Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.
Tes HSG ( HisteroSalfingoGrafi). Ada yang bilang ditiup/tiup rahim, ada juga yang bilang rontgen rahim. Awalnya sih saya nggak ngerti apa dan bagaimana tes HSG ini. Tapi setelah browsing-browsing di inet, menemukan artikel ini:
Pada pasangan yang infertil (tidak subur), sering dilakukan pemeriksaan yang dinamakan HSG (Histero-salpingo-grafi). HSG dilakukan guna mendeteksi kondisi rahim dan saluran indung telur. HSG mempergunakan sinar X dan cairan khusus yang memberikan reaksi warna putih jika di beri sinar X, sehingga akan “tercetak” bentuk rahim dan saluran indung telur (tuba). Sehingga dokter dapat menentukan ada tidaknya kerusakan atau sumbatan pada saluran reproduksi dimaksud. sumber
Tapi yang membuatku sedikit deg-deg-an adalah pada bagian ini:
Dimasukkan spekulum untuk memperlihatkan mulut leher rahim.
Kateter kecil lalu dimasukkan ke dalam rahim melalui liang leher rahim.
Zat pewarna rontgen lalu dimasukkan perlahan2 ke dalam rahim lewat kateter.
Hiyy… bayangin, sesuatu dimasukkan ke dalam tubuh kita. Yang jelas, pasti rasanya berbeda dengan USG Transvagina. Apalagi ngeliat testimoni para blogger yang pernah melakukan tes HSG ini. Ada yang bilang sakit banget, ada yang bilang sakit biasa. Tapi ada juga yang bilang nggak sakit. Ah, untuk yang terakhir pasti hanya testimoni yang memberi keberanian pada mereka yang akan menjalani tes HSG.
Pada hari kedua menstruasi, saya pun segera menghubungi bagian radiologi RS Haji. Saya pun dijadwalkan untuk melakukan tes HSG pada hari ke-11, yaitu hari Jum’at. Ketika hal ini saya infokan ke suami, ternyata suami nggak bisa nemenin, karena pas dia jadi juri buat lomba karya inovasi…. Hiks…. Sedihnya hati ini… Gelisah tak menentu… (halah, lebay). Untungnya mbakku bersedia nemenin.
Malam sebelum hari-H, keberanianku sempat menciut dan berfikir untuk mundur saja. Apalagi sang suami sedang tidak ada di samping. Tapi dengan bismillah, akhirnya tekadku pun bulat kembali. Pagi harinya, sepanjang perjalan, tak sedikitpun keinginan untuk mundur ataupun rasa takut muncul. Anehnya, malah terngiang-ngiang musiknya Beethoven yang “symphony no7″, dengan irama yang menghentak-hentak . Entahlahlah, hati ini tampak sedang bersemangat sekali menanti serangkaian tes di hadapan.
Kami tiba di lab radiologi pukul 9.45. Berkat mbak yang menemani, tak terasa nama saya akhirnya dipanggil juga pada pukul 11.15. Jantung mulai berdegup lebih kencang, saat memasuki ruang radiologi. Pertama saya disuruh untuk mengosongkan kandung kemih alias pipis, lalu berganti pakaian khusus pasien. Kemudian saya diminta untuk berbaring sembari sang petugas membetulkan letak peralatan yang akan digunakan untuk mengambil foto rontgen. Setelah itu saya pun diminta untuk duduk kembali dan meninggalkan saya sendiri untuk memanggil si dokter radiologi. Pada saat itu saya dihadapkan pada beberapa peralatan yang tergeletak di meja di samping saya. Ada selang, penjepit, alat suntik dengan maupun tanpa jarum, dan juga mangkok kecil yang berisi air berwarna merah kecoklatan. Berkat berburu informasi dari internet, saya sudah bisa membayangkan fungsi dari masing-masing alat.
Setelah beberapa saat, sang petugas kembali lagi, “Bu, tunggu sebentar ya, dokternya lagi ada USG.” Yeah… nggak papa lah… Dan selama waktu menunggu pun, musik Beethoven “symphony no7″ pun kembali terngiang-ngiang. Kali ini intro movement no.4. Halah… ini sih namanya korban Nodame Cantabile.
Lebih dari seperempat jam saya menunggu, akhirnya bu dokter datang juga. Dengan singkat bu dokter memberikan penjelasan dan menjelaskan bahwa reaksi dari tes HSG ini memang berbeda-beda pada tiap orang. Saya pun hanya mengangguk. Kali ini saya disuruh duduk di ujung meja, lalu berbaring dengan kaki berpijak di pinggir meja pula, kalo istilah jowone “ngangkang”.
Seperti yang pernah dijabarkan di situs, saya merasakan tiap langkah yang dilakukan. Pada saat spekulum dimasukkan melalui mulut rahim, saya sempat kaget, dan bu dokter meminta saya untuk relaks saja. Saya pun mencoba untuk lebih me-relaks-kan diri lagi. Setelah Spekulum terpasang, saya merasakan sesuatu bergerak ke dalam rahim saya. Ya, kateter mulai dimasukkan dan rasa mulas mulai terasa. Beberapa saat kemudian saya merasakan sesuatu mengaliri perut bagian bawah saya, dan rasanya nyeri. Seperti nyeri ketika sedang haid hari pertama, hanya saja bagi saya yang tidak pernah merasakan nyeri yang berlebihan pada hari pertama, rasanya tetap lebih menyakitkan dibandingkan nyeri haid. Bu dokter pun meminta saya untuk mengambil nafas teratur. Tarik nafas dari hidung, hembuskan lewat mulut.
Setelah bu dokter selesai memasukkan cairan ke tubuhku, saya diminta untuk mundur dan berbaring dengan kaki lurus. Dengan menahan rasa sakit, saya pun melakukan apa yang diinstruksikan. Lalu saya merasakan papan rontgen yang saya tiduri mulai bergerak miring sehingga posisi kepala berada lebih bawah dibandingkan dengan kaki. Sampai dengan tahap ini, rasa nyeri sudah berkurang, hanya terasa penuh di perut. Setelah beberapa saat, papan rontgen mulai kembali ke posisi semula, dan saya pun diminta untuk miring ke kiri sejenak lalu miring ke kanan untuk difoto. Sampai dengan pemotretan yang terakhir, rasa sakit pun sudah hilang. Saat bu dokter mempersilakan untuk tetap berbaring sampai rasa sakit saya hilang, saya hanya tersenyum dan berkata bahwa sudah tidak terasa sakit lagi. Saya pun dipersilakan turun dan berganti baju. Seperti yang dianjurkan oleh pada sebuah blog yang pernah kukunjungi, saya pun memakai pembalut agar sisa cairan rontgen tertampung di pembalut.
Secara keseluruhan, proses tes tidaklah lama. Mungkin hanya sekitar 5-10 menit. Dan rasa sakit yang dialami saat tes pun hanya sebentar. Well… I did it!! Alhamdulillah…
Karena waktu telah menunjukkan pukul 11.45, saya dan mbak pun memutuskan untuk mencari makanan di kantin sembari menunggu hasil tes keluar. Pukul 12.30, kami kembali lagi ke lab radiologi untuk mengambil hasil test, namun ternyata hasil tersebut belum keluar, Terpaksa kami menunggu kembali. Pada tahap ini, rasa nyeri mulai menyerang kembali. Nah, sakit yang ini yang lebih menyakitkan daripada sakit yang saya rasakan pada saat tes. Mungkin karena intervalnya yang lebih lama. Sempat berpikir juga untuk pulang saja dan mengambil hasil tes pada malam harinya. Namun tak beberapa lama kemudian si petugas pun memanggil namaku. Ajaibnya, saat berjalan menuju tempat pengambilan hasil rontgen, rasa sakit yang baru saja saya rasakan sedikit demi sedikit mulai berkurang. Terlebih saat saya membuka hasil lab: “Bentuk normal dan besar. Tuba faloppi patent.”
Alhamdulillah…
Kami pun segera pulang untuk menghindari datangnya rasa sakit susulan. Kali ini selama perjalanan yang terngiang-ngiang adalah musiknya Gershwin yang “Rhapsody In Blue”, dengan irama yang kocak dan ceria. Haha… ya.. saya lagi bahagia…
So far so good… Ready 4 the next step…
October 08, 2011
October 06, 2011
Balada Jembatan Jejadian
Waktu SD, aku sering diajak jalan-jalan naik mobil ama Bapak ke Mempawah, ke Sebrang, ke Sanggau, de el el. Kadang-kadang liburan, sering juga diajak sekalian pas Bapak lagi tugas. Tip mobil waktu itu masih oke bangets. Lagu yang paling kuinget waktu itu lagu-lagu-nya Arie Wibowo (The Bill & Brod): “Madu dan Racun”, “Singkong dan Keju (Anak Singkong)”
Pernah suatu waktu, saat pulang dari Sanggau, rasanya seperti terkena serangan mabuk darat. Mas Hendro di samping berisik nyanyi-nyanyi terus. Aku cuma bisa diam memandang satu per satu pohon yang terlewati. Lalu mobil berbelok, keluar dari jalan raya. Katanya Pak Sopir sih pengen ngambil jalan alternatif yang baru. Kondisi jalannya bagus, sepertinya baru di-aspal. Tapi ada yang ganjil. Sepanjang perjalanan, tak satu pun mobil lain yang melintas. Ketegangan mulai terasa setelah jalan yang kami lewati sudah menyempit dan tidak tertutup aspal. Meskipun kondisi jalan seperti ini bertebaran di Kalimanatan, aku tetap saja nggak bisa tenang. Dengan tebing di sebelah kiri, jurang di sebelah kanan, dan turunan yang tak kunjung landai. Apa iya semua jalan di kalimanatan seperti ini, pikirku.
oh mi got….. Aku yang tadinya duduk ngelendot di samping pintu, kini mengambil posisi duduk siap ala anak SD di kelas. Mataku yang tadinya teruju ke jendela samping, kini mengikuti arah pandangan Pak Sopir sambil berharap ada seberkas harapan di depan sana. Tapi bukannya asa yang kudapat tapi pemandangan yang lebih mencengangkan. Samar-samar dari kejauhan terlihat sebuah jembatan, tepatnya setengah jembatan. OMIGOT… itu jembatan belum jadi!!! alamak… gimane lah ni… jalannye sempit, gimane lah mobilnye bise balek… begitulah kira-kira bahasa Pontianak-nya.
Pak Sopir akhirnya menghentikan mobilnya tepat sebelum belokan. Dengan memasukkan rem tangan dan ngganjal roda dengan batu, Pak Sopir pun berjalan meninggalkan kami sambil menitipkan harapan yang lain. Ia berharap belokan yang akan kami lewati tidak menuju ke jembatan jejadian itu. Rasanya seperti setahun sejak terakhir kali aku liat punngung Pak Sopir dari ujung belokan itu sampai akhirnya ia kembali dengan wajah yang tanpa ekspresi. Setelah sampai di mobil, dia berkata pelan “Kita putar balik, Pak”. Kyaaaaa…..! bener kannn…..!
Aku cuma bisa pasrah dan berharap perhitungan Pak Sopir dalam mengamabil manuver kali ini benar-benar presisi. Yang jelas, faktanya aku nggak bakalan bisa nulis ini kalo perhitungan Pak Sopir itu salah. Yeah, ternyata kemampuan Pak Sopir dalam menguasai mobil patut diberi acungan jempol. Kalo jaman dulu udah ada pesbuk mungkin udah tak kasih “Like”. Dan ajaibnya, serangan mabok darat yang tadinya lagi gencar-gencarnya jadi ilang begitu aja. Mungkin karena ketutupan ama serangan shock kali ya…
Ngemeng-ngemeng, apa kabar jembatan setengah jadi itu ya. Pasti sekarang udah jadi. Apa malah udah ambrol?
Pernah suatu waktu, saat pulang dari Sanggau, rasanya seperti terkena serangan mabuk darat. Mas Hendro di samping berisik nyanyi-nyanyi terus. Aku cuma bisa diam memandang satu per satu pohon yang terlewati. Lalu mobil berbelok, keluar dari jalan raya. Katanya Pak Sopir sih pengen ngambil jalan alternatif yang baru. Kondisi jalannya bagus, sepertinya baru di-aspal. Tapi ada yang ganjil. Sepanjang perjalanan, tak satu pun mobil lain yang melintas. Ketegangan mulai terasa setelah jalan yang kami lewati sudah menyempit dan tidak tertutup aspal. Meskipun kondisi jalan seperti ini bertebaran di Kalimanatan, aku tetap saja nggak bisa tenang. Dengan tebing di sebelah kiri, jurang di sebelah kanan, dan turunan yang tak kunjung landai. Apa iya semua jalan di kalimanatan seperti ini, pikirku.
oh mi got….. Aku yang tadinya duduk ngelendot di samping pintu, kini mengambil posisi duduk siap ala anak SD di kelas. Mataku yang tadinya teruju ke jendela samping, kini mengikuti arah pandangan Pak Sopir sambil berharap ada seberkas harapan di depan sana. Tapi bukannya asa yang kudapat tapi pemandangan yang lebih mencengangkan. Samar-samar dari kejauhan terlihat sebuah jembatan, tepatnya setengah jembatan. OMIGOT… itu jembatan belum jadi!!! alamak… gimane lah ni… jalannye sempit, gimane lah mobilnye bise balek… begitulah kira-kira bahasa Pontianak-nya.
Pak Sopir akhirnya menghentikan mobilnya tepat sebelum belokan. Dengan memasukkan rem tangan dan ngganjal roda dengan batu, Pak Sopir pun berjalan meninggalkan kami sambil menitipkan harapan yang lain. Ia berharap belokan yang akan kami lewati tidak menuju ke jembatan jejadian itu. Rasanya seperti setahun sejak terakhir kali aku liat punngung Pak Sopir dari ujung belokan itu sampai akhirnya ia kembali dengan wajah yang tanpa ekspresi. Setelah sampai di mobil, dia berkata pelan “Kita putar balik, Pak”. Kyaaaaa…..! bener kannn…..!
Aku cuma bisa pasrah dan berharap perhitungan Pak Sopir dalam mengamabil manuver kali ini benar-benar presisi. Yang jelas, faktanya aku nggak bakalan bisa nulis ini kalo perhitungan Pak Sopir itu salah. Yeah, ternyata kemampuan Pak Sopir dalam menguasai mobil patut diberi acungan jempol. Kalo jaman dulu udah ada pesbuk mungkin udah tak kasih “Like”. Dan ajaibnya, serangan mabok darat yang tadinya lagi gencar-gencarnya jadi ilang begitu aja. Mungkin karena ketutupan ama serangan shock kali ya…
Ngemeng-ngemeng, apa kabar jembatan setengah jadi itu ya. Pasti sekarang udah jadi. Apa malah udah ambrol?
September 26, 2011
Road to our little – Step 3 – Sperma Analysys, TORCH
Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.
Pada konsultasi sebelumnya, dr. Muharram berpesan agar tidak melakukan hubungan selama 3 hari sebelum melakukan tes analisa sperma. Kebetulan, besok adalah hari ketiga, jadi kami memutuskan untuk segera melakukan tes ke RSIA Sayyidah, seperti yang dianjurkan pak dokter. Pas suami saya tanya, ” Memangnya kenapa, Dok? di RS sini nggak bisa?”. Si dokter menjawab, ” Nggak enak di sini, di kamar mandi, becek. hehehe.” O… Kami baru ngeh… Sebenarnya pak dokter merujuk untuk ke RSCM, tapi berhubung lokasinya yang lumayan jauh, kami pun dianjurkan untuk ke RSIA Sayyidah di daerah Pondok Kelapa.
Keesokan harinya, kami pun tiba di RSIA Sayyidah pada pukul 10.00. Seperti yang kuduga sebelumnya, nama dr. Muharram terpampang di daftar jadwal praktek dokter. Weleh… ni dokter, banyak amat buka prakteknya. Dan seperti yang digambarkan oleh pak dokter, RSIA ini menyediakan fasilitas kamar yang cukup nyaman. Dan, setelah itu kami *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor*. hehehehe…
Darah saya pun diambil untuk sample pengujian TORCH.
Seminggu kemudian, tibalah saatnya untuk mengambil hasil test. Deg-deg-an juga, berubung ini test pertama kami di lab. Segera setelah kami terima lembaran jasil test, saya dan suami membaca hasilnya satu persatu. Agak kaget juga melihat ada tanda positif di kolom Rubella dan CMV. Tapi entah mengapa, saya tidak sedikitpun merasa khawatir. Dan benar saja, setelah sedikit browsing di inet, ada informasi yang memberikan pencerahan
Jadi, karena Rubella dan CMV saya Igg (+) dan Igm (-), saya pernah terinfeksi di masa lampau, dan badan saya telah memiliki antibodi terhadap kedua virus tersebut.
Sedangkan hasil analisis sperma semuanya juga normal. Memang ada komentar bahwa terjadi autoaglutinasi, tapi di bagian kesimpulan tertulis : “kemungkinan untuk kehamilan normal: besar”.
Yah… Secara garis besar, kedua tes ini sudah kami lewati dan hasilnya normal… Alhamdulillah…
Jadi, saatnya bersiap untuk ujian berikutnya…
Pada konsultasi sebelumnya, dr. Muharram berpesan agar tidak melakukan hubungan selama 3 hari sebelum melakukan tes analisa sperma. Kebetulan, besok adalah hari ketiga, jadi kami memutuskan untuk segera melakukan tes ke RSIA Sayyidah, seperti yang dianjurkan pak dokter. Pas suami saya tanya, ” Memangnya kenapa, Dok? di RS sini nggak bisa?”. Si dokter menjawab, ” Nggak enak di sini, di kamar mandi, becek. hehehe.” O… Kami baru ngeh… Sebenarnya pak dokter merujuk untuk ke RSCM, tapi berhubung lokasinya yang lumayan jauh, kami pun dianjurkan untuk ke RSIA Sayyidah di daerah Pondok Kelapa.
Keesokan harinya, kami pun tiba di RSIA Sayyidah pada pukul 10.00. Seperti yang kuduga sebelumnya, nama dr. Muharram terpampang di daftar jadwal praktek dokter. Weleh… ni dokter, banyak amat buka prakteknya. Dan seperti yang digambarkan oleh pak dokter, RSIA ini menyediakan fasilitas kamar yang cukup nyaman. Dan, setelah itu kami *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor*. hehehehe…
Darah saya pun diambil untuk sample pengujian TORCH.
Seminggu kemudian, tibalah saatnya untuk mengambil hasil test. Deg-deg-an juga, berubung ini test pertama kami di lab. Segera setelah kami terima lembaran jasil test, saya dan suami membaca hasilnya satu persatu. Agak kaget juga melihat ada tanda positif di kolom Rubella dan CMV. Tapi entah mengapa, saya tidak sedikitpun merasa khawatir. Dan benar saja, setelah sedikit browsing di inet, ada informasi yang memberikan pencerahan
3. Bila IgG Positif dan IgM Negatif :
Anda telah terinfeksi lebih dari setahun yang lalu. Saat ini anda mungkin telah mengembangkan kekebalan terhadap parasit itu.
Anda tidak perlu khawatir untuk hamil. sumber
Jadi, karena Rubella dan CMV saya Igg (+) dan Igm (-), saya pernah terinfeksi di masa lampau, dan badan saya telah memiliki antibodi terhadap kedua virus tersebut.
Sedangkan hasil analisis sperma semuanya juga normal. Memang ada komentar bahwa terjadi autoaglutinasi, tapi di bagian kesimpulan tertulis : “kemungkinan untuk kehamilan normal: besar”.
Yah… Secara garis besar, kedua tes ini sudah kami lewati dan hasilnya normal… Alhamdulillah…
Jadi, saatnya bersiap untuk ujian berikutnya…
September 25, 2011
Road to our little – Step 2 – USG TransV
Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.
Ah, setelah sekian lama tertunda, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berkonsultasi kembali ke dokter mengenai program bayi yang ingin kami jalankan. Kali ini tema yang kami gunakan adalah “Rumah Sakit Terdekat”, dan terpilihlah RS. Haji. Berangkatlah kami ke sana, namun kali ini dengan kualifikasi yang berbeda. Tak ada lagi syarat “dokter wanita”, yang ada hanya “dokter berpengalaman”. Setibanya di meja pendaftaran, saya bertanya kepada sang petugas, “dokter yang biasa menangani program bayi siapa ya, mbak?”. Aha, harusnya pertanyaan ini yang kusampaikan saat “step pertama” dulu. Si mbaknya pun tanpa ragu menyebutkan sebuah nama, “dr. Muharram, Bu. Cuman, prakteknya nanti malam.” Okelah, saya pun mendaftar untuk berkonsultasi ke dr. Muharram. “Habis maghrib ya, Bu,” kata mbaknya mengingatkan kembali.
Segera setelah kami menunaikan Sholat Maghrib, kami pun berangkat menuju rumah sakit kembali. Sesampainya di ruang tunggu, sang perawat memberi tahu bahwa sang dokter akan datang jam 8 malam. Wow, jam 8 baru mulai, lalu kapan kelarnya? Kami pun dengan sabar menunggu sampai akhirnya sang dokter datang 1 jam setelah jam 8 malam, alias jam 9 malam! Saat itu kondisi antrian lumayang panjang. Untungnya, karena saya sudah mendaftar pagi tadi, saya mendapat nomer urut 4. Nomer 4! Saya hanya bisa bertanya-tanya, lalu kapan si nomer 1, 2 dan 3 itu mendaftar? Ah, need to mention too, none of them are seemingly pregnant.
Saat namaku dipanggil, saya bersama suami pun memasuki ruangan. Di sanalah sang dokter duduk dengan mata yang tampak sedikit mengantuk. “maaf ya bu, tadi banyak pasien yang minta program bayi tabung”. Owh… si dokter ini, tampaknya sedang ingin melakukan promosi colongan. Well, it’s OK.
Setelah sedikit berdiskusi, saya pun diminta untuk melakukan USG. Kali ini USG Transvagina.
Pemeriksaan USG Transvaginal (melalui “miss v”) merupakan suatu metode pencitraan pada organ genitalia wanita dimana sebuah pemindai dimasukan ke dalam “miss v”. Pemindai dimasukan ke dalam rongga “miss v” untuk melihat struktur pelvis (rongga panggul), sementara gambaran ultrasound terlihat di monitor. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memngevaluasi pada wanita dengan masalah infertilitas, perdarahan yang abnormal, utnuk mencari penyebab nyeri yang tidak jelas pada organ genital, malformasi kongenital pada uterus (rahim) dan ovarium, kemungkinan tumor dan infeksi, dan pada kehamilan. sumber (dengan sedikit edit-an)
Saya pun diminta sang perawat (wanita) untuk melepas celana dan celana dalam. Setelah terlepas, saya pun diminta untuk berbaring dan dengan posisi terlentang dengan lutut tertekuk. Sang perawat terlihat mengoleskan sesuatu pada alat yang dipegangnya. Alat itu bagiku berbentuk sperti es krim hula-hula dari campina (halah… makanan terus yang kepikiran). Sang perawat pun memintaku untk relaks sembari memasukkan alat itu ke “miss v”-ku. Setelah alat itu ter-plug di tubuhku (kayak kabel aja), sekarang giliran sang dokter yang memegang alat itu sambil menatap layar monitor hitam-putih di hadapannya. Katanya, “Bagus”. Alhamdulillah…
Di akhir konsultasi, sang dokter memberiku sejumlah lembar rekomendasi test yang harus kami lakukan, yaitu: Sperma Analysys, TORCH, dan HSG. Sejauh ini, kami merasa cocok dengan dr. Muharram, karena dokter ini mengerti kebutuhan kami dan tidak semena-mena memberikan obat-obatan sebelum melakukan analisis terhadap hasil test. Ohya, setelah sedikit searching di inet tentang dr. Muharram, ternyata beliau juga adalah dokter di Klinik Yasmin RSCM dan spesifik di bidang fertilitas. Yahh… Semoga saja penilaian kami ini benar adanya.
Nambah dikit tentang USG Transvaginal:
PCO (Polycystik Ovarii) bisa dideteksi dengan pemeriksaan USG Transvaginal. Sedangkan jika disertai dengan gejala lain, seperti haid jarang (dengan darah sedikit/bercak, bahkan tidak haid), ada gejala tingginya hormon pria/hiperandrogen (berbulu, berkumis, berjerawat, dll), dan kadar gula cenderung meningkat, maka disebut PCOS (Polycystic Ovarii Syndrome). sumber (dengan sedikit editan)
Mungkin gara-gara si dokter melihat perawakan saya yang berkumis-tipis-nggemesin-mirip-iis-dahlia, bertebaran-jerawat-di-wajah dan agak-gendut-di-daerah-perut, beliau langsung memberikan analisa awal bahwa saya kemungkinan adalah korban PCOS. Hehe… karena pengalaman kali ya, Dok?
Ah, setelah sekian lama tertunda, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berkonsultasi kembali ke dokter mengenai program bayi yang ingin kami jalankan. Kali ini tema yang kami gunakan adalah “Rumah Sakit Terdekat”, dan terpilihlah RS. Haji. Berangkatlah kami ke sana, namun kali ini dengan kualifikasi yang berbeda. Tak ada lagi syarat “dokter wanita”, yang ada hanya “dokter berpengalaman”. Setibanya di meja pendaftaran, saya bertanya kepada sang petugas, “dokter yang biasa menangani program bayi siapa ya, mbak?”. Aha, harusnya pertanyaan ini yang kusampaikan saat “step pertama” dulu. Si mbaknya pun tanpa ragu menyebutkan sebuah nama, “dr. Muharram, Bu. Cuman, prakteknya nanti malam.” Okelah, saya pun mendaftar untuk berkonsultasi ke dr. Muharram. “Habis maghrib ya, Bu,” kata mbaknya mengingatkan kembali.
Segera setelah kami menunaikan Sholat Maghrib, kami pun berangkat menuju rumah sakit kembali. Sesampainya di ruang tunggu, sang perawat memberi tahu bahwa sang dokter akan datang jam 8 malam. Wow, jam 8 baru mulai, lalu kapan kelarnya? Kami pun dengan sabar menunggu sampai akhirnya sang dokter datang 1 jam setelah jam 8 malam, alias jam 9 malam! Saat itu kondisi antrian lumayang panjang. Untungnya, karena saya sudah mendaftar pagi tadi, saya mendapat nomer urut 4. Nomer 4! Saya hanya bisa bertanya-tanya, lalu kapan si nomer 1, 2 dan 3 itu mendaftar? Ah, need to mention too, none of them are seemingly pregnant.
Saat namaku dipanggil, saya bersama suami pun memasuki ruangan. Di sanalah sang dokter duduk dengan mata yang tampak sedikit mengantuk. “maaf ya bu, tadi banyak pasien yang minta program bayi tabung”. Owh… si dokter ini, tampaknya sedang ingin melakukan promosi colongan. Well, it’s OK.
Setelah sedikit berdiskusi, saya pun diminta untuk melakukan USG. Kali ini USG Transvagina.
Pemeriksaan USG Transvaginal (melalui “miss v”) merupakan suatu metode pencitraan pada organ genitalia wanita dimana sebuah pemindai dimasukan ke dalam “miss v”. Pemindai dimasukan ke dalam rongga “miss v” untuk melihat struktur pelvis (rongga panggul), sementara gambaran ultrasound terlihat di monitor. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memngevaluasi pada wanita dengan masalah infertilitas, perdarahan yang abnormal, utnuk mencari penyebab nyeri yang tidak jelas pada organ genital, malformasi kongenital pada uterus (rahim) dan ovarium, kemungkinan tumor dan infeksi, dan pada kehamilan. sumber (dengan sedikit edit-an)
Saya pun diminta sang perawat (wanita) untuk melepas celana dan celana dalam. Setelah terlepas, saya pun diminta untuk berbaring dan dengan posisi terlentang dengan lutut tertekuk. Sang perawat terlihat mengoleskan sesuatu pada alat yang dipegangnya. Alat itu bagiku berbentuk sperti es krim hula-hula dari campina (halah… makanan terus yang kepikiran). Sang perawat pun memintaku untk relaks sembari memasukkan alat itu ke “miss v”-ku. Setelah alat itu ter-plug di tubuhku (kayak kabel aja), sekarang giliran sang dokter yang memegang alat itu sambil menatap layar monitor hitam-putih di hadapannya. Katanya, “Bagus”. Alhamdulillah…
Di akhir konsultasi, sang dokter memberiku sejumlah lembar rekomendasi test yang harus kami lakukan, yaitu: Sperma Analysys, TORCH, dan HSG. Sejauh ini, kami merasa cocok dengan dr. Muharram, karena dokter ini mengerti kebutuhan kami dan tidak semena-mena memberikan obat-obatan sebelum melakukan analisis terhadap hasil test. Ohya, setelah sedikit searching di inet tentang dr. Muharram, ternyata beliau juga adalah dokter di Klinik Yasmin RSCM dan spesifik di bidang fertilitas. Yahh… Semoga saja penilaian kami ini benar adanya.
Nambah dikit tentang USG Transvaginal:
PCO (Polycystik Ovarii) bisa dideteksi dengan pemeriksaan USG Transvaginal. Sedangkan jika disertai dengan gejala lain, seperti haid jarang (dengan darah sedikit/bercak, bahkan tidak haid), ada gejala tingginya hormon pria/hiperandrogen (berbulu, berkumis, berjerawat, dll), dan kadar gula cenderung meningkat, maka disebut PCOS (Polycystic Ovarii Syndrome). sumber (dengan sedikit editan)
Mungkin gara-gara si dokter melihat perawakan saya yang berkumis-tipis-nggemesin-mirip-iis-dahlia, bertebaran-jerawat-di-wajah dan agak-gendut-di-daerah-perut, beliau langsung memberikan analisa awal bahwa saya kemungkinan adalah korban PCOS. Hehe… karena pengalaman kali ya, Dok?
September 21, 2011
IBK… aku mau makan nasi!!
Berawal dari membaca notesnya putri palupi tentang homeschooling tadi pagi. Ada satu topik yang menarik minatku dan tampak tak asing.
.
IBK??? apa maksudnya IBK?? yang kutangkap sampai saat ini, IBK adalah singkatan dari IBuKu. Lagu yang aneh…
.
Yah, setelah membaca notesnya mbak putri, saya jadi menghubung-hubungkannya dengan mimpiku semalam. Mungkin kedua anak itu telah mempraktekkan seperti apa yang kak seto contohkan. Haha.. korelasi yang sangat “maksa”. Toh pada saat saya mimpi, saya bahkan belum tahu tentang seminarnya kak seto… Tapi, itu ide yang bagus juga… Mungkin saya akan mempraktekkannya suatu saat
.
Oh, ya, saya ngomong-ngomong tentang kegiatan bersama orangtua-anak, saya juga terinspirasi dengan kisah nyatanya mbak ridha yang tertulis di notesnya “Bukan Dongeng”. Dan saya juga sangat ingin mempraktekkannya suatu saat
Ohya… Kak Seto itu bener-bener entertainer.Tiba-tiba pikiranku melayang ke mimpi tadi malam. Masih tampak jelas di ingatanku, ada dua anak kembar berumur sekitar 5 tahun. Potongan rambutnya sama, namun akan sangat mudah untuk membedakan mana yang laki-laki, dan mana yang perempuan. Keduanya duduk di sofa, menyanyikan lagu dengan nada yang familiar namun sedikit janggal. Tampaknya lagu yang mereka nyanyikan adalah potongan-potongan dari beberapa lagu yang berbeda. Lirik yang mereka gunakan pun sama anehnya. Seperti dikarang sekenanya dan terdengar sedikit “maksa”. Namun kedua anak itu menyanyikannya dengan sangat fasih, bahkan mereka dapat memberikan sentuhan dinamika yang berbeda pada beberapa bagian. Luar biasa. Ada barisan lirik yang masih terkunci di ingatanku, yaitu “IBK, aku mau makan nasi!!” . Lirik tersebut dinyanyikan pada bagian akhir lagu. Dan kemudian kedua anak kembar tersebut berhamburan ke arah ibu mereka.
Ada seorang pemain organ yang selalu mengiringi setiap kata kak Seto, dengan iringan musik, backsound yg relevan. Jadi, seluruh presentasi itu layaknya sebuah drama tanpa jeda.
Ada slide-slide yg dibuat khusus buwat Kak Seto. atau khusus dibuwat Kak Seto. lucu,kocak, menghanyutkan.
Kita semua diajarin untuk nyanyi dan mengarang lagu. dipancing dengan 2 baris lirik pertama, trus kita diminta untuk menyanyikan baris lirik selanjutnya dengan nada sendiri. happy banget,deh. Dan ini sudah lebih dulu dipraktekkan Mbak Lala di rumahinspirasi.com, dengan mencipta 30 lagu dalam 30 hari untuk anak2. So, slamat tinggal lagu dewasa yang nggak banget,yahhhh….
.
IBK??? apa maksudnya IBK?? yang kutangkap sampai saat ini, IBK adalah singkatan dari IBuKu. Lagu yang aneh…
.
Yah, setelah membaca notesnya mbak putri, saya jadi menghubung-hubungkannya dengan mimpiku semalam. Mungkin kedua anak itu telah mempraktekkan seperti apa yang kak seto contohkan. Haha.. korelasi yang sangat “maksa”. Toh pada saat saya mimpi, saya bahkan belum tahu tentang seminarnya kak seto… Tapi, itu ide yang bagus juga… Mungkin saya akan mempraktekkannya suatu saat
.
Oh, ya, saya ngomong-ngomong tentang kegiatan bersama orangtua-anak, saya juga terinspirasi dengan kisah nyatanya mbak ridha yang tertulis di notesnya “Bukan Dongeng”. Dan saya juga sangat ingin mempraktekkannya suatu saat
September 20, 2011
really something
“Alhamdulillah ya… sesuatu banget” kata-kata yang lagi ngetrend saat ini. Agak menggelitik telinga ketika kalimat ini terdengar di telinga.
Alhamdulillah, artinya adalah Pujian Hanya Untuk Allah, yang merupakan ungkapan syukur dan terimakasih atas karunia Allah.
Sesuatu banget = benar-benar sesuatu ??? menurut sepengtahuan saya, frasa ini tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia.
But wait, let us use it in English…
Benar-benar sesuatu = really something. Yang artinya adalah…
Entah dari mana artis kita mendapatkan ide untuk mengartikannya secara mentah-mentah ke dalam Bahasa.. Yang akhirnya, agak lucu jika digunakan dalam Bahasa Indonesia. Tapi mungkin berkat artis kita inilah, perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia jadi bertambah lagi
Alhamdulillah, artinya adalah Pujian Hanya Untuk Allah, yang merupakan ungkapan syukur dan terimakasih atas karunia Allah.
Sesuatu banget = benar-benar sesuatu ??? menurut sepengtahuan saya, frasa ini tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia.
But wait, let us use it in English…
Benar-benar sesuatu = really something. Yang artinya adalah…
some·thing [suhm-thing]Terdengar sangat familiar kan…
pronoun
noun
- some thing; a certain undetermined or unspecified thing: Something is wrong there. Something’s happening.
- an additional amount, as of cents or minutes, that is unknown, unspecified, or forgotten: He charged me ten something for the hat. Our train gets in at two something.
sumber : http://dictionary.reference.com/browse/something
- Informal . a person or thing of some value or consequence: He is really something! This writer has something to say and she says it well.
Entah dari mana artis kita mendapatkan ide untuk mengartikannya secara mentah-mentah ke dalam Bahasa.. Yang akhirnya, agak lucu jika digunakan dalam Bahasa Indonesia. Tapi mungkin berkat artis kita inilah, perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia jadi bertambah lagi
July 18, 2011
Road to our little – Step 1 – USG
Tak terasa dalam 3 bulan lagi usia pernikahan kami sudah menginjak tahun ke tiga. Tempat berlindung sudah ada. Alat transportasi pun sudah memadai. Namun ada yang kurang, belum ada tangis bayi. Dua tahun berpisah telah melenakan kami dalam situasi pemakluman atas belum memiliki momongan. Dan sekarang, setelah banyak dari teman sebaya kami yang telah memiliki buah hati, yang tidak hanya satu, kami pun mulai mencari jalan untuk mengejar ketinggalan kami. Yah, meskipun terdengar sedikit terlambat, akhirnya kami pun memberanikan diri untuk berkonsultasi ke dokter.
Dokter pertama kami, kami “temukan” dengan cara yang sedikit tidak lazim. Dengan tanpa informasi di tangan, kami langsung meluncur ke RS Mitra Keluarga Bekasi, berharap dapat menemukan dokter kandungan berkualitas di sana. Dan sesampainya di depan meja pendaftaran, kami pun kebingungan ketika ditanya ingin bertemu dengan dokter siapa. Kala itu, satu-satunya kualifikasi yang kuinginkana adalah “dokter kandungan wanita”. Dan bertanyalah aku kepada petigas pendaftaran “Dokter kandungan yang cewek siapa ya, mbak?”. Suamiku pun menambahi “dan yang paling senior, mbak?”. Jadilah kami diarahkan untuk menemui Dr. Lidya Liliana.
Begitu nama saya dipanggil, saya pun masuk. Dan dimulailah tanya-jawab yang terbilang singkat. Kemudian dr. Lidya memintaku untuk tiduran di tempat tidur untuk dilakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini seperti yang kulihat di film-film yang pernah kutonton. Sebuah alat disentuhkan ke perutku tanpa perantara baju. Dan sebuah gambar hitam-putih tertampil di monitor. Sang dokter pun dengan seksama memperhatikan monitor sambil menggerak-gerakkan alat USG di atas perutku. Tak beberapa lama. dr. Lidya mempersilakan kepadaku untuk kembali duduk di meja konsultasi.
Di sana, dr. Lidya mulai menjelaskan bahwa bentuk kandunganku bagus, hanya saja bentuk-nya sedikit berbeda. Namun keanehan ini adalah hal yang minor dan tidak perlu diambil tindakan lebih lanjut dan juga tidak perlu menggunakan “gaya” khusus. Dan karena sebelumnya kami telah menjelaskan bahwa kami baru berkumpul kembali selama 6 bulan ini, dr. Lidya hanya menyarankan untuk melakukan sistem kalender, tanpa perlu melakukan tes-tes yang lain ataupun mengkonsumsi obat-obatan atau vitamin tertentu. Menurut sepengetahuan saya, memang serangkaian tes diperlukan bagi pasangan yang telah menikah lebih dari 1 tahun namun belum memiliki anak. Dan dalam pemahaman dr. Lidya, umur pernikahanku juga tidak lebih dari 1 tahun. Sehingga serangkaian tes baru diperlukan setelah 6 bulan lagi.
Meskipun penjelasan dr. Lidya sangat masuk akal, namun kami tetap saja belum merasa puas akan sarannya. Dengan mengikuti saran dr. Lidya, berarti dalam 6 bulan ini kami hanya bisa menunggu tanpa mampu mengusahakan hal yang lebih lagi. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada dr. Lidya, kami pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter lain. Bukan karena kami merasa dr. Lidya tidak berkompeten, hanya saja kami merasa kurang cocok dengan saran dr. Lidya. Mungkin juga sebagian kesalahan ada di sisi kami, dimana kami tidak menekankan kepadanya bahwa kami ingin mendapatkan “program bayi”.
Yeah, we’re ready 4 the next doctor…
NamBah:
Bagi yang ingin menyimak coretan-coretan edisi “Road to our little” selanjutnya, silakan berkunjung ke sini.
Dokter pertama kami, kami “temukan” dengan cara yang sedikit tidak lazim. Dengan tanpa informasi di tangan, kami langsung meluncur ke RS Mitra Keluarga Bekasi, berharap dapat menemukan dokter kandungan berkualitas di sana. Dan sesampainya di depan meja pendaftaran, kami pun kebingungan ketika ditanya ingin bertemu dengan dokter siapa. Kala itu, satu-satunya kualifikasi yang kuinginkana adalah “dokter kandungan wanita”. Dan bertanyalah aku kepada petigas pendaftaran “Dokter kandungan yang cewek siapa ya, mbak?”. Suamiku pun menambahi “dan yang paling senior, mbak?”. Jadilah kami diarahkan untuk menemui Dr. Lidya Liliana.
Begitu nama saya dipanggil, saya pun masuk. Dan dimulailah tanya-jawab yang terbilang singkat. Kemudian dr. Lidya memintaku untuk tiduran di tempat tidur untuk dilakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini seperti yang kulihat di film-film yang pernah kutonton. Sebuah alat disentuhkan ke perutku tanpa perantara baju. Dan sebuah gambar hitam-putih tertampil di monitor. Sang dokter pun dengan seksama memperhatikan monitor sambil menggerak-gerakkan alat USG di atas perutku. Tak beberapa lama. dr. Lidya mempersilakan kepadaku untuk kembali duduk di meja konsultasi.
Di sana, dr. Lidya mulai menjelaskan bahwa bentuk kandunganku bagus, hanya saja bentuk-nya sedikit berbeda. Namun keanehan ini adalah hal yang minor dan tidak perlu diambil tindakan lebih lanjut dan juga tidak perlu menggunakan “gaya” khusus. Dan karena sebelumnya kami telah menjelaskan bahwa kami baru berkumpul kembali selama 6 bulan ini, dr. Lidya hanya menyarankan untuk melakukan sistem kalender, tanpa perlu melakukan tes-tes yang lain ataupun mengkonsumsi obat-obatan atau vitamin tertentu. Menurut sepengetahuan saya, memang serangkaian tes diperlukan bagi pasangan yang telah menikah lebih dari 1 tahun namun belum memiliki anak. Dan dalam pemahaman dr. Lidya, umur pernikahanku juga tidak lebih dari 1 tahun. Sehingga serangkaian tes baru diperlukan setelah 6 bulan lagi.
Meskipun penjelasan dr. Lidya sangat masuk akal, namun kami tetap saja belum merasa puas akan sarannya. Dengan mengikuti saran dr. Lidya, berarti dalam 6 bulan ini kami hanya bisa menunggu tanpa mampu mengusahakan hal yang lebih lagi. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada dr. Lidya, kami pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter lain. Bukan karena kami merasa dr. Lidya tidak berkompeten, hanya saja kami merasa kurang cocok dengan saran dr. Lidya. Mungkin juga sebagian kesalahan ada di sisi kami, dimana kami tidak menekankan kepadanya bahwa kami ingin mendapatkan “program bayi”.
Yeah, we’re ready 4 the next doctor…
NamBah:
Bagi yang ingin menyimak coretan-coretan edisi “Road to our little” selanjutnya, silakan berkunjung ke sini.
June 20, 2011
sabotase
Huah… Hari ini rasanya capeekkk banget… Mata terasa berat, badan pun pegal-pegal, plus hawanya jadi kerasa dingin menusuk tulang. Gara-garanya tidur yang nggak berkualitas.
-
Tiga malam yang lalu, perjalanan ke jogja pun dimulai. Kali ini naik kereta api bisnis andalan, “Senja Utama”. Yup, KA bisnis emang jadi andalan karena kalau pake eksekutif, selain karena mahal, ac-nya itu lho.. dingin banget. Boro-boro tidur pules, mau napas aja susah.. Jadi KA eksekutif adalah pilihan terakhir kalo mau perjalanan antar jawa.
-
Tapi, hawa-hawa nggak hoki mulai kerasa ketika kami mendapatkan tiket Senja Solo, yang artinya harus berangkat lebih malam dibandingkan Senja Jogja. Alhasih, kami pun plongah-plongoh di stasiun sambil menggelar koran sebagai alas duduk. Mata yang sudah mulai mengantuk pun dipaksa melek.
-
Saat di ujung kantuk, datanglah sang kereta dan naiklah kami. Dan, kami baru nyadar, kalau nomer tempat duduk kami adalah 2C dan 2D, yang artinya, kami harus duduk menghadap tembok yang super sempit, sampai dengkul pun harus menyentuh dinding. Terpaksalah kami balik kursi sehingga menghadap ke belakang dan berahadapan dengan penumpang 3C dan 3D. Koran yang semula kami beli untuk digunakan sebagai alas tidur pun gagal digunakan. Batal pula lah rencana untuk tidur dengan formasi atas-bawah supaya bisa selonjor kaki. Yak, itulah tidur tak berkualitas no 1.
-
Malam berikutnya, sebetulnya kami berencana untuk pergi ke Maospati menjenguk ortu setelah acara pengajian. Tapi berhubung badan masih terasa pegel-pegel akhirnya rencana tersebut pun kami urungkan. Dudul-nya, bukannya istirahat, kami malah jalan-jalan ke pusat Jogja sampai jam 2 malam. Bagus… Akhirnya, kami pun melanjutkan tidur tak berkualitas no 2.
-
Dan malam berikutnya lagi, yaitu tadi malam, kami pun melakukan perjalanan balik ke Jakarta. Tidak lupa segala persiapan “tempat tidur” pun kami bawa, mulai dari koran bekas, tas yang diatur sedemikan rupa menyerupai bantal dan selimut tipis hasil comot dari rumah. Tempat duduk kami 2A dan 2B, yang notabene “aman” dari tembok. Tapi oh tapi… ternyata oh ternyata… begitu naik di gerbong kereta, posisi kursi 1A dan 1B sudah berbalik menghadap belakang, ke arah tempat duduk kami. Usut punya usut, ternyata ada dua pemudi (ga tau gadis atau ga ) yang sepertinya dapat tiket non-seat dan menempati area rongga antara dinding dan kursi 1A dan 1B.
-
Yaelah… jadi serba salah. Kalau mau balikin kursi ke posisi semula, artinya kami mengusir kedua pemudi tersebut. Tapi rasanya gimana ya, antara ga rela dan ga tega. Ga teganya, aku pernah beberapa kali dapet tiket non-seat. Dan ketika ada orang yang berbaik hati menyisihkan tempatnya supaya aku bisa numpang ndeprok di bawah, rasanya seneng banget…
-
Dan ga relanya, kok begitu caranya. Yang punya tiket pun bahkan belum datang, kok bisa-bisanya langsung diubah gitu aja. Tanpa rasa bersalah karena mengambil hak orang lain, dengan santainya mereka cekikikan di balik bangku. Bahkan sampai kami turun pun ga ada kata-kata permisi. Jadi, rasanya seperti disabotase. Apa iya, sopan santun dan etika sudah mulai ditinggalkan? Apa iya, pihak yang kurang beruntung berhak mendapatkan perilaku istimewa dari mereka yang lebih beruntung? Dan, apakah dibenarkan jika dilakukan dengan cara mengambil hak orang lain tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu?
-
Walhasil, kami pun terpaksa memupuskan harapan kami untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Jadi, yang paling kurindukan saat ini adalah kasur empuk, bantal dan guling (yang rada apek) serta selimut tebal di rumah. Wanna go home early…
-
Tiga malam yang lalu, perjalanan ke jogja pun dimulai. Kali ini naik kereta api bisnis andalan, “Senja Utama”. Yup, KA bisnis emang jadi andalan karena kalau pake eksekutif, selain karena mahal, ac-nya itu lho.. dingin banget. Boro-boro tidur pules, mau napas aja susah.. Jadi KA eksekutif adalah pilihan terakhir kalo mau perjalanan antar jawa.
-
Tapi, hawa-hawa nggak hoki mulai kerasa ketika kami mendapatkan tiket Senja Solo, yang artinya harus berangkat lebih malam dibandingkan Senja Jogja. Alhasih, kami pun plongah-plongoh di stasiun sambil menggelar koran sebagai alas duduk. Mata yang sudah mulai mengantuk pun dipaksa melek.
-
Saat di ujung kantuk, datanglah sang kereta dan naiklah kami. Dan, kami baru nyadar, kalau nomer tempat duduk kami adalah 2C dan 2D, yang artinya, kami harus duduk menghadap tembok yang super sempit, sampai dengkul pun harus menyentuh dinding. Terpaksalah kami balik kursi sehingga menghadap ke belakang dan berahadapan dengan penumpang 3C dan 3D. Koran yang semula kami beli untuk digunakan sebagai alas tidur pun gagal digunakan. Batal pula lah rencana untuk tidur dengan formasi atas-bawah supaya bisa selonjor kaki. Yak, itulah tidur tak berkualitas no 1.
-
Malam berikutnya, sebetulnya kami berencana untuk pergi ke Maospati menjenguk ortu setelah acara pengajian. Tapi berhubung badan masih terasa pegel-pegel akhirnya rencana tersebut pun kami urungkan. Dudul-nya, bukannya istirahat, kami malah jalan-jalan ke pusat Jogja sampai jam 2 malam. Bagus… Akhirnya, kami pun melanjutkan tidur tak berkualitas no 2.
-
Dan malam berikutnya lagi, yaitu tadi malam, kami pun melakukan perjalanan balik ke Jakarta. Tidak lupa segala persiapan “tempat tidur” pun kami bawa, mulai dari koran bekas, tas yang diatur sedemikan rupa menyerupai bantal dan selimut tipis hasil comot dari rumah. Tempat duduk kami 2A dan 2B, yang notabene “aman” dari tembok. Tapi oh tapi… ternyata oh ternyata… begitu naik di gerbong kereta, posisi kursi 1A dan 1B sudah berbalik menghadap belakang, ke arah tempat duduk kami. Usut punya usut, ternyata ada dua pemudi (ga tau gadis atau ga ) yang sepertinya dapat tiket non-seat dan menempati area rongga antara dinding dan kursi 1A dan 1B.
-
Yaelah… jadi serba salah. Kalau mau balikin kursi ke posisi semula, artinya kami mengusir kedua pemudi tersebut. Tapi rasanya gimana ya, antara ga rela dan ga tega. Ga teganya, aku pernah beberapa kali dapet tiket non-seat. Dan ketika ada orang yang berbaik hati menyisihkan tempatnya supaya aku bisa numpang ndeprok di bawah, rasanya seneng banget…
-
Dan ga relanya, kok begitu caranya. Yang punya tiket pun bahkan belum datang, kok bisa-bisanya langsung diubah gitu aja. Tanpa rasa bersalah karena mengambil hak orang lain, dengan santainya mereka cekikikan di balik bangku. Bahkan sampai kami turun pun ga ada kata-kata permisi. Jadi, rasanya seperti disabotase. Apa iya, sopan santun dan etika sudah mulai ditinggalkan? Apa iya, pihak yang kurang beruntung berhak mendapatkan perilaku istimewa dari mereka yang lebih beruntung? Dan, apakah dibenarkan jika dilakukan dengan cara mengambil hak orang lain tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu?
-
Walhasil, kami pun terpaksa memupuskan harapan kami untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Jadi, yang paling kurindukan saat ini adalah kasur empuk, bantal dan guling (yang rada apek) serta selimut tebal di rumah. Wanna go home early…
June 15, 2011
Ular dan Tikus
“Surti… Lagi ngapain sih, tumben dari tadi megang hape mulu. Dah bosen maen leptop?” tanya Amira. Dengan mata tetap tertuju pada ponselnya, Surti menjawab “nggak.. Ini nih, game ini asik juga nih, Mir.” Amira yang penasaran segera menghampiri Surti, “emang game apaan, Sur?”
-
Nama-nya adalah game “Ular dan Tikus”. Jangan bayangkan bahwa ini adalah game ketangkasan jari tentang ular memakan tikus. Nama game ini diadaptasi dari permainan “Cow and Bull” yang mengandalkan perhitungan probabilitas dan algoritma iterasi.
-
Tujuan dari game “Ular dan Tikus” adalah menebak dengan tepat kode rahasia yang terdiri 4 digit angka yang berbeda. Jumlah tikus adalah banyaknya digit angka dari tebakan Anda yang benar, sedangkan jumlah ular adalah banyaknya angka yang benar dan menempati posisi yang tepat.
-
Kita ambil contoh sederhana:
Jika kode rahasia adalah 2135,
Dan Anda menebak 1234,
Maka tebakan Anda menghasilkan 3 Tikus (untuk angka 1, 2 dan 3) dan 1 Ular (untuk angka 3).
Dan tujuan Anda adalah menghasilkan 4 Tikus dan 4 Ular.
-
Anda dapat menebak berkali-kali, namun tantangannya adalah menebak dengan jumlah tebakan yang terkecil.
-
Untuk mendownload game ini klik di sini (JAR) , dan bagi yang berminat mengembangkan game ini klik di sini (RAR) untuk mendownload project file.
-
“Boleh juga tuh, Sur. Siapa yang bikin?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di ponsel, Surti membaca tulisan di layar ponselnya, “di sini sih tulisannya: belinih”
-
Nama-nya adalah game “Ular dan Tikus”. Jangan bayangkan bahwa ini adalah game ketangkasan jari tentang ular memakan tikus. Nama game ini diadaptasi dari permainan “Cow and Bull” yang mengandalkan perhitungan probabilitas dan algoritma iterasi.
-
Tujuan dari game “Ular dan Tikus” adalah menebak dengan tepat kode rahasia yang terdiri 4 digit angka yang berbeda. Jumlah tikus adalah banyaknya digit angka dari tebakan Anda yang benar, sedangkan jumlah ular adalah banyaknya angka yang benar dan menempati posisi yang tepat.
-
Kita ambil contoh sederhana:
Jika kode rahasia adalah 2135,
Dan Anda menebak 1234,
Maka tebakan Anda menghasilkan 3 Tikus (untuk angka 1, 2 dan 3) dan 1 Ular (untuk angka 3).
Dan tujuan Anda adalah menghasilkan 4 Tikus dan 4 Ular.
-
Anda dapat menebak berkali-kali, namun tantangannya adalah menebak dengan jumlah tebakan yang terkecil.
-
Untuk mendownload game ini klik di sini (JAR) , dan bagi yang berminat mengembangkan game ini klik di sini (RAR) untuk mendownload project file.
-
“Boleh juga tuh, Sur. Siapa yang bikin?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di ponsel, Surti membaca tulisan di layar ponselnya, “di sini sih tulisannya: belinih”
June 10, 2011
Google Doodle
Ada yang berbeda dengan mbah gugel pada tanggal 9 Juni 2011. Doodle-nya dibuat untuk mengenang ulang tahun Les Paul yang ke 96 ( i don’t even know who he is). Tampilannya keren euy… dengan menampilkan senar-senar gitar yang disusun dan membentuk logo Google. Yang bikin keren, senarnya bisa bunyi dan membentuk susunan nada pas kursor bergerak memetik senar. Dan yang kerennya lagi… pada tanggal 10 Juni 2011, mbah gugel tampil dengan lebih atraktif dan interaktif. Nada dari A sampe C bisa dimainin di keyboard dan bisa di-rekam pula. Lucu dah.. dan menurutku, doodle google yang ini doodle yang terbaik yang pernah dibikin google. Ohye, berikut ini beberapa rekaman ane:
http://goo.gl/doodle/G0nnj ”Ibu Kita Kartini”
http://goo.gl/doodle/En23o ”Cicak Cicak di Dinding”
http://goo.gl/doodle/QnafH ”Love Story”
http://goo.gl/doodle/vVBr6 ”Coca Cola”
http://goo.gl/doodle/G0nnj ”Ibu Kita Kartini”
http://goo.gl/doodle/En23o ”Cicak Cicak di Dinding”
http://goo.gl/doodle/QnafH ”Love Story”
http://goo.gl/doodle/vVBr6 ”Coca Cola”
Subscribe to:
Posts (Atom)