June 20, 2011

sabotase

Huah… Hari ini rasanya capeekkk banget… Mata terasa berat, badan pun pegal-pegal, plus hawanya jadi kerasa dingin menusuk tulang. Gara-garanya tidur yang nggak berkualitas.
-
Tiga malam yang lalu, perjalanan ke jogja pun dimulai. Kali ini naik kereta api bisnis andalan, “Senja Utama”. Yup, KA bisnis emang jadi andalan karena kalau pake eksekutif, selain karena mahal, ac-nya itu lho.. dingin banget. Boro-boro tidur pules, mau napas aja susah.. Jadi KA eksekutif adalah pilihan terakhir kalo mau perjalanan antar jawa.
-
Tapi, hawa-hawa nggak hoki mulai kerasa ketika kami mendapatkan tiket Senja Solo, yang artinya harus berangkat lebih malam dibandingkan Senja Jogja. Alhasih, kami pun plongah-plongoh di stasiun sambil menggelar koran sebagai alas duduk. Mata yang sudah mulai mengantuk pun dipaksa melek.
-
Saat di ujung kantuk, datanglah sang kereta dan naiklah kami. Dan, kami baru nyadar, kalau nomer tempat duduk kami adalah 2C dan 2D, yang artinya, kami harus duduk menghadap tembok yang super sempit, sampai dengkul pun harus menyentuh dinding. Terpaksalah kami balik kursi sehingga menghadap ke belakang dan berahadapan dengan penumpang 3C dan 3D. Koran yang semula kami beli untuk digunakan sebagai alas tidur pun gagal digunakan. Batal pula lah rencana untuk tidur dengan formasi atas-bawah supaya bisa selonjor kaki. Yak, itulah tidur tak berkualitas no 1.
-
Malam berikutnya, sebetulnya kami berencana untuk pergi ke Maospati menjenguk ortu setelah acara pengajian. Tapi berhubung badan masih terasa pegel-pegel akhirnya rencana tersebut pun kami urungkan. Dudul-nya, bukannya istirahat, kami malah jalan-jalan ke pusat Jogja sampai jam 2 malam. Bagus… Akhirnya, kami pun melanjutkan tidur tak berkualitas no 2.
-
Dan malam berikutnya lagi, yaitu tadi malam, kami pun melakukan perjalanan balik ke Jakarta. Tidak lupa segala persiapan “tempat tidur” pun kami bawa, mulai dari koran bekas, tas yang diatur sedemikan rupa menyerupai bantal dan selimut tipis hasil comot dari rumah. Tempat duduk kami 2A dan 2B, yang notabene “aman” dari tembok. Tapi oh tapi… ternyata oh ternyata… begitu naik di gerbong kereta, posisi kursi 1A dan 1B sudah berbalik menghadap belakang, ke arah tempat duduk kami. Usut punya usut, ternyata ada dua pemudi (ga tau gadis atau ga ) yang sepertinya dapat tiket non-seat dan menempati area rongga antara dinding dan kursi 1A dan 1B.
-
Yaelah… jadi serba salah. Kalau mau balikin kursi ke posisi semula, artinya kami mengusir kedua pemudi tersebut. Tapi rasanya gimana ya, antara ga rela dan ga tega. Ga teganya, aku pernah beberapa kali dapet tiket non-seat. Dan ketika ada orang yang berbaik hati menyisihkan tempatnya supaya aku bisa numpang ndeprok di bawah, rasanya seneng banget…
-
Dan ga relanya, kok begitu caranya. Yang punya tiket pun bahkan belum datang, kok bisa-bisanya langsung diubah gitu aja. Tanpa rasa bersalah karena mengambil hak orang lain, dengan santainya mereka cekikikan di balik bangku. Bahkan sampai kami turun pun ga ada kata-kata permisi. Jadi, rasanya seperti disabotase. Apa iya, sopan santun dan etika sudah mulai ditinggalkan? Apa iya, pihak yang kurang beruntung berhak mendapatkan perilaku istimewa dari mereka yang lebih beruntung? Dan, apakah dibenarkan jika dilakukan dengan cara mengambil hak orang lain tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu?
-
Walhasil, kami pun terpaksa memupuskan harapan kami untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Jadi, yang paling kurindukan saat ini adalah kasur empuk, bantal dan guling (yang rada apek) serta selimut tebal di rumah. Wanna go home early… :(

June 15, 2011

Ular dan Tikus

“Surti… Lagi ngapain sih, tumben dari tadi megang hape mulu. Dah bosen maen leptop?” tanya Amira. Dengan mata tetap tertuju pada ponselnya, Surti menjawab “nggak.. Ini nih, game ini asik juga nih, Mir.” Amira yang penasaran segera menghampiri Surti, “emang game apaan, Sur?”
-
Nama-nya adalah game “Ular dan Tikus”. Jangan bayangkan bahwa ini adalah game ketangkasan jari tentang ular memakan tikus. Nama game ini diadaptasi dari permainan “Cow and Bull” yang mengandalkan perhitungan probabilitas dan algoritma iterasi.
-
Tujuan dari game “Ular dan Tikus” adalah menebak dengan tepat kode rahasia yang terdiri 4 digit angka yang berbeda. Jumlah tikus adalah banyaknya digit angka dari tebakan Anda yang benar, sedangkan jumlah ular adalah banyaknya angka yang benar dan menempati posisi yang tepat.
-
Kita ambil contoh sederhana:
Jika kode rahasia adalah 2135,
Dan Anda menebak 1234,
Maka tebakan Anda menghasilkan 3 Tikus (untuk angka 1, 2 dan 3) dan 1 Ular (untuk angka 3).
Dan tujuan Anda adalah menghasilkan 4 Tikus dan 4 Ular.
-
Anda dapat menebak berkali-kali, namun tantangannya adalah menebak dengan jumlah tebakan yang terkecil.
-
Untuk mendownload game ini klik di sini (JAR) , dan bagi yang berminat mengembangkan game ini klik di sini (RAR) untuk mendownload project file.
-
“Boleh juga tuh, Sur. Siapa yang bikin?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di ponsel, Surti membaca tulisan di layar ponselnya, “di sini sih tulisannya: belinih”

June 10, 2011

Google Doodle

Ada yang berbeda dengan mbah gugel pada tanggal 9 Juni 2011. Doodle-nya dibuat untuk mengenang ulang tahun Les Paul yang ke 96 ( i don’t even know who he is). Tampilannya keren euy… dengan menampilkan senar-senar gitar yang disusun dan membentuk logo Google. Yang bikin keren, senarnya bisa bunyi dan membentuk susunan nada pas kursor bergerak memetik senar. Dan yang kerennya lagi… pada tanggal 10 Juni 2011, mbah gugel tampil dengan lebih atraktif dan interaktif. Nada dari A sampe C bisa dimainin di keyboard dan bisa di-rekam pula. Lucu dah.. dan menurutku, doodle google yang ini doodle yang terbaik yang pernah dibikin google. Ohye, berikut ini beberapa rekaman ane:

http://goo.gl/doodle/G0nnj ”Ibu Kita Kartini”
http://goo.gl/doodle/En23o ”Cicak Cicak di Dinding”
http://goo.gl/doodle/QnafH ”Love Story”
http://goo.gl/doodle/vVBr6 ”Coca Cola”