March 12, 2024

Perfect

Tidak ada yang sempurna katanya. Tapi tidak menurutku.  Di  mataku dia begitu sempurna. Dia yang selalu benar. Dia  yang serba bisa. Dia yang sangat produktif. Dia yang menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri. 

Tapi satu yang benar, aku jauh dari sempurna. But, I'm trying so hard, to be perfect just like you. It might be easy for you to do all that stuff perfectly. How can you be so effortless handling so many things. While I'm the one who always messed the things up, no matter how hard I try. 

No wonder, why I always be the one who always be blamed,  for a single mistake I've made. I should've just take it. Just like the other time. But sometimes it drown me in tears. When all the effort I spent for it, wiped away by mistakes I've made. And all you can see is just how careless I am. And you have to remind me all over again, just to make sure I get it.

And in the end, inspite of hundred matters you have to handle, my feelings might be not a big deal for you. Or maybe just a burden for you.

To my perfect husband, "Sorry"  might not settle the thing down and erase your mad at me. But I  hope you see my efforts, more than you see my mistakes. 

March 08, 2024

Keran

Bagaikan keran yang tak lagi tersumbat, kini hasratku kepadanya tak terbendung. Kerinduan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasa haus akan sentuhan tubuhnya. Semua baru kurasakan kepadanya dalam beberapa bulan terakhir. Seakan tak peduli apakah dia akan menyambut rasa ini atau tidak, I just do what i wanna do.

Beberapa hal memang sangat ingin kulakukan sejak dulu. Namun aku terlalu takut untuk memulainya. Atau lebih tepatnya, terlalu gengsi. Tanpa kusadari, 15 tahun sudah kulalui dengan keangkuhan itu. Dan pada satu titik akhirnya aku tersadar, apa lagi yang aku tunggu? Apakah aku sanggup menanggung penyesalan jika ternyata waktu kami bersama tak lagi panjang.

Hari demi hari kuberanikan diri membuka tirai keangkuhan yang manghalangi langkahku untuk menyentuhnya. Sedikit demi sedikit, aku memulainya. Memang canggung pada awalnya. Tapi aku menyukainya. Aku menikmatinya. Kenikmatan yang dulu hanya dapat kubayangkan, kini aku mulai menggenggamnya. Dan ada kebahagiaan yang luar biasa ketika ternyata dia pun menikmatinya. 

Entah sampai kapan aku akan bertahan menjadi diriku yang sekarang ini. Apakah aku akan kembali menjadi diriku yang seperti dulu? Mungkin saja, tapi tolong jangan biarkan hal itu terjadi. Aku tak mau. Setidaknya tidak untuk saat ini. Aku masih menginginkan hasrat ini terus mengalir. 

Dan di saat yang sama aku pun tersadar. Betapa jahatnya aku. Betapa aku telah mengabaikannya selama 15 tahun sebelumnya.

Teruntuk suamiku. Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku.