September 26, 2011

Road to our little – Step 3 – Sperma Analysys, TORCH

Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.

Pada konsultasi sebelumnya, dr. Muharram berpesan agar tidak melakukan hubungan selama 3 hari sebelum melakukan tes analisa sperma. Kebetulan, besok adalah hari ketiga, jadi kami memutuskan untuk segera melakukan tes ke RSIA Sayyidah, seperti yang dianjurkan pak dokter. Pas suami saya tanya, ” Memangnya kenapa, Dok? di RS sini nggak bisa?”. Si dokter menjawab, ” Nggak enak di sini, di kamar mandi, becek. hehehe.” O… Kami baru ngeh… Sebenarnya pak dokter merujuk untuk ke RSCM, tapi berhubung lokasinya yang lumayan jauh, kami pun dianjurkan untuk ke RSIA Sayyidah di daerah Pondok Kelapa.

Keesokan harinya, kami pun tiba di RSIA Sayyidah pada pukul 10.00. Seperti yang kuduga sebelumnya, nama dr. Muharram terpampang di daftar jadwal praktek dokter. Weleh… ni dokter, banyak amat buka prakteknya. Dan seperti yang digambarkan oleh pak dokter, RSIA ini menyediakan fasilitas kamar yang cukup nyaman. Dan, setelah itu kami *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor* *sensor*. hehehehe…
Darah saya pun diambil untuk sample pengujian TORCH.

Seminggu kemudian, tibalah saatnya untuk mengambil hasil test. Deg-deg-an juga, berubung ini test pertama kami di lab. Segera setelah kami terima lembaran jasil test, saya dan suami membaca hasilnya satu persatu. Agak kaget juga melihat ada tanda positif di kolom Rubella dan CMV. Tapi entah mengapa, saya tidak sedikitpun merasa khawatir. Dan benar saja, setelah sedikit browsing di inet, ada informasi yang memberikan pencerahan

3. Bila IgG Positif dan IgM Negatif :
Anda telah terinfeksi lebih dari setahun yang lalu. Saat ini anda mungkin telah mengembangkan kekebalan terhadap parasit itu.
Anda tidak perlu khawatir untuk hamil. sumber

Jadi, karena Rubella dan CMV saya Igg (+) dan Igm (-), saya pernah terinfeksi di masa lampau, dan badan saya telah memiliki antibodi terhadap kedua virus tersebut.

Sedangkan hasil analisis sperma semuanya juga normal. Memang ada komentar bahwa terjadi autoaglutinasi, tapi di bagian kesimpulan tertulis : “kemungkinan untuk kehamilan normal: besar”.

Yah… Secara garis besar, kedua tes ini sudah kami lewati dan hasilnya normal… Alhamdulillah…
Jadi, saatnya bersiap untuk ujian berikutnya…

September 25, 2011

Road to our little – Step 2 – USG TransV

Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.

Ah, setelah sekian lama tertunda, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berkonsultasi kembali ke dokter mengenai program bayi yang ingin kami jalankan. Kali ini tema yang kami gunakan adalah “Rumah Sakit Terdekat”, dan terpilihlah RS. Haji. Berangkatlah kami ke sana, namun kali ini dengan kualifikasi yang berbeda. Tak ada lagi syarat “dokter wanita”, yang ada hanya “dokter berpengalaman”. Setibanya di meja pendaftaran, saya bertanya kepada sang petugas, “dokter yang biasa menangani program bayi siapa ya, mbak?”. Aha, harusnya pertanyaan ini yang kusampaikan saat “step pertama” dulu. Si mbaknya pun tanpa ragu menyebutkan sebuah nama, “dr. Muharram, Bu. Cuman, prakteknya nanti malam.” Okelah, saya pun mendaftar untuk berkonsultasi ke dr. Muharram. “Habis maghrib ya, Bu,” kata mbaknya mengingatkan kembali.

Segera setelah kami menunaikan Sholat Maghrib, kami pun berangkat menuju rumah sakit kembali. Sesampainya di ruang tunggu, sang perawat memberi tahu bahwa sang dokter akan datang jam 8 malam. Wow, jam 8 baru mulai, lalu kapan kelarnya? Kami pun dengan sabar menunggu sampai akhirnya sang dokter datang 1 jam setelah jam 8 malam, alias jam 9 malam! Saat itu kondisi antrian lumayang panjang. Untungnya, karena saya sudah mendaftar pagi tadi, saya mendapat nomer urut 4. Nomer 4! Saya hanya bisa bertanya-tanya, lalu kapan si nomer 1, 2 dan 3 itu mendaftar? Ah, need to mention too, none of them are seemingly pregnant.

Saat namaku dipanggil, saya bersama suami pun memasuki ruangan. Di sanalah sang dokter duduk dengan mata yang tampak sedikit mengantuk. “maaf ya bu, tadi banyak pasien yang minta program bayi tabung”. Owh… si dokter ini, tampaknya sedang ingin melakukan promosi colongan. Well, it’s OK.

Setelah sedikit berdiskusi, saya pun diminta untuk melakukan USG. Kali ini USG Transvagina.

Pemeriksaan USG Transvaginal (melalui “miss v”) merupakan suatu metode pencitraan pada organ genitalia wanita dimana sebuah pemindai dimasukan ke dalam “miss v”. Pemindai dimasukan ke dalam rongga “miss v” untuk melihat struktur pelvis (rongga panggul), sementara gambaran ultrasound terlihat di monitor. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memngevaluasi pada wanita dengan masalah infertilitas, perdarahan yang abnormal, utnuk mencari penyebab nyeri yang tidak jelas pada organ genital, malformasi kongenital pada uterus (rahim) dan ovarium, kemungkinan tumor dan infeksi, dan pada kehamilan. sumber (dengan sedikit edit-an)

Saya pun diminta sang perawat (wanita) untuk melepas celana dan celana dalam. Setelah terlepas, saya pun diminta untuk berbaring dan dengan posisi terlentang dengan lutut tertekuk. Sang perawat terlihat mengoleskan sesuatu pada alat yang dipegangnya. Alat itu bagiku berbentuk sperti es krim hula-hula dari campina (halah… makanan terus yang kepikiran). Sang perawat pun memintaku untk relaks sembari memasukkan alat itu ke “miss v”-ku. Setelah alat itu ter-plug di tubuhku (kayak kabel aja), sekarang giliran sang dokter yang memegang alat itu sambil menatap layar monitor hitam-putih di hadapannya. Katanya, “Bagus”. Alhamdulillah…

Di akhir konsultasi, sang dokter memberiku sejumlah lembar rekomendasi test yang harus kami lakukan, yaitu: Sperma Analysys, TORCH, dan HSG. Sejauh ini, kami merasa cocok dengan dr. Muharram, karena dokter ini mengerti kebutuhan kami dan tidak semena-mena memberikan obat-obatan sebelum melakukan analisis terhadap hasil test. Ohya, setelah sedikit searching di inet tentang dr. Muharram, ternyata beliau juga adalah dokter di Klinik Yasmin RSCM dan spesifik di bidang fertilitas. Yahh… Semoga saja penilaian kami ini benar adanya.

Nambah dikit tentang USG Transvaginal:

PCO (Polycystik Ovarii) bisa dideteksi dengan pemeriksaan USG Transvaginal. Sedangkan jika disertai dengan gejala lain, seperti haid jarang (dengan darah sedikit/bercak, bahkan tidak haid), ada gejala tingginya hormon pria/hiperandrogen (berbulu, berkumis, berjerawat, dll), dan kadar gula cenderung meningkat, maka disebut PCOS (Polycystic Ovarii Syndrome). sumber (dengan sedikit editan)

Mungkin gara-gara si dokter melihat perawakan saya yang berkumis-tipis-nggemesin-mirip-iis-dahlia, bertebaran-jerawat-di-wajah dan agak-gendut-di-daerah-perut, beliau langsung memberikan analisa awal bahwa saya kemungkinan adalah korban PCOS. Hehe… karena pengalaman kali ya, Dok?

September 21, 2011

IBK… aku mau makan nasi!!

Berawal dari membaca notesnya putri palupi tentang homeschooling tadi pagi. Ada satu topik yang menarik minatku dan tampak tak asing.
Ohya… Kak Seto itu bener-bener entertainer.
Ada  seorang pemain organ yang selalu mengiringi setiap kata kak Seto, dengan iringan musik, backsound yg relevan. Jadi, seluruh presentasi itu layaknya sebuah drama tanpa jeda.
Ada slide-slide yg dibuat khusus buwat Kak Seto. atau khusus dibuwat Kak Seto. lucu,kocak, menghanyutkan.
Kita semua diajarin untuk  nyanyi dan mengarang lagu. dipancing dengan 2 baris lirik pertama, trus kita diminta untuk menyanyikan baris lirik selanjutnya dengan nada sendiri. happy banget,deh. Dan ini sudah lebih dulu dipraktekkan Mbak Lala di rumahinspirasi.com, dengan mencipta 30 lagu dalam 30 hari untuk anak2. So, slamat tinggal lagu dewasa yang nggak banget,yahhhh….
Tiba-tiba pikiranku melayang ke mimpi tadi malam. Masih tampak jelas di ingatanku, ada dua anak kembar berumur sekitar 5 tahun. Potongan rambutnya sama, namun akan sangat mudah untuk membedakan mana yang laki-laki, dan mana yang perempuan. Keduanya duduk di sofa, menyanyikan lagu dengan nada yang familiar namun sedikit janggal. Tampaknya lagu yang mereka nyanyikan adalah potongan-potongan dari beberapa lagu yang berbeda. Lirik yang mereka gunakan pun sama anehnya. Seperti dikarang sekenanya dan terdengar sedikit “maksa”. Namun kedua anak itu menyanyikannya dengan sangat fasih, bahkan mereka dapat memberikan sentuhan dinamika yang berbeda pada beberapa bagian. Luar biasa. Ada barisan lirik yang masih terkunci di ingatanku, yaitu “IBK, aku mau makan nasi!!” . Lirik tersebut dinyanyikan pada bagian akhir lagu. Dan kemudian kedua anak kembar tersebut berhamburan ke arah ibu mereka.
.
IBK??? apa maksudnya IBK?? yang kutangkap sampai saat ini, IBK adalah singkatan dari IBuKu. Lagu yang aneh…
.
Yah, setelah membaca notesnya mbak putri, saya jadi menghubung-hubungkannya dengan mimpiku semalam. Mungkin kedua anak itu telah mempraktekkan seperti apa yang kak seto contohkan. Haha.. korelasi yang sangat “maksa”. Toh pada saat saya mimpi, saya bahkan belum tahu tentang seminarnya kak seto… Tapi, itu ide yang bagus juga… Mungkin saya akan mempraktekkannya suatu saat :)
.
Oh, ya, saya ngomong-ngomong tentang kegiatan bersama orangtua-anak, saya juga terinspirasi dengan kisah nyatanya mbak ridha yang tertulis di notesnya “Bukan Dongeng”. Dan saya juga sangat ingin mempraktekkannya suatu saat :)

September 20, 2011

really something

“Alhamdulillah ya… sesuatu banget” kata-kata yang lagi ngetrend saat ini. Agak menggelitik telinga ketika kalimat ini terdengar di telinga.
Alhamdulillah, artinya adalah Pujian Hanya Untuk Allah, yang merupakan ungkapan syukur dan terimakasih atas karunia Allah.
Sesuatu banget = benar-benar sesuatu ??? menurut sepengtahuan saya, frasa ini tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia.
But wait, let us use it in English…
Benar-benar sesuatu = really something. Yang artinya adalah…
some·thing   [suhm-thing]
pronoun
  1. some thing; a certain undetermined or unspecified thing: Something is wrong there. Something’s happening.
  2. an additional amount, as of cents or minutes, that is unknown, unspecified, or forgotten: He charged me ten something for the hat. Our train gets in at two something.
noun
  1. Informal . a person or thing of some value or consequence: He is really something! This writer has something to say and she says it well.
sumber : http://dictionary.reference.com/browse/something
Terdengar sangat familiar kan…
Entah dari mana artis kita mendapatkan ide untuk mengartikannya secara mentah-mentah ke dalam Bahasa.. Yang akhirnya, agak lucu jika digunakan dalam Bahasa Indonesia. Tapi mungkin berkat artis kita inilah, perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia jadi bertambah lagi :D

July 18, 2011

Road to our little – Step 1 – USG

Tak terasa dalam 3 bulan lagi usia pernikahan kami sudah menginjak tahun ke tiga. Tempat berlindung sudah ada. Alat transportasi pun sudah memadai. Namun ada yang kurang, belum ada tangis bayi. Dua tahun berpisah telah melenakan kami dalam situasi pemakluman atas belum memiliki momongan. Dan sekarang, setelah banyak dari teman sebaya kami yang telah memiliki buah hati, yang tidak hanya satu, kami pun mulai mencari jalan untuk mengejar ketinggalan kami. Yah, meskipun terdengar sedikit terlambat, akhirnya kami pun memberanikan diri untuk berkonsultasi ke dokter.

Dokter pertama kami, kami “temukan” dengan cara yang sedikit tidak lazim. Dengan tanpa informasi di tangan, kami langsung meluncur ke RS Mitra Keluarga Bekasi, berharap dapat menemukan dokter kandungan berkualitas di sana. Dan sesampainya di depan meja pendaftaran, kami pun kebingungan ketika ditanya ingin bertemu dengan dokter siapa. Kala itu, satu-satunya kualifikasi yang kuinginkana adalah “dokter kandungan wanita”. Dan bertanyalah aku kepada petigas pendaftaran “Dokter kandungan yang cewek siapa ya, mbak?”. Suamiku pun menambahi “dan yang paling senior, mbak?”. Jadilah kami diarahkan untuk menemui Dr. Lidya Liliana.

Begitu nama saya dipanggil, saya pun masuk. Dan dimulailah tanya-jawab yang terbilang singkat. Kemudian dr. Lidya memintaku untuk tiduran di tempat tidur untuk dilakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini seperti yang kulihat di film-film yang pernah kutonton. Sebuah alat disentuhkan ke perutku tanpa perantara baju. Dan sebuah gambar hitam-putih tertampil di monitor. Sang dokter pun dengan seksama memperhatikan monitor sambil menggerak-gerakkan alat USG di atas perutku. Tak beberapa lama. dr. Lidya mempersilakan kepadaku untuk kembali duduk di meja konsultasi.

Di sana, dr. Lidya mulai menjelaskan bahwa bentuk kandunganku bagus, hanya saja bentuk-nya sedikit berbeda. Namun keanehan ini adalah hal yang minor dan tidak perlu diambil tindakan lebih lanjut dan juga tidak perlu menggunakan “gaya” khusus. Dan karena sebelumnya kami telah menjelaskan bahwa kami baru berkumpul kembali selama 6 bulan ini, dr. Lidya hanya menyarankan untuk melakukan sistem kalender, tanpa perlu melakukan tes-tes yang lain ataupun mengkonsumsi obat-obatan atau vitamin tertentu. Menurut sepengetahuan saya, memang serangkaian tes diperlukan bagi pasangan yang telah menikah lebih dari 1 tahun namun belum memiliki anak. Dan dalam pemahaman dr. Lidya, umur pernikahanku juga tidak lebih dari 1 tahun. Sehingga serangkaian tes baru diperlukan setelah 6 bulan lagi.

Meskipun penjelasan dr. Lidya sangat masuk akal, namun kami tetap saja belum merasa puas akan sarannya. Dengan mengikuti saran dr. Lidya, berarti dalam 6 bulan ini kami hanya bisa menunggu tanpa mampu mengusahakan hal yang lebih lagi. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada dr. Lidya, kami pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter lain. Bukan karena kami merasa dr. Lidya tidak berkompeten, hanya saja kami merasa kurang cocok dengan saran dr. Lidya. Mungkin juga sebagian kesalahan ada di sisi kami, dimana kami tidak menekankan kepadanya bahwa kami ingin mendapatkan “program bayi”.

Yeah, we’re ready 4 the next doctor…

NamBah:
Bagi yang ingin menyimak coretan-coretan edisi “Road to our little” selanjutnya, silakan berkunjung ke sini.

June 20, 2011

sabotase

Huah… Hari ini rasanya capeekkk banget… Mata terasa berat, badan pun pegal-pegal, plus hawanya jadi kerasa dingin menusuk tulang. Gara-garanya tidur yang nggak berkualitas.
-
Tiga malam yang lalu, perjalanan ke jogja pun dimulai. Kali ini naik kereta api bisnis andalan, “Senja Utama”. Yup, KA bisnis emang jadi andalan karena kalau pake eksekutif, selain karena mahal, ac-nya itu lho.. dingin banget. Boro-boro tidur pules, mau napas aja susah.. Jadi KA eksekutif adalah pilihan terakhir kalo mau perjalanan antar jawa.
-
Tapi, hawa-hawa nggak hoki mulai kerasa ketika kami mendapatkan tiket Senja Solo, yang artinya harus berangkat lebih malam dibandingkan Senja Jogja. Alhasih, kami pun plongah-plongoh di stasiun sambil menggelar koran sebagai alas duduk. Mata yang sudah mulai mengantuk pun dipaksa melek.
-
Saat di ujung kantuk, datanglah sang kereta dan naiklah kami. Dan, kami baru nyadar, kalau nomer tempat duduk kami adalah 2C dan 2D, yang artinya, kami harus duduk menghadap tembok yang super sempit, sampai dengkul pun harus menyentuh dinding. Terpaksalah kami balik kursi sehingga menghadap ke belakang dan berahadapan dengan penumpang 3C dan 3D. Koran yang semula kami beli untuk digunakan sebagai alas tidur pun gagal digunakan. Batal pula lah rencana untuk tidur dengan formasi atas-bawah supaya bisa selonjor kaki. Yak, itulah tidur tak berkualitas no 1.
-
Malam berikutnya, sebetulnya kami berencana untuk pergi ke Maospati menjenguk ortu setelah acara pengajian. Tapi berhubung badan masih terasa pegel-pegel akhirnya rencana tersebut pun kami urungkan. Dudul-nya, bukannya istirahat, kami malah jalan-jalan ke pusat Jogja sampai jam 2 malam. Bagus… Akhirnya, kami pun melanjutkan tidur tak berkualitas no 2.
-
Dan malam berikutnya lagi, yaitu tadi malam, kami pun melakukan perjalanan balik ke Jakarta. Tidak lupa segala persiapan “tempat tidur” pun kami bawa, mulai dari koran bekas, tas yang diatur sedemikan rupa menyerupai bantal dan selimut tipis hasil comot dari rumah. Tempat duduk kami 2A dan 2B, yang notabene “aman” dari tembok. Tapi oh tapi… ternyata oh ternyata… begitu naik di gerbong kereta, posisi kursi 1A dan 1B sudah berbalik menghadap belakang, ke arah tempat duduk kami. Usut punya usut, ternyata ada dua pemudi (ga tau gadis atau ga ) yang sepertinya dapat tiket non-seat dan menempati area rongga antara dinding dan kursi 1A dan 1B.
-
Yaelah… jadi serba salah. Kalau mau balikin kursi ke posisi semula, artinya kami mengusir kedua pemudi tersebut. Tapi rasanya gimana ya, antara ga rela dan ga tega. Ga teganya, aku pernah beberapa kali dapet tiket non-seat. Dan ketika ada orang yang berbaik hati menyisihkan tempatnya supaya aku bisa numpang ndeprok di bawah, rasanya seneng banget…
-
Dan ga relanya, kok begitu caranya. Yang punya tiket pun bahkan belum datang, kok bisa-bisanya langsung diubah gitu aja. Tanpa rasa bersalah karena mengambil hak orang lain, dengan santainya mereka cekikikan di balik bangku. Bahkan sampai kami turun pun ga ada kata-kata permisi. Jadi, rasanya seperti disabotase. Apa iya, sopan santun dan etika sudah mulai ditinggalkan? Apa iya, pihak yang kurang beruntung berhak mendapatkan perilaku istimewa dari mereka yang lebih beruntung? Dan, apakah dibenarkan jika dilakukan dengan cara mengambil hak orang lain tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu?
-
Walhasil, kami pun terpaksa memupuskan harapan kami untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Jadi, yang paling kurindukan saat ini adalah kasur empuk, bantal dan guling (yang rada apek) serta selimut tebal di rumah. Wanna go home early… :(

June 15, 2011

Ular dan Tikus

“Surti… Lagi ngapain sih, tumben dari tadi megang hape mulu. Dah bosen maen leptop?” tanya Amira. Dengan mata tetap tertuju pada ponselnya, Surti menjawab “nggak.. Ini nih, game ini asik juga nih, Mir.” Amira yang penasaran segera menghampiri Surti, “emang game apaan, Sur?”
-
Nama-nya adalah game “Ular dan Tikus”. Jangan bayangkan bahwa ini adalah game ketangkasan jari tentang ular memakan tikus. Nama game ini diadaptasi dari permainan “Cow and Bull” yang mengandalkan perhitungan probabilitas dan algoritma iterasi.
-
Tujuan dari game “Ular dan Tikus” adalah menebak dengan tepat kode rahasia yang terdiri 4 digit angka yang berbeda. Jumlah tikus adalah banyaknya digit angka dari tebakan Anda yang benar, sedangkan jumlah ular adalah banyaknya angka yang benar dan menempati posisi yang tepat.
-
Kita ambil contoh sederhana:
Jika kode rahasia adalah 2135,
Dan Anda menebak 1234,
Maka tebakan Anda menghasilkan 3 Tikus (untuk angka 1, 2 dan 3) dan 1 Ular (untuk angka 3).
Dan tujuan Anda adalah menghasilkan 4 Tikus dan 4 Ular.
-
Anda dapat menebak berkali-kali, namun tantangannya adalah menebak dengan jumlah tebakan yang terkecil.
-
Untuk mendownload game ini klik di sini (JAR) , dan bagi yang berminat mengembangkan game ini klik di sini (RAR) untuk mendownload project file.
-
“Boleh juga tuh, Sur. Siapa yang bikin?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di ponsel, Surti membaca tulisan di layar ponselnya, “di sini sih tulisannya: belinih”

June 10, 2011

Google Doodle

Ada yang berbeda dengan mbah gugel pada tanggal 9 Juni 2011. Doodle-nya dibuat untuk mengenang ulang tahun Les Paul yang ke 96 ( i don’t even know who he is). Tampilannya keren euy… dengan menampilkan senar-senar gitar yang disusun dan membentuk logo Google. Yang bikin keren, senarnya bisa bunyi dan membentuk susunan nada pas kursor bergerak memetik senar. Dan yang kerennya lagi… pada tanggal 10 Juni 2011, mbah gugel tampil dengan lebih atraktif dan interaktif. Nada dari A sampe C bisa dimainin di keyboard dan bisa di-rekam pula. Lucu dah.. dan menurutku, doodle google yang ini doodle yang terbaik yang pernah dibikin google. Ohye, berikut ini beberapa rekaman ane:

http://goo.gl/doodle/G0nnj ”Ibu Kita Kartini”
http://goo.gl/doodle/En23o ”Cicak Cicak di Dinding”
http://goo.gl/doodle/QnafH ”Love Story”
http://goo.gl/doodle/vVBr6 ”Coca Cola”

May 26, 2011

blogging

What’s so interesting with blogging? yeah, sudah beberapa hari ini aku mengabdikan menjadi tukang sampah. Duduk di belakang meja, mata menatap layar, dan tangan menari di atas keyboard. Jadi merasa sedikit bersalah sama temen samping meja-ku, yang bingung melihatku betah di belakang meja sambil mengetikkan bahasa-bahasa aneh di layar. Teman, itu bukan bahasa alien, tapi bahasa kode html untuk modifikasi web (baca: blog). Dan juga merasa bersalah kepada yang ‘mberi aku kerja. Maafkan aku wahai teman-teman dan para bos, bukannya aku berniat untuk menjadi teman dan bawahan yang durhaka, namun ku tak kuasa menghentikan apa yang baru kumulai. Janji deh, aku akan mengurangi ke-badung-an ku.

Aku bukan orang yang gemar menulis. Dan sepanjang yang kuingat, aku hanya punya sebuah buku diary dengan ketebalan tidak lebih dari 100 halaman, dan itupun hanya terisi setengahnya. Jika dibandingkan dengan temanku yang memiliki tumpukan buku diary yang mengisahkan perjalanan dan pandangan hidupnya, tulisanku cuma sebuah catatan kecil. Tapi baru nyadar setelah buka-buka lagi lembaran diary yang kutulis, rasanya seperti kembali kehidupanku yang lalu. Tentang proses pendewasaanku, tentang nasihat-nasihat yang kuberikan untuk diriku sendiri. Tulisan-tulisan itu mengingatkanku tentang gimana aku membentuk pribadiku, dan ternyata, itu semua bukan hanya sebuah catatan kecil.

Sebenernya aku mulai berkenalan dengan blogging pas kuliah pake blogspot.com. Konsep yang kupakai waktu itu adalah kumpulan surat yang ditujukan buat (calon) suamiku. Aku ga bisa bilang bahwa ide itu adalah ide yang norak karena buktinya pikiranku selalu saja melayang tiap kali aku membacanya kembali. Tulisan yang polos.

Pernah juga suatu saat aku diberikan oleh Pyramit sebuah kolom blog. Aku hampir lupa tentang apa yang kutuliskan disana. Hanya satu post yang kuingat, yaitu tentang perjalananku ke sebuah jajaran pantai di Jogja. Sebuah tulisan jujur yang menggambarkan hatiku saat itu. Sayangnya, situs tersebut harus ditutup sebelum kusempat menyimpan segala isi tulisanku.

Sempat vakum blogging untuk beberapa lama karena keterbatasan dana. Yeah… Perpanjangan target waktu kelulusan membuatku tak sanggup meminta uang jajan lebih banyak. 5 tahun pas, yang akhirnya gelar cum pun dicabut, haha… Ironis, sadis, tragis…

Akhirnya kubangun lagi rumah di blog.com. Kali ini dengan konsep tantang catatan pripadi, lebih mirip diary. Pernah mempertimbangkan untuk mbangun di wordpress, tapi harus pinter2 desain sendiri. Berhubung ane kagak ngarti bahasa html, jadinye milih nyang gampang-gampang n langsung dipake aje. Tapi sekarang, setelah dikit-dikit ngerti gimana caranya modifikasi blog, jadi tertarik pindah ke wordpress. Habis, repot juga harus ngikutin rules yang terbatas di template ini.

Tapi kembali lagi ke laptop, eh ke ngeblog. Setelah berkunjung ke blog tetangga, aku baru nyadar kalo tulisan mereka bagus-bagus, setidaknya mampu membuatku bertahan untuk membacanya. Agak iri sih.. Rasanya pengen buat tulisan sebanyak-banyaknya dan sebagus-bagusnya. But well.. this is me, this is my writing, and i’m writing for me.

May 19, 2011

Creamy Mushroom Fettucini – First Try

Setelah membeli segala bahan dan menghapalkan langkah-langkah pembuatan, dan dengan berbekal tekad kuat akhirnya kusingsingkan lengan baju dan kulangkahkan kakiku ke dapur untuk membuat Creamy Mushroom Fettucini. Pertama kali nyoicip masakan ini pas di Pizza Hut. Meskipun rasanya rada eneg, kadang-kadang suka penasaran pengen nyoba lagi. Tapi berhubung misua ga begitu doyan makanan-makanan “luar”, jadinya masak sendiri ajah….

Ini ni jejak-jejak percobaan pertama Creamy Mushroom Fettucini a la Lini.

Bahan yang disiapkan:
Fettucini secukupnya untuk 1 porsi, rebus dicampur dengan 1sdm minyak
Jamur kancing sekitar 10 butir, iris tipis melintang
Irisan daging ayam, sedikit banget (nyomot sisa2 di kulkas)
Bawang bombay 1/3 buah, iris
Bawang putih 1 siung, geprek lalu dicincang
Susu cair 200 ml,
Tepung terigu 1 sendok
Oregano, garam, gula dan merica secukupnya.

Jejak pembuatan:
Panaskan minyak dan margarin secukupnya
Masukkan bawang putih hingga harum
Tumis hingga layu bawang bombay dan ayam,
Masukkan susu cair beserta fettucini, jamur, tepung terigu, garam, gula dan oregano
Aduk hingga kuah mengental
Sebelum diangkat dicicip-cicip dulu enyak, enyak, enyak

Alhasil, percobaan pertama pun berhasil dengan sukses dan mengenyangkan. Lain kali nyoba pake daging asap ah…