Just 4 U
About something i can't say to you. No matter what, I Love You
March 09, 2026
Working Mom
February 09, 2026
Loop
Pernahkah kau merasa ingin menangis?
Seperti ada yang kosong di hati. Entah mengapa.
Seringkali kau jauh.
Dan saat kau dekat, masih saja terasa jauh.
Tahukah kau, ake menangis suatu malam saat kau berbaring di sampingku?
Entah kau menyadarinya atau tidak.
Pikirianku berisik, namun tak satupun kata yang terucap.
Saat aku yang lain mendesakku untuk meluapkannya, aku tak bergeming.
Memilih menelan kekosongan yang ada.
Dan kini kau kembali jauh.
Aku merasa kembali jatuh pada kerinduan yang mungkin tak berbalas.
Hingga nanti kita bertemu lagi
Dan kembali mengulang pola yang sama.
Hibur aku saat kau baca ini.
Tapi..
Ah, tak mungkin juga kau mampir ke sini
January 07, 2026
Bottle
👨: Duh kok pengen pipis ya
December 31, 2025
Silly Me
December 04, 2025
Que sera, sera
It's been two weeks.
I'm okay, but it seems like it takes time for me to give you my full trust.
Selalu terlintas kenangan saat dengan ringannya dia menyembunyikan kenyataan, dengan perkataan-perkataan yang terdengar sangat menjanjikan.
I'm not mad at you. But i'm still wondering, whether or not this will continue to happen. Or maybe even worse?
Bahkan otak ini mulai memberikan gambaran sekenario terburuk yang bisa saja terjadi. Yang berakhir pada kesimpulan, semua adalah milik Allah dan tak seharusnya kita menggantungkan harapan pada manusia.
Que sera, sera. Whatever will be, will be.
Sejauh mana kita menginginkan sesuatu, jika memang tidak ditakdirkan maka tak akan terjadi. Sebaliknya, sejauh mana kita berharap sesuatu tidak terjadi, jika itu telah menjadi ketetapan-Nya maka kita hanya bisa menerimanya.
So i'll just have to embrace all the happiness and the pain that will come through me.
Waktu lah yang mendewasakanku. Dan waktu pulalah yang akan mengembalikan kepercayaanku padamu.
Kuharap kita selalu dalam bimbingan dan lindungan-Nya. Aamiin..
BTW, just realize, i wrote a similar post about "trust" 20 years ago here.
November 24, 2025
Sweet 17
Alih-alih marah, aku malah lega. Bisa mendengarkan langsung dari bibirmu. Tentang hal-hal yang bertahun-tahun ini kerap mengusik pikiranku. Praduga yang memang ternyata benar adanya, yang bahkan aku sudah menerima dan memaafkannya meskipun kau tak cerita.
Selama ini ku dihadapkan pada 2 pilihan. Tutup mata, atau membuka tirai. Dan waktu lah yang mendewasakanku. Hingga kuputuskan untuk membuka tirai. Apa yang ditutupi pastilah sesuatu yang pahit, namun aku sudah siap. Dibanding aku harus terus dibakar rasa curiga.
Di tanganku, kugenggam pedang bermata dua. Yang bisa menyakitiku, sekaligus menyakitinya. But there's no turning back. It's now or never. Memang sakit, namun tak seberapa. Malah terangkat beban di pikiran ini.
Kuharap ini tak menyakitinya. Atau melukai harga dirinya.
Kuharap dia tak tenggelam dalam rasa bersalahnya. Karena sesungguhnya, gwenchana. Biarkan ini jadi pendewasaan kita berdua untuk jadi yang lebih baik.
Kuharap dia tetap menjadi ayah dan suami yang hebat. Like he always been.
Love U. Always.
March 12, 2024
Perfect
Tidak ada yang sempurna katanya. Tapi tidak menurutku. Di mataku dia begitu sempurna. Dia yang selalu benar. Dia yang serba bisa. Dia yang sangat produktif. Dia yang menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
Tapi satu yang benar, aku jauh dari sempurna. But, I'm trying so hard, to be perfect just like you. It might be easy for you to do all that stuff perfectly. How can you be so effortless handling so many things. While I'm the one who always messed the things up, no matter how hard I try.
No wonder, why I always be the one who always be blamed, for a single mistake I've made. I should've just take it. Just like the other time. But sometimes it drown me in tears. When all the effort I spent for it, wiped away by mistakes I've made. And all you can see is just how careless I am. And you have to remind me all over again, just to make sure I get it.
And in the end, inspite of hundred matters you have to handle, my feelings might be not a big deal for you. Or maybe just a burden for you.
To my perfect husband, "Sorry" might not settle the thing down and erase your mad at me. But I hope you see my efforts, more than you see my mistakes.
March 08, 2024
Keran
Bagaikan keran yang tak lagi tersumbat, kini hasratku kepadanya tak
terbendung. Kerinduan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasa haus akan
sentuhan tubuhnya. Semua baru kurasakan kepadanya dalam beberapa bulan
terakhir. Seakan tak peduli apakah dia akan menyambut rasa ini atau tidak, I
just do what i wanna do.
Beberapa hal memang sangat ingin kulakukan sejak dulu. Namun aku terlalu
takut untuk memulainya. Atau lebih tepatnya, terlalu gengsi. Tanpa kusadari, 15
tahun sudah kulalui dengan keangkuhan itu. Dan pada satu titik akhirnya aku
tersadar, apa lagi yang aku tunggu? Apakah aku sanggup menanggung penyesalan
jika ternyata waktu kami bersama tak lagi panjang.
Hari demi hari kuberanikan diri membuka tirai keangkuhan yang manghalangi
langkahku untuk menyentuhnya. Sedikit demi sedikit, aku memulainya. Memang
canggung pada awalnya. Tapi aku menyukainya. Aku menikmatinya. Kenikmatan yang
dulu hanya dapat kubayangkan, kini aku mulai menggenggamnya. Dan ada
kebahagiaan yang luar biasa ketika ternyata dia pun menikmatinya.
Entah sampai kapan aku akan bertahan menjadi diriku yang sekarang ini.
Apakah aku akan kembali menjadi diriku yang seperti dulu? Mungkin saja, tapi
tolong jangan biarkan hal itu terjadi. Aku tak mau. Setidaknya tidak untuk saat
ini. Aku masih menginginkan hasrat ini terus mengalir.
Dan di saat yang sama aku pun tersadar. Betapa jahatnya aku. Betapa aku
telah mengabaikannya selama 15 tahun sebelumnya.
Teruntuk suamiku. Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku.
February 19, 2024
Time For Us
19 Februari 2024
40 lokasi = 40 kali perjalanan dinas = 40 minggu
Andaikan semua lokasi itu harus sudah tuntas dikunjungi dalam 1 tahun, artinya hanya tersisa 14 minggu dia menghabiskan waktu di Jakarta. Itu pun belum worst casenya yang bisa aja tambah lokasi, atau tambah durasi sampai 2 minggu per lokasi. Dan belum lagi dipotong hari untuk kegiatan golf-nya yang penting itu. Kesimpulannya, kesempatan bagi kami untuk meluangkan waktu bersama hanyalah setipis lembaran pink di buku nota. Dan mau tak mau, aku harus merelakannya.
Sedikit berlebihan? Bisa jadi. Tapi sebenernya ini self defense mechanism dariku, agar aku tidak mengharapkan waktu yang lebih banyak darinya. Karena aku tak mau kecewa. Anggap saja LDR.
But, knowing you'll not gonna be here for the most of time, it breaks my heart. Aku tahu tidak kehilangan dia, aku hanya kehilangan waktunya untuk bersama kami. Namun ini membangkitkan ingatanku saat aku masih kecil. Saat di mana aku bertanya-tanya, mengapa ibuku bisa sebegitu sedihnya saat ditinggal ayahku dinas ke luar kota. Dan kini aku mengalaminya.
Lalu aku ingat, saat dimana karir ayahku mulai menanjak naik. Beberapa acara pelantikan, kami diajak untuk menyaksikan betapa besarnya sosok ayah kami di mata kami yang kecil.
Ingatan kembali bergulir, dimana tak lama, ayahku meninggalkan kami.
Sejujurnya, sejak dulu, aku selalu dibayang-bayangi oleh kehidupan keluargaku. Ibuku dan kedua budhe-ku. Ajal memisahkan mereka dengan suami tercintanya, dan harus merawat anak-anaknya sendirian.
Kebetulannya lagi, kemudian nenekku dan nenek dari suamiku pun harus hidup tanpa suami di kehidupannya yang senja. Mambuatku mengambil benang kesimpulan, bahwa sangatlah umum terjadi jika sang suami lebih dahulu dipanggil yang maha kuasa.
Perpisahan memang suatu keniscayaan. Karena kita tak tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi dia yang meninggalkanku terlebih dahulu, atau pun sebaliknya.
Sehingga dalam relung hatiku, aku selalu berfikir harus siap untuk kehilangan nya suatu saat nanti. Dan hal sebenarnya mendasari motivasiku untuk menjadi working mom, dan untuk bisa mandiri.
But, we'll never know what happen next. Aku hanya perlu melakukan yang terbaik selama waktu itu masih ada. Dan aku tak akan menyia-nyiakan waktu yang berharga ini. Agar aku tak kecewa di kemudian hari.
And I pray for the best happen to all of us. You, me and our daughters.