Bagaikan keran yang tak lagi tersumbat, kini hasratku kepadanya tak
terbendung. Kerinduan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasa haus akan
sentuhan tubuhnya. Semua baru kurasakan kepadanya dalam beberapa bulan
terakhir. Seakan tak peduli apakah dia akan menyambut rasa ini atau tidak, I
just do what i wanna do.
Beberapa hal memang sangat ingin kulakukan sejak dulu. Namun aku terlalu
takut untuk memulainya. Atau lebih tepatnya, terlalu gengsi. Tanpa kusadari, 15
tahun sudah kulalui dengan keangkuhan itu. Dan pada satu titik akhirnya aku
tersadar, apa lagi yang aku tunggu? Apakah aku sanggup menanggung penyesalan
jika ternyata waktu kami bersama tak lagi panjang.
Hari demi hari kuberanikan diri membuka tirai keangkuhan yang manghalangi
langkahku untuk menyentuhnya. Sedikit demi sedikit, aku memulainya. Memang
canggung pada awalnya. Tapi aku menyukainya. Aku menikmatinya. Kenikmatan yang
dulu hanya dapat kubayangkan, kini aku mulai menggenggamnya. Dan ada
kebahagiaan yang luar biasa ketika ternyata dia pun menikmatinya.
Entah sampai kapan aku akan bertahan menjadi diriku yang sekarang ini.
Apakah aku akan kembali menjadi diriku yang seperti dulu? Mungkin saja, tapi
tolong jangan biarkan hal itu terjadi. Aku tak mau. Setidaknya tidak untuk saat
ini. Aku masih menginginkan hasrat ini terus mengalir.
Dan di saat yang sama aku pun tersadar. Betapa jahatnya aku. Betapa aku
telah mengabaikannya selama 15 tahun sebelumnya.
Teruntuk suamiku. Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku.
No comments:
Post a Comment