Sepi.. hanya debur ombak yang mejadi latar kisahku kali ini..
Pertama kali kubuka pintu kamar ini, hal pertama yang terlintas di benakku adalah: "I wish my husband were here"
Sekarang, setelah seharian terpanggang di bawah terik matahari, di sinilah aku. Dari kejauhan kulihat lampu berkilauan dari kapa-kapal yang singgah di dermaga. Berharap sebuah kapal datang berlabuh tepat di depanku, mengantarkanmu ke hadapanku.
But, it must be impossible. Well then, maybe i'll just enjoy this moment by myself...
March 14, 2009
March 11, 2009
Suralaya
Dua hari yang lalu. Pas liburan maulid, masuk kerja (nggak kerja2 amat sih)... Seperti biasa, sama Pak Bekti, n bapak2 dari P3B. Selama pengetesan panel PLC, Mas Hanafi dari Areva nyetel one and the only song: Hijau Daun - Suara(Ku Berharap). Diulang ulang. Terus Menerus. Tanpa berhenti.
Nggak kerasa, selama itu, mulailah doktrin itu masuk... Pertama denger ngangguk angguk. Kesekian kalinya lagu itu diputar, ikut bersenandung. Lama kelamaan, ikut nyanyi reffnya. Walhasil, sekarang lagu itu ada di playlist Winamp-ku, hasil dari download di 4shared.com
*Go Indonesian, but still hearing those western songs
Back to Suralaya. Pas habis manuver tegangan, nyoba masuk di switchyard 500 kV. Pak Imam bilang, kalo tangan 2 orang dideketin bisa ada loncatan listrik bahkan bisa sampe ada kilatan. Alhasil, saya yang masih ndeso, cobalah bereksperimen. Dan "zzztttt..." Ada suaranya! nggak ada kilatan sih, tapi wow.. saya yang ndeso pun tertawa...
Nggak kerasa, selama itu, mulailah doktrin itu masuk... Pertama denger ngangguk angguk. Kesekian kalinya lagu itu diputar, ikut bersenandung. Lama kelamaan, ikut nyanyi reffnya. Walhasil, sekarang lagu itu ada di playlist Winamp-ku, hasil dari download di 4shared.com
*Go Indonesian, but still hearing those western songs
Back to Suralaya. Pas habis manuver tegangan, nyoba masuk di switchyard 500 kV. Pak Imam bilang, kalo tangan 2 orang dideketin bisa ada loncatan listrik bahkan bisa sampe ada kilatan. Alhasil, saya yang masih ndeso, cobalah bereksperimen. Dan "zzztttt..." Ada suaranya! nggak ada kilatan sih, tapi wow.. saya yang ndeso pun tertawa...
March 03, 2009
Not songs of my life - Yolanda
I would rather not to sing any of Kangen Band songs. But patheticly, my mouth keep singing this song today. Hmpfff.... do their songs are really good?????
February 27, 2009
Songs of my life - There She Goes
Sekarang, lagi di mobil sambil dengerin lagunya Sixpence None the Richer: There She Goes. Bengong, jadi inget bulu tangkis tadi pagi..
Baru pertama tanding, lawannya udah bu lisma. Alhasil, kalah telak 3-30. Wuiss, itu tanding apa tanding?? Jam terbang rendah, kurang konsentrasi, kurang koordinasi, itu yg buat duet Lini-Nana kalah telah dari duet Lisma-Dina.
Tapi pertandingan masih panjang. Kata nana: masih ada kesempatan untuk juara 1. Hehe.. Like the spirit, sist. Tapi di pertandingan berikutnya, cerewetnya dikurangin ya!
Baru pertama tanding, lawannya udah bu lisma. Alhasil, kalah telak 3-30. Wuiss, itu tanding apa tanding?? Jam terbang rendah, kurang konsentrasi, kurang koordinasi, itu yg buat duet Lini-Nana kalah telah dari duet Lisma-Dina.
Tapi pertandingan masih panjang. Kata nana: masih ada kesempatan untuk juara 1. Hehe.. Like the spirit, sist. Tapi di pertandingan berikutnya, cerewetnya dikurangin ya!
February 21, 2009
Songs of my life - Yaasin
Saat itu pertengahan bulan Agustus 1996. Seminggu semenjak tanggal 17 Agustus 1996, di Sragen, pada malam harinya sering terdengar bacaan surah Yaasin yang dilantunkan oleh para tetangga. Bapak, telah almarhum.
Bapak terlahir di Solo, namun dimakamkan di Sragen. Tak ada saudara di sana, hanya keluarga dari Mama. Mama bilang, sebelumnya Bapak pernah bilang ingin sekali tidur di Sragen. Dan begitulah Mama mengartikannya.
Sebulan, dua bulan dan beberapa bulan seterusnya, tiap Kamis malam, sering Mama, saya, Mas Bayu dan Mas Hendro berkumpul untuk membaca Yaasin dan berdoa bersama. Entah sejak kapan, rutinitas itu mulai ditinggalkan. Digantikan dengan cara yang lebih sederhana: Berdoa masing-masing setelah sholat, dan tidak perlu mambaca Yaasin.
Lebih efektif kurasa, karena yang lebih penting bukanlah Yaasin-nya, tapi doa-nya
Bapak terlahir di Solo, namun dimakamkan di Sragen. Tak ada saudara di sana, hanya keluarga dari Mama. Mama bilang, sebelumnya Bapak pernah bilang ingin sekali tidur di Sragen. Dan begitulah Mama mengartikannya.
Sebulan, dua bulan dan beberapa bulan seterusnya, tiap Kamis malam, sering Mama, saya, Mas Bayu dan Mas Hendro berkumpul untuk membaca Yaasin dan berdoa bersama. Entah sejak kapan, rutinitas itu mulai ditinggalkan. Digantikan dengan cara yang lebih sederhana: Berdoa masing-masing setelah sholat, dan tidak perlu mambaca Yaasin.
Lebih efektif kurasa, karena yang lebih penting bukanlah Yaasin-nya, tapi doa-nya
February 19, 2009
Nap Time
Waktu umur 8 tahun, aku ingat, saat mama hendak kembali ke kantor dan meninggalkanku di rumah, ia membuatkanku “tempat tidur” yang nyaman di atas lantai. Selembar selimut tebal sebagai alas, satu bantal di bawah kepalaku dan dua guling di samping kanan dan kiriku.
Tak lupa ia menyalakan kipas angin. Pontianak adalah kota yang panas, sehingga kipas angin menjadi teman yang setia di siang hari.
Aku berbaring di lantai. Memandang mama. Ia berjalan menuju meja buffet dan memasukkan sebuah kaset ke dalam tape. Tak berapa lama terdengar musik riang dari speaker tape. Entah berapa lagu yang kudengar hingga kuterlelap. Satu lagu yang kuingat: Satu Satu Aku Sayang Ibu
Tak lupa ia menyalakan kipas angin. Pontianak adalah kota yang panas, sehingga kipas angin menjadi teman yang setia di siang hari.
Aku berbaring di lantai. Memandang mama. Ia berjalan menuju meja buffet dan memasukkan sebuah kaset ke dalam tape. Tak berapa lama terdengar musik riang dari speaker tape. Entah berapa lagu yang kudengar hingga kuterlelap. Satu lagu yang kuingat: Satu Satu Aku Sayang Ibu
February 16, 2009
Songs of my life - Memandang Alam
Waktu SD, masih sering diajari menyanyi sama guru-guru. Aku ingat, saat ikut kemah sabtu-minggu. Aku dan teman-teman terpaksa diinapkan di Ruang Serbaguna Masjid Mujahiddin. Malam itu, sedang hujan deras di luar.
Seorang guru berdiri di tengah ruangan dan berusaha mengisi kekosongan dengan mengajak anak-anak bernyanyi. Ada satu lagu yang kebanyakan anak belum tahu, sehingga sang guru harus mengajarkannya kepada anak-anak: " Memandang alam dari atas bukit, sejauh pandang kulepaskan...."
Aku telah hapal lagu ini dan mengikuti setiap lirik yang diajarkan oleh sang guru. Seorang teman bertanya kepadaku:
"Kau tau ke lagu ni?"
"Iye lah, mamakku yang ngajar"
Seorang guru berdiri di tengah ruangan dan berusaha mengisi kekosongan dengan mengajak anak-anak bernyanyi. Ada satu lagu yang kebanyakan anak belum tahu, sehingga sang guru harus mengajarkannya kepada anak-anak: " Memandang alam dari atas bukit, sejauh pandang kulepaskan...."
Aku telah hapal lagu ini dan mengikuti setiap lirik yang diajarkan oleh sang guru. Seorang teman bertanya kepadaku:
"Kau tau ke lagu ni?"
"Iye lah, mamakku yang ngajar"
February 01, 2009
Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 9
<<prev part next part >>
13 Mei 2004. Inilah saatnya. Bilik-bilik pencoblosan telah disiapkan. Lobi kampus tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dari berbagai angkatan telah berkumpul untuk melakukan pencoblosan. Satu demi satu, para mahasiswa memasuki bilik dan memberikan suaranya. Tak terkecuali aku.
13 Mei 2004. Inilah saatnya. Bilik-bilik pencoblosan telah disiapkan. Lobi kampus tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dari berbagai angkatan telah berkumpul untuk melakukan pencoblosan. Satu demi satu, para mahasiswa memasuki bilik dan memberikan suaranya. Tak terkecuali aku.
Kubuka dompetku dan kusiapkan kartu mahasiswa. Kutunjukkan kartu itu pada panitia dan aku pun dipersilakan masuk ke dalam bilik. Aku tersenyum melihat kertas yang kupegang. Di dalamnya ada pria yang kusuka sejak lama. Dan dinding-dinding kampus mungkin sudah tahu gambar mana yang akan kucoblos. Segera setelah aku melihat gambarnya. Kucobloskan paku yang ada di atas gambarnya. Lalu kulipat lagi lembar itu.
Hari ini terasa lebih panas dari biasanya. Sinar matahari tampak menembus di balik kaca. Mencari celah-celah yang ingin ia lelehkan. Rasanya enggan menapakkan kaki ke luar gedung ini. Aku teringat dengan Totok. Dimanakah dia saat ini? Kulihat sekelilingku namun aku tak dapat melihat sosoknya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Totok.
“Makan yuk. Aku di ruang”
Aku tersenyum. Dia baik-baik saja. Tanpa pikir panjang, kulangkahkan kakiku keluar ruangan. Melintasi gedung tata usaha. Matahari yang terik sudah terasa tak begitu terik lagi bagiku. Aku hanya ingin segera sampai di ruang.
~~
Hari itu. Di hari yang panas. Sekali lagi kami berkendara mengitari kota. Saat itu aku
teringat akan memori di sebuah warung mie ayam. Dan kami mulai melakukan perjalanan dari utara ke selatan hanya untuk memakan mie ayam kesukaanku.
Mie Ayam Pak Kelik. Lokasinya tidak jauh dari SMA-ku. Memakan mie ayam di sini membangkitkan ingatanku di masa-masa SMA dulu. Masa dimana aku belum mengerti artinya cinta.
Di sana ia bercerita tentang banyak hal. Tentang kehidupannya, keluarganya, mimpi-mimpinya. Beberapa kali mata kami saling bertatapan. Dan selama itu pulalah jantungku terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku merasakan bahwa kedekatan kami saat ini, lebih dari sekedar teman.
~~
Malam telah datang. Hasilnya telah diumumkan. Dan dia kalah. Napasku sedikit tercekat saat mendengarnya. Lalu bagaimana dengan Totok? Apakah ia akan merasa begitu kecewa degan hasil ini?
Kuraih ponselku. Selama beberapa saat kupandangi susunan huruf di atas keypad. Aku bingung harus bilang apa untuk menghiburnya. Lalu kata-kata inilah yang keluar.
“Sabar ya Tok. Tenang aja, aku akan selalu ada buat kamu”
Entah apa yang ada di benaknya saat ia menerima pesan dariku. Beberapa menit kemudian datanglah pesan balasan.
“Makasih ya Tih. InsyaAllah aku ga akan buat kamu kecewa”
Kupandangi ponselku beberapa lama. Kubaca kembali kata per kata pesan darinya. Aku tidak begitu mengerti maksud dari kalimat yang tersebut.
~~
Ya, cinta memiliki caranya yang aneh. Aku bahkan tak tahu kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta padanya dan kapan kami mulai menjalin hubungan. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa prasangka dan tanpa rencana. Dan ya, dengan caranya yang seperti ini pulalah yang membuatku untuk melihatnya dari sisi yang berbeda dan menerimanya apa adanya.
January 25, 2009
Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 8
<<prev part next part >>
Mei 2004. Ia hentikan kata-katanya sejenak untuk meminum jus alpukat yang dipesannya. Akhir-akhir ini kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Ini makan siang ke sekian kalinya yang kami lalui bersama. Sikapnya padaku sedikit berbeda akhir-akhir ini. Seolah-olah ia ingin mengikat kakiku untuk mengikutinya kemanapun ia mau.
Mei 2004. Ia hentikan kata-katanya sejenak untuk meminum jus alpukat yang dipesannya. Akhir-akhir ini kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Ini makan siang ke sekian kalinya yang kami lalui bersama. Sikapnya padaku sedikit berbeda akhir-akhir ini. Seolah-olah ia ingin mengikat kakiku untuk mengikutinya kemanapun ia mau.
Akhir-akhir ini ia selalu mencemaskan tentang pencalonan dirinya sebagai Ketua Badan Mahasiswa Jurusan, tantang ekspektasi orang terhadapnya dan tentang pendapat miring sebagian orang akan dirinya. Ya, dia butuh teman bicara. Mungkin di saat-saat seperti ini, saat beberapa orang mencemooh dan bahkan menjauhinya, tak begitu banyak orang yang dapat mendengarnya berkeluh kesah. Dan di sinilah aku, untuk kesekian kalinya, berusaha menjadi teman baginya.
“Ahh.. aku lagi pengen sticker Tazmanian Devil nih…” ceplosku spontan saat melihat motor bertempelkan sticker dengan tokoh lucu itu.
“Ya udah, ayo kita cari” balas Totok sambil beranjak dari kursinya.
Aku hanya bisa terhenyak. Aku tidak benar-benar ingin mencarinya saat ini juga, namun dia tampak begitu bersemangat untuk mengantarku mencarikannya.
“Oh..? Oke…” jawabku sedikit ragu.
Dan di siang yang panas itu, kami pun mengendarai sepeda motor mengelilingi kota hanya untuk mencari selembar sticker. Sebuah sticker yang sederhana. Namun ternyata tak mudah untuk mencarinya. Beberapa toko buku sudah kami singgahi, namun tak satupun yang sesuai dengan keinginanku. Aku benar-benar tidak enak padanya. Ingin sebenarnya mengakhiri pencarian ini, namun dia tampak masih begitu bersemangat mencari tempat-tempat yang mungkin menjual barang yang kucari.
Tiba-tiba aku teringat suatu tempat dimana aku selalu menghabiskan waktu saat aku masih duduk di SMP. Ya, toko itu pasti menjual yang kucari. Dengan segera kami pun meluncur ke tempat itu. Dan benar, setelah lebih dari sepuluh kilometer kami berkeliling kota, di sinilah kami akhiri pencarian tak terencana ini. Di tempat yang hanya berjarak 1 kilometer dari rumahku.
Aku tertawa geli sekaligus senang saat mendapatkannya. Pikirku, baik sekali Totok mau mengantarku keliling-keliling kota hanya untuk mencari selembar sticker konyol ini. Mungkin ia benar-benar sedang bosan saat ini.
January 01, 2009
Piece of My Heart ~ Season 1 ~ Ch 7
Maret 2004. Hatiku lelah. Namun ia terus datang mencariku. Membuatku terus terpuruk. Suatu siang saat kami makan bersama, ia mengungkapkan isi pikirannya lagi. Kali ini tentang keluh kesahnya selama menjalani masa kampanye sebagai calon ketua Badan Mahasiswa Jurusan. Saat kusinggung tentang kedekatannya dengan Indri, ia mengelak. Ia mengatakan dengan tegas bahwa ia sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Saat ini, waktu yang ia miliki sudah habis untuk memikirkan kuliah dan pencalonannya ini. Sejenak aku merasa lega. Itu berarti pintu untukku pun sudah tertutup, dan aku bisa fokus untuk tetap menjadi teman baginya.
Beberapa hari berlalu, dan sikapnya tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Bukannya menjauh, namun kali ini sikapnya seolah-olah ia ingin lebih dekat denganku. Namun hatiku sudah terlalu lelah.
Pada saat yang sama, aku pun mulai banyak menghabiskan waktu bersama Sakti. Tak jauh beda dengan Totok, Sakti sangat ramah dan baik. Dengannya aku merasa lebih nyaman dan aman. Nyaman dalam berteman, dan aman dari rasa suka. Dia nasrani dan aku muslim. Jadi tak mungkin kami saling suka.
Dengan Sakti, aku dapat bernapas bebas di dalam lingkar pertemanan. Beberapa kali aku ke rumahnya untuk diajarkan bahasa pemrograman, dan dia pun beberapa kali ke rumah untuk belajar bersama. Lain waktu kami menghabiskan jam makan siang bersama sembari menunggu jam kuliah siang dimulai. Tak jarang aku menumpung pulang dengannya, karena rumah kami tak begitu jauh.
Pada suatu siang sebelum pulang, aku dan Sakti mampir ke warung untuk membeli jus. Aku memilih jus tomat, dan dia seperti biasa. Jus Alpukat. Saat kami hendak minum, ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Totok.
“Tih, lagi dimana, tolong bawain disket yang kutitipin ke kamu dong. Terus ada yang mau aku omongin. Penting nih. Kutunggu di ruang ya ”
Oh iya. Aku baru ingat dengan disket itu. Dengan cepat kubalas pesannya.
“iya Tok, bentar lagi. Aku lagi beli jus nih. Mau nitip ga?”
“boleh deh, alpukat ya”
Pilihan yang sama dengan Sakti. Dengan segera kupesankan satu lagi untuk dibungkus. Sebenarnya aku merasa tidak enak dengan Sakti yang harus mengantarkanku balik ke ruang. Untungnya ia tidak keberatan dan segera meminta pelayan untuk membungkus jus kami.
Sesampai di ruangan, aku dan Sakti masuk dan menemukan Totok di sana sedang terbaring di atas karpet. Kusapa dia dengan senyuman lebar, namun ia hanya menjawab dengan mulut tertutup.
"Hmm," gumamnya.
Aku dan Sakti pun masuk ke dalam ruangan. Sebuah disket dan plastik berisikan jus pesanan Totok segera kuberikan padanya. Ia menerimanya. Sembari meminum jusku, aku bertanya padanya.
“Katanya ada yang penting. Ada apa?”
“Nggak papa, besok aja. Pusing nih” katanya sambil mengangkat lengannya dan menutupi mukanya.
Dalam hati ku bertanya. Apakah dia sedang sakit? Ataukah dia sedang ada masalah terkait dengan pencalonannya? Namun aku tak ingin lagi terjabak dengan segala permasalahan yang dihadapinya. Sembari bercanda dengan Sakti, aku menghabiskan minumku. Sedangkan Totok, tetap terdiam dalam tidurnya. Ia bahkan belum menyentuh minumannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
