Huah… Hari ini rasanya capeekkk banget… Mata terasa berat, badan pun pegal-pegal, plus hawanya jadi kerasa dingin menusuk tulang. Gara-garanya tidur yang nggak berkualitas.
-
Tiga malam yang lalu, perjalanan ke jogja pun dimulai. Kali ini naik kereta api bisnis andalan, “Senja Utama”. Yup, KA bisnis emang jadi andalan karena kalau pake eksekutif, selain karena mahal, ac-nya itu lho.. dingin banget. Boro-boro tidur pules, mau napas aja susah.. Jadi KA eksekutif adalah pilihan terakhir kalo mau perjalanan antar jawa.
-
Tapi, hawa-hawa nggak hoki mulai kerasa ketika kami mendapatkan tiket Senja Solo, yang artinya harus berangkat lebih malam dibandingkan Senja Jogja. Alhasih, kami pun plongah-plongoh di stasiun sambil menggelar koran sebagai alas duduk. Mata yang sudah mulai mengantuk pun dipaksa melek.
-
Saat di ujung kantuk, datanglah sang kereta dan naiklah kami. Dan, kami baru nyadar, kalau nomer tempat duduk kami adalah 2C dan 2D, yang artinya, kami harus duduk menghadap tembok yang super sempit, sampai dengkul pun harus menyentuh dinding. Terpaksalah kami balik kursi sehingga menghadap ke belakang dan berahadapan dengan penumpang 3C dan 3D. Koran yang semula kami beli untuk digunakan sebagai alas tidur pun gagal digunakan. Batal pula lah rencana untuk tidur dengan formasi atas-bawah supaya bisa selonjor kaki. Yak, itulah tidur tak berkualitas no 1.
-
Malam berikutnya, sebetulnya kami berencana untuk pergi ke Maospati menjenguk ortu setelah acara pengajian. Tapi berhubung badan masih terasa pegel-pegel akhirnya rencana tersebut pun kami urungkan. Dudul-nya, bukannya istirahat, kami malah jalan-jalan ke pusat Jogja sampai jam 2 malam. Bagus… Akhirnya, kami pun melanjutkan tidur tak berkualitas no 2.
-
Dan malam berikutnya lagi, yaitu tadi malam, kami pun melakukan perjalanan balik ke Jakarta. Tidak lupa segala persiapan “tempat tidur” pun kami bawa, mulai dari koran bekas, tas yang diatur sedemikan rupa menyerupai bantal dan selimut tipis hasil comot dari rumah. Tempat duduk kami 2A dan 2B, yang notabene “aman” dari tembok. Tapi oh tapi… ternyata oh ternyata… begitu naik di gerbong kereta, posisi kursi 1A dan 1B sudah berbalik menghadap belakang, ke arah tempat duduk kami. Usut punya usut, ternyata ada dua pemudi (ga tau gadis atau ga ) yang sepertinya dapat tiket non-seat dan menempati area rongga antara dinding dan kursi 1A dan 1B.
-
Yaelah… jadi serba salah. Kalau mau balikin kursi ke posisi semula, artinya kami mengusir kedua pemudi tersebut. Tapi rasanya gimana ya, antara ga rela dan ga tega. Ga teganya, aku pernah beberapa kali dapet tiket non-seat. Dan ketika ada orang yang berbaik hati menyisihkan tempatnya supaya aku bisa numpang ndeprok di bawah, rasanya seneng banget…
-
Dan ga relanya, kok begitu caranya. Yang punya tiket pun bahkan belum datang, kok bisa-bisanya langsung diubah gitu aja. Tanpa rasa bersalah karena mengambil hak orang lain, dengan santainya mereka cekikikan di balik bangku. Bahkan sampai kami turun pun ga ada kata-kata permisi. Jadi, rasanya seperti disabotase. Apa iya, sopan santun dan etika sudah mulai ditinggalkan? Apa iya, pihak yang kurang beruntung berhak mendapatkan perilaku istimewa dari mereka yang lebih beruntung? Dan, apakah dibenarkan jika dilakukan dengan cara mengambil hak orang lain tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu?
-
Walhasil, kami pun terpaksa memupuskan harapan kami untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Jadi, yang paling kurindukan saat ini adalah kasur empuk, bantal dan guling (yang rada apek) serta selimut tebal di rumah. Wanna go home early…
-
Tiga malam yang lalu, perjalanan ke jogja pun dimulai. Kali ini naik kereta api bisnis andalan, “Senja Utama”. Yup, KA bisnis emang jadi andalan karena kalau pake eksekutif, selain karena mahal, ac-nya itu lho.. dingin banget. Boro-boro tidur pules, mau napas aja susah.. Jadi KA eksekutif adalah pilihan terakhir kalo mau perjalanan antar jawa.
-
Tapi, hawa-hawa nggak hoki mulai kerasa ketika kami mendapatkan tiket Senja Solo, yang artinya harus berangkat lebih malam dibandingkan Senja Jogja. Alhasih, kami pun plongah-plongoh di stasiun sambil menggelar koran sebagai alas duduk. Mata yang sudah mulai mengantuk pun dipaksa melek.
-
Saat di ujung kantuk, datanglah sang kereta dan naiklah kami. Dan, kami baru nyadar, kalau nomer tempat duduk kami adalah 2C dan 2D, yang artinya, kami harus duduk menghadap tembok yang super sempit, sampai dengkul pun harus menyentuh dinding. Terpaksalah kami balik kursi sehingga menghadap ke belakang dan berahadapan dengan penumpang 3C dan 3D. Koran yang semula kami beli untuk digunakan sebagai alas tidur pun gagal digunakan. Batal pula lah rencana untuk tidur dengan formasi atas-bawah supaya bisa selonjor kaki. Yak, itulah tidur tak berkualitas no 1.
-
Malam berikutnya, sebetulnya kami berencana untuk pergi ke Maospati menjenguk ortu setelah acara pengajian. Tapi berhubung badan masih terasa pegel-pegel akhirnya rencana tersebut pun kami urungkan. Dudul-nya, bukannya istirahat, kami malah jalan-jalan ke pusat Jogja sampai jam 2 malam. Bagus… Akhirnya, kami pun melanjutkan tidur tak berkualitas no 2.
-
Dan malam berikutnya lagi, yaitu tadi malam, kami pun melakukan perjalanan balik ke Jakarta. Tidak lupa segala persiapan “tempat tidur” pun kami bawa, mulai dari koran bekas, tas yang diatur sedemikan rupa menyerupai bantal dan selimut tipis hasil comot dari rumah. Tempat duduk kami 2A dan 2B, yang notabene “aman” dari tembok. Tapi oh tapi… ternyata oh ternyata… begitu naik di gerbong kereta, posisi kursi 1A dan 1B sudah berbalik menghadap belakang, ke arah tempat duduk kami. Usut punya usut, ternyata ada dua pemudi (ga tau gadis atau ga ) yang sepertinya dapat tiket non-seat dan menempati area rongga antara dinding dan kursi 1A dan 1B.
-
Yaelah… jadi serba salah. Kalau mau balikin kursi ke posisi semula, artinya kami mengusir kedua pemudi tersebut. Tapi rasanya gimana ya, antara ga rela dan ga tega. Ga teganya, aku pernah beberapa kali dapet tiket non-seat. Dan ketika ada orang yang berbaik hati menyisihkan tempatnya supaya aku bisa numpang ndeprok di bawah, rasanya seneng banget…
-
Dan ga relanya, kok begitu caranya. Yang punya tiket pun bahkan belum datang, kok bisa-bisanya langsung diubah gitu aja. Tanpa rasa bersalah karena mengambil hak orang lain, dengan santainya mereka cekikikan di balik bangku. Bahkan sampai kami turun pun ga ada kata-kata permisi. Jadi, rasanya seperti disabotase. Apa iya, sopan santun dan etika sudah mulai ditinggalkan? Apa iya, pihak yang kurang beruntung berhak mendapatkan perilaku istimewa dari mereka yang lebih beruntung? Dan, apakah dibenarkan jika dilakukan dengan cara mengambil hak orang lain tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu?
-
Walhasil, kami pun terpaksa memupuskan harapan kami untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Jadi, yang paling kurindukan saat ini adalah kasur empuk, bantal dan guling (yang rada apek) serta selimut tebal di rumah. Wanna go home early…