March 09, 2026

Working Mom

Dulu kalau ditanya, pengen jadi apa. Kayaknya beberapa kali nyebut yang berbeda2. Tapi ada 1 yang paling kuingat. Mau jadi Mama. Yang dalam benakku saat itu, definisi Mama adalah sosok seperti mamaku. Di mataku, mamaku pada dasarnya seorang ibu rumah tangga, yang juga kerja kantoran. Seorang ibu yang selalu ada buat anak-anaknya, meskipun juga bekerja. Ya aku mau jadi seperti itu. Terlepas kantor apapun itu nantinya. Jadi, itulah cita-citaku, jadi ibu yang bekerja, karena itu terlihat keren. 

Saat remaja, Bapak dipanggil sama Allah. Dan sosok Mama menjadi sangat kuat di mataku. Bayangkan, seorang diri, menghidupi 3 anak. Aku pun sempat membayangkan, apa jadinya kalau mamaku nggak kerja. Mungkin bakal hancur semuanya. Hidupnya, dan masa depan kami. Saat itu pandanganku perihal ibu bekerja pun menjadi berubah. Bukan karena keren, tapi keharusan.

Ya benar, kewajiban memberi nafkah keluarga dipikul oleh sang ayah, namun jika keluarga ditinggal sang ayah saat si ibu tak punya penghasilan? Bagaimana caranya hidup? 

Dan disinilah aku saat ini. Membentuk diri yang kubayangkan. Sorang ibu, yang selalu hadir untuk keluarga. Tapi tetap bekerja secukupnya, bukan untuk membantu keuangan suami. Bukan untuk foya-foya. Bukan juga untuk aktualisasi diri. Namun sebagai bentuk mitigasi atas resiko terburuk yang mungkin terjadi. 

Terdengar sangat rendah ya? 

February 09, 2026

Loop

Pernahkah kau merasa ingin menangis?

Seperti ada yang kosong di hati. Entah mengapa. 

Seringkali kau jauh. 

Dan saat kau dekat, masih saja terasa jauh.


Tahukah kau, ake menangis suatu malam saat kau berbaring di sampingku?

Entah kau menyadarinya atau tidak.

Pikirianku berisik, namun tak satupun kata yang terucap.

Saat aku yang lain mendesakku untuk meluapkannya, aku tak bergeming.

Memilih menelan kekosongan yang ada.


Dan kini kau kembali jauh.

Aku merasa kembali jatuh pada kerinduan yang mungkin tak berbalas.

Hingga nanti kita bertemu lagi

Dan kembali mengulang pola yang sama.


Hibur aku saat kau baca ini.

Tapi..

Ah, tak mungkin juga kau mampir ke sini

January 07, 2026

Bottle

Story time.. 

Jadi ceritanya kami berlima lagi macet-macetan di dalem mobil. Udah 1 jam-an lah macet parah di tol Semarang arah Batang. Dan ujung macet masih setengah jalan lagi. Nyeletuklah sang pilot di kursi kendali.
👨: Duh kok pengen pipis ya
👩: Ada nih toilet portabel *Kami emang selalu bawa kursi toilet portabel yg selalu tersedia di mobil. Tapi yang biasa pake sih para penumpang ya
👨: Ah susah ah
👩: Mau pake botol? Ada nih botol kosong *langsung kukasih botol kosong ke triplet buat dikasih ke papanya 
👩: Ni nduk, buat papa
👧: Ni pa, dari mama *sambil ngasih botol kosong ke papanya
👨: Ah nggak muat ini

Dan mamanya pun mulai membayangkan sambil cekikikan dan mengucap istighfar.

December 31, 2025

AI

 For the things i naver done. I Love You.




Silly Me

Belakangan ini ada yang bikin aku dag dig dug. Rasanya banyak bunga yang bermekaran di hati. Bikin dada ini mau petjah. 

One night, after we made love, i grabbed his arm, and held his hand against my chest. His warmth spread throughout my body. My heart fluttered. My eyes felt as though they might burst into tears. That's how happy i was. 

Then i remembered, i've done this before. Once when i woke up in the middle of the night, i saw my husband's face. He slept like a baby. Then suddenly i felt this urge to touch him. So I grabbed his arm. Held his hand,just to feel the warmth of his hand. I love him. 

Then i remembered, long time ago. I'd felt this feeling too. Once when we rode his bike, he grabbed my hand and held it on his belly. Our thumbs played with each other along the ride. 

Silly me. All these years. I have never had the courage to do the things i longed to do with him. Even the simple things. Those thoughts just fly in my head, barely turning into reality. Such a coward.

Lalu ada lagi yang bikin dag dig dug. 

Our new routine before he leave to work. The goodbye kiss. Whenever noone see though. 

And today, we had our goodbye. I kissed his right cheek, then his left. Then he gestured for a final kiss. But i didn't. Because the kids were there. Then suddenly this guilty feeling haunted me for the rest of the day. Why didn't i kiss him back? I could have kissed him when we walked through the door. Or when he was putting his shoes on. But i didn't.

Silly me. Again, missed the chance of doing what felt right.

December 04, 2025

Que sera, sera

It's been two weeks.

I'm okay, but it seems like it takes time for me to give you my full trust.

Selalu terlintas kenangan saat dengan ringannya dia menyembunyikan kenyataan, dengan perkataan-perkataan yang terdengar sangat menjanjikan. 

I'm not mad at you. But i'm still wondering, whether or not this will continue to happen. Or maybe even worse?

Bahkan otak ini mulai memberikan gambaran sekenario terburuk yang bisa saja terjadi. Yang berakhir pada kesimpulan, semua adalah milik Allah dan tak seharusnya kita menggantungkan harapan pada manusia.

Que sera, sera. Whatever will be, will be.  

Sejauh mana kita menginginkan sesuatu, jika memang tidak ditakdirkan maka tak akan terjadi. Sebaliknya, sejauh mana kita berharap sesuatu tidak terjadi, jika itu telah menjadi ketetapan-Nya maka kita hanya bisa menerimanya.  

So i'll just have to embrace all the happiness and the pain that will come through me.  

Waktu lah yang mendewasakanku. Dan waktu pulalah yang akan mengembalikan kepercayaanku padamu. 

Kuharap kita selalu dalam bimbingan dan lindungan-Nya. Aamiin..

BTW, just realize, i wrote a similar post about "trust" 20 years ago here.

November 24, 2025

Sweet 17

Alih-alih marah, aku malah lega. Bisa mendengarkan langsung dari bibirmu. Tentang hal-hal yang bertahun-tahun ini kerap mengusik pikiranku. Praduga yang memang ternyata benar adanya, yang bahkan aku sudah menerima dan memaafkannya meskipun kau tak cerita.

Selama ini ku dihadapkan pada 2 pilihan. Tutup mata, atau membuka tirai. Dan waktu lah yang mendewasakanku. Hingga kuputuskan untuk membuka tirai. Apa yang ditutupi pastilah sesuatu yang pahit, namun aku sudah siap. Dibanding aku harus terus dibakar rasa curiga. 

Di tanganku, kugenggam pedang bermata dua. Yang bisa menyakitiku, sekaligus menyakitinya. But there's no turning back. It's now or never. Memang sakit, namun tak seberapa. Malah terangkat beban di pikiran ini. 

Kuharap ini tak menyakitinya. Atau melukai harga dirinya.

Kuharap dia tak tenggelam dalam rasa bersalahnya. Karena sesungguhnya, gwenchana. Biarkan ini jadi pendewasaan kita berdua untuk jadi yang lebih baik.

Kuharap dia tetap menjadi ayah dan suami yang hebat. Like he always been

Love U. Always.


March 12, 2024

Perfect

Tidak ada yang sempurna katanya. Tapi tidak menurutku.  Di  mataku dia begitu sempurna. Dia yang selalu benar. Dia  yang serba bisa. Dia yang sangat produktif. Dia yang menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri. 

Tapi satu yang benar, aku jauh dari sempurna. But, I'm trying so hard, to be perfect just like you. It might be easy for you to do all that stuff perfectly. How can you be so effortless handling so many things. While I'm the one who always messed the things up, no matter how hard I try. 

No wonder, why I always be the one who always be blamed,  for a single mistake I've made. I should've just take it. Just like the other time. But sometimes it drown me in tears. When all the effort I spent for it, wiped away by mistakes I've made. And all you can see is just how careless I am. And you have to remind me all over again, just to make sure I get it.

And in the end, inspite of hundred matters you have to handle, my feelings might be not a big deal for you. Or maybe just a burden for you.

To my perfect husband, "Sorry"  might not settle the thing down and erase your mad at me. But I  hope you see my efforts, more than you see my mistakes. 

March 08, 2024

Keran

Bagaikan keran yang tak lagi tersumbat, kini hasratku kepadanya tak terbendung. Kerinduan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasa haus akan sentuhan tubuhnya. Semua baru kurasakan kepadanya dalam beberapa bulan terakhir. Seakan tak peduli apakah dia akan menyambut rasa ini atau tidak, I just do what i wanna do.

Beberapa hal memang sangat ingin kulakukan sejak dulu. Namun aku terlalu takut untuk memulainya. Atau lebih tepatnya, terlalu gengsi. Tanpa kusadari, 15 tahun sudah kulalui dengan keangkuhan itu. Dan pada satu titik akhirnya aku tersadar, apa lagi yang aku tunggu? Apakah aku sanggup menanggung penyesalan jika ternyata waktu kami bersama tak lagi panjang.

Hari demi hari kuberanikan diri membuka tirai keangkuhan yang manghalangi langkahku untuk menyentuhnya. Sedikit demi sedikit, aku memulainya. Memang canggung pada awalnya. Tapi aku menyukainya. Aku menikmatinya. Kenikmatan yang dulu hanya dapat kubayangkan, kini aku mulai menggenggamnya. Dan ada kebahagiaan yang luar biasa ketika ternyata dia pun menikmatinya. 

Entah sampai kapan aku akan bertahan menjadi diriku yang sekarang ini. Apakah aku akan kembali menjadi diriku yang seperti dulu? Mungkin saja, tapi tolong jangan biarkan hal itu terjadi. Aku tak mau. Setidaknya tidak untuk saat ini. Aku masih menginginkan hasrat ini terus mengalir. 

Dan di saat yang sama aku pun tersadar. Betapa jahatnya aku. Betapa aku telah mengabaikannya selama 15 tahun sebelumnya.

Teruntuk suamiku. Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku.

February 19, 2024

Time For Us

19 Februari 2024


40 lokasi = 40 kali perjalanan dinas = 40 minggu

Andaikan semua lokasi itu harus sudah tuntas dikunjungi dalam 1 tahun, artinya hanya tersisa 14 minggu dia menghabiskan waktu di Jakarta. Itu pun belum worst casenya yang bisa aja tambah lokasi, atau tambah durasi sampai 2 minggu per lokasi. Dan belum lagi dipotong hari untuk kegiatan golf-nya yang penting itu. Kesimpulannya, kesempatan bagi kami untuk meluangkan waktu bersama hanyalah setipis lembaran pink di buku nota. Dan mau tak mau, aku harus merelakannya.

Sedikit berlebihan? Bisa jadi. Tapi sebenernya ini self defense mechanism dariku, agar aku tidak mengharapkan waktu yang lebih banyak darinya. Karena aku tak mau kecewa. Anggap saja LDR.

But, knowing you'll not gonna be here for the most of time, it breaks my heart. Aku tahu tidak kehilangan dia, aku hanya kehilangan waktunya untuk bersama kami. Namun ini membangkitkan ingatanku saat aku masih kecil. Saat di mana aku bertanya-tanya, mengapa ibuku bisa sebegitu sedihnya saat ditinggal ayahku dinas ke luar kota. Dan kini aku mengalaminya. 

Lalu aku ingat, saat dimana karir ayahku mulai menanjak naik. Beberapa acara pelantikan, kami diajak untuk menyaksikan betapa besarnya sosok ayah kami di mata kami yang kecil. 

Ingatan kembali bergulir, dimana tak lama, ayahku meninggalkan kami.

Sejujurnya, sejak dulu, aku selalu dibayang-bayangi oleh kehidupan keluargaku. Ibuku dan kedua budhe-ku. Ajal memisahkan mereka dengan suami tercintanya, dan harus merawat anak-anaknya sendirian. 

Kebetulannya lagi, kemudian nenekku dan nenek dari suamiku pun harus hidup tanpa suami di kehidupannya yang senja. Mambuatku mengambil benang kesimpulan, bahwa sangatlah umum terjadi jika sang suami lebih dahulu dipanggil yang maha kuasa. 

Perpisahan memang suatu keniscayaan. Karena kita tak tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi dia yang meninggalkanku terlebih dahulu, atau pun sebaliknya. 

Sehingga dalam relung hatiku, aku selalu berfikir harus siap untuk kehilangan nya suatu saat nanti. Dan hal sebenarnya mendasari motivasiku untuk menjadi working mom, dan untuk bisa mandiri.

But, we'll never know what happen next. Aku hanya perlu melakukan yang terbaik selama waktu itu masih ada. Dan aku tak akan menyia-nyiakan waktu yang berharga ini. Agar aku tak kecewa di kemudian hari.

And I pray for the best happen to all of us. You, me and our daughters.