9 Oktober 2008. Besok kami akan menikah. Aku tersenyum membaca undangan pernikahan kami.
Ratih & Totok.
It's finally happening. Setelah apa yang telah terjadi. Rasanya baru kemarin kami berkenalan di lapangan sepak bola. Bahkan rasa pedih yang kurasa saat kulihat ia bersama Indah, masih terpatri jelas di ingatanku. But tomorrow, he'll be mine for sure.
HP ku berdering. Ada pesan SMS masuk. Ini dari Bima. Seorang teman se-angkatan di perusahaan tempatku bekerja.
"Tih, gimana kabarnya. Jadi nikahnya?" tanyanya.
"Baik Bim.. ya jadi lah... gimana kabarnya, dimana sekarang?" jawabku.
"Baik juga. Di pelosok hutan nih T_T. Semoga lancar ya besok. Rasanya baru kemaren kita diklat bareng ya. Eh kamu udah duluan aja. Wkwkwk"
"Aamiin.. makasih ya Bim. Iya ya, jadi inget kita jalan-jalan bareng di kebon teh, trus makan bakso di depan udiklat.."
"Hehehe, iya.. Tih, kangen.."
Aku termangu membaca kata terakhir darinya. Kata yang menurutku kurang wajar ditujukan kepada teman lawan jenis yang akan menikah esoknya.
Hanya sebuah emoticon senyum yang kuberikan sebagai balasan. Karena aku tak tahu harus menjawab apa. Dan pembicaraan kami terhenti di sana.
Esok, aku sudah menjadi Nyonya Totok. Pria yang kuimpikan menjadi imamku. Ku yakin akan ada banyak cerita dan tantangan setelah ini. Dan aku tak dapat memperkirakan akan sekuat apa ombak yang akan kami arungi bersama nantinya. Namun tak sedikitpun aku ragu atau pun takut menghadapinya.