Kelas sudah selesai, tapi sosok Totok sudah hilang dari pandanganku. Cepat sekali dia pergi, pikirku. Padahal baru saja aku lihat dia di kelas ini.
Saat aku mencapai lobi lantai dasar, kusapu pandanganku ke sekeliling ruangan. Dan disitulah dia, sedang bercengkrama dengan Kanita. Mereka tampak sangat akrab, saling melempar canda dan tertawa bersama. Perasaan apa ini yang kurasakan. Dada ini terasa panas.
Beberapa hari ini memang mereka terlihat sangat dekat. Aku masih suka dengan Totok. Haruskah kupadamkan rasa ini? Haruskah aku saksikan kedekatannya dengan gadis lain?
Aku berjalan mendekati mereka dengan senyuman. Menutupi rasa sejuta yang sedang bergejolak di hatiku. Aku pun mulai bergabung dengan mereka. Bercanda bersama, meski hati ini terasa pahit.
Ya, aku harus segera padamkan rasa sukaku terhadap Totok. Aku tak mau terbakar oleh rasa ini. Ku coba berbagai cara untuk menghalau getaran setiap kulihat dirinya. Namun rasa itu selalu ada dan tak mau hilang. Mampukah aku berteman dengan orang yang ku suka? Mampukah aku tetap tersenyum saat hatiku terbakar?
“Tih, ke Berkah yuk” tanyanya membuyarkan lamunanku.
Kanita telah pulang. Kini tinggal aku, dia dan Mirna. Warung Berkah adalah warung makan langganan mahasiswa. Rasanya lumayan, dan harganya tentu saja murah. Sebenarnya aku sedang tak ingin makan, namun aku tak pernah bisa menolak ajakannya. Dan kami pun berjalan menuju parkiran dan mengambil motor masing-masing untuk pergi ke warung Berkah. Aku berboncengan dengan Mirna.
Sesampainya di Berkah kami pun memilih menu masing-masing. Aku hanya pesan segelas es teh. Selama dia menyantap makanannya, ia bercerita tentang kedekatannya dengan Kanita. Tentang masalah yang sedang dialami Kanita. Sebenarnya aku tak begitu tertarik mendengarkan ceritanya, namun aku sedikit penasaran bagaimana sebenarnya perasaan Tatok terhadap Kanita. Ia sempat berucap bahwa Kanita bukanlah tipenya. Namun apapun itu, aku telah membulatkan tekad untuk menghentikan rasa ini.
~~
Hari-hari berlalu. Ternyata, menghapus rasa suka itu sulit. Berulang kali kucoba, namun tak pernah berhasil. Terlebih kesibukan kami di organisasi yang sama membuat aku dan Totok lebih sering bertemu.
LP bukanlah satu-satunya organisasi yang mempertemukan aku dan Totok. Beberapa kegiatan lainnya, seperti Rohis, Forum Muda Insinyur dan satu lagi, Pyramida. Maka, tak satu hari pun kulewatkan tanpa bertemu dan diskusi dengannya. Hal ini membuatku semakin sulit untuk melepaskan hatiku dari cengkeramannya.
Siang ini ada perkenalan kepengurusan di tiap jurusan. Sebagai panitia, dia tampak lebih sibuk dari pada senior lainnya. Pada beberapa kesempatan ia sering datang padaku. Entah untuk alasan yang tak jelas. Pernah ia minta padaku untuk menyalinkan sesuatu di bukunya, dan di lain kesempatan ia datang padaku hanya untuk menitipkan sebatang pulpen.
Hati ini sebenarnya lelah. Di mana dia selalu muncul di saat aku ingin jauh darinya. Jadi kuputuskan, kusimpan saja rasa ini. Entah mengapa meskipun sakit, semua yang kualami ini tetap terasa indah.
Sorenya, aku mampir ke kosnya untuk meminjam buku. Di sana, ia mulai bercerita lagi. Dan aku pun mencoba untuk menjadi teman yang baik baginya. Kali ini ia bercerita tentang seseorang, Dina. Pikirku, yang mana lagi ini?
Dan benar saja, dengan membuka hatiku atas segala perasaan yang akan kuterima, aku dapat menjalaninya dengan lebih lapang.