February 22, 2012

Road to our little – Step 8 – Test Hormon

Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.
.
Saya tidak mau menjadi kacang lupa kulitnya. Jadi… meskipun saya lagi berobat sama dr. Indra, saya masih berkonsultasi dengan dr. Muharram yang sudah membuat rekomendasi untuk tes ASA. Dan menurut dr. Muharram, terapi PLI patut dicoba, tapi untuk mendukung lancarnya program ini, ada baiknya melakukan tes hormon untuk mengetahui benar subur – tidaknya saya. Jadi, saya pun diberi rujukan untuk tes LH, FSH, dan estradiol.
.
Pada hari ke tiga menstruasi, saya kembali mengunjungi lab buat test hormon. Dan hasilnya:
LH = 3,sekian
FSH = 7,sekian
Estradiol = 39,sekian
Dan menurut dr. Muharram, hasilnya normal… Bisa dibilang ini adalah konsultasi penutup dengan dr. Muharram. Yah, saya harap saat pertemuan kami berikutnya dengan dr. Muharram bukan lagi konsultasi program hamil, tapi konsultasi kehamilan.
.
Di akhir pertemuan beliau mengingatkan kembali untuk rajin berolahraga. Dan saya pun dengan bangganya mengatakan “saya sudah turun tiga kilo lho dok..”

Road to our little – Step 7 – Diet & Excercise

Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.
.
Yak. Saatnya hidup sehat! Berdasar hasil FRT (Food Response Test), ternyata saya alergi terhadap hampir semua bahan makanan yang di test. Which is… ikan laut, ayam, telur, susu, coklat, kedele (tahu, tempe, kecap), gandum (tepung terigu, roti, gorengan), kacang tanah, kacang mete, tomat dan wortel. Walla. Jadilah menu makanan sehari-hari saya hanya seputaran ikan air tawar dan daging. Cara masaknya pun harus spesial. Nggak pake kecap, wortel, ato tomat.
-
Minggu pertama… Ah.. gampang… Ini ga bakal susah, mengingat saya yang nggak rewel soal makanan. Istilahnya, selama ada makanan yang bisa dimakan, bisalah bertahan hidup.
-
Minggu ke-dua… Ternyata tepung terigu itu dari gandum yah??? Jadi selama ini @##$%$%^%…!!! hahahaha… dudulz!!
-
Minggu ke-tiga… Ternyata kerupuk itu buatnya pake tepung terigu ya??? gedhubraks! *menghela napas panjang
-
Minggu ke-empat… “Dind, mas bawain oleh2 pempek ya..?”… hiks hiks….
-
Minggu ke-lima… “Sebenernya makanan alergen itu nggak ada pengaruhnya dengan nilai ASA.” kata dr Sidi. Mulai down… Tapi cepat bangkit kembali mengingat proses yang sudah dilalui. Ah, kepalang tanggung. The Show must go on!!
-
Minggu ke-enam… Berjalan mengitari Mall. Ada JCo, Dunkin Donuts, AW, PH, Crepes, Steak, de el el. Semua tampak menggiurkan. Tapi tak satupun yang bisa dilahap. *mengelus dada
-
Minggu ke-tujuh… Berada di kerumunan yang pada kondangan. Ada sate, Zuppa soup, dim sum, batagor, de el el… Alhamdulillah ada melon, semangka dan air putih :(
-
Minggu ke-delapan… Tanpa sengaja memakan sebutir kacang yang baru saja terjatuh dari tangan keponakan. Hmm… alhamdulillah… :) Lagi, tanpa sengaja memakan makanan yang tersenggol kecap. And it taste soooo delicious…!!!
-
Tak terasa sudah dua bulan njalanin diet ketat. Hambar rasanya jika diet nggak diikutin sama olahraga. Jadilah saya berniat untuk berolahraga. Ya, sekali lagi, niat. Alhamdulillah, niat yang terkumpul sudah amat besar. Meski realisasinya tidak sebesar niatnya. :)

February 08, 2012

Road to our little – Step 6 – Terapi Herbal

Bagi yang ingin menyimak catatan saya tentang program kehamilan yang saya jalani, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” di sini.
.
Seperti yang pernah saya bilang di post sebelumnya, rasanya pengen banget berobat ke dokter herbal rujukan teman saya itu. Namanya dr. Sidi Aritjahya. Kesehariannya dia praktek di RS Happy Land, Yogya. Cuma, tiap weekend beliau selalu keliling ke jakarta-semarang. Kebetulan tanggal 28-29 Januari, dr. Ari buka praktek di Jakarta. Alhasil, berangkatlah kami ke sana.
-
Lokasi perumahannya gampang dicari, hanya saja lokasi rumahnya yang bikin bingung. Soalnya dokter ini ga buka plang nama di depan rumahnya. Usut-punya usut, ternyata yang dijadikan tempat praktek adalah rumah kakaknya. Setelah bertanya ke beberapa orang akhirnya nemu juga rumah warna ijo tempat prakteknya dr Ari.
-
Waktu daftar, kami dapat antrian no 15. Kata kakaknya sih “mungkin sekitar jam 3 sore, bu”. Untungnya, banyak pasien yang sudah daftar tapi belum datang, jadi kami bisa masuk sekitar jam 1. Pertemuan dengan dokternya cukup singkat. Awalnya kami jelaskan permasalahan kami, lalu beliau melakukan sedikit “pemeriksaan”. Secara bergiliran, pungggung saya dan suami dipegang oleh dr Ari untuk “membaca” kondisi kesehatan kami. Setelah selesai beliau memberikan analisa yang sama dengan dokter kandungan dan dokter andrologi saya, yaitu antibodi terhadap sperma yang tinggi. Saran dari beliau pun hampir sama, yaitu harus memakai kondom saat berhubungan. Hanya saja ada sedikit beda pandangan antara dr Ari dan dokter Indra. Kata dr. Ari:
pantangan terhadap makanan alergen tidak berpengaruh terhadap penurunan antibodi terhadap sperma. yang paling-paling penting adalah penggunaan kondom saat berhubungan
Na… kata-kata dr Ari ini sempat membuat saya kehilangan semangat untuk tetap melaksanakan diet ketat yang diprogramkan oleh dr. Indra. Tapi.. mengingat komitmen bahwa dr Ari ini sifatnya sebagai komplementer, jadi segala program dari dr. Indra pun harus tetap kami jalankan. Ya iyalah, segala tes udah dijalanin, plus PLI pertama juga udah. Kalau ditotal-total, udah berapa modal yang keluar… yahh… untungnya bisa tercover dari perusahaannya suami…
-
Back to topic, seminggu kemudian datanglah paket obat herbal yang dikirimkan oleh dr Ari ke rumah. Isinya dua paket jamu, masing-masing untuk saya dan suami, untuk dikonsumsi selama 2 bulan. Dan juga berhubung saya pantangan semua makanan yang tinggi protein, diberi pulalah saya obat Imboost Force untuk menjaga sistem imun tubuh.
-
Oh ya, ketika saya tanya dr Ari “kenapa ASA-nya bisa tinggi dok? toh dulu sejak lahir saya juga belum pernah bertemu dengan sperma”
Kata dokternya “ya, mungkin dulu saat inisiasi pertama, kondisi tubuh lagi nggak bagus. jadi menganggap sperma sebagai alergen. dan lama-kelamaan , seiring dengan meningkatnya tingkat kekebalan tubuh, tubuh semakin menolak sperma”
Mm… kalau dipikir-pikir benar juga, mengingat kondisi kami yang harus berjauhan selama 2 tahun pertama pernikahan kami.
-
Yah… rasanya ga sabar nunggu sebulan lagi buat tes ASA yang kedua. Semoga dengan program berlapis ini bisa nurunin tingkat ASA lebih cepet…