Such a nice Friday!!! Kenapa, ada apa?
Jadi begini ceritanya… Kisah ini berawal sekitar 6 tahun lalu, saat saya sedang menikmati masa-masa kuliah. Pas ngubek-ngubek koleksi kaset masku yang nomer dua, saya dengan sengaja “nemu” kaset ini. Judulnya Best of TV Drama. Isinya versi instrumental dari kumpulan soundtrack drama asia. Yah.. pada masa itu yang terkenal bangsanya Endless Love, All About Eve. Dan setelah disimak, ternyata enak juga didenger. Meskipun nggak bisa diikutin sambil nyanyi-nyanyi, ternyata musik instrumental bisa bikin relaks. Maka dari itu, kaset ini sukses menemaniku setiap datang waktunya bobo’ siang. (idih… enaknya ya, jaman segitu, bisa nyante-nyante, sempet tidur siang pula..)
Ternyata eh ternyata, suatu saat, mungkin karena kebanyakan diputer, suara tu kaset pun jadi mbleret-mbleret. Nggak enak didenger deh pokoknya. Kupikir mungkin tape-nya yang rusak, tapi setelah kucoba di tape yang lain, hasilnya tetep sama. Mbleret. Hua… kaset favorit yang bukan milikku pun akhirnya almarhum sudah.
Dan ternyata, sampai beberapa tahun kemudian, irama musiknya masih terngiang-ngiang di telinga. Terutama suara flute yang mengalun lembut, enak banget di telinga. Udah pernah nyoba nyari donlotannya sih, tapi nggak pernah ketemu. Dan itu pun bukan sekali dua kali. Udah nyari, nyerah, nyari lagi, nyerah lagi, nekad nyari lagi, ahh sudahlah begitu aja terus… Entah udah berapa kali saya tanya mbah gugel, tapi hasilnya tetap nihil. Emmm… maksudnya nihil disini tuh nggak ada link donlot gratisannya ya! Haha, dasar oportunis. Maunya gratisan mulu.
Sampe-sampe, hanya untuk sekedar menghilangkan rasa penasaran sama musik instrumental flute, terdownload lah album “Bolling: Suite For Flute and Jazz Piano Trio”. Mmmm… mungkin dari segi musikalitas, bagusan yang Bolling punya sih. Cuman gimana ya… Rasanya gemes banget, sementara lagu-lagu lain yang sempet nemenin perjalanan pendewasaan mulai dari jaman SD, SMP, SMA, bisa didonlot semua di internet. (emangnya udah dewasa??)
Dan berhubung barangnya udah lama banget, jadi udah nggak ada toko kaset yang nge-jual. Beli online pun basisnya overseas. Akhirnya setelah pencarian yang panjang dan pertimbangan yang matang, diputuskan sudah: beli online!
Well… finally! Akhirnya barang yang kutunggu-tunggu nyampe juga di rumah dengan selamat… And it soundssss sooooo niceeee….. Pikiranku pun melayang-layang ke zaman males-malesnya ngerjain TA dengan setting kamar atas di Jogja. Haha, gotcha!
Jadi, malam ini saya mau bernostalgila dulu! Dudududu….
November 18, 2011
November 10, 2011
kasih tak sampai
Mengutip CEO Note terakhirnya Pak Dis sebagai dirut PLN, “malam itu, hati saya sangat galau”. Yeah, malam ini hatiku juga lagi galau. Harapanku untuk liburan pupus sudah. Persis seperti batalnya rencana liburan Pak Dis untuk jalan-jalan ke eropa.
-
Dua minggu lalu, misua mengijinkanku untuk pelesir ke DIY dan sekitarnya bareng temen-temen kantor. Tersusunlah sejumlah rencana. Mengajak temen-temen untuk nginep di rumah yang lagi kosong ngglondang, belanja ke malioboro, jalan-jalan ke pantai wonosari, menghabiskan pagi dengan berjalan mengelilingi waduk belakang rumah dan ke pasar beli gudeg. Sebuah panci Happycall buat mama pun sudah ditangan. Wuih… rasanya wajah Jogja sudah di depan mata.
-
Seminggu kemudian (minggu lalu), saat pulang kantor dengan santainya misua bilang kalo pada saat yang sama, akan ada Family Gathering. Dan.. buyar sudah semua bayangan yang ada di kepala. Wajah jogja tiba-tiba menjauh dan mengecil. Sempat agak gelo, soalnya udah bayangin segitu hebohnya perjalanan ke Jogja.
-
Tapi seiring dengan menjauhnya wajah Jogja, wajah Ancol pun semakin mendekat dan menawarkan beberapa paket yang tak kalah menggiurkan. Ke Dufan. Berhubung misua belum pernah ke sono, jadi bisa sedikit show off ke misua tentang sejumalah permainan wahana yang hampir pernah kunaiki semua
Ke Bandar Jakarta. Tumben-tumbenan kan kita bisa makan berdua ke resto gede. Meskipun ntar bareng-bareng ama yang laen, yah.. anggap aja dinner berdua ;p. Dan….. yang paling ditunggu, menghabiskan malam yang romantis di hotel. kikikikiki….
-
Dannn….. untuk kedua kalinya, aku terpaksa harus merelakan rencana liburan. Kemarin, misua pergi ke kampung karena kakek meninggal. Yang artinya, rencana menghabiskan weekend pun buyar sudah. Dan aku pun terpaksa tertinggal di jakarta karena pekerjaan kantor yang menumpuk berkat partner yang lagi cuti.
-
Yah, seperti kata Pak Dis, malam itu hati saya sangat galau. Bukan saja malam itu, tapi malam ini, dan malam-malam berikutnya… sampai misua datang.
-
Well.. wish 4 the better vacation later…
-
Dua minggu lalu, misua mengijinkanku untuk pelesir ke DIY dan sekitarnya bareng temen-temen kantor. Tersusunlah sejumlah rencana. Mengajak temen-temen untuk nginep di rumah yang lagi kosong ngglondang, belanja ke malioboro, jalan-jalan ke pantai wonosari, menghabiskan pagi dengan berjalan mengelilingi waduk belakang rumah dan ke pasar beli gudeg. Sebuah panci Happycall buat mama pun sudah ditangan. Wuih… rasanya wajah Jogja sudah di depan mata.
-
Seminggu kemudian (minggu lalu), saat pulang kantor dengan santainya misua bilang kalo pada saat yang sama, akan ada Family Gathering. Dan.. buyar sudah semua bayangan yang ada di kepala. Wajah jogja tiba-tiba menjauh dan mengecil. Sempat agak gelo, soalnya udah bayangin segitu hebohnya perjalanan ke Jogja.
-
Tapi seiring dengan menjauhnya wajah Jogja, wajah Ancol pun semakin mendekat dan menawarkan beberapa paket yang tak kalah menggiurkan. Ke Dufan. Berhubung misua belum pernah ke sono, jadi bisa sedikit show off ke misua tentang sejumalah permainan wahana yang hampir pernah kunaiki semua
-
Dannn….. untuk kedua kalinya, aku terpaksa harus merelakan rencana liburan. Kemarin, misua pergi ke kampung karena kakek meninggal. Yang artinya, rencana menghabiskan weekend pun buyar sudah. Dan aku pun terpaksa tertinggal di jakarta karena pekerjaan kantor yang menumpuk berkat partner yang lagi cuti.
-
Yah, seperti kata Pak Dis, malam itu hati saya sangat galau. Bukan saja malam itu, tapi malam ini, dan malam-malam berikutnya… sampai misua datang.
-
Well.. wish 4 the better vacation later…
November 03, 2011
Tips & Tricks: Konversi Format eBook
“Amirrr…!” Surti membuka pintu dengan penuh semangat. Amira yang sedang asyik membaca novel pun terkaget-kaget dan hampir saja novel yang dipegangnya terlempar. “Apaan sih, Sur… ” jawab Amira sedikit kesal. Tanpa menghiraukan kekesalan temannya itu, Surti segera memperlihatkan sesuatu yang dipegangnya kepada Amira. “Ini lho Mir… gua punya mainan baru. Nggak perlu lagi deh beli buku baru. Nggak perlu lagi menuh-menuhin rak dengan novel-novel. Ni gua punya eBook Reader. Buat baca buku nih, Mir. Nyari eBook kan sekarang banyak bertebaran di internet, gratis lagi…” jelas Surti dengan satu tarikan napas. “oo… gitu ya. Coba, lu punya buku apa?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di eReader yang ia punya, Surti pun menunjukkannya pada Amira.”Ini nih… gua ambil dari internet, trus gua simpen di word”. Amira pun dengan seksama memperhatikan tulisan di layar. “Kok tulisannya kecil-kecil gini sih Sur… nggak keliatan tau!”. Surti hanya bisa menggaruk-garukkan kepalanya. “iya ya…”
Apa format eBook favorit anda? Sebagian besar eReader saat ini telah mendukung hampir seluruh format eBook yang ada. Jika eReader anda tidak mendukung format tertentu, atau anda lebih menyukai suatu jenis format eBook, anda dapat mengubah format eBook yang anda punya menjadi format yang anda inginkan. Sebenarnya banyak software yang menawarkan fasilitas untuk mengkonversi beberapa jenis format eBook. Salah satu diantaranya adalah Calibre. Software ini mampu menkonversi ke dan dari hampir seluruh format eBook. Namun sebagai referensi, Calibre memilih format LIT, MOBI, EPUB, FB2, HTML, PRC, RTF, PDB, TXT, PDF sebagai format terbaik.
Format eBook yang paling banyak digemari saat ini adalah ePub. Keunggulan dari format ini adalah ukuran huruf yang bisa diperbesar atau diperkecil , namun dengan ukuran halaman yang sama dan mampu menyesuaikan bentuk dari perngkat yang digunakan. Dari segi ukuran file pun, ePub mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran TXT.
Berikut ini cara mengubah format eBook menggunakan Calibre
Namun tidak semua file ebook dapat anda konversi. Ebook dengan proteksi DRM (digital rights management) tidak akan mampu terbaca oleh Calibre. DRM ini adalah bentuk perlindungan terhadap pembajakan yang akan mengunci file sehingga hanya dapat dibuka oleh perangkat tertentu. Untuk membaca file yang memiliki DRM, anda harus menghilangkan DRM-nya terlebih dahulu. Ada beberapa software untuk menghilangkan DRM ini, salah satunya adalah Mobipocket DRM Removal (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MDR). Untuk melakukannya, anda harus menggunakannya bersama software Mobipocket Reader (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MR). Caranya:
“Amir.. liat nih… koleksi buku dan komik gua udah ribuan… gratis lagi” pamer Surti. Amira hanya menjawab pelan “hmm… emangnya lu mau baca semuanya tuh buku? satu buku aja kelarnya berbulan-bulan gitu…” Surti pun cuma bisa nyengir.
Apa format eBook favorit anda? Sebagian besar eReader saat ini telah mendukung hampir seluruh format eBook yang ada. Jika eReader anda tidak mendukung format tertentu, atau anda lebih menyukai suatu jenis format eBook, anda dapat mengubah format eBook yang anda punya menjadi format yang anda inginkan. Sebenarnya banyak software yang menawarkan fasilitas untuk mengkonversi beberapa jenis format eBook. Salah satu diantaranya adalah Calibre. Software ini mampu menkonversi ke dan dari hampir seluruh format eBook. Namun sebagai referensi, Calibre memilih format LIT, MOBI, EPUB, FB2, HTML, PRC, RTF, PDB, TXT, PDF sebagai format terbaik.
Format eBook yang paling banyak digemari saat ini adalah ePub. Keunggulan dari format ini adalah ukuran huruf yang bisa diperbesar atau diperkecil , namun dengan ukuran halaman yang sama dan mampu menyesuaikan bentuk dari perngkat yang digunakan. Dari segi ukuran file pun, ePub mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran TXT.
Berikut ini cara mengubah format eBook menggunakan Calibre
- Install Calibre. Software dapat diunduh di sini
- Buka Sorftware Calibre
- Klik “Add Books”. pilih file eBook yang ingin anda ubah. lalu klik open. akan tertampil list eBook yang anda buka di layar.
- Blok file-file yang ingin anda ubah
- Klik “Convert Books”. akan tertampil pengaturan output hasil konversi. di bagian pojok kanan atas, pilih format output yang anda inginkan. klik OK
- Tunggu beberapa saat selagi Calibre mengkonversi format sesuai yang anda inginkan. Proses konversi berlangsung ditandai dengan berputarnya lingkaran pada bagian pojok kanan bawah. Setelah lingkaran tersebut berhenti berputar, berarti hasil file yang anda konversi telah tersedia.
- Untuk membuka lokasi file, klik kanan file yang anda konversi, pilih “Open containing folder”
Namun tidak semua file ebook dapat anda konversi. Ebook dengan proteksi DRM (digital rights management) tidak akan mampu terbaca oleh Calibre. DRM ini adalah bentuk perlindungan terhadap pembajakan yang akan mengunci file sehingga hanya dapat dibuka oleh perangkat tertentu. Untuk membaca file yang memiliki DRM, anda harus menghilangkan DRM-nya terlebih dahulu. Ada beberapa software untuk menghilangkan DRM ini, salah satunya adalah Mobipocket DRM Removal (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MDR). Untuk melakukannya, anda harus menggunakannya bersama software Mobipocket Reader (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MR). Caranya:
- Buka MR lalu buka MDR
- Jika pada MDR, PID anda belum terdeteksi,periksa kembali di MR. Klik “Reading Device” > “Edit Properties” > copy PID anda yang tertampil, lalu paste pada kolom PID di MDR.
- Buka file eBook yang diinginkan
- Klik “Remove DRM”
“Amir.. liat nih… koleksi buku dan komik gua udah ribuan… gratis lagi” pamer Surti. Amira hanya menjawab pelan “hmm… emangnya lu mau baca semuanya tuh buku? satu buku aja kelarnya berbulan-bulan gitu…” Surti pun cuma bisa nyengir.
eBook Reader
Apa ada yang aneh? Saat orang lain mengidam-idamkan tablet, saya memimpikan eBook reader dengan layar hitam-putih. Yang dari segi harga, tidak jauh berbeda dengan tablet namun dengan fasilitas yang sangat terbatas.
anonim: “wah.. punya tablet nih?”
saya: “bukan tablet nih…!”
anonim: “apaan dong?”
saya: “eBook Reader. Buku”
anonim: “bisa buat apa aja?”
saya: “ya buat baca, enak bisa ditenteng-tenteng. layarnya itam putih pula, nggak capek kalo baca lama2 kayak di komputer.”
anonim: “bisa internetan juga?”
saya: “cuman cek imel doang, kalo pas ada wireless.”
anonim: “ooo….”
anonim lagi: “kenapa nggak beli tablet aja sekalian?”
………..dan begitulah seterusnya……..
Percakapan tersebut sering terjadi jika seorang teman yang mendapatkan saya sedang membaca dengan eBook reader. Agak susah menjelaskannya memang, berhubung jalan pikiran saya berbeda dengan kebanyakan orang. Kebanyakan orang akan berpikir, sangatlah menyenangkan memiliki tablet yang handy dan bisa digunakan untuk hampir semua fungsi yang bisa dilakukan oleh komputer. Bisa internet, game, baca+edit dokumen, foto, video, de-el-el. Sedangkan saya, adalah orang yang tidak begitu tertarik All-In-One gadget. Saya telah sangat nyaman menjelajahi dunia maya, main game, mengedit lagu atau membuat video de-el-el, dengan Axioo saya yang telah terinstall begitu macam software yang menarik.
Sampai suatu saat saya merasakan kesulitan saat harus membaca komik ataupun novel elektronik di layar komputer. Mata jadi cepet capek. Alhasil, saya pun mengidam-idamkan barang ini sejak 2 tahun lalu. Ebook Reader, dengan teknologi e-Ink yang menghasilkan citra hitam-putih dan sangat nyaman di mata.
Bahkan misua pun sempat melayangkan pandangan aneh saat saya malu-malu kucing untuk minta dibelikan eBook reader di suatu pameran buku.
misua: “beneran, mau ini?”
saya: *mengangguk*
misua: “hitam putih?”
saya: *mengangguk lagi*
saya lagi: “biar enak buat baca, mata jadi nggak cepet capek”
misua: *terdiam sebentar*
misua lagi: “ya sudah, kalo emang pengen”
berdua: *terdiam*
misua lagi: “yakin nih?”
saya: “HO’OH!”
misua: *nyengir*
Alhasil, terbelilah eReader impian. meskipun tidak setenar Kindle atau Sony PRS atau Onyx Boox, pilihan jatuh pada iRiver buatan korea. Alasannya? jelas, harga lebih murah dari ketiga merek tenar diatas. Dan meskipun tidak setenar tablet, gadget ini telah sukses membuat saya diberi title aut*s oleh misua. Yeah, i love this gadget!
anonim: “wah.. punya tablet nih?”
saya: “bukan tablet nih…!”
anonim: “apaan dong?”
saya: “eBook Reader. Buku”
anonim: “bisa buat apa aja?”
saya: “ya buat baca, enak bisa ditenteng-tenteng. layarnya itam putih pula, nggak capek kalo baca lama2 kayak di komputer.”
anonim: “bisa internetan juga?”
saya: “cuman cek imel doang, kalo pas ada wireless.”
anonim: “ooo….”
anonim lagi: “kenapa nggak beli tablet aja sekalian?”
………..dan begitulah seterusnya……..
Percakapan tersebut sering terjadi jika seorang teman yang mendapatkan saya sedang membaca dengan eBook reader. Agak susah menjelaskannya memang, berhubung jalan pikiran saya berbeda dengan kebanyakan orang. Kebanyakan orang akan berpikir, sangatlah menyenangkan memiliki tablet yang handy dan bisa digunakan untuk hampir semua fungsi yang bisa dilakukan oleh komputer. Bisa internet, game, baca+edit dokumen, foto, video, de-el-el. Sedangkan saya, adalah orang yang tidak begitu tertarik All-In-One gadget. Saya telah sangat nyaman menjelajahi dunia maya, main game, mengedit lagu atau membuat video de-el-el, dengan Axioo saya yang telah terinstall begitu macam software yang menarik.
Sampai suatu saat saya merasakan kesulitan saat harus membaca komik ataupun novel elektronik di layar komputer. Mata jadi cepet capek. Alhasil, saya pun mengidam-idamkan barang ini sejak 2 tahun lalu. Ebook Reader, dengan teknologi e-Ink yang menghasilkan citra hitam-putih dan sangat nyaman di mata.
Bahkan misua pun sempat melayangkan pandangan aneh saat saya malu-malu kucing untuk minta dibelikan eBook reader di suatu pameran buku.
misua: “beneran, mau ini?”
saya: *mengangguk*
misua: “hitam putih?”
saya: *mengangguk lagi*
saya lagi: “biar enak buat baca, mata jadi nggak cepet capek”
misua: *terdiam sebentar*
misua lagi: “ya sudah, kalo emang pengen”
berdua: *terdiam*
misua lagi: “yakin nih?”
saya: “HO’OH!”
misua: *nyengir*
Alhasil, terbelilah eReader impian. meskipun tidak setenar Kindle atau Sony PRS atau Onyx Boox, pilihan jatuh pada iRiver buatan korea. Alasannya? jelas, harga lebih murah dari ketiga merek tenar diatas. Dan meskipun tidak setenar tablet, gadget ini telah sukses membuat saya diberi title aut*s oleh misua. Yeah, i love this gadget!
Tips & Tricks: Konversi Format eBook
“Amirrr…!” Surti membuka pintu dengan penuh semangat. Amira yang sedang asyik membaca novel pun terkaget-kaget dan hampir saja novel yang dipegangnya terlempar. “Apaan sih, Sur… ” jawab Amira sedikit kesal. Tanpa menghiraukan kekesalan temannya itu, Surti segera memperlihatkan sesuatu yang dipegangnya kepada Amira. “Ini lho Mir… gua punya mainan baru. Nggak perlu lagi deh beli buku baru. Nggak perlu lagi menuh-menuhin rak dengan novel-novel. Ni gua punya eBook Reader. Buat baca buku nih, Mir. Nyari eBook kan sekarang banyak bertebaran di internet, gratis lagi…” jelas Surti dengan satu tarikan napas. “oo… gitu ya. Coba, lu punya buku apa?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di eReader yang ia punya, Surti pun menunjukkannya pada Amira.”Ini nih… gua ambil dari internet, trus gua simpen di word”. Amira pun dengan seksama memperhatikan tulisan di layar. “Kok tulisannya kecil-kecil gini sih Sur… nggak keliatan tau!”. Surti hanya bisa menggaruk-garukkan kepalanya. “iya ya…”
-
Apa format eBook favorit anda? Sebagian besar eReader saat ini telah mendukung hampir seluruh format eBook yang ada. Jika eReader anda tidak mendukung format tertentu, atau anda lebih menyukai suatu jenis format eBook, anda dapat mengubah format eBook yang anda punya menjadi format yang anda inginkan. Sebenarnya banyak software yang menawarkan fasilitas untuk mengkonversi beberapa jenis format eBook. Salah satu diantaranya adalah Calibre. Software ini mampu menkonversi ke dan dari hampir seluruh format eBook. Namun sebagai referensi, Calibre memilih format LIT, MOBI, EPUB, FB2, HTML, PRC, RTF, PDB, TXT, PDF sebagai format terbaik.
-
Format eBook yang paling banyak digemari saat ini adalah ePub. Keunggulan dari format ini adalah ukuran huruf yang bisa diperbesar atau diperkecil , namun dengan ukuran halaman yang sama dan mampu menyesuaikan bentuk dari perngkat yang digunakan. Dari segi ukuran file pun, ePub mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran TXT.
-
Berikut ini cara mengubah format eBook menggunakan Calibre
-
Apa format eBook favorit anda? Sebagian besar eReader saat ini telah mendukung hampir seluruh format eBook yang ada. Jika eReader anda tidak mendukung format tertentu, atau anda lebih menyukai suatu jenis format eBook, anda dapat mengubah format eBook yang anda punya menjadi format yang anda inginkan. Sebenarnya banyak software yang menawarkan fasilitas untuk mengkonversi beberapa jenis format eBook. Salah satu diantaranya adalah Calibre. Software ini mampu menkonversi ke dan dari hampir seluruh format eBook. Namun sebagai referensi, Calibre memilih format LIT, MOBI, EPUB, FB2, HTML, PRC, RTF, PDB, TXT, PDF sebagai format terbaik.
-
Format eBook yang paling banyak digemari saat ini adalah ePub. Keunggulan dari format ini adalah ukuran huruf yang bisa diperbesar atau diperkecil , namun dengan ukuran halaman yang sama dan mampu menyesuaikan bentuk dari perngkat yang digunakan. Dari segi ukuran file pun, ePub mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran TXT.
-
Berikut ini cara mengubah format eBook menggunakan Calibre
- Install Calibre. Software dapat diunduh di sini
- Buka Sorftware Calibre
- Klik “Add Books”. pilih file eBook yang ingin anda ubah. lalu klik open. akan tertampil list eBook yang anda buka di layar.
- Blok file-file yang ingin anda ubah
- Klik “Convert Books”. akan tertampil pengaturan output hasil konversi. di bagian pojok kanan atas, pilih format output yang anda inginkan. klik OK
- Tunggu beberapa saat selagi Calibre mengkonversi format sesuai yang anda inginkan. Proses konversi berlangsung ditandai dengan berputarnya lingkaran pada bagian pojok kanan bawah. Setelah lingkaran tersebut berhenti berputar, berarti hasil file yang anda konversi telah tersedia.
- Untuk membuka lokasi file, klik kanan file yang anda konversi, pilih “Open containing folder”
- Buka MR lalu buka MDR
- Jika pada MDR, PID anda belum terdeteksi,periksa kembali di MR. Klik “Reading Device” > “Edit Properties” > copy PID anda yang tertampil, lalu paste pada kolom PID di MDR.
- Buka file eBook yang diinginkan
- Klik “Remove DRM”
October 08, 2011
Road to our little – Step 4 – HSG
Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.
Tes HSG ( HisteroSalfingoGrafi). Ada yang bilang ditiup/tiup rahim, ada juga yang bilang rontgen rahim. Awalnya sih saya nggak ngerti apa dan bagaimana tes HSG ini. Tapi setelah browsing-browsing di inet, menemukan artikel ini:
Pada pasangan yang infertil (tidak subur), sering dilakukan pemeriksaan yang dinamakan HSG (Histero-salpingo-grafi). HSG dilakukan guna mendeteksi kondisi rahim dan saluran indung telur. HSG mempergunakan sinar X dan cairan khusus yang memberikan reaksi warna putih jika di beri sinar X, sehingga akan “tercetak” bentuk rahim dan saluran indung telur (tuba). Sehingga dokter dapat menentukan ada tidaknya kerusakan atau sumbatan pada saluran reproduksi dimaksud. sumber
Tapi yang membuatku sedikit deg-deg-an adalah pada bagian ini:
Dimasukkan spekulum untuk memperlihatkan mulut leher rahim.
Kateter kecil lalu dimasukkan ke dalam rahim melalui liang leher rahim.
Zat pewarna rontgen lalu dimasukkan perlahan2 ke dalam rahim lewat kateter.
Hiyy… bayangin, sesuatu dimasukkan ke dalam tubuh kita. Yang jelas, pasti rasanya berbeda dengan USG Transvagina. Apalagi ngeliat testimoni para blogger yang pernah melakukan tes HSG ini. Ada yang bilang sakit banget, ada yang bilang sakit biasa. Tapi ada juga yang bilang nggak sakit. Ah, untuk yang terakhir pasti hanya testimoni yang memberi keberanian pada mereka yang akan menjalani tes HSG.
Pada hari kedua menstruasi, saya pun segera menghubungi bagian radiologi RS Haji. Saya pun dijadwalkan untuk melakukan tes HSG pada hari ke-11, yaitu hari Jum’at. Ketika hal ini saya infokan ke suami, ternyata suami nggak bisa nemenin, karena pas dia jadi juri buat lomba karya inovasi…. Hiks…. Sedihnya hati ini… Gelisah tak menentu… (halah, lebay). Untungnya mbakku bersedia nemenin.
Malam sebelum hari-H, keberanianku sempat menciut dan berfikir untuk mundur saja. Apalagi sang suami sedang tidak ada di samping. Tapi dengan bismillah, akhirnya tekadku pun bulat kembali. Pagi harinya, sepanjang perjalan, tak sedikitpun keinginan untuk mundur ataupun rasa takut muncul. Anehnya, malah terngiang-ngiang musiknya Beethoven yang “symphony no7″, dengan irama yang menghentak-hentak . Entahlahlah, hati ini tampak sedang bersemangat sekali menanti serangkaian tes di hadapan.
Kami tiba di lab radiologi pukul 9.45. Berkat mbak yang menemani, tak terasa nama saya akhirnya dipanggil juga pada pukul 11.15. Jantung mulai berdegup lebih kencang, saat memasuki ruang radiologi. Pertama saya disuruh untuk mengosongkan kandung kemih alias pipis, lalu berganti pakaian khusus pasien. Kemudian saya diminta untuk berbaring sembari sang petugas membetulkan letak peralatan yang akan digunakan untuk mengambil foto rontgen. Setelah itu saya pun diminta untuk duduk kembali dan meninggalkan saya sendiri untuk memanggil si dokter radiologi. Pada saat itu saya dihadapkan pada beberapa peralatan yang tergeletak di meja di samping saya. Ada selang, penjepit, alat suntik dengan maupun tanpa jarum, dan juga mangkok kecil yang berisi air berwarna merah kecoklatan. Berkat berburu informasi dari internet, saya sudah bisa membayangkan fungsi dari masing-masing alat.
Setelah beberapa saat, sang petugas kembali lagi, “Bu, tunggu sebentar ya, dokternya lagi ada USG.” Yeah… nggak papa lah… Dan selama waktu menunggu pun, musik Beethoven “symphony no7″ pun kembali terngiang-ngiang. Kali ini intro movement no.4. Halah… ini sih namanya korban Nodame Cantabile.
Lebih dari seperempat jam saya menunggu, akhirnya bu dokter datang juga. Dengan singkat bu dokter memberikan penjelasan dan menjelaskan bahwa reaksi dari tes HSG ini memang berbeda-beda pada tiap orang. Saya pun hanya mengangguk. Kali ini saya disuruh duduk di ujung meja, lalu berbaring dengan kaki berpijak di pinggir meja pula, kalo istilah jowone “ngangkang”.
Seperti yang pernah dijabarkan di situs, saya merasakan tiap langkah yang dilakukan. Pada saat spekulum dimasukkan melalui mulut rahim, saya sempat kaget, dan bu dokter meminta saya untuk relaks saja. Saya pun mencoba untuk lebih me-relaks-kan diri lagi. Setelah Spekulum terpasang, saya merasakan sesuatu bergerak ke dalam rahim saya. Ya, kateter mulai dimasukkan dan rasa mulas mulai terasa. Beberapa saat kemudian saya merasakan sesuatu mengaliri perut bagian bawah saya, dan rasanya nyeri. Seperti nyeri ketika sedang haid hari pertama, hanya saja bagi saya yang tidak pernah merasakan nyeri yang berlebihan pada hari pertama, rasanya tetap lebih menyakitkan dibandingkan nyeri haid. Bu dokter pun meminta saya untuk mengambil nafas teratur. Tarik nafas dari hidung, hembuskan lewat mulut.
Setelah bu dokter selesai memasukkan cairan ke tubuhku, saya diminta untuk mundur dan berbaring dengan kaki lurus. Dengan menahan rasa sakit, saya pun melakukan apa yang diinstruksikan. Lalu saya merasakan papan rontgen yang saya tiduri mulai bergerak miring sehingga posisi kepala berada lebih bawah dibandingkan dengan kaki. Sampai dengan tahap ini, rasa nyeri sudah berkurang, hanya terasa penuh di perut. Setelah beberapa saat, papan rontgen mulai kembali ke posisi semula, dan saya pun diminta untuk miring ke kiri sejenak lalu miring ke kanan untuk difoto. Sampai dengan pemotretan yang terakhir, rasa sakit pun sudah hilang. Saat bu dokter mempersilakan untuk tetap berbaring sampai rasa sakit saya hilang, saya hanya tersenyum dan berkata bahwa sudah tidak terasa sakit lagi. Saya pun dipersilakan turun dan berganti baju. Seperti yang dianjurkan oleh pada sebuah blog yang pernah kukunjungi, saya pun memakai pembalut agar sisa cairan rontgen tertampung di pembalut.
Secara keseluruhan, proses tes tidaklah lama. Mungkin hanya sekitar 5-10 menit. Dan rasa sakit yang dialami saat tes pun hanya sebentar. Well… I did it!! Alhamdulillah…
Karena waktu telah menunjukkan pukul 11.45, saya dan mbak pun memutuskan untuk mencari makanan di kantin sembari menunggu hasil tes keluar. Pukul 12.30, kami kembali lagi ke lab radiologi untuk mengambil hasil test, namun ternyata hasil tersebut belum keluar, Terpaksa kami menunggu kembali. Pada tahap ini, rasa nyeri mulai menyerang kembali. Nah, sakit yang ini yang lebih menyakitkan daripada sakit yang saya rasakan pada saat tes. Mungkin karena intervalnya yang lebih lama. Sempat berpikir juga untuk pulang saja dan mengambil hasil tes pada malam harinya. Namun tak beberapa lama kemudian si petugas pun memanggil namaku. Ajaibnya, saat berjalan menuju tempat pengambilan hasil rontgen, rasa sakit yang baru saja saya rasakan sedikit demi sedikit mulai berkurang. Terlebih saat saya membuka hasil lab: “Bentuk normal dan besar. Tuba faloppi patent.”
Alhamdulillah…
Kami pun segera pulang untuk menghindari datangnya rasa sakit susulan. Kali ini selama perjalanan yang terngiang-ngiang adalah musiknya Gershwin yang “Rhapsody In Blue”, dengan irama yang kocak dan ceria. Haha… ya.. saya lagi bahagia…
So far so good… Ready 4 the next step…
Tes HSG ( HisteroSalfingoGrafi). Ada yang bilang ditiup/tiup rahim, ada juga yang bilang rontgen rahim. Awalnya sih saya nggak ngerti apa dan bagaimana tes HSG ini. Tapi setelah browsing-browsing di inet, menemukan artikel ini:
Pada pasangan yang infertil (tidak subur), sering dilakukan pemeriksaan yang dinamakan HSG (Histero-salpingo-grafi). HSG dilakukan guna mendeteksi kondisi rahim dan saluran indung telur. HSG mempergunakan sinar X dan cairan khusus yang memberikan reaksi warna putih jika di beri sinar X, sehingga akan “tercetak” bentuk rahim dan saluran indung telur (tuba). Sehingga dokter dapat menentukan ada tidaknya kerusakan atau sumbatan pada saluran reproduksi dimaksud. sumber
Tapi yang membuatku sedikit deg-deg-an adalah pada bagian ini:
Dimasukkan spekulum untuk memperlihatkan mulut leher rahim.
Kateter kecil lalu dimasukkan ke dalam rahim melalui liang leher rahim.
Zat pewarna rontgen lalu dimasukkan perlahan2 ke dalam rahim lewat kateter.
Hiyy… bayangin, sesuatu dimasukkan ke dalam tubuh kita. Yang jelas, pasti rasanya berbeda dengan USG Transvagina. Apalagi ngeliat testimoni para blogger yang pernah melakukan tes HSG ini. Ada yang bilang sakit banget, ada yang bilang sakit biasa. Tapi ada juga yang bilang nggak sakit. Ah, untuk yang terakhir pasti hanya testimoni yang memberi keberanian pada mereka yang akan menjalani tes HSG.
Pada hari kedua menstruasi, saya pun segera menghubungi bagian radiologi RS Haji. Saya pun dijadwalkan untuk melakukan tes HSG pada hari ke-11, yaitu hari Jum’at. Ketika hal ini saya infokan ke suami, ternyata suami nggak bisa nemenin, karena pas dia jadi juri buat lomba karya inovasi…. Hiks…. Sedihnya hati ini… Gelisah tak menentu… (halah, lebay). Untungnya mbakku bersedia nemenin.
Malam sebelum hari-H, keberanianku sempat menciut dan berfikir untuk mundur saja. Apalagi sang suami sedang tidak ada di samping. Tapi dengan bismillah, akhirnya tekadku pun bulat kembali. Pagi harinya, sepanjang perjalan, tak sedikitpun keinginan untuk mundur ataupun rasa takut muncul. Anehnya, malah terngiang-ngiang musiknya Beethoven yang “symphony no7″, dengan irama yang menghentak-hentak . Entahlahlah, hati ini tampak sedang bersemangat sekali menanti serangkaian tes di hadapan.
Kami tiba di lab radiologi pukul 9.45. Berkat mbak yang menemani, tak terasa nama saya akhirnya dipanggil juga pada pukul 11.15. Jantung mulai berdegup lebih kencang, saat memasuki ruang radiologi. Pertama saya disuruh untuk mengosongkan kandung kemih alias pipis, lalu berganti pakaian khusus pasien. Kemudian saya diminta untuk berbaring sembari sang petugas membetulkan letak peralatan yang akan digunakan untuk mengambil foto rontgen. Setelah itu saya pun diminta untuk duduk kembali dan meninggalkan saya sendiri untuk memanggil si dokter radiologi. Pada saat itu saya dihadapkan pada beberapa peralatan yang tergeletak di meja di samping saya. Ada selang, penjepit, alat suntik dengan maupun tanpa jarum, dan juga mangkok kecil yang berisi air berwarna merah kecoklatan. Berkat berburu informasi dari internet, saya sudah bisa membayangkan fungsi dari masing-masing alat.
Setelah beberapa saat, sang petugas kembali lagi, “Bu, tunggu sebentar ya, dokternya lagi ada USG.” Yeah… nggak papa lah… Dan selama waktu menunggu pun, musik Beethoven “symphony no7″ pun kembali terngiang-ngiang. Kali ini intro movement no.4. Halah… ini sih namanya korban Nodame Cantabile.
Lebih dari seperempat jam saya menunggu, akhirnya bu dokter datang juga. Dengan singkat bu dokter memberikan penjelasan dan menjelaskan bahwa reaksi dari tes HSG ini memang berbeda-beda pada tiap orang. Saya pun hanya mengangguk. Kali ini saya disuruh duduk di ujung meja, lalu berbaring dengan kaki berpijak di pinggir meja pula, kalo istilah jowone “ngangkang”.
Seperti yang pernah dijabarkan di situs, saya merasakan tiap langkah yang dilakukan. Pada saat spekulum dimasukkan melalui mulut rahim, saya sempat kaget, dan bu dokter meminta saya untuk relaks saja. Saya pun mencoba untuk lebih me-relaks-kan diri lagi. Setelah Spekulum terpasang, saya merasakan sesuatu bergerak ke dalam rahim saya. Ya, kateter mulai dimasukkan dan rasa mulas mulai terasa. Beberapa saat kemudian saya merasakan sesuatu mengaliri perut bagian bawah saya, dan rasanya nyeri. Seperti nyeri ketika sedang haid hari pertama, hanya saja bagi saya yang tidak pernah merasakan nyeri yang berlebihan pada hari pertama, rasanya tetap lebih menyakitkan dibandingkan nyeri haid. Bu dokter pun meminta saya untuk mengambil nafas teratur. Tarik nafas dari hidung, hembuskan lewat mulut.
Setelah bu dokter selesai memasukkan cairan ke tubuhku, saya diminta untuk mundur dan berbaring dengan kaki lurus. Dengan menahan rasa sakit, saya pun melakukan apa yang diinstruksikan. Lalu saya merasakan papan rontgen yang saya tiduri mulai bergerak miring sehingga posisi kepala berada lebih bawah dibandingkan dengan kaki. Sampai dengan tahap ini, rasa nyeri sudah berkurang, hanya terasa penuh di perut. Setelah beberapa saat, papan rontgen mulai kembali ke posisi semula, dan saya pun diminta untuk miring ke kiri sejenak lalu miring ke kanan untuk difoto. Sampai dengan pemotretan yang terakhir, rasa sakit pun sudah hilang. Saat bu dokter mempersilakan untuk tetap berbaring sampai rasa sakit saya hilang, saya hanya tersenyum dan berkata bahwa sudah tidak terasa sakit lagi. Saya pun dipersilakan turun dan berganti baju. Seperti yang dianjurkan oleh pada sebuah blog yang pernah kukunjungi, saya pun memakai pembalut agar sisa cairan rontgen tertampung di pembalut.
Secara keseluruhan, proses tes tidaklah lama. Mungkin hanya sekitar 5-10 menit. Dan rasa sakit yang dialami saat tes pun hanya sebentar. Well… I did it!! Alhamdulillah…
Karena waktu telah menunjukkan pukul 11.45, saya dan mbak pun memutuskan untuk mencari makanan di kantin sembari menunggu hasil tes keluar. Pukul 12.30, kami kembali lagi ke lab radiologi untuk mengambil hasil test, namun ternyata hasil tersebut belum keluar, Terpaksa kami menunggu kembali. Pada tahap ini, rasa nyeri mulai menyerang kembali. Nah, sakit yang ini yang lebih menyakitkan daripada sakit yang saya rasakan pada saat tes. Mungkin karena intervalnya yang lebih lama. Sempat berpikir juga untuk pulang saja dan mengambil hasil tes pada malam harinya. Namun tak beberapa lama kemudian si petugas pun memanggil namaku. Ajaibnya, saat berjalan menuju tempat pengambilan hasil rontgen, rasa sakit yang baru saja saya rasakan sedikit demi sedikit mulai berkurang. Terlebih saat saya membuka hasil lab: “Bentuk normal dan besar. Tuba faloppi patent.”
Alhamdulillah…
Kami pun segera pulang untuk menghindari datangnya rasa sakit susulan. Kali ini selama perjalanan yang terngiang-ngiang adalah musiknya Gershwin yang “Rhapsody In Blue”, dengan irama yang kocak dan ceria. Haha… ya.. saya lagi bahagia…
So far so good… Ready 4 the next step…
October 06, 2011
Balada Jembatan Jejadian
Waktu SD, aku sering diajak jalan-jalan naik mobil ama Bapak ke Mempawah, ke Sebrang, ke Sanggau, de el el. Kadang-kadang liburan, sering juga diajak sekalian pas Bapak lagi tugas. Tip mobil waktu itu masih oke bangets. Lagu yang paling kuinget waktu itu lagu-lagu-nya Arie Wibowo (The Bill & Brod): “Madu dan Racun”, “Singkong dan Keju (Anak Singkong)”
Pernah suatu waktu, saat pulang dari Sanggau, rasanya seperti terkena serangan mabuk darat. Mas Hendro di samping berisik nyanyi-nyanyi terus. Aku cuma bisa diam memandang satu per satu pohon yang terlewati. Lalu mobil berbelok, keluar dari jalan raya. Katanya Pak Sopir sih pengen ngambil jalan alternatif yang baru. Kondisi jalannya bagus, sepertinya baru di-aspal. Tapi ada yang ganjil. Sepanjang perjalanan, tak satu pun mobil lain yang melintas. Ketegangan mulai terasa setelah jalan yang kami lewati sudah menyempit dan tidak tertutup aspal. Meskipun kondisi jalan seperti ini bertebaran di Kalimanatan, aku tetap saja nggak bisa tenang. Dengan tebing di sebelah kiri, jurang di sebelah kanan, dan turunan yang tak kunjung landai. Apa iya semua jalan di kalimanatan seperti ini, pikirku.
oh mi got….. Aku yang tadinya duduk ngelendot di samping pintu, kini mengambil posisi duduk siap ala anak SD di kelas. Mataku yang tadinya teruju ke jendela samping, kini mengikuti arah pandangan Pak Sopir sambil berharap ada seberkas harapan di depan sana. Tapi bukannya asa yang kudapat tapi pemandangan yang lebih mencengangkan. Samar-samar dari kejauhan terlihat sebuah jembatan, tepatnya setengah jembatan. OMIGOT… itu jembatan belum jadi!!! alamak… gimane lah ni… jalannye sempit, gimane lah mobilnye bise balek… begitulah kira-kira bahasa Pontianak-nya.
Pak Sopir akhirnya menghentikan mobilnya tepat sebelum belokan. Dengan memasukkan rem tangan dan ngganjal roda dengan batu, Pak Sopir pun berjalan meninggalkan kami sambil menitipkan harapan yang lain. Ia berharap belokan yang akan kami lewati tidak menuju ke jembatan jejadian itu. Rasanya seperti setahun sejak terakhir kali aku liat punngung Pak Sopir dari ujung belokan itu sampai akhirnya ia kembali dengan wajah yang tanpa ekspresi. Setelah sampai di mobil, dia berkata pelan “Kita putar balik, Pak”. Kyaaaaa…..! bener kannn…..!
Aku cuma bisa pasrah dan berharap perhitungan Pak Sopir dalam mengamabil manuver kali ini benar-benar presisi. Yang jelas, faktanya aku nggak bakalan bisa nulis ini kalo perhitungan Pak Sopir itu salah. Yeah, ternyata kemampuan Pak Sopir dalam menguasai mobil patut diberi acungan jempol. Kalo jaman dulu udah ada pesbuk mungkin udah tak kasih “Like”. Dan ajaibnya, serangan mabok darat yang tadinya lagi gencar-gencarnya jadi ilang begitu aja. Mungkin karena ketutupan ama serangan shock kali ya…
Ngemeng-ngemeng, apa kabar jembatan setengah jadi itu ya. Pasti sekarang udah jadi. Apa malah udah ambrol?
Pernah suatu waktu, saat pulang dari Sanggau, rasanya seperti terkena serangan mabuk darat. Mas Hendro di samping berisik nyanyi-nyanyi terus. Aku cuma bisa diam memandang satu per satu pohon yang terlewati. Lalu mobil berbelok, keluar dari jalan raya. Katanya Pak Sopir sih pengen ngambil jalan alternatif yang baru. Kondisi jalannya bagus, sepertinya baru di-aspal. Tapi ada yang ganjil. Sepanjang perjalanan, tak satu pun mobil lain yang melintas. Ketegangan mulai terasa setelah jalan yang kami lewati sudah menyempit dan tidak tertutup aspal. Meskipun kondisi jalan seperti ini bertebaran di Kalimanatan, aku tetap saja nggak bisa tenang. Dengan tebing di sebelah kiri, jurang di sebelah kanan, dan turunan yang tak kunjung landai. Apa iya semua jalan di kalimanatan seperti ini, pikirku.
oh mi got….. Aku yang tadinya duduk ngelendot di samping pintu, kini mengambil posisi duduk siap ala anak SD di kelas. Mataku yang tadinya teruju ke jendela samping, kini mengikuti arah pandangan Pak Sopir sambil berharap ada seberkas harapan di depan sana. Tapi bukannya asa yang kudapat tapi pemandangan yang lebih mencengangkan. Samar-samar dari kejauhan terlihat sebuah jembatan, tepatnya setengah jembatan. OMIGOT… itu jembatan belum jadi!!! alamak… gimane lah ni… jalannye sempit, gimane lah mobilnye bise balek… begitulah kira-kira bahasa Pontianak-nya.
Pak Sopir akhirnya menghentikan mobilnya tepat sebelum belokan. Dengan memasukkan rem tangan dan ngganjal roda dengan batu, Pak Sopir pun berjalan meninggalkan kami sambil menitipkan harapan yang lain. Ia berharap belokan yang akan kami lewati tidak menuju ke jembatan jejadian itu. Rasanya seperti setahun sejak terakhir kali aku liat punngung Pak Sopir dari ujung belokan itu sampai akhirnya ia kembali dengan wajah yang tanpa ekspresi. Setelah sampai di mobil, dia berkata pelan “Kita putar balik, Pak”. Kyaaaaa…..! bener kannn…..!
Aku cuma bisa pasrah dan berharap perhitungan Pak Sopir dalam mengamabil manuver kali ini benar-benar presisi. Yang jelas, faktanya aku nggak bakalan bisa nulis ini kalo perhitungan Pak Sopir itu salah. Yeah, ternyata kemampuan Pak Sopir dalam menguasai mobil patut diberi acungan jempol. Kalo jaman dulu udah ada pesbuk mungkin udah tak kasih “Like”. Dan ajaibnya, serangan mabok darat yang tadinya lagi gencar-gencarnya jadi ilang begitu aja. Mungkin karena ketutupan ama serangan shock kali ya…
Ngemeng-ngemeng, apa kabar jembatan setengah jadi itu ya. Pasti sekarang udah jadi. Apa malah udah ambrol?
September 26, 2011
Road to our little – Step 3 – Sperma Analysys, TORCH
Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.
Pada konsultasi sebelumnya, dr. Muharram berpesan agar tidak melakukan hubungan selama 3 hari sebelum melakukan tes analisa sperma. Kebetulan, besok adalah hari ketiga, jadi kami memutuskan untuk segera melakukan tes ke RSIA Sayyidah, seperti yang dianjurkan pak dokter. Pas suami saya tanya, ” Memangnya kenapa, Dok? di RS sini nggak bisa?”. Si dokter menjawab, ” Nggak enak di sini, di kamar mandi, becek. hehehe.” O… Kami baru ngeh… Sebenarnya pak dokter merujuk untuk ke RSCM, tapi berhubung lokasinya yang lumayan jauh, kami pun dianjurkan untuk ke RSIA Sayyidah di daerah Pondok Kelapa.
Keesokan harinya, kami pun tiba di RSIA Sayyidah pada pukul 10.00. Seperti yang kuduga sebelumnya, nama dr. Muharram terpampang di daftar jadwal praktek dokter. Weleh… ni dokter, banyak amat buka prakteknya. Dan seperti yang digambarkan oleh pak dokter, RSIA ini menyediakan fasilitas kamar yang cukup nyaman. Dan, setelah itu kami *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor*. hehehehe…
Darah saya pun diambil untuk sample pengujian TORCH.
Seminggu kemudian, tibalah saatnya untuk mengambil hasil test. Deg-deg-an juga, berubung ini test pertama kami di lab. Segera setelah kami terima lembaran jasil test, saya dan suami membaca hasilnya satu persatu. Agak kaget juga melihat ada tanda positif di kolom Rubella dan CMV. Tapi entah mengapa, saya tidak sedikitpun merasa khawatir. Dan benar saja, setelah sedikit browsing di inet, ada informasi yang memberikan pencerahan
Jadi, karena Rubella dan CMV saya Igg (+) dan Igm (-), saya pernah terinfeksi di masa lampau, dan badan saya telah memiliki antibodi terhadap kedua virus tersebut.
Sedangkan hasil analisis sperma semuanya juga normal. Memang ada komentar bahwa terjadi autoaglutinasi, tapi di bagian kesimpulan tertulis : “kemungkinan untuk kehamilan normal: besar”.
Yah… Secara garis besar, kedua tes ini sudah kami lewati dan hasilnya normal… Alhamdulillah…
Jadi, saatnya bersiap untuk ujian berikutnya…
Pada konsultasi sebelumnya, dr. Muharram berpesan agar tidak melakukan hubungan selama 3 hari sebelum melakukan tes analisa sperma. Kebetulan, besok adalah hari ketiga, jadi kami memutuskan untuk segera melakukan tes ke RSIA Sayyidah, seperti yang dianjurkan pak dokter. Pas suami saya tanya, ” Memangnya kenapa, Dok? di RS sini nggak bisa?”. Si dokter menjawab, ” Nggak enak di sini, di kamar mandi, becek. hehehe.” O… Kami baru ngeh… Sebenarnya pak dokter merujuk untuk ke RSCM, tapi berhubung lokasinya yang lumayan jauh, kami pun dianjurkan untuk ke RSIA Sayyidah di daerah Pondok Kelapa.
Keesokan harinya, kami pun tiba di RSIA Sayyidah pada pukul 10.00. Seperti yang kuduga sebelumnya, nama dr. Muharram terpampang di daftar jadwal praktek dokter. Weleh… ni dokter, banyak amat buka prakteknya. Dan seperti yang digambarkan oleh pak dokter, RSIA ini menyediakan fasilitas kamar yang cukup nyaman. Dan, setelah itu kami *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor*. hehehehe…
Darah saya pun diambil untuk sample pengujian TORCH.
Seminggu kemudian, tibalah saatnya untuk mengambil hasil test. Deg-deg-an juga, berubung ini test pertama kami di lab. Segera setelah kami terima lembaran jasil test, saya dan suami membaca hasilnya satu persatu. Agak kaget juga melihat ada tanda positif di kolom Rubella dan CMV. Tapi entah mengapa, saya tidak sedikitpun merasa khawatir. Dan benar saja, setelah sedikit browsing di inet, ada informasi yang memberikan pencerahan
3. Bila IgG Positif dan IgM Negatif :
Anda telah terinfeksi lebih dari setahun yang lalu. Saat ini anda mungkin telah mengembangkan kekebalan terhadap parasit itu.
Anda tidak perlu khawatir untuk hamil. sumber
Jadi, karena Rubella dan CMV saya Igg (+) dan Igm (-), saya pernah terinfeksi di masa lampau, dan badan saya telah memiliki antibodi terhadap kedua virus tersebut.
Sedangkan hasil analisis sperma semuanya juga normal. Memang ada komentar bahwa terjadi autoaglutinasi, tapi di bagian kesimpulan tertulis : “kemungkinan untuk kehamilan normal: besar”.
Yah… Secara garis besar, kedua tes ini sudah kami lewati dan hasilnya normal… Alhamdulillah…
Jadi, saatnya bersiap untuk ujian berikutnya…
September 25, 2011
Road to our little – Step 2 – USG TransV
Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.
Ah, setelah sekian lama tertunda, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berkonsultasi kembali ke dokter mengenai program bayi yang ingin kami jalankan. Kali ini tema yang kami gunakan adalah “Rumah Sakit Terdekat”, dan terpilihlah RS. Haji. Berangkatlah kami ke sana, namun kali ini dengan kualifikasi yang berbeda. Tak ada lagi syarat “dokter wanita”, yang ada hanya “dokter berpengalaman”. Setibanya di meja pendaftaran, saya bertanya kepada sang petugas, “dokter yang biasa menangani program bayi siapa ya, mbak?”. Aha, harusnya pertanyaan ini yang kusampaikan saat “step pertama” dulu. Si mbaknya pun tanpa ragu menyebutkan sebuah nama, “dr. Muharram, Bu. Cuman, prakteknya nanti malam.” Okelah, saya pun mendaftar untuk berkonsultasi ke dr. Muharram. “Habis maghrib ya, Bu,” kata mbaknya mengingatkan kembali.
Segera setelah kami menunaikan Sholat Maghrib, kami pun berangkat menuju rumah sakit kembali. Sesampainya di ruang tunggu, sang perawat memberi tahu bahwa sang dokter akan datang jam 8 malam. Wow, jam 8 baru mulai, lalu kapan kelarnya? Kami pun dengan sabar menunggu sampai akhirnya sang dokter datang 1 jam setelah jam 8 malam, alias jam 9 malam! Saat itu kondisi antrian lumayang panjang. Untungnya, karena saya sudah mendaftar pagi tadi, saya mendapat nomer urut 4. Nomer 4! Saya hanya bisa bertanya-tanya, lalu kapan si nomer 1, 2 dan 3 itu mendaftar? Ah, need to mention too, none of them are seemingly pregnant.
Saat namaku dipanggil, saya bersama suami pun memasuki ruangan. Di sanalah sang dokter duduk dengan mata yang tampak sedikit mengantuk. “maaf ya bu, tadi banyak pasien yang minta program bayi tabung”. Owh… si dokter ini, tampaknya sedang ingin melakukan promosi colongan. Well, it’s OK.
Setelah sedikit berdiskusi, saya pun diminta untuk melakukan USG. Kali ini USG Transvagina.
Pemeriksaan USG Transvaginal (melalui “miss v”) merupakan suatu metode pencitraan pada organ genitalia wanita dimana sebuah pemindai dimasukan ke dalam “miss v”. Pemindai dimasukan ke dalam rongga “miss v” untuk melihat struktur pelvis (rongga panggul), sementara gambaran ultrasound terlihat di monitor. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memngevaluasi pada wanita dengan masalah infertilitas, perdarahan yang abnormal, utnuk mencari penyebab nyeri yang tidak jelas pada organ genital, malformasi kongenital pada uterus (rahim) dan ovarium, kemungkinan tumor dan infeksi, dan pada kehamilan. sumber (dengan sedikit edit-an)
Saya pun diminta sang perawat (wanita) untuk melepas celana dan celana dalam. Setelah terlepas, saya pun diminta untuk berbaring dan dengan posisi terlentang dengan lutut tertekuk. Sang perawat terlihat mengoleskan sesuatu pada alat yang dipegangnya. Alat itu bagiku berbentuk sperti es krim hula-hula dari campina (halah… makanan terus yang kepikiran). Sang perawat pun memintaku untk relaks sembari memasukkan alat itu ke “miss v”-ku. Setelah alat itu ter-plug di tubuhku (kayak kabel aja), sekarang giliran sang dokter yang memegang alat itu sambil menatap layar monitor hitam-putih di hadapannya. Katanya, “Bagus”. Alhamdulillah…
Di akhir konsultasi, sang dokter memberiku sejumlah lembar rekomendasi test yang harus kami lakukan, yaitu: Sperma Analysys, TORCH, dan HSG. Sejauh ini, kami merasa cocok dengan dr. Muharram, karena dokter ini mengerti kebutuhan kami dan tidak semena-mena memberikan obat-obatan sebelum melakukan analisis terhadap hasil test. Ohya, setelah sedikit searching di inet tentang dr. Muharram, ternyata beliau juga adalah dokter di Klinik Yasmin RSCM dan spesifik di bidang fertilitas. Yahh… Semoga saja penilaian kami ini benar adanya.
Nambah dikit tentang USG Transvaginal:
PCO (Polycystik Ovarii) bisa dideteksi dengan pemeriksaan USG Transvaginal. Sedangkan jika disertai dengan gejala lain, seperti haid jarang (dengan darah sedikit/bercak, bahkan tidak haid), ada gejala tingginya hormon pria/hiperandrogen (berbulu, berkumis, berjerawat, dll), dan kadar gula cenderung meningkat, maka disebut PCOS (Polycystic Ovarii Syndrome). sumber (dengan sedikit editan)
Mungkin gara-gara si dokter melihat perawakan saya yang berkumis-tipis-nggemesin-mirip-iis-dahlia, bertebaran-jerawat-di-wajah dan agak-gendut-di-daerah-perut, beliau langsung memberikan analisa awal bahwa saya kemungkinan adalah korban PCOS. Hehe… karena pengalaman kali ya, Dok?
Ah, setelah sekian lama tertunda, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berkonsultasi kembali ke dokter mengenai program bayi yang ingin kami jalankan. Kali ini tema yang kami gunakan adalah “Rumah Sakit Terdekat”, dan terpilihlah RS. Haji. Berangkatlah kami ke sana, namun kali ini dengan kualifikasi yang berbeda. Tak ada lagi syarat “dokter wanita”, yang ada hanya “dokter berpengalaman”. Setibanya di meja pendaftaran, saya bertanya kepada sang petugas, “dokter yang biasa menangani program bayi siapa ya, mbak?”. Aha, harusnya pertanyaan ini yang kusampaikan saat “step pertama” dulu. Si mbaknya pun tanpa ragu menyebutkan sebuah nama, “dr. Muharram, Bu. Cuman, prakteknya nanti malam.” Okelah, saya pun mendaftar untuk berkonsultasi ke dr. Muharram. “Habis maghrib ya, Bu,” kata mbaknya mengingatkan kembali.
Segera setelah kami menunaikan Sholat Maghrib, kami pun berangkat menuju rumah sakit kembali. Sesampainya di ruang tunggu, sang perawat memberi tahu bahwa sang dokter akan datang jam 8 malam. Wow, jam 8 baru mulai, lalu kapan kelarnya? Kami pun dengan sabar menunggu sampai akhirnya sang dokter datang 1 jam setelah jam 8 malam, alias jam 9 malam! Saat itu kondisi antrian lumayang panjang. Untungnya, karena saya sudah mendaftar pagi tadi, saya mendapat nomer urut 4. Nomer 4! Saya hanya bisa bertanya-tanya, lalu kapan si nomer 1, 2 dan 3 itu mendaftar? Ah, need to mention too, none of them are seemingly pregnant.
Saat namaku dipanggil, saya bersama suami pun memasuki ruangan. Di sanalah sang dokter duduk dengan mata yang tampak sedikit mengantuk. “maaf ya bu, tadi banyak pasien yang minta program bayi tabung”. Owh… si dokter ini, tampaknya sedang ingin melakukan promosi colongan. Well, it’s OK.
Setelah sedikit berdiskusi, saya pun diminta untuk melakukan USG. Kali ini USG Transvagina.
Pemeriksaan USG Transvaginal (melalui “miss v”) merupakan suatu metode pencitraan pada organ genitalia wanita dimana sebuah pemindai dimasukan ke dalam “miss v”. Pemindai dimasukan ke dalam rongga “miss v” untuk melihat struktur pelvis (rongga panggul), sementara gambaran ultrasound terlihat di monitor. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memngevaluasi pada wanita dengan masalah infertilitas, perdarahan yang abnormal, utnuk mencari penyebab nyeri yang tidak jelas pada organ genital, malformasi kongenital pada uterus (rahim) dan ovarium, kemungkinan tumor dan infeksi, dan pada kehamilan. sumber (dengan sedikit edit-an)
Saya pun diminta sang perawat (wanita) untuk melepas celana dan celana dalam. Setelah terlepas, saya pun diminta untuk berbaring dan dengan posisi terlentang dengan lutut tertekuk. Sang perawat terlihat mengoleskan sesuatu pada alat yang dipegangnya. Alat itu bagiku berbentuk sperti es krim hula-hula dari campina (halah… makanan terus yang kepikiran). Sang perawat pun memintaku untk relaks sembari memasukkan alat itu ke “miss v”-ku. Setelah alat itu ter-plug di tubuhku (kayak kabel aja), sekarang giliran sang dokter yang memegang alat itu sambil menatap layar monitor hitam-putih di hadapannya. Katanya, “Bagus”. Alhamdulillah…
Di akhir konsultasi, sang dokter memberiku sejumlah lembar rekomendasi test yang harus kami lakukan, yaitu: Sperma Analysys, TORCH, dan HSG. Sejauh ini, kami merasa cocok dengan dr. Muharram, karena dokter ini mengerti kebutuhan kami dan tidak semena-mena memberikan obat-obatan sebelum melakukan analisis terhadap hasil test. Ohya, setelah sedikit searching di inet tentang dr. Muharram, ternyata beliau juga adalah dokter di Klinik Yasmin RSCM dan spesifik di bidang fertilitas. Yahh… Semoga saja penilaian kami ini benar adanya.
Nambah dikit tentang USG Transvaginal:
PCO (Polycystik Ovarii) bisa dideteksi dengan pemeriksaan USG Transvaginal. Sedangkan jika disertai dengan gejala lain, seperti haid jarang (dengan darah sedikit/bercak, bahkan tidak haid), ada gejala tingginya hormon pria/hiperandrogen (berbulu, berkumis, berjerawat, dll), dan kadar gula cenderung meningkat, maka disebut PCOS (Polycystic Ovarii Syndrome). sumber (dengan sedikit editan)
Mungkin gara-gara si dokter melihat perawakan saya yang berkumis-tipis-nggemesin-mirip-iis-dahlia, bertebaran-jerawat-di-wajah dan agak-gendut-di-daerah-perut, beliau langsung memberikan analisa awal bahwa saya kemungkinan adalah korban PCOS. Hehe… karena pengalaman kali ya, Dok?
September 21, 2011
IBK… aku mau makan nasi!!
Berawal dari membaca notesnya putri palupi tentang homeschooling tadi pagi. Ada satu topik yang menarik minatku dan tampak tak asing.
.
IBK??? apa maksudnya IBK?? yang kutangkap sampai saat ini, IBK adalah singkatan dari IBuKu. Lagu yang aneh…
.
Yah, setelah membaca notesnya mbak putri, saya jadi menghubung-hubungkannya dengan mimpiku semalam. Mungkin kedua anak itu telah mempraktekkan seperti apa yang kak seto contohkan. Haha.. korelasi yang sangat “maksa”. Toh pada saat saya mimpi, saya bahkan belum tahu tentang seminarnya kak seto… Tapi, itu ide yang bagus juga… Mungkin saya akan mempraktekkannya suatu saat
.
Oh, ya, saya ngomong-ngomong tentang kegiatan bersama orangtua-anak, saya juga terinspirasi dengan kisah nyatanya mbak ridha yang tertulis di notesnya “Bukan Dongeng”. Dan saya juga sangat ingin mempraktekkannya suatu saat
Ohya… Kak Seto itu bener-bener entertainer.Tiba-tiba pikiranku melayang ke mimpi tadi malam. Masih tampak jelas di ingatanku, ada dua anak kembar berumur sekitar 5 tahun. Potongan rambutnya sama, namun akan sangat mudah untuk membedakan mana yang laki-laki, dan mana yang perempuan. Keduanya duduk di sofa, menyanyikan lagu dengan nada yang familiar namun sedikit janggal. Tampaknya lagu yang mereka nyanyikan adalah potongan-potongan dari beberapa lagu yang berbeda. Lirik yang mereka gunakan pun sama anehnya. Seperti dikarang sekenanya dan terdengar sedikit “maksa”. Namun kedua anak itu menyanyikannya dengan sangat fasih, bahkan mereka dapat memberikan sentuhan dinamika yang berbeda pada beberapa bagian. Luar biasa. Ada barisan lirik yang masih terkunci di ingatanku, yaitu “IBK, aku mau makan nasi!!” . Lirik tersebut dinyanyikan pada bagian akhir lagu. Dan kemudian kedua anak kembar tersebut berhamburan ke arah ibu mereka.
Ada seorang pemain organ yang selalu mengiringi setiap kata kak Seto, dengan iringan musik, backsound yg relevan. Jadi, seluruh presentasi itu layaknya sebuah drama tanpa jeda.
Ada slide-slide yg dibuat khusus buwat Kak Seto. atau khusus dibuwat Kak Seto. lucu,kocak, menghanyutkan.
Kita semua diajarin untuk nyanyi dan mengarang lagu. dipancing dengan 2 baris lirik pertama, trus kita diminta untuk menyanyikan baris lirik selanjutnya dengan nada sendiri. happy banget,deh. Dan ini sudah lebih dulu dipraktekkan Mbak Lala di rumahinspirasi.com, dengan mencipta 30 lagu dalam 30 hari untuk anak2. So, slamat tinggal lagu dewasa yang nggak banget,yahhhh….
.
IBK??? apa maksudnya IBK?? yang kutangkap sampai saat ini, IBK adalah singkatan dari IBuKu. Lagu yang aneh…
.
Yah, setelah membaca notesnya mbak putri, saya jadi menghubung-hubungkannya dengan mimpiku semalam. Mungkin kedua anak itu telah mempraktekkan seperti apa yang kak seto contohkan. Haha.. korelasi yang sangat “maksa”. Toh pada saat saya mimpi, saya bahkan belum tahu tentang seminarnya kak seto… Tapi, itu ide yang bagus juga… Mungkin saya akan mempraktekkannya suatu saat
.
Oh, ya, saya ngomong-ngomong tentang kegiatan bersama orangtua-anak, saya juga terinspirasi dengan kisah nyatanya mbak ridha yang tertulis di notesnya “Bukan Dongeng”. Dan saya juga sangat ingin mempraktekkannya suatu saat
September 20, 2011
really something
“Alhamdulillah ya… sesuatu banget” kata-kata yang lagi ngetrend saat ini. Agak menggelitik telinga ketika kalimat ini terdengar di telinga.
Alhamdulillah, artinya adalah Pujian Hanya Untuk Allah, yang merupakan ungkapan syukur dan terimakasih atas karunia Allah.
Sesuatu banget = benar-benar sesuatu ??? menurut sepengtahuan saya, frasa ini tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia.
But wait, let us use it in English…
Benar-benar sesuatu = really something. Yang artinya adalah…
Entah dari mana artis kita mendapatkan ide untuk mengartikannya secara mentah-mentah ke dalam Bahasa.. Yang akhirnya, agak lucu jika digunakan dalam Bahasa Indonesia. Tapi mungkin berkat artis kita inilah, perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia jadi bertambah lagi
Alhamdulillah, artinya adalah Pujian Hanya Untuk Allah, yang merupakan ungkapan syukur dan terimakasih atas karunia Allah.
Sesuatu banget = benar-benar sesuatu ??? menurut sepengtahuan saya, frasa ini tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia.
But wait, let us use it in English…
Benar-benar sesuatu = really something. Yang artinya adalah…
some·thing [suhm-thing]Terdengar sangat familiar kan…
pronoun
noun
- some thing; a certain undetermined or unspecified thing: Something is wrong there. Something’s happening.
- an additional amount, as of cents or minutes, that is unknown, unspecified, or forgotten: He charged me ten something for the hat. Our train gets in at two something.
sumber : http://dictionary.reference.com/browse/something
- Informal . a person or thing of some value or consequence: He is really something! This writer has something to say and she says it well.
Entah dari mana artis kita mendapatkan ide untuk mengartikannya secara mentah-mentah ke dalam Bahasa.. Yang akhirnya, agak lucu jika digunakan dalam Bahasa Indonesia. Tapi mungkin berkat artis kita inilah, perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia jadi bertambah lagi
July 18, 2011
Road to our little – Step 1 – USG
Tak terasa dalam 3 bulan lagi usia pernikahan kami sudah menginjak tahun ke tiga. Tempat berlindung sudah ada. Alat transportasi pun sudah memadai. Namun ada yang kurang, belum ada tangis bayi. Dua tahun berpisah telah melenakan kami dalam situasi pemakluman atas belum memiliki momongan. Dan sekarang, setelah banyak dari teman sebaya kami yang telah memiliki buah hati, yang tidak hanya satu, kami pun mulai mencari jalan untuk mengejar ketinggalan kami. Yah, meskipun terdengar sedikit terlambat, akhirnya kami pun memberanikan diri untuk berkonsultasi ke dokter.
Dokter pertama kami, kami “temukan” dengan cara yang sedikit tidak lazim. Dengan tanpa informasi di tangan, kami langsung meluncur ke RS Mitra Keluarga Bekasi, berharap dapat menemukan dokter kandungan berkualitas di sana. Dan sesampainya di depan meja pendaftaran, kami pun kebingungan ketika ditanya ingin bertemu dengan dokter siapa. Kala itu, satu-satunya kualifikasi yang kuinginkana adalah “dokter kandungan wanita”. Dan bertanyalah aku kepada petigas pendaftaran “Dokter kandungan yang cewek siapa ya, mbak?”. Suamiku pun menambahi “dan yang paling senior, mbak?”. Jadilah kami diarahkan untuk menemui Dr. Lidya Liliana.
Begitu nama saya dipanggil, saya pun masuk. Dan dimulailah tanya-jawab yang terbilang singkat. Kemudian dr. Lidya memintaku untuk tiduran di tempat tidur untuk dilakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini seperti yang kulihat di film-film yang pernah kutonton. Sebuah alat disentuhkan ke perutku tanpa perantara baju. Dan sebuah gambar hitam-putih tertampil di monitor. Sang dokter pun dengan seksama memperhatikan monitor sambil menggerak-gerakkan alat USG di atas perutku. Tak beberapa lama. dr. Lidya mempersilakan kepadaku untuk kembali duduk di meja konsultasi.
Di sana, dr. Lidya mulai menjelaskan bahwa bentuk kandunganku bagus, hanya saja bentuk-nya sedikit berbeda. Namun keanehan ini adalah hal yang minor dan tidak perlu diambil tindakan lebih lanjut dan juga tidak perlu menggunakan “gaya” khusus. Dan karena sebelumnya kami telah menjelaskan bahwa kami baru berkumpul kembali selama 6 bulan ini, dr. Lidya hanya menyarankan untuk melakukan sistem kalender, tanpa perlu melakukan tes-tes yang lain ataupun mengkonsumsi obat-obatan atau vitamin tertentu. Menurut sepengetahuan saya, memang serangkaian tes diperlukan bagi pasangan yang telah menikah lebih dari 1 tahun namun belum memiliki anak. Dan dalam pemahaman dr. Lidya, umur pernikahanku juga tidak lebih dari 1 tahun. Sehingga serangkaian tes baru diperlukan setelah 6 bulan lagi.
Meskipun penjelasan dr. Lidya sangat masuk akal, namun kami tetap saja belum merasa puas akan sarannya. Dengan mengikuti saran dr. Lidya, berarti dalam 6 bulan ini kami hanya bisa menunggu tanpa mampu mengusahakan hal yang lebih lagi. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada dr. Lidya, kami pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter lain. Bukan karena kami merasa dr. Lidya tidak berkompeten, hanya saja kami merasa kurang cocok dengan saran dr. Lidya. Mungkin juga sebagian kesalahan ada di sisi kami, dimana kami tidak menekankan kepadanya bahwa kami ingin mendapatkan “program bayi”.
Yeah, we’re ready 4 the next doctor…
NamBah:
Bagi yang ingin menyimak coretan-coretan edisi “Road to our little” selanjutnya, silakan berkunjung ke sini.
Dokter pertama kami, kami “temukan” dengan cara yang sedikit tidak lazim. Dengan tanpa informasi di tangan, kami langsung meluncur ke RS Mitra Keluarga Bekasi, berharap dapat menemukan dokter kandungan berkualitas di sana. Dan sesampainya di depan meja pendaftaran, kami pun kebingungan ketika ditanya ingin bertemu dengan dokter siapa. Kala itu, satu-satunya kualifikasi yang kuinginkana adalah “dokter kandungan wanita”. Dan bertanyalah aku kepada petigas pendaftaran “Dokter kandungan yang cewek siapa ya, mbak?”. Suamiku pun menambahi “dan yang paling senior, mbak?”. Jadilah kami diarahkan untuk menemui Dr. Lidya Liliana.
Begitu nama saya dipanggil, saya pun masuk. Dan dimulailah tanya-jawab yang terbilang singkat. Kemudian dr. Lidya memintaku untuk tiduran di tempat tidur untuk dilakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini seperti yang kulihat di film-film yang pernah kutonton. Sebuah alat disentuhkan ke perutku tanpa perantara baju. Dan sebuah gambar hitam-putih tertampil di monitor. Sang dokter pun dengan seksama memperhatikan monitor sambil menggerak-gerakkan alat USG di atas perutku. Tak beberapa lama. dr. Lidya mempersilakan kepadaku untuk kembali duduk di meja konsultasi.
Di sana, dr. Lidya mulai menjelaskan bahwa bentuk kandunganku bagus, hanya saja bentuk-nya sedikit berbeda. Namun keanehan ini adalah hal yang minor dan tidak perlu diambil tindakan lebih lanjut dan juga tidak perlu menggunakan “gaya” khusus. Dan karena sebelumnya kami telah menjelaskan bahwa kami baru berkumpul kembali selama 6 bulan ini, dr. Lidya hanya menyarankan untuk melakukan sistem kalender, tanpa perlu melakukan tes-tes yang lain ataupun mengkonsumsi obat-obatan atau vitamin tertentu. Menurut sepengetahuan saya, memang serangkaian tes diperlukan bagi pasangan yang telah menikah lebih dari 1 tahun namun belum memiliki anak. Dan dalam pemahaman dr. Lidya, umur pernikahanku juga tidak lebih dari 1 tahun. Sehingga serangkaian tes baru diperlukan setelah 6 bulan lagi.
Meskipun penjelasan dr. Lidya sangat masuk akal, namun kami tetap saja belum merasa puas akan sarannya. Dengan mengikuti saran dr. Lidya, berarti dalam 6 bulan ini kami hanya bisa menunggu tanpa mampu mengusahakan hal yang lebih lagi. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada dr. Lidya, kami pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter lain. Bukan karena kami merasa dr. Lidya tidak berkompeten, hanya saja kami merasa kurang cocok dengan saran dr. Lidya. Mungkin juga sebagian kesalahan ada di sisi kami, dimana kami tidak menekankan kepadanya bahwa kami ingin mendapatkan “program bayi”.
Yeah, we’re ready 4 the next doctor…
NamBah:
Bagi yang ingin menyimak coretan-coretan edisi “Road to our little” selanjutnya, silakan berkunjung ke sini.
June 20, 2011
sabotase
Huah… Hari ini rasanya capeekkk banget… Mata terasa berat, badan pun pegal-pegal, plus hawanya jadi kerasa dingin menusuk tulang. Gara-garanya tidur yang nggak berkualitas.
-
Tiga malam yang lalu, perjalanan ke jogja pun dimulai. Kali ini naik kereta api bisnis andalan, “Senja Utama”. Yup, KA bisnis emang jadi andalan karena kalau pake eksekutif, selain karena mahal, ac-nya itu lho.. dingin banget. Boro-boro tidur pules, mau napas aja susah.. Jadi KA eksekutif adalah pilihan terakhir kalo mau perjalanan antar jawa.
-
Tapi, hawa-hawa nggak hoki mulai kerasa ketika kami mendapatkan tiket Senja Solo, yang artinya harus berangkat lebih malam dibandingkan Senja Jogja. Alhasih, kami pun plongah-plongoh di stasiun sambil menggelar koran sebagai alas duduk. Mata yang sudah mulai mengantuk pun dipaksa melek.
-
Saat di ujung kantuk, datanglah sang kereta dan naiklah kami. Dan, kami baru nyadar, kalau nomer tempat duduk kami adalah 2C dan 2D, yang artinya, kami harus duduk menghadap tembok yang super sempit, sampai dengkul pun harus menyentuh dinding. Terpaksalah kami balik kursi sehingga menghadap ke belakang dan berahadapan dengan penumpang 3C dan 3D. Koran yang semula kami beli untuk digunakan sebagai alas tidur pun gagal digunakan. Batal pula lah rencana untuk tidur dengan formasi atas-bawah supaya bisa selonjor kaki. Yak, itulah tidur tak berkualitas no 1.
-
Malam berikutnya, sebetulnya kami berencana untuk pergi ke Maospati menjenguk ortu setelah acara pengajian. Tapi berhubung badan masih terasa pegel-pegel akhirnya rencana tersebut pun kami urungkan. Dudul-nya, bukannya istirahat, kami malah jalan-jalan ke pusat Jogja sampai jam 2 malam. Bagus… Akhirnya, kami pun melanjutkan tidur tak berkualitas no 2.
-
Dan malam berikutnya lagi, yaitu tadi malam, kami pun melakukan perjalanan balik ke Jakarta. Tidak lupa segala persiapan “tempat tidur” pun kami bawa, mulai dari koran bekas, tas yang diatur sedemikan rupa menyerupai bantal dan selimut tipis hasil comot dari rumah. Tempat duduk kami 2A dan 2B, yang notabene “aman” dari tembok. Tapi oh tapi… ternyata oh ternyata… begitu naik di gerbong kereta, posisi kursi 1A dan 1B sudah berbalik menghadap belakang, ke arah tempat duduk kami. Usut punya usut, ternyata ada dua pemudi (ga tau gadis atau ga ) yang sepertinya dapat tiket non-seat dan menempati area rongga antara dinding dan kursi 1A dan 1B.
-
Yaelah… jadi serba salah. Kalau mau balikin kursi ke posisi semula, artinya kami mengusir kedua pemudi tersebut. Tapi rasanya gimana ya, antara ga rela dan ga tega. Ga teganya, aku pernah beberapa kali dapet tiket non-seat. Dan ketika ada orang yang berbaik hati menyisihkan tempatnya supaya aku bisa numpang ndeprok di bawah, rasanya seneng banget…
-
Dan ga relanya, kok begitu caranya. Yang punya tiket pun bahkan belum datang, kok bisa-bisanya langsung diubah gitu aja. Tanpa rasa bersalah karena mengambil hak orang lain, dengan santainya mereka cekikikan di balik bangku. Bahkan sampai kami turun pun ga ada kata-kata permisi. Jadi, rasanya seperti disabotase. Apa iya, sopan santun dan etika sudah mulai ditinggalkan? Apa iya, pihak yang kurang beruntung berhak mendapatkan perilaku istimewa dari mereka yang lebih beruntung? Dan, apakah dibenarkan jika dilakukan dengan cara mengambil hak orang lain tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu?
-
Walhasil, kami pun terpaksa memupuskan harapan kami untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Jadi, yang paling kurindukan saat ini adalah kasur empuk, bantal dan guling (yang rada apek) serta selimut tebal di rumah. Wanna go home early…
-
Tiga malam yang lalu, perjalanan ke jogja pun dimulai. Kali ini naik kereta api bisnis andalan, “Senja Utama”. Yup, KA bisnis emang jadi andalan karena kalau pake eksekutif, selain karena mahal, ac-nya itu lho.. dingin banget. Boro-boro tidur pules, mau napas aja susah.. Jadi KA eksekutif adalah pilihan terakhir kalo mau perjalanan antar jawa.
-
Tapi, hawa-hawa nggak hoki mulai kerasa ketika kami mendapatkan tiket Senja Solo, yang artinya harus berangkat lebih malam dibandingkan Senja Jogja. Alhasih, kami pun plongah-plongoh di stasiun sambil menggelar koran sebagai alas duduk. Mata yang sudah mulai mengantuk pun dipaksa melek.
-
Saat di ujung kantuk, datanglah sang kereta dan naiklah kami. Dan, kami baru nyadar, kalau nomer tempat duduk kami adalah 2C dan 2D, yang artinya, kami harus duduk menghadap tembok yang super sempit, sampai dengkul pun harus menyentuh dinding. Terpaksalah kami balik kursi sehingga menghadap ke belakang dan berahadapan dengan penumpang 3C dan 3D. Koran yang semula kami beli untuk digunakan sebagai alas tidur pun gagal digunakan. Batal pula lah rencana untuk tidur dengan formasi atas-bawah supaya bisa selonjor kaki. Yak, itulah tidur tak berkualitas no 1.
-
Malam berikutnya, sebetulnya kami berencana untuk pergi ke Maospati menjenguk ortu setelah acara pengajian. Tapi berhubung badan masih terasa pegel-pegel akhirnya rencana tersebut pun kami urungkan. Dudul-nya, bukannya istirahat, kami malah jalan-jalan ke pusat Jogja sampai jam 2 malam. Bagus… Akhirnya, kami pun melanjutkan tidur tak berkualitas no 2.
-
Dan malam berikutnya lagi, yaitu tadi malam, kami pun melakukan perjalanan balik ke Jakarta. Tidak lupa segala persiapan “tempat tidur” pun kami bawa, mulai dari koran bekas, tas yang diatur sedemikan rupa menyerupai bantal dan selimut tipis hasil comot dari rumah. Tempat duduk kami 2A dan 2B, yang notabene “aman” dari tembok. Tapi oh tapi… ternyata oh ternyata… begitu naik di gerbong kereta, posisi kursi 1A dan 1B sudah berbalik menghadap belakang, ke arah tempat duduk kami. Usut punya usut, ternyata ada dua pemudi (ga tau gadis atau ga ) yang sepertinya dapat tiket non-seat dan menempati area rongga antara dinding dan kursi 1A dan 1B.
-
Yaelah… jadi serba salah. Kalau mau balikin kursi ke posisi semula, artinya kami mengusir kedua pemudi tersebut. Tapi rasanya gimana ya, antara ga rela dan ga tega. Ga teganya, aku pernah beberapa kali dapet tiket non-seat. Dan ketika ada orang yang berbaik hati menyisihkan tempatnya supaya aku bisa numpang ndeprok di bawah, rasanya seneng banget…
-
Dan ga relanya, kok begitu caranya. Yang punya tiket pun bahkan belum datang, kok bisa-bisanya langsung diubah gitu aja. Tanpa rasa bersalah karena mengambil hak orang lain, dengan santainya mereka cekikikan di balik bangku. Bahkan sampai kami turun pun ga ada kata-kata permisi. Jadi, rasanya seperti disabotase. Apa iya, sopan santun dan etika sudah mulai ditinggalkan? Apa iya, pihak yang kurang beruntung berhak mendapatkan perilaku istimewa dari mereka yang lebih beruntung? Dan, apakah dibenarkan jika dilakukan dengan cara mengambil hak orang lain tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu?
-
Walhasil, kami pun terpaksa memupuskan harapan kami untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Jadi, yang paling kurindukan saat ini adalah kasur empuk, bantal dan guling (yang rada apek) serta selimut tebal di rumah. Wanna go home early…
June 15, 2011
Ular dan Tikus
“Surti… Lagi ngapain sih, tumben dari tadi megang hape mulu. Dah bosen maen leptop?” tanya Amira. Dengan mata tetap tertuju pada ponselnya, Surti menjawab “nggak.. Ini nih, game ini asik juga nih, Mir.” Amira yang penasaran segera menghampiri Surti, “emang game apaan, Sur?”
-
Nama-nya adalah game “Ular dan Tikus”. Jangan bayangkan bahwa ini adalah game ketangkasan jari tentang ular memakan tikus. Nama game ini diadaptasi dari permainan “Cow and Bull” yang mengandalkan perhitungan probabilitas dan algoritma iterasi.
-
Tujuan dari game “Ular dan Tikus” adalah menebak dengan tepat kode rahasia yang terdiri 4 digit angka yang berbeda. Jumlah tikus adalah banyaknya digit angka dari tebakan Anda yang benar, sedangkan jumlah ular adalah banyaknya angka yang benar dan menempati posisi yang tepat.
-
Kita ambil contoh sederhana:
Jika kode rahasia adalah 2135,
Dan Anda menebak 1234,
Maka tebakan Anda menghasilkan 3 Tikus (untuk angka 1, 2 dan 3) dan 1 Ular (untuk angka 3).
Dan tujuan Anda adalah menghasilkan 4 Tikus dan 4 Ular.
-
Anda dapat menebak berkali-kali, namun tantangannya adalah menebak dengan jumlah tebakan yang terkecil.
-
Untuk mendownload game ini klik di sini (JAR) , dan bagi yang berminat mengembangkan game ini klik di sini (RAR) untuk mendownload project file.
-
“Boleh juga tuh, Sur. Siapa yang bikin?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di ponsel, Surti membaca tulisan di layar ponselnya, “di sini sih tulisannya: belinih”
-
Nama-nya adalah game “Ular dan Tikus”. Jangan bayangkan bahwa ini adalah game ketangkasan jari tentang ular memakan tikus. Nama game ini diadaptasi dari permainan “Cow and Bull” yang mengandalkan perhitungan probabilitas dan algoritma iterasi.
-
Tujuan dari game “Ular dan Tikus” adalah menebak dengan tepat kode rahasia yang terdiri 4 digit angka yang berbeda. Jumlah tikus adalah banyaknya digit angka dari tebakan Anda yang benar, sedangkan jumlah ular adalah banyaknya angka yang benar dan menempati posisi yang tepat.
-
Kita ambil contoh sederhana:
Jika kode rahasia adalah 2135,
Dan Anda menebak 1234,
Maka tebakan Anda menghasilkan 3 Tikus (untuk angka 1, 2 dan 3) dan 1 Ular (untuk angka 3).
Dan tujuan Anda adalah menghasilkan 4 Tikus dan 4 Ular.
-
Anda dapat menebak berkali-kali, namun tantangannya adalah menebak dengan jumlah tebakan yang terkecil.
-
Untuk mendownload game ini klik di sini (JAR) , dan bagi yang berminat mengembangkan game ini klik di sini (RAR) untuk mendownload project file.
-
“Boleh juga tuh, Sur. Siapa yang bikin?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di ponsel, Surti membaca tulisan di layar ponselnya, “di sini sih tulisannya: belinih”
June 10, 2011
Google Doodle
Ada yang berbeda dengan mbah gugel pada tanggal 9 Juni 2011. Doodle-nya dibuat untuk mengenang ulang tahun Les Paul yang ke 96 ( i don’t even know who he is). Tampilannya keren euy… dengan menampilkan senar-senar gitar yang disusun dan membentuk logo Google. Yang bikin keren, senarnya bisa bunyi dan membentuk susunan nada pas kursor bergerak memetik senar. Dan yang kerennya lagi… pada tanggal 10 Juni 2011, mbah gugel tampil dengan lebih atraktif dan interaktif. Nada dari A sampe C bisa dimainin di keyboard dan bisa di-rekam pula. Lucu dah.. dan menurutku, doodle google yang ini doodle yang terbaik yang pernah dibikin google. Ohye, berikut ini beberapa rekaman ane:
http://goo.gl/doodle/G0nnj ”Ibu Kita Kartini”
http://goo.gl/doodle/En23o ”Cicak Cicak di Dinding”
http://goo.gl/doodle/QnafH ”Love Story”
http://goo.gl/doodle/vVBr6 ”Coca Cola”
http://goo.gl/doodle/G0nnj ”Ibu Kita Kartini”
http://goo.gl/doodle/En23o ”Cicak Cicak di Dinding”
http://goo.gl/doodle/QnafH ”Love Story”
http://goo.gl/doodle/vVBr6 ”Coca Cola”
May 26, 2011
blogging
What’s so interesting with blogging? yeah, sudah beberapa hari ini aku mengabdikan menjadi tukang sampah. Duduk di belakang meja, mata menatap layar, dan tangan menari di atas keyboard. Jadi merasa sedikit bersalah sama temen samping meja-ku, yang bingung melihatku betah di belakang meja sambil mengetikkan bahasa-bahasa aneh di layar. Teman, itu bukan bahasa alien, tapi bahasa kode html untuk modifikasi web (baca: blog). Dan juga merasa bersalah kepada yang ‘mberi aku kerja. Maafkan aku wahai teman-teman dan para bos, bukannya aku berniat untuk menjadi teman dan bawahan yang durhaka, namun ku tak kuasa menghentikan apa yang baru kumulai. Janji deh, aku akan mengurangi ke-badung-an ku. 
Aku bukan orang yang gemar menulis. Dan sepanjang yang kuingat, aku hanya punya sebuah buku diary dengan ketebalan tidak lebih dari 100 halaman, dan itupun hanya terisi setengahnya. Jika dibandingkan dengan temanku yang memiliki tumpukan buku diary yang mengisahkan perjalanan dan pandangan hidupnya, tulisanku cuma sebuah catatan kecil. Tapi baru nyadar setelah buka-buka lagi lembaran diary yang kutulis, rasanya seperti kembali kehidupanku yang lalu. Tentang proses pendewasaanku, tentang nasihat-nasihat yang kuberikan untuk diriku sendiri. Tulisan-tulisan itu mengingatkanku tentang gimana aku membentuk pribadiku, dan ternyata, itu semua bukan hanya sebuah catatan kecil.
Sebenernya aku mulai berkenalan dengan blogging pas kuliah pake blogspot.com. Konsep yang kupakai waktu itu adalah kumpulan surat yang ditujukan buat (calon) suamiku. Aku ga bisa bilang bahwa ide itu adalah ide yang norak karena buktinya pikiranku selalu saja melayang tiap kali aku membacanya kembali. Tulisan yang polos.
Pernah juga suatu saat aku diberikan oleh Pyramit sebuah kolom blog. Aku hampir lupa tentang apa yang kutuliskan disana. Hanya satu post yang kuingat, yaitu tentang perjalananku ke sebuah jajaran pantai di Jogja. Sebuah tulisan jujur yang menggambarkan hatiku saat itu. Sayangnya, situs tersebut harus ditutup sebelum kusempat menyimpan segala isi tulisanku.
Sempat vakum blogging untuk beberapa lama karena keterbatasan dana. Yeah… Perpanjangan target waktu kelulusan membuatku tak sanggup meminta uang jajan lebih banyak. 5 tahun pas, yang akhirnya gelar cum pun dicabut, haha… Ironis, sadis, tragis…
Akhirnya kubangun lagi rumah di blog.com. Kali ini dengan konsep tantang catatan pripadi, lebih mirip diary. Pernah mempertimbangkan untuk mbangun di wordpress, tapi harus pinter2 desain sendiri. Berhubung ane kagak ngarti bahasa html, jadinye milih nyang gampang-gampang n langsung dipake aje. Tapi sekarang, setelah dikit-dikit ngerti gimana caranya modifikasi blog, jadi tertarik pindah ke wordpress. Habis, repot juga harus ngikutin rules yang terbatas di template ini.
Tapi kembali lagi ke laptop, eh ke ngeblog. Setelah berkunjung ke blog tetangga, aku baru nyadar kalo tulisan mereka bagus-bagus, setidaknya mampu membuatku bertahan untuk membacanya. Agak iri sih.. Rasanya pengen buat tulisan sebanyak-banyaknya dan sebagus-bagusnya. But well.. this is me, this is my writing, and i’m writing for me.
Aku bukan orang yang gemar menulis. Dan sepanjang yang kuingat, aku hanya punya sebuah buku diary dengan ketebalan tidak lebih dari 100 halaman, dan itupun hanya terisi setengahnya. Jika dibandingkan dengan temanku yang memiliki tumpukan buku diary yang mengisahkan perjalanan dan pandangan hidupnya, tulisanku cuma sebuah catatan kecil. Tapi baru nyadar setelah buka-buka lagi lembaran diary yang kutulis, rasanya seperti kembali kehidupanku yang lalu. Tentang proses pendewasaanku, tentang nasihat-nasihat yang kuberikan untuk diriku sendiri. Tulisan-tulisan itu mengingatkanku tentang gimana aku membentuk pribadiku, dan ternyata, itu semua bukan hanya sebuah catatan kecil.
Sebenernya aku mulai berkenalan dengan blogging pas kuliah pake blogspot.com. Konsep yang kupakai waktu itu adalah kumpulan surat yang ditujukan buat (calon) suamiku. Aku ga bisa bilang bahwa ide itu adalah ide yang norak karena buktinya pikiranku selalu saja melayang tiap kali aku membacanya kembali. Tulisan yang polos.
Pernah juga suatu saat aku diberikan oleh Pyramit sebuah kolom blog. Aku hampir lupa tentang apa yang kutuliskan disana. Hanya satu post yang kuingat, yaitu tentang perjalananku ke sebuah jajaran pantai di Jogja. Sebuah tulisan jujur yang menggambarkan hatiku saat itu. Sayangnya, situs tersebut harus ditutup sebelum kusempat menyimpan segala isi tulisanku.
Sempat vakum blogging untuk beberapa lama karena keterbatasan dana. Yeah… Perpanjangan target waktu kelulusan membuatku tak sanggup meminta uang jajan lebih banyak. 5 tahun pas, yang akhirnya gelar cum pun dicabut, haha… Ironis, sadis, tragis…
Akhirnya kubangun lagi rumah di blog.com. Kali ini dengan konsep tantang catatan pripadi, lebih mirip diary. Pernah mempertimbangkan untuk mbangun di wordpress, tapi harus pinter2 desain sendiri. Berhubung ane kagak ngarti bahasa html, jadinye milih nyang gampang-gampang n langsung dipake aje. Tapi sekarang, setelah dikit-dikit ngerti gimana caranya modifikasi blog, jadi tertarik pindah ke wordpress. Habis, repot juga harus ngikutin rules yang terbatas di template ini.
Tapi kembali lagi ke laptop, eh ke ngeblog. Setelah berkunjung ke blog tetangga, aku baru nyadar kalo tulisan mereka bagus-bagus, setidaknya mampu membuatku bertahan untuk membacanya. Agak iri sih.. Rasanya pengen buat tulisan sebanyak-banyaknya dan sebagus-bagusnya. But well.. this is me, this is my writing, and i’m writing for me.
May 19, 2011
Creamy Mushroom Fettucini – First Try
Setelah membeli segala bahan dan menghapalkan langkah-langkah pembuatan, dan dengan berbekal tekad kuat akhirnya kusingsingkan lengan baju dan kulangkahkan kakiku ke dapur untuk membuat Creamy Mushroom Fettucini. Pertama kali nyoicip masakan ini pas di Pizza Hut. Meskipun rasanya rada eneg, kadang-kadang suka penasaran pengen nyoba lagi. Tapi berhubung misua ga begitu doyan makanan-makanan “luar”, jadinya masak sendiri ajah….
Ini ni jejak-jejak percobaan pertama Creamy Mushroom Fettucini a la Lini.
Bahan yang disiapkan:
Fettucini secukupnya untuk 1 porsi, rebus dicampur dengan 1sdm minyak
Jamur kancing sekitar 10 butir, iris tipis melintang
Irisan daging ayam, sedikit banget (nyomot sisa2 di kulkas)
Bawang bombay 1/3 buah, iris
Bawang putih 1 siung, geprek lalu dicincang
Susu cair 200 ml,
Tepung terigu 1 sendok
Oregano, garam, gula dan merica secukupnya.
Jejak pembuatan:
Panaskan minyak dan margarin secukupnya
Masukkan bawang putih hingga harum
Tumis hingga layu bawang bombay dan ayam,
Masukkan susu cair beserta fettucini, jamur, tepung terigu, garam, gula dan oregano
Aduk hingga kuah mengental
Sebelum diangkat dicicip-cicip dulu
enyak, enyak, enyak
Alhasil, percobaan pertama pun berhasil dengan sukses dan mengenyangkan. Lain kali nyoba pake daging asap ah…
Ini ni jejak-jejak percobaan pertama Creamy Mushroom Fettucini a la Lini.
Bahan yang disiapkan:
Fettucini secukupnya untuk 1 porsi, rebus dicampur dengan 1sdm minyak
Jamur kancing sekitar 10 butir, iris tipis melintang
Irisan daging ayam, sedikit banget (nyomot sisa2 di kulkas)
Bawang bombay 1/3 buah, iris
Bawang putih 1 siung, geprek lalu dicincang
Susu cair 200 ml,
Tepung terigu 1 sendok
Oregano, garam, gula dan merica secukupnya.
Jejak pembuatan:
Panaskan minyak dan margarin secukupnya
Masukkan bawang putih hingga harum
Tumis hingga layu bawang bombay dan ayam,
Masukkan susu cair beserta fettucini, jamur, tepung terigu, garam, gula dan oregano
Aduk hingga kuah mengental
Sebelum diangkat dicicip-cicip dulu
Alhasil, percobaan pertama pun berhasil dengan sukses dan mengenyangkan. Lain kali nyoba pake daging asap ah…
Serpihan Situs Pyramit
Telah ditemukan sebuah situs bersejarah di web.archive.org. Setelah dilakukan penggalian selama beberapa hari, terkumpullah beberapa puing-puing yang masih tersisa. Situs tersebut adalah situs peninggalan jaman Elegan Militan di kerajaan Pyramit yang menggambarkan semangat kesepuluh punggawanya dalam meraih kejayaan Pyramit. Berikut ini dokumentasi yang sempat terekam:
May 16, 2011
Unreachable: Sara Bareilles
Why do I love her so much? It started when i surf for music in myspace, and BHAM! I heard her “King of Anything” and just couldn’t get me not listening it till the end. At first, it was like a refresshing song after listening the “Britney” stuff. So i started to search her other song. Soon i realized, her songs are good, and the more i listen to her other songs, the more i fallen in love with her music. Yup, she is a singer, a musician and a writer. And i’m just so amazed how she could do such a beautiful music. Plus, she even do it better when she live.
Been watching her singing live on youtube, made me do a little whisper if i can see her live for real. It was just a little whisper till i saw her pages saying that she will do her “Kaleidoscope Heart Tour” in Jakarta. It’s like unreal for me, and i kept stare at the monitor. And i kept saying “Umm… maybe this is just an hoax”. Fool of me! I kept saying that to myself till the last days. And fool of me too, I kept saying “Well… never been in a concert before, and i don’t really need it” Yup, for me, attending a concert was a wasting-time-activity (and wasting-money, obviously).
On the day of her concert, it felt like i wanna run to the ballroom and buy one ticket. I never really want to be in a concert before, and i think a can overcome this willing. But i was wrong. Having radio playing her being interviewad, made me wandering what if i was there, what will it gonna be. And there i went, walked home having headphone on my ear, listened to her and kept thingking of her concert. What a miserable night.
Days after the concert, i do as what i planned, watching her live on youtube. Damn, i’m not like what i thought. It makes me more wanting to be there. She was awesome! I want to be in the crowd. And so i wandering, what if i was one of them who sing along with Sara? See, regrets always comes later. All i can do is laugh at myself, for not even considering to consider of getting what i really want.
Then i guess, i’ll go for next year. And then Sara, see u next year. Hope i still be ur fan that day
Been watching her singing live on youtube, made me do a little whisper if i can see her live for real. It was just a little whisper till i saw her pages saying that she will do her “Kaleidoscope Heart Tour” in Jakarta. It’s like unreal for me, and i kept stare at the monitor. And i kept saying “Umm… maybe this is just an hoax”. Fool of me! I kept saying that to myself till the last days. And fool of me too, I kept saying “Well… never been in a concert before, and i don’t really need it” Yup, for me, attending a concert was a wasting-time-activity (and wasting-money, obviously).
On the day of her concert, it felt like i wanna run to the ballroom and buy one ticket. I never really want to be in a concert before, and i think a can overcome this willing. But i was wrong. Having radio playing her being interviewad, made me wandering what if i was there, what will it gonna be. And there i went, walked home having headphone on my ear, listened to her and kept thingking of her concert. What a miserable night.
Days after the concert, i do as what i planned, watching her live on youtube. Damn, i’m not like what i thought. It makes me more wanting to be there. She was awesome! I want to be in the crowd. And so i wandering, what if i was one of them who sing along with Sara? See, regrets always comes later. All i can do is laugh at myself, for not even considering to consider of getting what i really want.
Then i guess, i’ll go for next year. And then Sara, see u next year. Hope i still be ur fan that day
Must-Have Programs: Media
“Ehm.. Surti… bisa minta tolong ga..?” tanya Amira pelan. Surti yang asik karaoke-an pun menoleh dengan mulut yang masih komat-kamit. “Em… gua tolong di-instalin Winamp dong… sekalian ama yang program media yang laen ya. Soalnya, komputer gua kemaren habis gua install, ilang semua deh programnya…” pinta Amira dengan nada memelas. Pinta Amira pun dibalas oleh Surti dengan cengiran kemenangan bak mendapatkan kejayaan yang lama dinantinya. “Tenang, masalah gini mah, urusan gua. Ga percuma juga gua berilmu dengan mbah gugel sekian lama.. Sekarang giliran gua yang ngajarin lu, Mir…”
Player:
Player:
- Winamp
Player ini paling enak buat nyetel lagu. Interface-nya gampang dipahami, banyak pilihan skin yang bagus, dan bisa disembunyikan di system tray - Windows Media Player
Player ini palik asik buat nyetel video klip sekalian nyambi kerja, soalnya WMP bisa nampilin video di layar kecil saat di-minimize - VLC Player
Paling handal buat nyetel video-video donlotan, khususnya buat video yang di-donlot dari youtube. Plus, bisa buat streaming dari protokol rtsp. Plus plus, berhubung IDM (Internet Download Manager) ga bisa mengenali protokol rtsp, program ini bisa dipake buat nge-save video streaming. - Media Player Classic (K-Lite)
Biasanya dipake buat nyetel VCD/DVD. - Van Basco’s Karaoke Player
Na, yang ini buat karaoke-an. Tipe file yang digunakan: *.mid dan *.kar - MiniLyrics
Ini program yang bisa nampilin lirik saat nyetel lagu. Terintegrasi dengan Winamp dan WMP.
- Ulead Video Studio
Program buat bikin video. - Any Video Converter
Program ini bisa konversi file-file video ke dan dari format apa aja dengan pengaturan kualitas sesuai yang kita inginkan. - Windows Media Encoder
Yang ini biasanya dipake buat ngerekam suara sendiri (narsis.com) - WavePad Sound Editor
Yang utamanya, ini dipake buat convert file audio. Sip deh, apa aja bisa dikonversi. Dan enaknya, bisa buat ngecilin ukuran file mp3 sesuai kualitas yang kita pengenin. Berguna banget kalo mau upload lagu ke blog/web kita, jadi bandwidth yang dibutuhkan ga gede-gede amat.
April 28, 2011
WOn bIn vS kEanU reeVEs
yak, saatnya menjadi alay…
teringat jaman SD dulu, saat pertama kalinya mengenal yang namanya “bioskop”. duduk di barisan tengah, dan pandangan mata tidak lepas dari layar lebar. ya, film yang diputar memang bagus, tapi ada sebab utama yang menimbulkan perilaku ke-ndeso-anku saat itu. dan Mas Nunu (a.k.a Keanu Reeves) – lah penyebabnya. hahaha…. dasar anak SD baru mau masuk waktu puber. tapi di film itu, Mas Nunu emang pas ngguanteng-ngguantengnya… apalagi film Speed memang menyuguhkan wajah Mas Nunu di hampir 80% durasinya. alhasil, “pertemuan” itu membuatku “jatuh cinta” padanya dan menobatkan Mas Nunu sebagai artis idola pertamaku. bahkan sampai detik ini pun diriku masih mengidolakan wajah ngguanteng Mas Nunu
but anyway, who can really deny his charm?
sedikit maju ke depan, ke jaman SMA. saat mulai masuknya drama korea di layar televisi Indonesia. layaknya “Ababil” sepantaranku yang lain, diriku pun jatuh cinta dengan pendatang baru yang satu ini. “Tae Suk oppa..”, kata-kata yang selalu terngiang sampai sekarang. ya, Won Bin, pelakon antagonis (saat itu) yang bagiku tetap protagonis. yeah… dia-lah yang menyusul posisi Mas Nunu saat itu.
back to nowday. yes, i still really like them both. terutama setelah bernostelgia dengan wajah Won Bin di film terbarunya, “Ahjussi/The Man From Nowhere”. ekspresinya pun sedikit mengingatkanku pada Mas Nunu. well, this is a whole package in one. hahaha… mungkin emang yang seperti ini tipe2 wajah yang kusuka. mata yang indah. Mas Nunu dengan tatapannya yang mampu membekukan air dan sebaliknya Won Bin dengan tatapannya yang mampu mencairkan es. halah, lebay@alay.com
akan tetapi…. teteup lah… my hubby is da best
*penyelamatan diri
teringat jaman SD dulu, saat pertama kalinya mengenal yang namanya “bioskop”. duduk di barisan tengah, dan pandangan mata tidak lepas dari layar lebar. ya, film yang diputar memang bagus, tapi ada sebab utama yang menimbulkan perilaku ke-ndeso-anku saat itu. dan Mas Nunu (a.k.a Keanu Reeves) – lah penyebabnya. hahaha…. dasar anak SD baru mau masuk waktu puber. tapi di film itu, Mas Nunu emang pas ngguanteng-ngguantengnya… apalagi film Speed memang menyuguhkan wajah Mas Nunu di hampir 80% durasinya. alhasil, “pertemuan” itu membuatku “jatuh cinta” padanya dan menobatkan Mas Nunu sebagai artis idola pertamaku. bahkan sampai detik ini pun diriku masih mengidolakan wajah ngguanteng Mas Nunu
but anyway, who can really deny his charm?
sedikit maju ke depan, ke jaman SMA. saat mulai masuknya drama korea di layar televisi Indonesia. layaknya “Ababil” sepantaranku yang lain, diriku pun jatuh cinta dengan pendatang baru yang satu ini. “Tae Suk oppa..”, kata-kata yang selalu terngiang sampai sekarang. ya, Won Bin, pelakon antagonis (saat itu) yang bagiku tetap protagonis. yeah… dia-lah yang menyusul posisi Mas Nunu saat itu.
back to nowday. yes, i still really like them both. terutama setelah bernostelgia dengan wajah Won Bin di film terbarunya, “Ahjussi/The Man From Nowhere”. ekspresinya pun sedikit mengingatkanku pada Mas Nunu. well, this is a whole package in one. hahaha… mungkin emang yang seperti ini tipe2 wajah yang kusuka. mata yang indah. Mas Nunu dengan tatapannya yang mampu membekukan air dan sebaliknya Won Bin dengan tatapannya yang mampu mencairkan es. halah, lebay@alay.com
akan tetapi…. teteup lah… my hubby is da best
January 26, 2011
Tips n Tricks di Windows: User admin ga bisa diakses?
The User Profile Service failed the Login.Tulisan tersebut terus muncul saat Surti mencoba login di komputer kantornya. “aduh… kenapa user ini ga bisa diakses sih??? mana ini admin satu-satunya lagi!”
User Profile cannot be loaded.
-
Tidak perlu panik saat komputer anda mengalami ketidakmormalan seperti ini. Hal ini terjadi mungkin karena anda atau teman anda secara tidak sengaja mengubah nama atau menghapus user profile tersebut. Maka yang dapat anda lakukan adalah:
- Jalankan windows pada user publik (tanpa password)
- Run command prompt >> Klik tombol window (di keyboard) + R. Tulis CMD, lalu enter. Akan tertampil Command Prompt pada lokasi C:\Users\
- Buka direktori C:\Users\ >> Tulis cd.. lalu enter.
- Periksa semua nama user yang tersedia. >> Tulis dir lalu enter. Akan tertampil username yang tersedia.
- Jika terdapat folder yang memiliki nama menyerupai username yang anda maksud, kemungkinan username tersebut telah diubah sebelumnya. Maka sesuaikan nama folder tersebut sesuai dengan username Anda >> Tulis rename <nama yang telah berubah> <username asli>
- Jika username yang Anda maksud tidak tertampil, kemungkinan folder anda tersebut telah terhapus, begitu pula dengan seluruh dokumen yang anda simpan di dokumen user anda. Maka buat kembali folder nama sesuai dengan Username yang Anda maksud >> tulis mkdir <username>
- Restart komputer anda.
Jika solusi di atas belum menyelesaikan masalah Anda, kemungkinan anda tidak menuliskan username yang sesuai dengan username di komputer. Hal ini bisa saja terjadi karena username yang anda gunakan saat login berbeda dengan user pada profile Anda. Jika anda tidak dapat mengingat dengan tepat nama yang sesuai dengan saat pertama kali anda membuat user profile, sedangkan user profile tersebut adalah satu-satunya user Admin di komputer Anda, maka Anda dapat mencoba langkah berikut:
- Restart komputer anda
- Tekan F8 saat komputer sedang starting.
- Jalankan Windows pada kondisi Safe Mode.
- Masuk pada user publik.
- Buka Command Prompt, ketik net users administrator /active:yes , tekan enter.
- Restart kembali komputer Anda. Pada halaman login, akan muncul user Administrator.
Surti akhirnya dapat bernapas lega setelah komputernya kembali normal seperti sedia kala.
Subscribe to:
Posts (Atom)