December 14, 2023

Piece of My Heart ~ Season 2 ~ Ch 12

<<prev part

9 Oktober 2008. Besok kami akan menikah. Aku tersenyum membaca undangan pernikahan kami. 

Ratih & Totok.

It's finally happening. Setelah apa yang telah terjadi. Rasanya baru kemarin kami berkenalan di lapangan sepak bola. Bahkan rasa pedih yang kurasa saat kulihat ia bersama Indah, masih terpatri jelas di ingatanku. But tomorrow, he'll be mine for sure.

HP ku berdering. Ada pesan SMS masuk. Ini dari Bima. Seorang teman se-angkatan di perusahaan tempatku bekerja.

"Tih, gimana kabarnya. Jadi nikahnya?" tanyanya.

"Baik Bim.. ya jadi lah... gimana kabarnya, dimana sekarang?" jawabku.

"Baik juga. Di pelosok hutan nih T_T. Semoga lancar ya besok. Rasanya baru kemaren kita diklat bareng ya. Eh kamu udah duluan aja. Wkwkwk" 

"Aamiin.. makasih ya Bim. Iya ya, jadi inget kita jalan-jalan bareng di kebon teh, trus makan bakso di depan udiklat.." 

"Hehehe, iya.. Tih, kangen.."

Aku termangu membaca kata terakhir darinya. Kata yang menurutku kurang wajar ditujukan kepada teman lawan jenis yang akan menikah esoknya. 

Hanya sebuah emoticon senyum yang kuberikan sebagai balasan. Karena aku tak tahu harus menjawab apa. Dan pembicaraan kami terhenti di sana. 

Esok, aku sudah menjadi Nyonya Totok. Pria yang kuimpikan menjadi imamku. Ku yakin akan ada banyak cerita dan tantangan setelah ini. Dan aku tak dapat memperkirakan akan sekuat apa ombak yang akan kami arungi bersama nantinya. Namun tak sedikitpun aku ragu atau pun takut menghadapinya.

<<prev part

Piece of My Heart ~ Season 2 ~ Ch 11

<<prev part   next part >>

"Hai Totok, kenalin, aku Wati." jempolku menari di atas keypad HP Nokia milik ibuku. Lalu kutekan tombol kirim.

Beberapa hari yang lalu ibuku memiliki ide aneh buat ngerjain Totok. Dia bilang, "Dek, coba kita SMS mas Totok yuk, pake HP mama. Pura-pura aja ngajak kenalan, kita lihat responnya kayak apa nanti." Kebetulan ibuku baru saja pulang dari ibadah haji, dan beliau masih memiliki nomer seluler yang dibelinya di Mekah. Sehingga Totok tidak akan menyadari bahwa ini adalah SMS dari kami. Aku pun mengiyakan saja tanpa ragu. 

Nada dering khas Nokia terdengar. Sebuah pesan masuk. 

"Maaf, ini siapa ya? Tahu nomerku dari mana?" isi pesan dari Totok kubacakan, dan ibuku pun ikut menyimak.

"Dijawab apa ini Ma?" tanyaku kepada ibuku. 

Kami berdiskusi sebentar, kemudian aku melanjutkan menuliskan SMS di HP.

"Aku dapet nomermu dari temenku. Boleh kenalan nggak?" aku tersenyum sambil menuliskan kata per kata.

Beberapa percakapan kami lanjutkan. Aku mengenalkan sosok Wati kepadanya, dan Totok pun mengenalkan sosoknya kepada kami. Rasanya aku mulai mengerti arah tujuan ibuku melakukan prank ini kepadanya. 

"Totok, mau nggak kalo kita ketemuan?" pertanyaan ini agak membuatku khawatir tentang apa yang akan dijawabnya. 

Agak lama kami menunggu jawaban. Namun akhirnya HP ibuku berdering kembali.

"Bisa aja. Tapi sebelumnya maaf, aku udah ada calon." aku membaca isi SMS-nya sambil tersenyum. 

Calon. 

Definisi kata "pacar" yang selalu terpatri di pikiranku sejak SMA adalah calon suami. Dan dia baru saja mengumumkan ke orang yang baru saja dia kenal, bahwa dia sudah punya calon istri. Aku berharap kelak dia benar adalah jodohku.

Ibuku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dengannya. Kurasa dia sudah mengambil kesimpulan. 

Sejak aku memberi tahu ibuku tentang hubunganku dengan Totok, beliau tampak tidak begitu setuju akan hubungan kami. Baru kuketahui belakangan, bahwa ini adalah salah satu ujian yang selalu diberikan ibuku kepada siapapun yang akan menikahi anaknya.

Syukurlah, ujian kali ini dapat kami lewati dengan baik. 

<<prev part   next part >>