January 23, 2012

bedtime story

Di suatu desa, tinggallah sepasang suami-istri yang baru saja dikaruniai seorang bayi mungil yang cantik, bernama Suci. Telah lama mereka menantikan sang buah hati. Dan kini kehidupan mereka sangatlah berbahagia dengan hadirnya buah hati di dalam hidup mereka.
-
Setiap hari sang ayah bekerja di ladang untuk mencari nafkah, dan si ibu dengan penuh kasih sayang merawat Suci. Meskipun sang ayah selalu tidak ada di rumah saat siang hari, sang ibu tidaklah sendirian di rumah. Bleki, seekor anjing kampung yang selalu meminta makan pada si ibu, sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Meskipun ia tidak pernah diperbolehkan masuk ke dalam rumah, Bleki selalu berada di sekitar rumah, seperti seorang penjaga.
-
Pada suatu pagi, seprti biasa sang ibu bergegas untuk pergi ke pasar membeli sayuran. Dan seperti biasa pula, Bleki menunggu di depan pintu mengamati si ibu yang hendak pergi. Si ibu berkata, “Bleki, ibu titip Suci ya, tolong jaga rumah ini sampai ibu kembali lagi ke rumah”. Seolah mengerti dengan perkataan si Ibu, Bleki menggonggong seakan hendak mengatakan “Oke bu!”. Si ibu hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju ke pasar.
-
Beberapa waktu berselang, saat Bleki berbaring santai di depan pintu, ia mendengar ada sesuatu yang aneh di dalam rumah. Ia pun berdiri dengan empat kakinya. Telinganya tegak, dan moncongnya mengendus-endus. Insting-nya mengatakan ada sesuatu yang berbahaya di dalam rumah. Tak lama berselang, bayi Suci yang tadinya tertidur pulas di ranjangnya, kini menangis dengan sangat kencang. Bleki lalu ikut menggongnggong dengan keras, berharap ada orang lain yang mendengar tangisan Suci. Ia terus menggongngong tapi tak ada satu orangpun yang menghampiri.
-
Di balik kebimbangannya, Bleki terpaksa masuk ke dalam rumah. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor ular yang begitu besar berada tepat di samping Suci. Dengan garangnya, Bleki mengeram dan menerkam ular itu. Terjadilah perkelahian antara Bleki dan si ular. Bleki sempat terlilit oleh si ular, dan hampir saja kehabisan napas. Namun dengan penuh keberanian, digigitnya ular itu dengan keras sehingga akhirnya lilitan ular itu mengendur. Dan akhirnya ulah itupun jatuh mati.
-
Tak jauh di depan pekarangan, si ibu tengah menenteng seluruh belanjaan yang ia beli di pasar. Dari kejauhan, sayup-sayup ia mendengar tangisan anaknya. Dengan rasa cemas, si ibu bergegas masuk ke dalam rumah. Betapa kagetnya si ibu, ketika melihat Bleki berada di dalam rumah, dengan moncong yang berlumuran darah. Si ibu bergegas melihat kamar Suci, dan ia lihat darah berceceran di lantai. Si ibu pun sedih, marah dan kecewa. Ia pikir Bleki, yang telah ia percaya sebagai bagiandari keluarganya, telah menggigit anak satu-satunya yang sangat ia dambakan. Emosi dan amarah merasuki jiwa si ibu. Ia pergi ke dapur dan mengambil sebuah sapu. Ia genggam sapu itu erat-erat, dan berlari menuju ruang tamu. Di sana ia lihat Bleki dengan napas terengah-engah.
-
Bleki hanya terdiam menatap si ibu. Ia tidak tahu mengapa si ibu memegang sapu dan berlari ke arahnya. Dan dalam waktu yang sangat singkat, ia merasakan pukulan yang sangat hebat. Si ibu telah memukulnya keras-keras menggunakan sapu yang ia pegang. Bleki sangat kelelahan setelah berkelahi dengan si ular, sehingga ia tidak dapat menghindari pukulan yang dilayangkan oleh si ibu. Ia merasa sangat kesakitan. Ia pun belari terpincang-pincang keluar dari rumah. Ia tidak mengerti apa kesalahan yang telah ia lakukan. Yang dapat ia dengar hanyalah si ibu yang yang terdengar sangat marah dan berteriak sambil menangis.
-
Di dalam rumah, ibu menangis sambil meraung-raung. Ia sangat marah atas perlakuan Bleki yang dulu sangat ia percayai. Setelah beberapa saat, saat amarah si ibu mulai mereda, ia teringat akan bayinya yang terbaring di atas ranjang. Ia pun menghapus air matanya dan bergegas menggendong bayinya yang masih menangis. Si ibu menggendong Suci dengan erat, ia berharap luka Suci tidaklah parah. Namun anehnya, ketika si ibu memeriksa tubuh Suci, ia tidak menemukan satupun luka di tubuh Suci. Si ibu pun merasa sangat heran. Darah berceceran di lantai namun Suci tidak terluka. Lalu, darah siapakah ini?
-
Betapa kagetnya si ibu ketika ia melihat tepat di bawah ranjang terdapat bangkai ular yang lumayan besar. Cukup besar untuk dapat menelan bayi yang baru lahir. Si ibu terdiam. Ia baru sadar bahwa Bleki bukanlah hendak mencelakai bayinya, namun sebaliknya, ia ingin menyelamatkan bayinya. Bleki, seekor anjing kampung yang tidak begitu besar, telah mempertaruhkan dirinya untuk melindungi si bayi. Si ibu pun terduduk lemas. Ia telah melakukan kesalahan besar. Tak seharusnya ia memukul Bleki. Dengan gemetar, ia melangkah kakinya ke arah pintu, berharap Bleki masih disana. Namun tak seperti yang ia harapkan. Bleki tidak disana. Ia tidak disana seperti biasanya, dan tidak akan pernah seperti biasanya. Si ibu pun menangis. Penyesalan kini menyelimuti dirinya.
-
*Ah, dari sekian banyak dongeng yang Mama ceritakan padaku dulu saat aku masih kecil, cerita ini yang paling melekat. Kenapa harus sad ending? mungkin di situ letak menariknya. Life doesn’t always have a happy ending.

January 09, 2012

Road to our little – Step 5 – ASA

Bagi yang ingin menyimak catatan saya tentang program kehamilan yang saya jalani, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” di sini.
.
Wuah.. akhirnya setelah sekian lama terhenti, kami pun memberanikan diri untuk melanjutkan serangkaian tes yang sempat tertunda. Which is… Tes ASA. Oya, sedikit reviw hasil tes sebelumnnya:
  1. Tes TORCH, hasil bagus, tidak ada virus yang aktif
  2. Tes SAL, hasil bagus, sperma sehat
  3. Tes HSG, hasil bagus, tidak ada penyumbatan dan bentuk ovum besar
-
Nah, karena semua serba bagus, dr. Muharram nyaranin untuk tes ASA (Anti-Sperma Antibodi). Sebenernya udah lama pak dokter kasih rekomendasi untuk tes ini, cuma nyali kami selalu menciut jika mengingat kata-kata pak dokter: “Kalau nilai ASA-nya tinggi, saya sarankan untuk Laparaskopi.” Whattt? Ngeri juga denger kata laparaskopi ini. Yang artinya dibedah, diubek-ubek dan yang pasti, rasanya sakit banget…. Makanya butuh 3 bulan untuk mengumpulkan nyali menghadapi kenyaaan yang akan terungkap.
-
Dan ternyata, firasat saya pun benar. Setelah menjalani tes di RSIA Sayyidah, terbukti bahwa nilai ASA saya sangatlah tinggi, yaitu 131ribu. Setahu yang saya baca di inet, nilai segini nih tinggi banget. Padahal kami nggak akan bisa konsultasi dengan dr Muharram dalam waktu dekat, karena suami akan tugas keluar kota. Kebetulan dr.Indra G.Mansur, seorang dokter andrologi (reproduksi pria) sedang praktek saat saya ambil hasil ini. Langsung aja kami konsultasi dengan beliau. Dan ternyata, laparaskopi masih bisa ditunda dengan metode lain. Well… oke… Tanpa dugaan, dari yang niatnya cuma ngambil hasil tes, jadi merembet ke 3 tes lain. Jadilah kami sesiangan di RSIA Sayyidah… Minimal, kami sudah tahu penyebabnya dan bisa lebih fokus dalam pengobatan.
-
Apa itu ASA?
ASA (Anti-Sperma Antibodi) adalah antibodi dalam tubuh wanita yang menganggap sperma adalah benda asing dan jahat yang harus dilawan.
-
Hubungannya dengan kehamilan?
Sperma akan susah untuk membuahi ovum, karena sistem kekebalan tubuh istri akan mematikan sperma yang masuk ke dalam tubuh. Antibodi ASA juga berperan dalam kehamilan trimester pertama, yang artinya jika ibu mengandung dengan nilai ASA yang sangat tinggi akan sangat berpotensi untuk tidak berkembangnya janin dan terjadinya keguguran.
-
Penyebabnya?
Bisa karena bawaan lahir. Belum ada penjelasan yang pasti tentang penyebabnya.
-
Apakah ada hubungannya dengan berbedanya golongan darah?
Sama sekali tidak.
-
Apakah penolakan sperma ini berlaku untuk semua sperma ataukah hanya sperma suami saja?
Bisa salah satunya.
-
Tes untuk mengetahui tingkat ASA?
Salah satunya adalah HSAaT. Dimana sperma suami akan dicuci, dan dilihat apakah terjadi aglutinasi (pengentalan) jika dipertemukan dengan serum darah Istri.
-
Kapan tes ini dilakukan?
Jika belum diketahui penyebab infertilitas. Atau dengan kata lain, telah dilakukan tes kandungan (seperti USG, TORCH, HSG, dll) dan sperma (SAL) dengan hasil semua normal.
-
Nilai yang diperbolehkan?
Maksimal 1024.
-
Jika tinggi, apa tindakannya?
  1. Istri tidak memakan makanan dan menghindari benda-benda yang dapat menyebabkan alergi pada istri, baik alergi ringan, sedang, maupun berat. Untuk mengetahi jenis-jenis makanan dan benda-benda yang menimbulkan alergi, terlebih dahulu dilakukan FRT dan NFRT.
  2. Terapi PLI (Parental Leucosyte Immunization)
  3. Berhubungan menggunakan kondom selama minimal 3 bulan.
-
Apa itu FRT dan NFRT?
FRT (Food Response Test) adalah tes alergi terhadap jenis makanan dan dilakukan dengan mengamati reaksi tubuh terhadap 21 ekstrak makanan tertentu, misalnya kopi, teh, gandum, cumi, telur dll. NFRT (Non Food Response Test) adalah tes alergi terhadap 12 ekstrak benda-benda tertentu, seperti debu, bulu kucig,kecoa dll.
-
Mengapa tidak boleh memakan makanan penyebab alergi?
Karena akan meningkatkan antibodi seluruh tubuh, termasuk ASA.
-
Tidak pernah alergi, apakah aman?
Belum pernah alergi bukan berarti tidak memiliki alergi. Bisa jadi antibodi tubuh sangat baik, atau bisa juga kadar tingkat pengaruh alergi adalah rendah sehingga gejalanya tidak terasa. Jika gejala yang dirasakan telah mencapai tahap ruam dan gatal-gatal, maka ini termasuk alergi berat.
-
Apa itu PLI?
PLI (Parental Leucosyte Immunization) adalah imunisasi dimana sel darah putih suami akan disuntikkan ke tubuh istri. Sebelumnya dilakuken tes Pre PLI, dimana darah suami diperiksa apakah terjangkit beberapa virus, seperti HIV, CMV, dll. Jika bersih, tindakan PLI dapat dilanjutkan.
-
Tujuan PLI?
Untuk mengenalkan DNA suami terhadap tubuh si istri sehingga sistem antibodi istri lambat laun mengenali dan tidak lagi menganggap sperma suami sebagai ancaman.
-
Reaksi setelah suntikan PLI?
Berbeda-beda untuk tiap-tiap pasangan. Mulai dari ruam, bengkak, atau gatal-gatal.
-
Apakah juga menurunkan antibodi tubuh?
Sama sekali tidak, sebab objek antibodi yang diturunkan adala ASA saja. Saat menjalani PLI, bisa saja istri menjadi lebih rentan sakit. Hal ini bukan terjadi karena PLI, tapi karena asupan makanan yang tidak mencukupi akibat banyaknya pantangan terhadap jenis makanan. Karena itu, sangatlah perlu mencari alternatif makanan yang dapat memenuhi nutrisi untuk tubuh.
-
Mengapa harus pakai kondom saat berhubungan?
Untuk mencegah sperma masuk ke dalam tubuh dan meningkatkan antibodi ASA. Lebih gampangnya, agar tubuh isrti “lupa” akan kehadiran sperma.
-
Bisakah dengan mengeluarkan sperma di luar?
Bisa saja selama yakin tidak ada spema yang tercecer masuk.
-
Seberapa pesat nilai penurunan ASA dengan metode ini?
Berbeda-beda untuk tiap-tiap pasangan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi:
  1. Reaksi penerimaan tubuh istri terhadap darah putih suami
  2. Ketat/tidaknya diet yang dilakukan
-
Berapa lama program ini berlangsung?
Minimal 3 bulan dan sangat bergantung pada nilai ASA yang dicapai setelah tindakan PLI. Biasanya, berapapun nilai ASA yang dihasilkan jika melebihi 1024, maka disarankan dilakukan 3 kali PLI. Yang setelah itu akan dilakukan tes ASA kembali. Jika nilai ASA masih tinggi, akan dilakukan 3 kali PLI kembali. Rentang waktu antar PLI adalah 3 minggu, dan rentang antara PLI terakhir dengan tes ASA selanjutnya adalah 2 minggu.
-
Untuk dapat hamil, berapa peluang berhasil dengan metode ini?
Ada yang bilang 50%, ada yang bilang 75%.
-
Apa saja yang menyebabkan tidak berhasil?
  1. Nilai ASA tidak kunjung turun, dan akan dilakukan tindakan lanjutan seperti pemberian obat atau infus.
  2. Ada masalah lain yang belum dideteksi
  3. Dan tentu saja, kehendak Allah SWT.
-
Berapa biayanya?
Tes ASA sekitar 350ribu. Tes FRTdan NFRT sekitar 1,3juta. Untuk sekali suntikan PLI dan tes Pre PLI, masing-masing sekitar 800ribu. Belum termasuk konsultasi dokter. *sumber: RSIA Sayyidah tahun 2012
-
Apa ada alternatif lain?
Ada, seorang teman berobat pada dokter herbal yang berbasis di Yogya (RS Happy Land). Sang dokter tanpa melakukan tes HSAaT dapat mendeteksi tingginya tingkat ASA. Dan menyarankan untuk menggunakan kondom saat berhubungan selama tiga bulan diiringi dengan meminum obat herbal racikan beliau. Dan sekarang, teman saya tersebut telah memiliki 2 anak. *saya pun ingin sekali memadukannya dengan metode PLI. Dan semoga dokter saya tidak menganggap ramuan herbal ini sebagai kontradiksi
-
*sumber: RSIA Sayyidah, dr. Indra G. Mansur, dr. Firman Wahyudi, perawat yang saya lupa tanyakan namanya, seorang teman, internet dan sedikit opini dari saya

January 02, 2012

Tips n Tricks: Sceduled Task – Copying A Network File

Pada jam lembur, seorang karyawati selalu kerepotan karena ia tidak bisa mengakses file yang di-share di komputer temannya. “AMIIIR!!! Payah ah, lu udah pulang ya? Gua ga bisa akses ke komputer lu nih!” Gendang telinga Amira hampir saja pecah mendengar teriakan Surti di ponselnya. “Yah… gua kan emang pulangnya jam segituan terus. Lu-nya aja yang kerajinan, jam segini masih di kantor.” Tut tut tut… Tanpa basa-basi, Surti langsung menutup sambungan telponnya.
-
Akan lebih mudah jika Anda membuat back-up file secara otomatis pada waktu yang ditentukan. Hal ini tidaklah sulit, cukup menggunakan Notepad dan Command Prompt, anda dapat membuat komputer anda yang “bekerja” untuk anda.
-
  1. Buat file eksekusi untuk copy file
    • Buka Notepad, tuliskan :
      net use \\{dest-machine}\{destfolder} {password} /user:{username} >> untuk mambuka peta jaringan yang akan digunakan 
      copy [/d] [/v] [/n] [{/y|/-y}] [/z] [{/a|/b}] Source [{/a|/b}] [+ Source [{/a|/b}] [+ ...]] [Destination [{/a|/b}]] >> untuk membuat rangkap ke folder tertentu
      -
      Surti pun mengetikkan:
      net use \\Sekret\Public 123456 /user:admin
      copy \\Sekret\Public\”Surat Masuk 2012″.xls d: /y
      -
    • Simpan sebagai extension .BAT
      Lalu Surti mengetikkan : Backup_Surat_2012.BAT
      -
  2. Buat Schedule Task baru
    • Jalankan Command Prompt (Start Menu > run > cmd)
    • Pada Command Prompt, tuliskan command schedule tasks:
      schtasks /create /tn TaskName /tr TaskRun /sc schedule [/mo modifier] [/d day] [/m month[,month...] [/i IdleTime] [/st StartTime] [/sd StartDate] [/ed EndDate] [/s computer [/u [domain\]user /p password]] [/ru {[Domain\]User | “System”} [/rp Password]] >> untuk menjalankan eksekusi file secara otomatis tiap waktu yang ditentukan
      -
      Surti pun mengetikkan:
      schtasks /create /tn “Backup Surat 2012″ /tr D:\Backup_Surat_2012.BAT /sc daily /st 15:00:00
      -
Keesokan harinya, “Mir, sekarang terserah deh lu mau pulang jam berapa. Gua udah buat backup-nya. Tapi lu pulangnya jangan jam 3 kurang ya…” Amira hanya memicingkan matanya. Ia tidak begitu mengerti apa yang Surti bicarakan.

Tips n Tricks: Sceduled Task – Copying A Network File

Pada jam lembur, seorang karyawati selalu kerepotan karena ia tidak bisa mengakses file yang di-share di komputer temannya. “AMIIIR!!! Payah ah, lu udah pulang ya? Gua ga bisa akses ke komputer lu nih!” Gendang telinga Amira hampir saja pecah mendengar teriakan Surti di ponselnya. “Yah… gua kan emang pulangnya jam segituan terus. Lu-nya aja yang kerajinan, jam segini masih di kantor.” Tut tut tut… Tanpa basa-basi, Surti langsung menutup sambungan telponnya.
-
Akan lebih mudah jika Anda membuat back-up file secara otomatis pada waktu yang ditentukan. Hal ini tidaklah sulit, cukup menggunakan Notepad dan Command Prompt, anda dapat membuat komputer anda yang “bekerja” untuk anda.
-
  1. Buat file eksekusi untuk copy file
    • Buka Notepad, tuliskan :
      net use \\{dest-machine}\{destfolder} {password} /user:{username} >> untuk mambuka peta jaringan yang akan digunakan 
      copy [/d] [/v] [/n] [{/y|/-y}] [/z] [{/a|/b}] Source [{/a|/b}] [+ Source [{/a|/b}] [+ ...]] [Destination [{/a|/b}]] >> untuk membuat rangkap ke folder tertentu
      -
      Surti pun mengetikkan:
      net use \\Sekret\Public 123456 /user:admin
      copy \\Sekret\Public\”Surat Masuk 2012″.xls d: /y
      -
    • Simpan sebagai extension .BAT
      Lalu Surti mengetikkan : Backup_Surat_2012.BAT
      -
  2. Buat Schedule Task baru
    • Jalankan Command Prompt (Start Menu > run > cmd)
    • Pada Command Prompt, tuliskan command schedule tasks:
      schtasks /create /tn TaskName /tr TaskRun /sc schedule [/mo modifier] [/d day] [/m month[,month...] [/i IdleTime] [/st StartTime] [/sd StartDate] [/ed EndDate] [/s computer [/u [domain\]user /p password]] [/ru {[Domain\]User | “System”} [/rp Password]] >> untuk menjalankan eksekusi file secara otomatis tiap waktu yang ditentukan
      -
      Surti pun mengetikkan:
      schtasks /create /tn “Backup Surat 2012″ /tr D:\Backup_Surat_2012.BAT /sc daily /st 15:00:00
      -
Keesokan harinya, “Mir, sekarang terserah deh lu mau pulang jam berapa. Gua udah buat backup-nya. Tapi lu pulangnya jangan jam 3 kurang ya…” Amira hanya memicingkan matanya. Ia tidak begitu mengerti apa yang Surti bicarakan.

November 18, 2011

balada kaset lawas

Such a nice Friday!!! Kenapa, ada apa?

Jadi begini ceritanya… Kisah ini berawal sekitar 6 tahun lalu, saat saya sedang menikmati masa-masa kuliah. Pas ngubek-ngubek koleksi kaset masku yang nomer dua, saya dengan sengaja “nemu” kaset ini. Judulnya Best of TV Drama. Isinya versi instrumental dari kumpulan soundtrack drama asia. Yah.. pada masa itu yang terkenal bangsanya Endless Love, All About Eve. Dan setelah disimak, ternyata enak juga didenger. Meskipun nggak bisa diikutin sambil nyanyi-nyanyi, ternyata musik instrumental bisa bikin relaks. Maka dari itu, kaset ini sukses menemaniku setiap datang waktunya bobo’ siang. (idih… enaknya ya, jaman segitu, bisa nyante-nyante, sempet tidur siang pula..)

Ternyata eh ternyata, suatu saat, mungkin karena kebanyakan diputer, suara tu kaset pun jadi mbleret-mbleret. Nggak enak didenger deh pokoknya. Kupikir mungkin tape-nya yang rusak, tapi setelah kucoba di tape yang lain, hasilnya tetep sama. Mbleret. Hua… kaset favorit yang bukan milikku pun akhirnya almarhum sudah.

Dan ternyata, sampai beberapa tahun kemudian, irama musiknya masih terngiang-ngiang di telinga. Terutama suara flute yang mengalun lembut, enak banget di telinga. Udah pernah nyoba nyari donlotannya sih, tapi nggak pernah ketemu. Dan itu pun bukan sekali dua kali. Udah nyari, nyerah, nyari lagi, nyerah lagi, nekad nyari lagi, ahh sudahlah begitu aja terus… Entah udah berapa kali saya tanya mbah gugel, tapi hasilnya tetap nihil. Emmm… maksudnya nihil disini tuh nggak ada link donlot gratisannya ya! Haha, dasar oportunis. Maunya gratisan mulu.

Sampe-sampe, hanya untuk sekedar menghilangkan rasa penasaran sama musik instrumental flute, terdownload lah album “Bolling: Suite For Flute and Jazz Piano Trio”. Mmmm… mungkin dari segi musikalitas, bagusan yang Bolling punya sih. Cuman gimana ya… Rasanya gemes banget, sementara lagu-lagu lain yang sempet nemenin perjalanan pendewasaan mulai dari jaman SD, SMP, SMA, bisa didonlot semua di internet. (emangnya udah dewasa??)

Dan berhubung barangnya udah lama banget, jadi udah nggak ada toko kaset yang nge-jual. Beli online pun basisnya overseas. Akhirnya setelah pencarian yang panjang dan pertimbangan yang matang, diputuskan sudah: beli online!

Well… finally! Akhirnya barang yang kutunggu-tunggu nyampe juga di rumah dengan selamat… And it soundssss sooooo niceeee….. Pikiranku pun melayang-layang ke zaman males-malesnya ngerjain TA dengan setting kamar atas di Jogja. Haha, gotcha!

Jadi, malam ini saya mau bernostalgila dulu! Dudududu….

November 10, 2011

kasih tak sampai

Mengutip CEO Note terakhirnya Pak Dis sebagai dirut PLN, “malam itu, hati saya sangat galau”. Yeah, malam ini hatiku juga lagi galau. Harapanku untuk liburan pupus sudah. Persis seperti batalnya rencana liburan Pak Dis untuk jalan-jalan ke eropa.
-
Dua minggu lalu, misua mengijinkanku untuk pelesir ke DIY dan sekitarnya bareng temen-temen kantor. Tersusunlah sejumlah rencana. Mengajak temen-temen untuk nginep di rumah yang lagi kosong ngglondang, belanja ke malioboro, jalan-jalan ke pantai wonosari, menghabiskan pagi dengan berjalan mengelilingi waduk belakang rumah dan ke pasar beli gudeg. Sebuah panci Happycall buat mama pun sudah ditangan. Wuih… rasanya wajah Jogja sudah di depan mata.
-
Seminggu kemudian (minggu lalu), saat pulang kantor dengan santainya misua bilang kalo pada saat yang sama, akan ada Family Gathering. Dan.. buyar sudah semua bayangan yang ada di kepala. Wajah jogja tiba-tiba menjauh dan mengecil. Sempat agak gelo, soalnya udah bayangin segitu hebohnya perjalanan ke Jogja.
-
Tapi seiring dengan menjauhnya wajah Jogja, wajah Ancol pun semakin mendekat dan menawarkan beberapa paket yang tak kalah menggiurkan. Ke Dufan. Berhubung misua belum pernah ke sono, jadi bisa sedikit show off ke misua tentang sejumalah permainan wahana yang hampir pernah kunaiki semua :D Ke Bandar Jakarta. Tumben-tumbenan kan kita bisa makan berdua ke resto gede. Meskipun ntar bareng-bareng ama yang laen, yah.. anggap aja dinner berdua ;p. Dan….. yang paling ditunggu, menghabiskan malam yang romantis di hotel. kikikikiki….
-
Dannn….. untuk kedua kalinya, aku terpaksa harus merelakan rencana liburan. Kemarin, misua pergi ke kampung karena kakek meninggal. Yang artinya, rencana menghabiskan weekend pun buyar sudah. Dan aku pun terpaksa tertinggal di jakarta karena pekerjaan kantor yang menumpuk berkat partner yang lagi cuti.
-
Yah, seperti kata Pak Dis, malam itu hati saya sangat galau. Bukan saja malam itu, tapi malam ini, dan malam-malam berikutnya… sampai misua datang.
-
Well.. wish 4 the better vacation later…

November 03, 2011

Tips & Tricks: Konversi Format eBook

“Amirrr…!” Surti membuka pintu dengan penuh semangat. Amira yang sedang asyik membaca novel pun terkaget-kaget dan hampir saja novel yang dipegangnya terlempar. “Apaan sih, Sur… ” jawab Amira sedikit kesal. Tanpa menghiraukan kekesalan temannya itu, Surti segera memperlihatkan sesuatu yang dipegangnya kepada Amira. “Ini lho Mir… gua punya mainan baru. Nggak perlu lagi deh beli buku baru. Nggak perlu lagi menuh-menuhin rak dengan novel-novel. Ni gua punya eBook Reader. Buat baca buku nih, Mir. Nyari eBook kan sekarang banyak bertebaran di internet, gratis lagi…” jelas Surti dengan satu tarikan napas. “oo… gitu ya. Coba, lu punya buku apa?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di eReader yang ia punya, Surti pun menunjukkannya pada Amira.”Ini nih… gua ambil dari internet, trus gua simpen di word”. Amira pun dengan seksama memperhatikan tulisan di layar. “Kok tulisannya kecil-kecil gini sih Sur… nggak keliatan tau!”. Surti hanya bisa menggaruk-garukkan kepalanya. “iya ya…”

Apa format eBook favorit anda? Sebagian besar eReader saat ini telah mendukung hampir seluruh format eBook yang ada. Jika eReader anda tidak mendukung format tertentu, atau anda lebih menyukai suatu jenis format eBook, anda dapat mengubah format eBook yang anda punya menjadi format yang anda inginkan. Sebenarnya banyak software yang menawarkan fasilitas untuk mengkonversi beberapa jenis format eBook. Salah satu diantaranya adalah Calibre. Software ini mampu menkonversi ke dan dari hampir seluruh format eBook. Namun sebagai referensi, Calibre memilih format LIT, MOBI, EPUB, FB2, HTML, PRC, RTF, PDB, TXT, PDF sebagai format terbaik.

Format eBook yang paling banyak digemari saat ini adalah ePub. Keunggulan dari format ini adalah ukuran huruf yang bisa diperbesar atau diperkecil , namun dengan ukuran halaman yang sama dan mampu menyesuaikan bentuk dari perngkat yang digunakan. Dari segi ukuran file pun, ePub mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran TXT.

Berikut ini cara mengubah format eBook menggunakan Calibre
  1. Install Calibre. Software dapat diunduh di sini
  2. Buka Sorftware Calibre
  3. Klik “Add Books”. pilih file eBook yang ingin anda ubah. lalu klik open. akan tertampil list eBook yang anda buka di layar.
  4. Blok file-file yang ingin anda ubah
  5. Klik “Convert Books”. akan tertampil pengaturan output hasil konversi. di bagian pojok kanan atas, pilih format output yang anda inginkan. klik OK
  6. Tunggu beberapa saat selagi Calibre mengkonversi format sesuai yang anda inginkan. Proses konversi berlangsung ditandai dengan berputarnya lingkaran pada bagian pojok kanan bawah. Setelah lingkaran tersebut berhenti berputar, berarti hasil file yang anda konversi telah tersedia.
  7. Untuk membuka lokasi file, klik kanan file yang anda konversi, pilih “Open containing folder”

Namun tidak semua file ebook dapat anda konversi. Ebook dengan proteksi DRM (digital rights management) tidak akan mampu terbaca oleh Calibre. DRM ini adalah bentuk perlindungan terhadap pembajakan yang akan mengunci file sehingga hanya dapat dibuka oleh perangkat tertentu. Untuk membaca file yang memiliki DRM, anda harus menghilangkan DRM-nya terlebih dahulu. Ada beberapa software untuk menghilangkan DRM ini, salah satunya adalah Mobipocket DRM Removal (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MDR). Untuk melakukannya, anda harus menggunakannya bersama software Mobipocket Reader (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MR). Caranya:
  1. Buka MR lalu buka MDR
  2. Jika pada MDR, PID anda belum terdeteksi,periksa kembali di MR. Klik “Reading Device” > “Edit Properties” > copy PID anda yang tertampil, lalu paste pada kolom PID di MDR.
  3. Buka file eBook yang diinginkan
  4. Klik “Remove DRM”

“Amir.. liat nih… koleksi buku dan komik gua udah ribuan… gratis lagi” pamer Surti. Amira hanya menjawab pelan “hmm… emangnya lu mau baca semuanya tuh buku? satu buku aja kelarnya berbulan-bulan gitu…” Surti pun cuma bisa nyengir.

eBook Reader

Apa ada yang aneh? Saat orang lain mengidam-idamkan tablet, saya memimpikan eBook reader dengan layar hitam-putih. Yang dari segi harga, tidak jauh berbeda dengan tablet namun dengan fasilitas yang sangat terbatas.

anonim: “wah.. punya tablet nih?”
saya: “bukan tablet nih…!”
anonim: “apaan dong?”
saya: “eBook Reader. Buku”
anonim: “bisa buat apa aja?”
saya: “ya buat baca, enak bisa ditenteng-tenteng. layarnya itam putih pula, nggak capek kalo baca lama2 kayak di komputer.”
anonim: “bisa internetan juga?”
saya: “cuman cek imel doang, kalo pas ada wireless.”
anonim: “ooo….”
anonim lagi: “kenapa nggak beli tablet aja sekalian?”
………..dan begitulah seterusnya……..

Percakapan tersebut sering terjadi jika seorang teman yang mendapatkan saya sedang membaca dengan eBook reader. Agak susah menjelaskannya memang, berhubung jalan pikiran saya berbeda dengan kebanyakan orang. Kebanyakan orang akan berpikir, sangatlah menyenangkan memiliki tablet yang handy dan bisa digunakan untuk hampir semua fungsi yang bisa dilakukan oleh komputer. Bisa internet, game, baca+edit dokumen, foto, video, de-el-el. Sedangkan saya, adalah orang yang tidak begitu tertarik All-In-One gadget. Saya telah sangat nyaman menjelajahi dunia maya, main game, mengedit lagu atau membuat video de-el-el, dengan Axioo saya yang telah terinstall begitu macam software yang menarik.

Sampai suatu saat saya merasakan kesulitan saat harus membaca komik ataupun novel elektronik di layar komputer. Mata jadi cepet capek. Alhasil, saya pun mengidam-idamkan barang ini sejak 2 tahun lalu. Ebook Reader, dengan teknologi e-Ink yang menghasilkan citra hitam-putih dan sangat nyaman di mata.

Bahkan misua pun sempat melayangkan pandangan aneh saat saya malu-malu kucing untuk minta dibelikan eBook reader di suatu pameran buku.

misua: “beneran, mau ini?”
saya: *mengangguk*
misua: “hitam putih?”
saya: *mengangguk lagi*
saya lagi: “biar enak buat baca, mata jadi nggak cepet capek”
misua: *terdiam sebentar*
misua lagi: “ya sudah, kalo emang pengen”
berdua: *terdiam*
misua lagi: “yakin nih?”
saya: “HO’OH!”
misua: *nyengir*

Alhasil, terbelilah eReader impian. meskipun tidak setenar Kindle atau Sony PRS atau Onyx Boox, pilihan jatuh pada iRiver buatan korea. Alasannya? jelas, harga lebih murah dari ketiga merek tenar diatas. Dan meskipun tidak setenar tablet, gadget ini telah sukses membuat saya diberi title aut*s oleh misua. Yeah, i love this gadget!

Tips & Tricks: Konversi Format eBook

“Amirrr…!” Surti membuka pintu dengan penuh semangat. Amira yang sedang asyik membaca novel pun terkaget-kaget dan hampir saja novel yang dipegangnya terlempar. “Apaan sih, Sur… ” jawab Amira sedikit kesal. Tanpa menghiraukan kekesalan temannya itu, Surti segera memperlihatkan sesuatu yang dipegangnya kepada Amira. “Ini lho Mir… gua punya mainan baru. Nggak perlu lagi deh beli buku baru. Nggak perlu lagi menuh-menuhin rak dengan novel-novel. Ni gua punya eBook Reader. Buat baca buku nih, Mir. Nyari eBook kan sekarang banyak bertebaran di internet, gratis lagi…” jelas Surti dengan satu tarikan napas. “oo… gitu ya. Coba, lu punya buku apa?” tanya Amira. Setelah memencet-mencet tombol di eReader yang ia punya, Surti pun menunjukkannya pada Amira.”Ini nih… gua ambil dari internet, trus gua simpen di word”. Amira pun dengan seksama memperhatikan tulisan di layar. “Kok tulisannya kecil-kecil gini sih Sur… nggak keliatan tau!”. Surti hanya bisa menggaruk-garukkan kepalanya. “iya ya…”
-
Apa format eBook favorit anda? Sebagian besar eReader saat ini telah mendukung hampir seluruh format eBook yang ada. Jika eReader anda tidak mendukung format tertentu, atau anda lebih menyukai suatu jenis format eBook, anda dapat mengubah format eBook yang anda punya menjadi format yang anda inginkan. Sebenarnya banyak software yang menawarkan fasilitas untuk mengkonversi beberapa jenis format eBook. Salah satu diantaranya adalah Calibre. Software ini mampu menkonversi ke dan dari hampir seluruh format eBook. Namun sebagai referensi, Calibre memilih format LIT, MOBI, EPUB, FB2, HTML, PRC, RTF, PDB, TXT, PDF sebagai format terbaik.
-
Format eBook yang paling banyak digemari saat ini adalah ePub. Keunggulan dari format ini adalah ukuran huruf yang bisa diperbesar atau diperkecil , namun dengan ukuran halaman yang sama dan mampu menyesuaikan bentuk dari perngkat yang digunakan. Dari segi ukuran file pun, ePub mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran TXT.
-
Berikut ini cara mengubah format eBook menggunakan Calibre
  1. Install Calibre. Software dapat diunduh di sini
  2. Buka Sorftware Calibre
  3. Klik “Add Books”. pilih file eBook yang ingin anda ubah. lalu klik open. akan tertampil list eBook yang anda buka di layar.
  4. Blok file-file yang ingin anda ubah
  5. Klik “Convert Books”. akan tertampil pengaturan output hasil konversi. di bagian pojok kanan atas, pilih format output yang anda inginkan. klik OK
  6. Tunggu beberapa saat selagi Calibre mengkonversi format sesuai yang anda inginkan. Proses konversi berlangsung ditandai dengan berputarnya lingkaran pada bagian pojok kanan bawah. Setelah lingkaran tersebut berhenti berputar, berarti hasil file yang anda konversi telah tersedia.
  7. Untuk membuka lokasi file, klik kanan file yang anda konversi, pilih “Open containing folder”
Namun tidak semua file ebook dapat anda konversi. Ebook dengan proteksi DRM (digital rights management) tidak akan mampu terbaca oleh Calibre. DRM ini adalah bentuk perlindungan terhadap pembajakan yang akan mengunci file sehingga hanya dapat dibuka oleh perangkat tertentu. Untuk membaca file yang memiliki DRM, anda harus menghilangkan DRM-nya terlebih dahulu. Ada beberapa software untuk menghilangkan DRM ini, salah satunya adalah Mobipocket DRM Removal (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MDR). Untuk melakukannya, anda harus menggunakannya bersama software Mobipocket Reader (untuk selanjutnya, disingkat sabagai MR). Caranya:
  1. Buka MR lalu buka MDR
  2. Jika pada MDR, PID anda belum terdeteksi,periksa kembali di MR. Klik “Reading Device” > “Edit Properties” > copy PID anda yang tertampil, lalu paste pada kolom PID di MDR.
  3. Buka file eBook yang diinginkan
  4. Klik “Remove DRM”
“Amir.. liat nih… koleksi buku dan komik gua udah ribuan… gratis lagi” pamer Surti. Amira hanya menjawab pelan “hmm… emangnya lu mau baca semuanya tuh buku? satu buku aja kelarnya berbulan-bulan gitu…” Surti pun cuma bisa nyengir.

October 08, 2011

Road to our little – Step 4 – HSG

Bagi yang ingin menyimak coretan sebelumnya, silakan berkunjung ke coretan-coretan edisi “Road to our little” yang lain disini.

Tes HSG ( HisteroSalfingoGrafi). Ada yang bilang ditiup/tiup rahim, ada juga yang bilang rontgen rahim. Awalnya sih saya nggak ngerti apa dan bagaimana tes HSG ini. Tapi setelah browsing-browsing di inet, menemukan artikel ini:

Pada pasangan yang infertil (tidak subur), sering dilakukan pemeriksaan yang dinamakan HSG (Histero-salpingo-grafi). HSG dilakukan guna mendeteksi kondisi rahim dan saluran indung telur. HSG mempergunakan sinar X dan cairan khusus yang memberikan reaksi warna putih jika di beri sinar X, sehingga akan “tercetak” bentuk rahim dan saluran indung telur (tuba). Sehingga dokter dapat menentukan ada tidaknya kerusakan atau sumbatan pada saluran reproduksi dimaksud. sumber

Tapi yang membuatku sedikit deg-deg-an adalah pada bagian ini:

Dimasukkan spekulum untuk memperlihatkan mulut leher rahim.
Kateter kecil lalu dimasukkan ke dalam rahim melalui liang leher rahim.
Zat pewarna rontgen lalu dimasukkan perlahan2 ke dalam rahim lewat kateter.

Hiyy… bayangin, sesuatu dimasukkan ke dalam tubuh kita. Yang jelas, pasti rasanya berbeda dengan USG Transvagina. Apalagi ngeliat testimoni para blogger yang pernah melakukan tes HSG ini. Ada yang bilang sakit banget, ada yang bilang sakit biasa. Tapi ada juga yang bilang nggak sakit. Ah, untuk yang terakhir pasti hanya testimoni yang memberi keberanian pada mereka yang akan menjalani tes HSG.

Pada hari kedua menstruasi, saya pun segera menghubungi bagian radiologi RS Haji. Saya pun dijadwalkan untuk melakukan tes HSG pada hari ke-11, yaitu hari Jum’at. Ketika hal ini saya infokan ke suami, ternyata suami nggak bisa nemenin, karena pas dia jadi juri buat lomba karya inovasi…. Hiks…. Sedihnya hati ini… Gelisah tak menentu… (halah, lebay). Untungnya mbakku bersedia nemenin.

Malam sebelum hari-H, keberanianku sempat menciut dan berfikir untuk mundur saja. Apalagi sang suami sedang tidak ada di samping. Tapi dengan bismillah, akhirnya tekadku pun bulat kembali. Pagi harinya, sepanjang perjalan, tak sedikitpun keinginan untuk mundur ataupun rasa takut muncul. Anehnya, malah terngiang-ngiang musiknya Beethoven yang “symphony no7″, dengan irama yang menghentak-hentak . Entahlahlah, hati ini tampak sedang bersemangat sekali menanti serangkaian tes di hadapan.

Kami tiba di lab radiologi pukul 9.45. Berkat mbak yang menemani, tak terasa nama saya akhirnya dipanggil juga pada pukul 11.15. Jantung mulai berdegup lebih kencang, saat memasuki ruang radiologi. Pertama saya disuruh untuk mengosongkan kandung kemih alias pipis, lalu berganti pakaian khusus pasien. Kemudian saya diminta untuk berbaring sembari sang petugas membetulkan letak peralatan yang akan digunakan untuk mengambil foto rontgen. Setelah itu saya pun diminta untuk duduk kembali dan meninggalkan saya sendiri untuk memanggil si dokter radiologi. Pada saat itu saya dihadapkan pada beberapa peralatan yang tergeletak di meja di samping saya. Ada selang, penjepit, alat suntik dengan maupun tanpa jarum, dan juga mangkok kecil yang berisi air berwarna merah kecoklatan. Berkat berburu informasi dari internet, saya sudah bisa membayangkan fungsi dari masing-masing alat.

Setelah beberapa saat, sang petugas kembali lagi, “Bu, tunggu sebentar ya, dokternya lagi ada USG.” Yeah… nggak papa lah… Dan selama waktu menunggu pun, musik Beethoven “symphony no7″ pun kembali terngiang-ngiang. Kali ini intro movement no.4. Halah… ini sih namanya korban Nodame Cantabile.

Lebih dari seperempat jam saya menunggu, akhirnya bu dokter datang juga. Dengan singkat bu dokter memberikan penjelasan dan menjelaskan bahwa reaksi dari tes HSG ini memang berbeda-beda pada tiap orang. Saya pun hanya mengangguk. Kali ini saya disuruh duduk di ujung meja, lalu berbaring dengan kaki berpijak di pinggir meja pula, kalo istilah jowone “ngangkang”.

Seperti yang pernah dijabarkan di situs, saya merasakan tiap langkah yang dilakukan. Pada saat spekulum dimasukkan melalui mulut rahim, saya sempat kaget, dan bu dokter meminta saya untuk relaks saja. Saya pun mencoba untuk lebih me-relaks-kan diri lagi. Setelah Spekulum terpasang, saya merasakan sesuatu bergerak ke dalam rahim saya. Ya, kateter mulai dimasukkan dan rasa mulas mulai terasa. Beberapa saat kemudian saya merasakan sesuatu mengaliri perut bagian bawah saya, dan rasanya nyeri. Seperti nyeri ketika sedang haid hari pertama, hanya saja bagi saya yang tidak pernah merasakan nyeri yang berlebihan pada hari pertama, rasanya tetap lebih menyakitkan dibandingkan nyeri haid. Bu dokter pun meminta saya untuk mengambil nafas teratur. Tarik nafas dari hidung, hembuskan lewat mulut.

Setelah bu dokter selesai memasukkan cairan ke tubuhku, saya diminta untuk mundur dan berbaring dengan kaki lurus. Dengan menahan rasa sakit, saya pun melakukan apa yang diinstruksikan. Lalu saya merasakan papan rontgen yang saya tiduri mulai bergerak miring sehingga posisi kepala berada lebih bawah dibandingkan dengan kaki. Sampai dengan tahap ini, rasa nyeri sudah berkurang, hanya terasa penuh di perut. Setelah beberapa saat, papan rontgen mulai kembali ke posisi semula, dan saya pun diminta untuk miring ke kiri sejenak lalu miring ke kanan untuk difoto. Sampai dengan pemotretan yang terakhir, rasa sakit pun sudah hilang. Saat bu dokter mempersilakan untuk tetap berbaring sampai rasa sakit saya hilang, saya hanya tersenyum dan berkata bahwa sudah tidak terasa sakit lagi. Saya pun dipersilakan turun dan berganti baju. Seperti yang dianjurkan oleh pada sebuah blog yang pernah kukunjungi, saya pun memakai pembalut agar sisa cairan rontgen tertampung di pembalut.

Secara keseluruhan, proses tes tidaklah lama. Mungkin hanya sekitar 5-10 menit. Dan rasa sakit yang dialami saat tes pun hanya sebentar. Well… I did it!! Alhamdulillah…

Karena waktu telah menunjukkan pukul 11.45, saya dan mbak pun memutuskan untuk mencari makanan di kantin sembari menunggu hasil tes keluar. Pukul 12.30, kami kembali lagi ke lab radiologi untuk mengambil hasil test, namun ternyata hasil tersebut belum keluar, Terpaksa kami menunggu kembali. Pada tahap ini, rasa nyeri mulai menyerang kembali. Nah, sakit yang ini yang lebih menyakitkan daripada sakit yang saya rasakan pada saat tes. Mungkin karena intervalnya yang lebih lama. Sempat berpikir juga untuk pulang saja dan mengambil hasil tes pada malam harinya. Namun tak beberapa lama kemudian si petugas pun memanggil namaku. Ajaibnya, saat berjalan menuju tempat pengambilan hasil rontgen, rasa sakit yang baru saja saya rasakan sedikit demi sedikit mulai berkurang. Terlebih saat saya membuka hasil lab: “Bentuk normal dan besar. Tuba faloppi patent.”

Alhamdulillah…

Kami pun segera pulang untuk menghindari datangnya rasa sakit susulan. Kali ini selama perjalanan yang terngiang-ngiang adalah musiknya Gershwin yang “Rhapsody In Blue”, dengan irama yang kocak dan ceria. Haha… ya.. saya lagi bahagia…

So far so good… Ready 4 the next step…