November 10, 2011

kasih tak sampai

Mengutip CEO Note terakhirnya Pak Dis sebagai dirut PLN, “malam itu, hati saya sangat galau”. Yeah, malam ini hatiku juga lagi galau. Harapanku untuk liburan pupus sudah. Persis seperti batalnya rencana liburan Pak Dis untuk jalan-jalan ke eropa.
-
Dua minggu lalu, misua mengijinkanku untuk pelesir ke DIY dan sekitarnya bareng temen-temen kantor. Tersusunlah sejumlah rencana. Mengajak temen-temen untuk nginep di rumah yang lagi kosong ngglondang, belanja ke malioboro, jalan-jalan ke pantai wonosari, menghabiskan pagi dengan berjalan mengelilingi waduk belakang rumah dan ke pasar beli gudeg. Sebuah panci Happycall buat mama pun sudah ditangan. Wuih… rasanya wajah Jogja sudah di depan mata.
-
Seminggu kemudian (minggu lalu), saat pulang kantor dengan santainya misua bilang kalo pada saat yang sama, akan ada Family Gathering. Dan.. buyar sudah semua bayangan yang ada di kepala. Wajah jogja tiba-tiba menjauh dan mengecil. Sempat agak gelo, soalnya udah bayangin segitu hebohnya perjalanan ke Jogja.
-
Tapi seiring dengan menjauhnya wajah Jogja, wajah Ancol pun semakin mendekat dan menawarkan beberapa paket yang tak kalah menggiurkan. Ke Dufan. Berhubung misua belum pernah ke sono, jadi bisa sedikit show off ke misua tentang sejumalah permainan wahana yang hampir pernah kunaiki semua :D Ke Bandar Jakarta. Tumben-tumbenan kan kita bisa makan berdua ke resto gede. Meskipun ntar bareng-bareng ama yang laen, yah.. anggap aja dinner berdua ;p. Dan….. yang paling ditunggu, menghabiskan malam yang romantis di hotel. kikikikiki….
-
Dannn….. untuk kedua kalinya, aku terpaksa harus merelakan rencana liburan. Kemarin, misua pergi ke kampung karena kakek meninggal. Yang artinya, rencana menghabiskan weekend pun buyar sudah. Dan aku pun terpaksa tertinggal di jakarta karena pekerjaan kantor yang menumpuk berkat partner yang lagi cuti.
-
Yah, seperti kata Pak Dis, malam itu hati saya sangat galau. Bukan saja malam itu, tapi malam ini, dan malam-malam berikutnya… sampai misua datang.
-
Well.. wish 4 the better vacation later…

November 03, 2011

Tips & Tricks: Konversi Format eBook

“Amirrr…!” Surti membuka pintu dengan penuh semangat. Amira yang sedang asyik membaca novel pun terkaget-kaget dan hampir saja novel yang dipegangnya terlempar. “Apaan sih, Sur… ” jawab Amira sedikit kesal. Tanpa menghiraukan kekesalan temannya itu, Surti segera memperlihatkan sesuatu yang dipegangnya kepada Amira. “Ini lho Mir… gua punya mainan baru. Nggak perlu lagi deh beli buku baru. Nggak perlu lagi menuh-menuhin rak dengan novel-novel. Ni gua punya eBook Reader. Buat baca buku nih, Mir. Nyari eBook kan sekarang banyak bertebaran di internet, gratis lagi…” jelas Surti dengan satu tarikan napas. “oo… gitu ya. Coba, lu punya buku apa?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di eReader yang ia punya, Surti pun menunjukkannya pada Amira.”Ini nih… gua ambil dari internet, trus gua simpen di word”. Amira pun dengan seksama memperhatikan tulisan di layar. “Kok tulisannya kecil-kecil gini sih Sur… nggak keliatan tau!”. Surti hanya bisa menggaruk-garukkan kepalanya. “iya ya…”

Apa format eBook favorit anda? Sebagian besar eReader saat ini telah mendukung hampir seluruh format eBook yang ada. Jika eReader anda tidak mendukung format tertentu, atau anda lebih menyukai suatu jenis format eBook, anda dapat mengubah format eBook yang anda punya menjadi format yang anda inginkan. Sebenarnya banyak software yang menawarkan fasilitas untuk mengkonversi beberapa jenis format eBook. Salah satu diantaranya adalah Calibre. Software ini mampu menkonversi ke dan dari hampir seluruh format eBook. Namun sebagai referensi, Calibre memilih format LIT, MOBI, EPUB, FB2, HTML, PRC, RTF, PDB, TXT, PDF sebagai format terbaik.

Format eBook yang paling banyak digemari saat ini adalah ePub. Keunggulan dari format ini adalah ukuran huruf yang bisa diperbesar atau diperkecil , namun dengan ukuran halaman yang sama dan mampu menyesuaikan bentuk dari perngkat yang digunakan. Dari segi ukuran file pun, ePub mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran TXT.

Berikut ini cara mengubah format eBook menggunakan Calibre
  1. Install Calibre. Software dapat diunduh di sini
  2. Buka Sorftware Calibre
  3. Klik “Add Books”. pilih file eBook yang ingin anda ubah. lalu klik open. akan tertampil list eBook yang anda buka di layar.
  4. Blok file-file yang ingin anda ubah
  5. Klik “Convert Books”. akan tertampil pengaturan output hasil konversi. di bagian pojok kanan atas, pilih format output yang anda inginkan. klik OK
  6. Tunggu beberapa saat selagi Calibre mengkonversi format sesuai yang anda inginkan. Proses konversi berlangsung ditandai dengan berputarnya lingkaran pada bagian pojok kanan bawah. Setelah lingkaran tersebut berhenti berputar, berarti hasil file yang anda konversi telah tersedia.
  7. Untuk membuka lokasi file, klik kanan file yang anda konversi, pilih “Open containing folder”

Namun tidak semua file ebook dapat anda konversi. Ebook dengan proteksi DRM (digital rights management) tidak akan mampu terbaca oleh Calibre. DRM ini adalah bentuk perlindungan terhadap pembajakan yang akan mengunci file sehingga hanya dapat dibuka oleh perangkat tertentu. Untuk membaca file yang memiliki DRM, anda harus menghilangkan DRM-nya terlebih dahulu. Ada beberapa software untuk menghilangkan DRM ini, salah satunya adalah Mobipocket DRM Removal (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MDR). Untuk melakukannya, anda harus menggunakannya bersama software Mobipocket Reader (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MR). Caranya:
  1. Buka MR lalu buka MDR
  2. Jika pada MDR, PID anda belum terdeteksi,periksa kembali di MR. Klik “Reading Device” > “Edit Properties” > copy PID anda yang tertampil, lalu paste pada kolom PID di MDR.
  3. Buka file eBook yang diinginkan
  4. Klik “Remove DRM”

“Amir.. liat nih… koleksi buku dan komik gua udah ribuan… gratis lagi” pamer Surti. Amira hanya menjawab pelan “hmm… emangnya lu mau baca semuanya tuh buku? satu buku aja kelarnya berbulan-bulan gitu…” Surti pun cuma bisa nyengir.

eBook Reader

Apa ada yang aneh? Saat orang lain mengidam-idamkan tablet, saya memimpikan eBook reader dengan layar hitam-putih. Yang dari segi harga, tidak jauh berbeda dengan tablet namun dengan fasilitas yang sangat terbatas.

anonim: “wah.. punya tablet nih?”
saya: “bukan tablet nih…!”
anonim: “apaan dong?”
saya: “eBook Reader. Buku”
anonim: “bisa buat apa aja?”
saya: “ya buat baca, enak bisa ditenteng-tenteng. layarnya itam putih pula, nggak capek kalo baca lama2 kayak di komputer.”
anonim: “bisa internetan juga?”
saya: “cuman cek imel doang, kalo pas ada wireless.”
anonim: “ooo….”
anonim lagi: “kenapa nggak beli tablet aja sekalian?”
………..dan begitulah seterusnya……..

Percakapan tersebut sering terjadi jika seorang teman yang mendapatkan saya sedang membaca dengan eBook reader. Agak susah menjelaskannya memang, berhubung jalan pikiran saya berbeda dengan kebanyakan orang. Kebanyakan orang akan berpikir, sangatlah menyenangkan memiliki tablet yang handy dan bisa digunakan untuk hampir semua fungsi yang bisa dilakukan oleh komputer. Bisa internet, game, baca+edit dokumen, foto, video, de-el-el. Sedangkan saya, adalah orang yang tidak begitu tertarik All-In-One gadget. Saya telah sangat nyaman menjelajahi dunia maya, main game, mengedit lagu atau membuat video de-el-el, dengan Axioo saya yang telah terinstall begitu macam software yang menarik.

Sampai suatu saat saya merasakan kesulitan saat harus membaca komik ataupun novel elektronik di layar komputer. Mata jadi cepet capek. Alhasil, saya pun mengidam-idamkan barang ini sejak 2 tahun lalu. Ebook Reader, dengan teknologi e-Ink yang menghasilkan citra hitam-putih dan sangat nyaman di mata.

Bahkan misua pun sempat melayangkan pandangan aneh saat saya malu-malu kucing untuk minta dibelikan eBook reader di suatu pameran buku.

misua: “beneran, mau ini?”
saya: *mengangguk*
misua: “hitam putih?”
saya: *mengangguk lagi*
saya lagi: “biar enak buat baca, mata jadi nggak cepet capek”
misua: *terdiam sebentar*
misua lagi: “ya sudah, kalo emang pengen”
berdua: *terdiam*
misua lagi: “yakin nih?”
saya: “HO’OH!”
misua: *nyengir*

Alhasil, terbelilah eReader impian. meskipun tidak setenar Kindle atau Sony PRS atau Onyx Boox, pilihan jatuh pada iRiver buatan korea. Alasannya? jelas, harga lebih murah dari ketiga merek tenar diatas. Dan meskipun tidak setenar tablet, gadget ini telah sukses membuat saya diberi title aut*s oleh misua. Yeah, i love this gadget!

Tips & Tricks: Konversi Format eBook

“Amirrr…!” Surti membuka pintu dengan penuh semangat. Amira yang sedang asyik membaca novel pun terkaget-kaget dan hampir saja novel yang dipegangnya terlempar. “Apaan sih, Sur… ” jawab Amira sedikit kesal. Tanpa menghiraukan kekesalan temannya itu, Surti segera memperlihatkan sesuatu yang dipegangnya kepada Amira. “Ini lho Mir… gua punya mainan baru. Nggak perlu lagi deh beli buku baru. Nggak perlu lagi menuh-menuhin rak dengan novel-novel. Ni gua punya eBook Reader. Buat baca buku nih, Mir. Nyari eBook kan sekarang banyak bertebaran di internet, gratis lagi…” jelas Surti dengan satu tarikan napas. “oo… gitu ya. Coba, lu punya buku apa?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di eReader yang ia punya, Surti pun menunjukkannya pada Amira.”Ini nih… gua ambil dari internet, trus gua simpen di word”. Amira pun dengan seksama memperhatikan tulisan di layar. “Kok tulisannya kecil-kecil gini sih Sur… nggak keliatan tau!”. Surti hanya bisa menggaruk-garukkan kepalanya. “iya ya…”
-
Apa format eBook favorit anda? Sebagian besar eReader saat ini telah mendukung hampir seluruh format eBook yang ada. Jika eReader anda tidak mendukung format tertentu, atau anda lebih menyukai suatu jenis format eBook, anda dapat mengubah format eBook yang anda punya menjadi format yang anda inginkan. Sebenarnya banyak software yang menawarkan fasilitas untuk mengkonversi beberapa jenis format eBook. Salah satu diantaranya adalah Calibre. Software ini mampu menkonversi ke dan dari hampir seluruh format eBook. Namun sebagai referensi, Calibre memilih format LIT, MOBI, EPUB, FB2, HTML, PRC, RTF, PDB, TXT, PDF sebagai format terbaik.
-
Format eBook yang paling banyak digemari saat ini adalah ePub. Keunggulan dari format ini adalah ukuran huruf yang bisa diperbesar atau diperkecil , namun dengan ukuran halaman yang sama dan mampu menyesuaikan bentuk dari perngkat yang digunakan. Dari segi ukuran file pun, ePub mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran TXT.
-
Berikut ini cara mengubah format eBook menggunakan Calibre
  1. Install Calibre. Software dapat diunduh di sini
  2. Buka Sorftware Calibre
  3. Klik “Add Books”. pilih file eBook yang ingin anda ubah. lalu klik open. akan tertampil list eBook yang anda buka di layar.
  4. Blok file-file yang ingin anda ubah
  5. Klik “Convert Books”. akan tertampil pengaturan output hasil konversi. di bagian pojok kanan atas, pilih format output yang anda inginkan. klik OK
  6. Tunggu beberapa saat selagi Calibre mengkonversi format sesuai yang anda inginkan. Proses konversi berlangsung ditandai dengan berputarnya lingkaran pada bagian pojok kanan bawah. Setelah lingkaran tersebut berhenti berputar, berarti hasil file yang anda konversi telah tersedia.
  7. Untuk membuka lokasi file, klik kanan file yang anda konversi, pilih “Open containing folder”
Namun tidak semua file ebook dapat anda konversi. Ebook dengan proteksi DRM (digital rights management) tidak akan mampu terbaca oleh Calibre. DRM ini adalah bentuk perlindungan terhadap pembajakan yang akan mengunci file sehingga hanya dapat dibuka oleh perangkat tertentu. Untuk membaca file yang memiliki DRM, anda harus menghilangkan DRM-nya terlebih dahulu. Ada beberapa software untuk menghilangkan DRM ini, salah satunya adalah Mobipocket DRM Removal (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MDR). Untuk melakukannya, anda harus menggunakannya bersama software Mobipocket Reader (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MR). Caranya:
  1. Buka MR lalu buka MDR
  2. Jika pada MDR, PID anda belum terdeteksi,periksa kembali di MR. Klik “Reading Device” > “Edit Properties” > copy PID anda yang tertampil, lalu paste pada kolom PID di MDR.
  3. Buka file eBook yang diinginkan
  4. Klik “Remove DRM”
“Amir.. liat nih… koleksi buku dan komik gua udah ribuan… gratis lagi” pamer Surti. Amira hanya menjawab pelan “hmm… emangnya lu mau baca semuanya tuh buku? satu buku aja kelarnya berbulan-bulan gitu…” Surti pun cuma bisa nyengir.

October 08, 2011

Road to our little – Step 4 – HSG

Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.

Tes HSG ( HisteroSalfingoGrafi). Ada yang bilang ditiup/tiup rahim, ada juga yang bilang rontgen rahim. Awalnya sih saya nggak ngerti apa dan bagaimana tes HSG ini. Tapi setelah browsing-browsing di inet, menemukan artikel ini:

Pada pasangan yang infertil (tidak subur), sering dilakukan pemeriksaan yang dinamakan HSG (Histero-salpingo-grafi). HSG dilakukan guna mendeteksi kondisi rahim dan saluran indung telur. HSG mempergunakan sinar X dan cairan khusus yang memberikan reaksi warna putih jika di beri sinar X, sehingga akan “tercetak” bentuk rahim dan saluran indung telur (tuba). Sehingga dokter dapat menentukan ada tidaknya kerusakan atau sumbatan pada saluran reproduksi dimaksud. sumber

Tapi yang membuatku sedikit deg-deg-an adalah pada bagian ini:

Dimasukkan spekulum untuk memperlihatkan mulut leher rahim.
Kateter kecil lalu dimasukkan ke dalam rahim melalui liang leher rahim.
Zat pewarna rontgen lalu dimasukkan perlahan2 ke dalam rahim lewat kateter.

Hiyy… bayangin, sesuatu dimasukkan ke dalam tubuh kita. Yang jelas, pasti rasanya berbeda dengan USG Transvagina. Apalagi ngeliat testimoni para blogger yang pernah melakukan tes HSG ini. Ada yang bilang sakit banget, ada yang bilang sakit biasa. Tapi ada juga yang bilang nggak sakit. Ah, untuk yang terakhir pasti hanya testimoni yang memberi keberanian pada mereka yang akan menjalani tes HSG.

Pada hari kedua menstruasi, saya pun segera menghubungi bagian radiologi RS Haji. Saya pun dijadwalkan untuk melakukan tes HSG pada hari ke-11, yaitu hari Jum’at. Ketika hal ini saya infokan ke suami, ternyata suami nggak bisa nemenin, karena pas dia jadi juri buat lomba karya inovasi…. Hiks…. Sedihnya hati ini… Gelisah tak menentu… (halah, lebay). Untungnya mbakku bersedia nemenin.

Malam sebelum hari-H, keberanianku sempat menciut dan berfikir untuk mundur saja. Apalagi sang suami sedang tidak ada di samping. Tapi dengan bismillah, akhirnya tekadku pun bulat kembali. Pagi harinya, sepanjang perjalan, tak sedikitpun keinginan untuk mundur ataupun rasa takut muncul. Anehnya, malah terngiang-ngiang musiknya Beethoven yang “symphony no7″, dengan irama yang menghentak-hentak . Entahlahlah, hati ini tampak sedang bersemangat sekali menanti serangkaian tes di hadapan.

Kami tiba di lab radiologi pukul 9.45. Berkat mbak yang menemani, tak terasa nama saya akhirnya dipanggil juga pada pukul 11.15. Jantung mulai berdegup lebih kencang, saat memasuki ruang radiologi. Pertama saya disuruh untuk mengosongkan kandung kemih alias pipis, lalu berganti pakaian khusus pasien. Kemudian saya diminta untuk berbaring sembari sang petugas membetulkan letak peralatan yang akan digunakan untuk mengambil foto rontgen. Setelah itu saya pun diminta untuk duduk kembali dan meninggalkan saya sendiri untuk memanggil si dokter radiologi. Pada saat itu saya dihadapkan pada beberapa peralatan yang tergeletak di meja di samping saya. Ada selang, penjepit, alat suntik dengan maupun tanpa jarum, dan juga mangkok kecil yang berisi air berwarna merah kecoklatan. Berkat berburu informasi dari internet, saya sudah bisa membayangkan fungsi dari masing-masing alat.

Setelah beberapa saat, sang petugas kembali lagi, “Bu, tunggu sebentar ya, dokternya lagi ada USG.” Yeah… nggak papa lah… Dan selama waktu menunggu pun, musik Beethoven “symphony no7″ pun kembali terngiang-ngiang. Kali ini intro movement no.4. Halah… ini sih namanya korban Nodame Cantabile.

Lebih dari seperempat jam saya menunggu, akhirnya bu dokter datang juga. Dengan singkat bu dokter memberikan penjelasan dan menjelaskan bahwa reaksi dari tes HSG ini memang berbeda-beda pada tiap orang. Saya pun hanya mengangguk. Kali ini saya disuruh duduk di ujung meja, lalu berbaring dengan kaki berpijak di pinggir meja pula, kalo istilah jowone “ngangkang”.

Seperti yang pernah dijabarkan di situs, saya merasakan tiap langkah yang dilakukan. Pada saat spekulum dimasukkan melalui mulut rahim, saya sempat kaget, dan bu dokter meminta saya untuk relaks saja. Saya pun mencoba untuk lebih me-relaks-kan diri lagi. Setelah Spekulum terpasang, saya merasakan sesuatu bergerak ke dalam rahim saya. Ya, kateter mulai dimasukkan dan rasa mulas mulai terasa. Beberapa saat kemudian saya merasakan sesuatu mengaliri perut bagian bawah saya, dan rasanya nyeri. Seperti nyeri ketika sedang haid hari pertama, hanya saja bagi saya yang tidak pernah merasakan nyeri yang berlebihan pada hari pertama, rasanya tetap lebih menyakitkan dibandingkan nyeri haid. Bu dokter pun meminta saya untuk mengambil nafas teratur. Tarik nafas dari hidung, hembuskan lewat mulut.

Setelah bu dokter selesai memasukkan cairan ke tubuhku, saya diminta untuk mundur dan berbaring dengan kaki lurus. Dengan menahan rasa sakit, saya pun melakukan apa yang diinstruksikan. Lalu saya merasakan papan rontgen yang saya tiduri mulai bergerak miring sehingga posisi kepala berada lebih bawah dibandingkan dengan kaki. Sampai dengan tahap ini, rasa nyeri sudah berkurang, hanya terasa penuh di perut. Setelah beberapa saat, papan rontgen mulai kembali ke posisi semula, dan saya pun diminta untuk miring ke kiri sejenak lalu miring ke kanan untuk difoto. Sampai dengan pemotretan yang terakhir, rasa sakit pun sudah hilang. Saat bu dokter mempersilakan untuk tetap berbaring sampai rasa sakit saya hilang, saya hanya tersenyum dan berkata bahwa sudah tidak terasa sakit lagi. Saya pun dipersilakan turun dan berganti baju. Seperti yang dianjurkan oleh pada sebuah blog yang pernah kukunjungi, saya pun memakai pembalut agar sisa cairan rontgen tertampung di pembalut.

Secara keseluruhan, proses tes tidaklah lama. Mungkin hanya sekitar 5-10 menit. Dan rasa sakit yang dialami saat tes pun hanya sebentar. Well… I did it!! Alhamdulillah…

Karena waktu telah menunjukkan pukul 11.45, saya dan mbak pun memutuskan untuk mencari makanan di kantin sembari menunggu hasil tes keluar. Pukul 12.30, kami kembali lagi ke lab radiologi untuk mengambil hasil test, namun ternyata hasil tersebut belum keluar, Terpaksa kami menunggu kembali. Pada tahap ini, rasa nyeri mulai menyerang kembali. Nah, sakit yang ini yang lebih menyakitkan daripada sakit yang saya rasakan pada saat tes. Mungkin karena intervalnya yang lebih lama. Sempat berpikir juga untuk pulang saja dan mengambil hasil tes pada malam harinya. Namun tak beberapa lama kemudian si petugas pun memanggil namaku. Ajaibnya, saat berjalan menuju tempat pengambilan hasil rontgen, rasa sakit yang baru saja saya rasakan sedikit demi sedikit mulai berkurang. Terlebih saat saya membuka hasil lab: “Bentuk normal dan besar. Tuba faloppi patent.”

Alhamdulillah…

Kami pun segera pulang untuk menghindari datangnya rasa sakit susulan. Kali ini selama perjalanan yang terngiang-ngiang adalah musiknya Gershwin yang “Rhapsody In Blue”, dengan irama yang kocak dan ceria. Haha… ya.. saya lagi bahagia…

So far so good… Ready 4 the next step…

October 06, 2011

Balada Jembatan Jejadian

Waktu SD, aku sering diajak jalan-jalan naik mobil ama Bapak ke Mempawah, ke Sebrang, ke Sanggau, de el el. Kadang-kadang liburan, sering juga diajak sekalian pas Bapak lagi tugas. Tip mobil waktu itu masih oke bangets. Lagu yang paling kuinget waktu itu lagu-lagu-nya Arie Wibowo (The Bill & Brod): “Madu dan Racun”, “Singkong dan Keju (Anak Singkong)”

Pernah suatu waktu, saat pulang dari Sanggau, rasanya seperti terkena serangan mabuk darat. Mas Hendro di samping berisik nyanyi-nyanyi terus. Aku cuma bisa diam memandang satu per satu pohon yang terlewati. Lalu mobil berbelok, keluar dari jalan raya. Katanya Pak Sopir sih pengen ngambil jalan alternatif yang baru. Kondisi jalannya bagus, sepertinya baru di-aspal. Tapi ada yang ganjil. Sepanjang perjalanan, tak satu pun mobil lain yang melintas. Ketegangan mulai terasa setelah jalan yang kami lewati sudah menyempit dan tidak tertutup aspal. Meskipun kondisi jalan seperti ini bertebaran di Kalimanatan, aku tetap saja nggak bisa tenang. Dengan tebing di sebelah kiri, jurang di sebelah kanan, dan turunan yang tak kunjung landai. Apa iya semua jalan di kalimanatan seperti ini, pikirku.

oh mi got….. Aku yang tadinya duduk ngelendot di samping pintu, kini mengambil posisi duduk siap ala anak SD di kelas. Mataku yang tadinya teruju ke jendela samping, kini mengikuti arah pandangan Pak Sopir sambil berharap ada seberkas harapan di depan sana. Tapi bukannya asa yang kudapat tapi pemandangan yang lebih mencengangkan. Samar-samar dari kejauhan terlihat sebuah jembatan, tepatnya setengah jembatan. OMIGOT… itu jembatan belum jadi!!! alamak… gimane lah ni… jalannye sempit, gimane lah mobilnye bise balek… begitulah kira-kira bahasa Pontianak-nya.

Pak Sopir akhirnya menghentikan mobilnya tepat sebelum belokan. Dengan memasukkan rem tangan dan ngganjal roda dengan batu, Pak Sopir pun berjalan meninggalkan kami sambil menitipkan harapan yang lain. Ia berharap belokan yang akan kami lewati tidak menuju ke jembatan jejadian itu. Rasanya seperti setahun sejak terakhir kali aku liat punngung Pak Sopir dari ujung belokan itu sampai akhirnya ia kembali dengan wajah yang tanpa ekspresi. Setelah sampai di mobil, dia berkata pelan “Kita putar balik, Pak”. Kyaaaaa…..! bener kannn…..!

Aku cuma bisa pasrah dan berharap perhitungan Pak Sopir dalam mengamabil manuver kali ini benar-benar presisi. Yang jelas, faktanya aku nggak bakalan bisa nulis ini kalo perhitungan Pak Sopir itu salah. Yeah, ternyata kemampuan Pak Sopir dalam menguasai mobil patut diberi acungan jempol. Kalo jaman dulu udah ada pesbuk mungkin udah tak kasih “Like”. Dan ajaibnya, serangan mabok darat yang tadinya lagi gencar-gencarnya jadi ilang begitu aja. Mungkin karena ketutupan ama serangan shock kali ya…

Ngemeng-ngemeng, apa kabar jembatan setengah jadi itu ya. Pasti sekarang udah jadi. Apa malah udah ambrol?

September 26, 2011

Road to our little – Step 3 – Sperma Analysys, TORCH

Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.

Pada konsultasi sebelumnya, dr. Muharram berpesan agar tidak melakukan hubungan selama 3 hari sebelum melakukan tes analisa sperma. Kebetulan, besok adalah hari ketiga, jadi kami memutuskan untuk segera melakukan tes ke RSIA Sayyidah, seperti yang dianjurkan pak dokter. Pas suami saya tanya, ” Memangnya kenapa, Dok? di RS sini nggak bisa?”. Si dokter menjawab, ” Nggak enak di sini, di kamar mandi, becek. hehehe.” O… Kami baru ngeh… Sebenarnya pak dokter merujuk untuk ke RSCM, tapi berhubung lokasinya yang lumayan jauh, kami pun dianjurkan untuk ke RSIA Sayyidah di daerah Pondok Kelapa.

Keesokan harinya, kami pun tiba di RSIA Sayyidah pada pukul 10.00. Seperti yang kuduga sebelumnya, nama dr. Muharram terpampang di daftar jadwal praktek dokter. Weleh… ni dokter, banyak amat buka prakteknya. Dan seperti yang digambarkan oleh pak dokter, RSIA ini menyediakan fasilitas kamar yang cukup nyaman. Dan, setelah itu kami *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor*. hehehehe…
Darah saya pun diambil untuk sample pengujian TORCH.

Seminggu kemudian, tibalah saatnya untuk mengambil hasil test. Deg-deg-an juga, berubung ini test pertama kami di lab. Segera setelah kami terima lembaran jasil test, saya dan suami membaca hasilnya satu persatu. Agak kaget juga melihat ada tanda positif di kolom Rubella dan CMV. Tapi entah mengapa, saya tidak sedikitpun merasa khawatir. Dan benar saja, setelah sedikit browsing di inet, ada informasi yang memberikan pencerahan

3. Bila IgG Positif dan IgM Negatif :
Anda telah terinfeksi lebih dari setahun yang lalu. Saat ini anda mungkin telah mengembangkan kekebalan terhadap parasit itu.
Anda tidak perlu khawatir untuk hamil. sumber

Jadi, karena Rubella dan CMV saya Igg (+) dan Igm (-), saya pernah terinfeksi di masa lampau, dan badan saya telah memiliki antibodi terhadap kedua virus tersebut.

Sedangkan hasil analisis sperma semuanya juga normal. Memang ada komentar bahwa terjadi autoaglutinasi, tapi di bagian kesimpulan tertulis : “kemungkinan untuk kehamilan normal: besar”.

Yah… Secara garis besar, kedua tes ini sudah kami lewati dan hasilnya normal… Alhamdulillah…
Jadi, saatnya bersiap untuk ujian berikutnya…

September 25, 2011

Road to our little – Step 2 – USG TransV

Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.

Ah, setelah sekian lama tertunda, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berkonsultasi kembali ke dokter mengenai program bayi yang ingin kami jalankan. Kali ini tema yang kami gunakan adalah “Rumah Sakit Terdekat”, dan terpilihlah RS. Haji. Berangkatlah kami ke sana, namun kali ini dengan kualifikasi yang berbeda. Tak ada lagi syarat “dokter wanita”, yang ada hanya “dokter berpengalaman”. Setibanya di meja pendaftaran, saya bertanya kepada sang petugas, “dokter yang biasa menangani program bayi siapa ya, mbak?”. Aha, harusnya pertanyaan ini yang kusampaikan saat “step pertama” dulu. Si mbaknya pun tanpa ragu menyebutkan sebuah nama, “dr. Muharram, Bu. Cuman, prakteknya nanti malam.” Okelah, saya pun mendaftar untuk berkonsultasi ke dr. Muharram. “Habis maghrib ya, Bu,” kata mbaknya mengingatkan kembali.

Segera setelah kami menunaikan Sholat Maghrib, kami pun berangkat menuju rumah sakit kembali. Sesampainya di ruang tunggu, sang perawat memberi tahu bahwa sang dokter akan datang jam 8 malam. Wow, jam 8 baru mulai, lalu kapan kelarnya? Kami pun dengan sabar menunggu sampai akhirnya sang dokter datang 1 jam setelah jam 8 malam, alias jam 9 malam! Saat itu kondisi antrian lumayang panjang. Untungnya, karena saya sudah mendaftar pagi tadi, saya mendapat nomer urut 4. Nomer 4! Saya hanya bisa bertanya-tanya, lalu kapan si nomer 1, 2 dan 3 itu mendaftar? Ah, need to mention too, none of them are seemingly pregnant.

Saat namaku dipanggil, saya bersama suami pun memasuki ruangan. Di sanalah sang dokter duduk dengan mata yang tampak sedikit mengantuk. “maaf ya bu, tadi banyak pasien yang minta program bayi tabung”. Owh… si dokter ini, tampaknya sedang ingin melakukan promosi colongan. Well, it’s OK.

Setelah sedikit berdiskusi, saya pun diminta untuk melakukan USG. Kali ini USG Transvagina.

Pemeriksaan USG Transvaginal (melalui “miss v”) merupakan suatu metode pencitraan pada organ genitalia wanita dimana sebuah pemindai dimasukan ke dalam “miss v”. Pemindai dimasukan ke dalam rongga “miss v” untuk melihat struktur pelvis (rongga panggul), sementara gambaran ultrasound terlihat di monitor. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memngevaluasi pada wanita dengan masalah infertilitas, perdarahan yang abnormal, utnuk mencari penyebab nyeri yang tidak jelas pada organ genital, malformasi kongenital pada uterus (rahim) dan ovarium, kemungkinan tumor dan infeksi, dan pada kehamilan. sumber (dengan sedikit edit-an)

Saya pun diminta sang perawat (wanita) untuk melepas celana dan celana dalam. Setelah terlepas, saya pun diminta untuk berbaring dan dengan posisi terlentang dengan lutut tertekuk. Sang perawat terlihat mengoleskan sesuatu pada alat yang dipegangnya. Alat itu bagiku berbentuk sperti es krim hula-hula dari campina (halah… makanan terus yang kepikiran). Sang perawat pun memintaku untk relaks sembari memasukkan alat itu ke “miss v”-ku. Setelah alat itu ter-plug di tubuhku (kayak kabel aja), sekarang giliran sang dokter yang memegang alat itu sambil menatap layar monitor hitam-putih di hadapannya. Katanya, “Bagus”. Alhamdulillah…

Di akhir konsultasi, sang dokter memberiku sejumlah lembar rekomendasi test yang harus kami lakukan, yaitu: Sperma Analysys, TORCH, dan HSG. Sejauh ini, kami merasa cocok dengan dr. Muharram, karena dokter ini mengerti kebutuhan kami dan tidak semena-mena memberikan obat-obatan sebelum melakukan analisis terhadap hasil test. Ohya, setelah sedikit searching di inet tentang dr. Muharram, ternyata beliau juga adalah dokter di Klinik Yasmin RSCM dan spesifik di bidang fertilitas. Yahh… Semoga saja penilaian kami ini benar adanya.

Nambah dikit tentang USG Transvaginal:

PCO (Polycystik Ovarii) bisa dideteksi dengan pemeriksaan USG Transvaginal. Sedangkan jika disertai dengan gejala lain, seperti haid jarang (dengan darah sedikit/bercak, bahkan tidak haid), ada gejala tingginya hormon pria/hiperandrogen (berbulu, berkumis, berjerawat, dll), dan kadar gula cenderung meningkat, maka disebut PCOS (Polycystic Ovarii Syndrome). sumber (dengan sedikit editan)

Mungkin gara-gara si dokter melihat perawakan saya yang berkumis-tipis-nggemesin-mirip-iis-dahlia, bertebaran-jerawat-di-wajah dan agak-gendut-di-daerah-perut, beliau langsung memberikan analisa awal bahwa saya kemungkinan adalah korban PCOS. Hehe… karena pengalaman kali ya, Dok?

September 21, 2011

IBK… aku mau makan nasi!!

Berawal dari membaca notesnya putri palupi tentang homeschooling tadi pagi. Ada satu topik yang menarik minatku dan tampak tak asing.
Ohya… Kak Seto itu bener-bener entertainer.
Ada  seorang pemain organ yang selalu mengiringi setiap kata kak Seto, dengan iringan musik, backsound yg relevan. Jadi, seluruh presentasi itu layaknya sebuah drama tanpa jeda.
Ada slide-slide yg dibuat khusus buwat Kak Seto. atau khusus dibuwat Kak Seto. lucu,kocak, menghanyutkan.
Kita semua diajarin untuk  nyanyi dan mengarang lagu. dipancing dengan 2 baris lirik pertama, trus kita diminta untuk menyanyikan baris lirik selanjutnya dengan nada sendiri. happy banget,deh. Dan ini sudah lebih dulu dipraktekkan Mbak Lala di rumahinspirasi.com, dengan mencipta 30 lagu dalam 30 hari untuk anak2. So, slamat tinggal lagu dewasa yang nggak banget,yahhhh….
Tiba-tiba pikiranku melayang ke mimpi tadi malam. Masih tampak jelas di ingatanku, ada dua anak kembar berumur sekitar 5 tahun. Potongan rambutnya sama, namun akan sangat mudah untuk membedakan mana yang laki-laki, dan mana yang perempuan. Keduanya duduk di sofa, menyanyikan lagu dengan nada yang familiar namun sedikit janggal. Tampaknya lagu yang mereka nyanyikan adalah potongan-potongan dari beberapa lagu yang berbeda. Lirik yang mereka gunakan pun sama anehnya. Seperti dikarang sekenanya dan terdengar sedikit “maksa”. Namun kedua anak itu menyanyikannya dengan sangat fasih, bahkan mereka dapat memberikan sentuhan dinamika yang berbeda pada beberapa bagian. Luar biasa. Ada barisan lirik yang masih terkunci di ingatanku, yaitu “IBK, aku mau makan nasi!!” . Lirik tersebut dinyanyikan pada bagian akhir lagu. Dan kemudian kedua anak kembar tersebut berhamburan ke arah ibu mereka.
.
IBK??? apa maksudnya IBK?? yang kutangkap sampai saat ini, IBK adalah singkatan dari IBuKu. Lagu yang aneh…
.
Yah, setelah membaca notesnya mbak putri, saya jadi menghubung-hubungkannya dengan mimpiku semalam. Mungkin kedua anak itu telah mempraktekkan seperti apa yang kak seto contohkan. Haha.. korelasi yang sangat “maksa”. Toh pada saat saya mimpi, saya bahkan belum tahu tentang seminarnya kak seto… Tapi, itu ide yang bagus juga… Mungkin saya akan mempraktekkannya suatu saat :)
.
Oh, ya, saya ngomong-ngomong tentang kegiatan bersama orangtua-anak, saya juga terinspirasi dengan kisah nyatanya mbak ridha yang tertulis di notesnya “Bukan Dongeng”. Dan saya juga sangat ingin mempraktekkannya suatu saat :)

September 20, 2011

really something

“Alhamdulillah ya… sesuatu banget” kata-kata yang lagi ngetrend saat ini. Agak menggelitik telinga ketika kalimat ini terdengar di telinga.
Alhamdulillah, artinya adalah Pujian Hanya Untuk Allah, yang merupakan ungkapan syukur dan terimakasih atas karunia Allah.
Sesuatu banget = benar-benar sesuatu ??? menurut sepengtahuan saya, frasa ini tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia.
But wait, let us use it in English…
Benar-benar sesuatu = really something. Yang artinya adalah…
some·thing   [suhm-thing]
pronoun
  1. some thing; a certain undetermined or unspecified thing: Something is wrong there. Something’s happening.
  2. an additional amount, as of cents or minutes, that is unknown, unspecified, or forgotten: He charged me ten something for the hat. Our train gets in at two something.
noun
  1. Informal . a person or thing of some value or consequence: He is really something! This writer has something to say and she says it well.
sumber : http://dictionary.reference.com/browse/something
Terdengar sangat familiar kan…
Entah dari mana artis kita mendapatkan ide untuk mengartikannya secara mentah-mentah ke dalam Bahasa.. Yang akhirnya, agak lucu jika digunakan dalam Bahasa Indonesia. Tapi mungkin berkat artis kita inilah, perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia jadi bertambah lagi :D