingga serangkaian tes baru diperlukan setelah 6 bulan lagi.
Meskipun penjelasan dr. Lidya sangat masuk akal, namun kami tetap saja belum merasa puas akan sarannya. Dengan mengikuti saran dr. Lidya, berarti dalam 6 bulan ini kami hanya bisa menunggu tanpa mampu mengusahakan hal yang lebih lagi. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada dr. Lidya, kami pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter lain. Bukan karena kami merasa dr. Lidya tidak berkompeten, hanya saja kami merasa kurang cocok dengan saran dr. Lidya. Mungkin juga sebagian kesalahan ada di sisi kami, dimana kami tidak menekankan kepadanya bahwa kami ingin mendapatkan “program bayi”.
Yeah, we’re ready 4 the next doctor…
NamBah:
Bagi yang ingin menyimak coretan-coretan edisi “Road to our little” selanjutnya, silakan berkunjung ke sini.