November 20, 2008

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 4


Kelas sudah selesai, tapi sosok Totok sudah hilang dari pandanganku. Cepat sekali dia pergi, pikirku. Padahal baru saja aku lihat dia di kelas ini. 

Saat aku mencapai lobi lantai dasar, kusapu pandanganku ke sekeliling ruangan. Dan disitulah dia, sedang bercengkrama dengan Kanita. Mereka tampak sangat akrab, saling melempar canda dan tertawa bersama. Perasaan apa ini yang kurasakan. Dada ini terasa panas.

Beberapa hari ini memang mereka terlihat sangat dekat. Aku masih suka dengan Totok. Haruskah kupadamkan rasa ini? Haruskah aku saksikan kedekatannya dengan gadis lain?

Aku berjalan mendekati mereka dengan senyuman. Menutupi rasa sejuta yang sedang bergejolak di hatiku. Aku pun mulai bergabung dengan mereka. Bercanda bersama, meski hati ini terasa pahit.

Ya, aku harus segera padamkan rasa sukaku terhadap Totok. Aku tak mau terbakar oleh rasa ini. Ku coba berbagai cara untuk menghalau getaran setiap kulihat dirinya. Namun rasa itu selalu ada dan tak mau hilang. Mampukah aku berteman dengan orang yang ku suka? Mampukah aku tetap tersenyum saat hatiku terbakar? 

“Tih, ke Berkah yuk”  tanyanya membuyarkan lamunanku.

Kanita telah pulang. Kini tinggal aku, dia dan Mirna. Warung Berkah adalah warung makan langganan mahasiswa. Rasanya lumayan, dan harganya tentu saja murah. Sebenarnya aku sedang tak ingin makan, namun aku tak pernah bisa menolak ajakannya. Dan kami pun berjalan menuju parkiran dan mengambil motor masing-masing untuk pergi ke warung Berkah. Aku berboncengan dengan Mirna.

Sesampainya di Berkah kami pun memilih menu masing-masing. Aku hanya pesan segelas es teh. Selama dia menyantap makanannya, ia bercerita tentang kedekatannya dengan Kanita. Tentang masalah yang sedang dialami Kanita. Sebenarnya aku tak begitu tertarik mendengarkan ceritanya, namun aku sedikit penasaran bagaimana sebenarnya perasaan Tatok terhadap Kanita. Ia sempat berucap bahwa Kanita bukanlah tipenya. Namun apapun itu, aku telah membulatkan tekad untuk menghentikan rasa ini.

~~

Hari-hari berlalu. Ternyata, menghapus rasa suka itu sulit. Berulang kali kucoba, namun tak pernah berhasil. Terlebih kesibukan kami di organisasi yang sama membuat aku dan Totok lebih sering bertemu. 

LP bukanlah satu-satunya organisasi yang mempertemukan aku dan Totok. Beberapa kegiatan lainnya, seperti Rohis, Forum Muda Insinyur dan satu lagi, Pyramida. Maka, tak satu hari pun kulewatkan tanpa bertemu dan diskusi dengannya. Hal ini membuatku semakin sulit untuk melepaskan hatiku dari cengkeramannya.

Siang ini ada perkenalan kepengurusan di tiap jurusan. Sebagai panitia, dia tampak lebih sibuk dari pada senior lainnya. Pada beberapa kesempatan ia sering datang padaku. Entah untuk alasan yang tak jelas. Pernah ia minta padaku untuk menyalinkan sesuatu di bukunya, dan di lain kesempatan ia datang padaku hanya untuk menitipkan sebatang pulpen. 

Hati ini sebenarnya lelah. Di mana dia selalu muncul di saat aku ingin jauh darinya. Jadi kuputuskan, kusimpan saja rasa ini. Entah mengapa meskipun sakit, semua  yang kualami ini tetap terasa indah.  

Sorenya, aku mampir ke kosnya untuk meminjam buku. Di sana, ia mulai bercerita lagi. Dan aku pun mencoba untuk menjadi teman yang baik baginya. Kali ini ia bercerita tentang seseorang, Dina. Pikirku, yang mana lagi ini?

Dan benar saja, dengan membuka hatiku atas segala perasaan yang akan kuterima, aku dapat menjalaninya dengan lebih lapang. 

November 16, 2008

piece of my heart – OST 1

Serpihan Hati
by Utopia

Di mata mu,
aku tak bermakna,
tak punyai arti apa-apa.

Kau hanya inginkan ku,
saat kau perlu,
tak pernah berubah.

Kadang ingin
ku tinggalkan semua,
pedih hati, menahan dusta.

Di atas pedih ini,
aku sendiri,
selalu sendiri.

serpihan hati ini kupeluk erat
akan kubawa sampai kumati
memendam rasa ini sendirian
ku tak tau mengapaaku tak bisa melupakanmu...

kupercaya suatu hari nanti
aku akan merebut hatimu
walau harus menunggu 
sampai ku tak mampu menunggumu lagi........

November 15, 2008

Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 3


September 2003. Hari yang indah. Aku, kakakku dan ibuku sedang melakukan perjalanan ke Solo. Kali ini, kami akan menginap di sebuah hotel. Jarang-jarang kami menginap di Solo. Biasanya kami melakukan perjalan pulang pergi dalam sehari. Selama perjalanan pikiranku melayang pada Totok. Sedang apa dia di Yogya? 

Aneh. Bahkan sebelumnya aku tak pernah peduli apa yang dia lakukan ketika sabtu minggu. Tapi perjalanan ini membuatku menjadi sedikit melankolis. Sepanjang perjalanan aku mengharapkan SMS darinya. Akan tetapi, setiap kupandangi layar ponsel, yang tertampil hanyalah layar utama. Tanpa notifikasi.

Saat malam menjelang, pikiranku entah berada dimana. Aku memberanikan diri untuk menghubunginya terlebih dahulu. Kutekan tombol keypad di ponsel.
“Tok, gimana, tugasku udah dikumpulin? Ada tugas lagi nggak?”

Kata-kata itu adalah kata terbaik yang terpikirkan. Satu menit, dua menit, 5 menit, tak ada balasan. Saat aku hendak terlelep, ponselku berbunyi. Ada SMS masuk, pasti dari dia. Kubaca ponselku.

“Udah. Gak ada tugas”

Titik. Dingin. Dan aku menarik selimutku dan meringkuk. Malam ini terasa sangat dingin.

Aku terbangun oleh silaunya sinar matahari pagi. Ponselku ternyata masih berada dalam genggamanku. Kubaca kembali layarnya, lalu kuingat kembali betapa dinginnya tadi malam. Kutulis kembali sebuah pesan singkat.

“Tok, ntar aq nitip absen ya”

Dan benar, kali ini bahkan untuk 100 menit, tak ada jawaban darinya. Aku bangkit dari tempat tidurku. Hari masih pagi. Aku berjalan ke arah jendela dan memandangi kolam renang. Beberapa menit berenang pasti dapat menyegarkan badan dan menenangkan batinku. Dalam sekejap aku dan kakakku sudah berada di dalam kolam renang. Berenang sambil bercanda. Satu hal yang selalu tak ketinggalan saat kami berenang bersama, yaitu lomba adu kecepatan berenang. Untuk saat ini cukuplah keluargaku sebagai penghiburku.