Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain
disini.
Ah, setelah sekian lama tertunda, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berkonsultasi kembali ke dokter mengenai program bayi yang ingin kami jalankan. Kali ini tema yang kami gunakan adalah “Rumah Sakit Terdekat”, dan terpilihlah RS. Haji. Berangkatlah kami ke sana, namun kali ini dengan kualifikasi yang berbeda. Tak ada lagi syarat “dokter wanita”, yang ada hanya “dokter berpengalaman”. Setibanya di meja pendaftaran, saya bertanya kepada sang petugas, “dokter yang biasa menangani program bayi siapa ya, mbak?”. Aha, harusnya pertanyaan ini yang kusampaikan saat “
step pertama” dulu. Si mbaknya pun tanpa ragu menyebutkan sebuah nama, “dr. Muharram, Bu. Cuman, prakteknya nanti malam.” Okelah, saya pun mendaftar untuk berkonsultasi ke dr. Muharram. “Habis maghrib ya, Bu,” kata mbaknya mengingatkan kembali.
Segera setelah kami menunaikan Sholat Maghrib, kami pun berangkat menuju rumah sakit kembali. Sesampainya di ruang tunggu, sang perawat memberi tahu bahwa sang dokter akan datang jam 8 malam. Wow, jam 8 baru mulai, lalu kapan kelarnya? Kami pun dengan sabar menunggu sampai akhirnya sang dokter datang 1 jam setelah jam 8 malam, alias jam 9 malam! Saat itu kondisi antrian lumayang panjang. Untungnya, karena saya sudah mendaftar pagi tadi, saya mendapat nomer urut 4. Nomer 4! Saya hanya bisa bertanya-tanya, lalu kapan si nomer 1, 2 dan 3 itu mendaftar? Ah, need to mention too, none of them are seemingly pregnant.
Saat namaku dipanggil, saya bersama suami pun memasuki ruangan. Di sanalah sang dokter duduk dengan mata yang tampak sedikit mengantuk. “maaf ya bu, tadi banyak pasien yang minta program bayi tabung”. Owh… si dokter ini, tampaknya sedang ingin melakukan promosi colongan. Well, it’s OK.
Setelah sedikit berdiskusi, saya pun diminta untuk melakukan USG. Kali ini USG Transvagina.
Pemeriksaan USG Transvaginal (melalui “miss v”) merupakan suatu metode pencitraan pada organ genitalia wanita dimana sebuah pemindai dimasukan ke dalam “miss v”. Pemindai dimasukan ke dalam rongga “miss v” untuk melihat struktur pelvis (rongga panggul), sementara gambaran ultrasound terlihat di monitor. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memngevaluasi pada wanita dengan masalah infertilitas, perdarahan yang abnormal, utnuk mencari penyebab nyeri yang tidak jelas pada organ genital, malformasi kongenital pada uterus (rahim) dan ovarium, kemungkinan tumor dan infeksi, dan pada kehamilan.
sumber (dengan sedikit edit-an)Saya pun diminta sang perawat (wanita) untuk melepas celana dan celana dalam. Setelah terlepas, saya pun diminta untuk berbaring dan dengan posisi terlentang dengan lutut tertekuk. Sang perawat terlihat mengoleskan sesuatu pada alat yang dipegangnya. Alat itu bagiku berbentuk sperti es krim hula-hula dari campina (halah… makanan terus yang kepikiran). Sang perawat pun memintaku untk relaks sembari memasukkan alat itu ke “miss v”-ku. Setelah alat itu ter-plug di tubuhku (kayak kabel aja), sekarang giliran sang dokter yang memegang alat itu sambil menatap layar monitor hitam-putih di hadapannya. Katanya, “Bagus”. Alhamdulillah…
Di akhir konsultasi, sang dokter memberiku sejumlah lembar rekomendasi test yang harus kami lakukan, yaitu: Sperma Analysys, TORCH, dan HSG. Sejauh ini, kami merasa cocok dengan dr. Muharram, karena dokter ini mengerti kebutuhan kami dan tidak semena-mena memberikan obat-obatan sebelum melakukan analisis terhadap hasil test. Ohya, setelah sedikit searching di inet tentang dr. Muharram, ternyata beliau juga adalah dokter di Klinik Yasmin RSCM dan spesifik di bidang fertilitas. Yahh… Semoga saja penilaian kami ini benar adanya.
Nambah dikit tentang USG Transvaginal:
PCO (Polycystik Ovarii) bisa dideteksi dengan pemeriksaan USG Transvaginal. Sedangkan jika disertai dengan gejala lain, seperti haid jarang (dengan darah sedikit/bercak, bahkan tidak haid), ada gejala tingginya hormon pria/hiperandrogen (berbulu, berkumis, berjerawat, dll), dan kadar gula cenderung meningkat, maka disebut PCOS (Polycystic Ovarii Syndrome).
sumber (dengan sedikit editan)Mungkin gara-gara si dokter melihat perawakan saya yang berkumis-tipis-nggemesin-mirip-iis-dahlia, bertebaran-jerawat-di-wajah dan agak-gendut-di-daerah-perut, beliau langsung memberikan analisa awal bahwa saya kemungkinan adalah korban PCOS. Hehe… karena pengalaman kali ya, Dok?