Saat remaja, Bapak dipanggil sama Allah. Dan sosok Mama menjadi sangat kuat di mataku. Bayangkan, seorang diri, menghidupi 3 anak. Aku pun sempat membayangkan, apa jadinya kalau mamaku nggak kerja. Mungkin bakal hancur semuanya. Hidupnya, dan masa depan kami. Saat itu pandanganku perihal ibu bekerja pun menjadi berubah. Bukan karena keren, tapi keharusan.
Ya benar, kewajiban memberi nafkah keluarga dipikul oleh sang ayah, namun jika keluarga ditinggal sang ayah saat si ibu tak punya penghasilan? Bagaimana caranya hidup?
Dan disinilah aku saat ini. Membentuk diri yang kubayangkan. Sorang ibu, yang selalu hadir untuk keluarga. Tapi tetap bekerja secukupnya, bukan untuk membantu keuangan suami. Bukan untuk foya-foya. Bukan juga untuk aktualisasi diri. Namun sebagai bentuk mitigasi atas resiko terburuk yang mungkin terjadi.
Terdengar sangat rendah ya?
No comments:
Post a Comment