Di suatu desa, tinggallah sepasang suami-istri yang baru saja dikaruniai seorang bayi mungil yang cantik, bernama Suci. Telah lama mereka menantikan sang buah hati. Dan kini kehidupan mereka sangatlah berbahagia dengan hadirnya buah hati di dalam hidup mereka.
-
Setiap hari sang ayah bekerja di ladang untuk mencari nafkah, dan si ibu dengan penuh kasih sayang merawat Suci. Meskipun sang ayah selalu tidak ada di rumah saat siang hari, sang ibu tidaklah sendirian di rumah. Bleki, seekor anjing kampung yang selalu meminta makan pada si ibu, sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Meskipun ia tidak pernah diperbolehkan masuk ke dalam rumah, Bleki selalu berada di sekitar rumah, seperti seorang penjaga.
-
Pada suatu pagi, seprti biasa sang ibu bergegas untuk pergi ke pasar membeli sayuran. Dan seperti biasa pula, Bleki menunggu di depan pintu mengamati si ibu yang hendak pergi. Si ibu berkata, “Bleki, ibu titip Suci ya, tolong jaga rumah ini sampai ibu kembali lagi ke rumah”. Seolah mengerti dengan perkataan si Ibu, Bleki menggonggong seakan hendak mengatakan “Oke bu!”. Si ibu hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju ke pasar.
-
Beberapa waktu berselang, saat Bleki berbaring santai di depan pintu, ia mendengar ada sesuatu yang aneh di dalam rumah. Ia pun berdiri dengan empat kakinya. Telinganya tegak, dan moncongnya mengendus-endus. Insting-nya mengatakan ada sesuatu yang berbahaya di dalam rumah. Tak lama berselang, bayi Suci yang tadinya tertidur pulas di ranjangnya, kini menangis dengan sangat kencang. Bleki lalu ikut menggongnggong dengan keras, berharap ada orang lain yang mendengar tangisan Suci. Ia terus menggongngong tapi tak ada satu orangpun yang menghampiri.
-
Di balik kebimbangannya, Bleki terpaksa masuk ke dalam rumah. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor ular yang begitu besar berada tepat di samping Suci. Dengan garangnya, Bleki mengeram dan menerkam ular itu. Terjadilah perkelahian antara Bleki dan si ular. Bleki sempat terlilit oleh si ular, dan hampir saja kehabisan napas. Namun dengan penuh keberanian, digigitnya ular itu dengan keras sehingga akhirnya lilitan ular itu mengendur. Dan akhirnya ulah itupun jatuh mati.
-
Tak jauh di depan pekarangan, si ibu tengah menenteng seluruh belanjaan yang ia beli di pasar. Dari kejauhan, sayup-sayup ia mendengar tangisan anaknya. Dengan rasa cemas, si ibu bergegas masuk ke dalam rumah. Betapa kagetnya si ibu, ketika melihat Bleki berada di dalam rumah, dengan moncong yang berlumuran darah. Si ibu bergegas melihat kamar Suci, dan ia lihat darah berceceran di lantai. Si ibu pun sedih, marah dan kecewa. Ia pikir Bleki, yang telah ia percaya sebagai bagiandari keluarganya, telah menggigit anak satu-satunya yang sangat ia dambakan. Emosi dan amarah merasuki jiwa si ibu. Ia pergi ke dapur dan mengambil sebuah sapu. Ia genggam sapu itu erat-erat, dan berlari menuju ruang tamu. Di sana ia lihat Bleki dengan napas terengah-engah.
-
Bleki hanya terdiam menatap si ibu. Ia tidak tahu mengapa si ibu memegang sapu dan berlari ke arahnya. Dan dalam waktu yang sangat singkat, ia merasakan pukulan yang sangat hebat. Si ibu telah memukulnya keras-keras menggunakan sapu yang ia pegang. Bleki sangat kelelahan setelah berkelahi dengan si ular, sehingga ia tidak dapat menghindari pukulan yang dilayangkan oleh si ibu. Ia merasa sangat kesakitan. Ia pun belari terpincang-pincang keluar dari rumah. Ia tidak mengerti apa kesalahan yang telah ia lakukan. Yang dapat ia dengar hanyalah si ibu yang yang terdengar sangat marah dan berteriak sambil menangis.
-
Di dalam rumah, ibu menangis sambil meraung-raung. Ia sangat marah atas perlakuan Bleki yang dulu sangat ia percayai. Setelah beberapa saat, saat amarah si ibu mulai mereda, ia teringat akan bayinya yang terbaring di atas ranjang. Ia pun menghapus air matanya dan bergegas menggendong bayinya yang masih menangis. Si ibu menggendong Suci dengan erat, ia berharap luka Suci tidaklah parah. Namun anehnya, ketika si ibu memeriksa tubuh Suci, ia tidak menemukan satupun luka di tubuh Suci. Si ibu pun merasa sangat heran. Darah berceceran di lantai namun Suci tidak terluka. Lalu, darah siapakah ini?
-
Betapa kagetnya si ibu ketika ia melihat tepat di bawah ranjang terdapat bangkai ular yang lumayan besar. Cukup besar untuk dapat menelan bayi yang baru lahir. Si ibu terdiam. Ia baru sadar bahwa Bleki bukanlah hendak mencelakai bayinya, namun sebaliknya, ia ingin menyelamatkan bayinya. Bleki, seekor anjing kampung yang tidak begitu besar, telah mempertaruhkan dirinya untuk melindungi si bayi. Si ibu pun terduduk lemas. Ia telah melakukan kesalahan besar. Tak seharusnya ia memukul Bleki. Dengan gemetar, ia melangkah kakinya ke arah pintu, berharap Bleki masih disana. Namun tak seperti yang ia harapkan. Bleki tidak disana. Ia tidak disana seperti biasanya, dan tidak akan pernah seperti biasanya. Si ibu pun menangis. Penyesalan kini menyelimuti dirinya.
-
*Ah, dari sekian banyak dongeng yang Mama ceritakan padaku dulu saat aku masih kecil, cerita ini yang paling melekat. Kenapa harus sad ending? mungkin di situ letak menariknya. Life doesn’t always have a happy ending.
-
Setiap hari sang ayah bekerja di ladang untuk mencari nafkah, dan si ibu dengan penuh kasih sayang merawat Suci. Meskipun sang ayah selalu tidak ada di rumah saat siang hari, sang ibu tidaklah sendirian di rumah. Bleki, seekor anjing kampung yang selalu meminta makan pada si ibu, sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Meskipun ia tidak pernah diperbolehkan masuk ke dalam rumah, Bleki selalu berada di sekitar rumah, seperti seorang penjaga.
-
Pada suatu pagi, seprti biasa sang ibu bergegas untuk pergi ke pasar membeli sayuran. Dan seperti biasa pula, Bleki menunggu di depan pintu mengamati si ibu yang hendak pergi. Si ibu berkata, “Bleki, ibu titip Suci ya, tolong jaga rumah ini sampai ibu kembali lagi ke rumah”. Seolah mengerti dengan perkataan si Ibu, Bleki menggonggong seakan hendak mengatakan “Oke bu!”. Si ibu hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju ke pasar.
-
Beberapa waktu berselang, saat Bleki berbaring santai di depan pintu, ia mendengar ada sesuatu yang aneh di dalam rumah. Ia pun berdiri dengan empat kakinya. Telinganya tegak, dan moncongnya mengendus-endus. Insting-nya mengatakan ada sesuatu yang berbahaya di dalam rumah. Tak lama berselang, bayi Suci yang tadinya tertidur pulas di ranjangnya, kini menangis dengan sangat kencang. Bleki lalu ikut menggongnggong dengan keras, berharap ada orang lain yang mendengar tangisan Suci. Ia terus menggongngong tapi tak ada satu orangpun yang menghampiri.
-
Di balik kebimbangannya, Bleki terpaksa masuk ke dalam rumah. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor ular yang begitu besar berada tepat di samping Suci. Dengan garangnya, Bleki mengeram dan menerkam ular itu. Terjadilah perkelahian antara Bleki dan si ular. Bleki sempat terlilit oleh si ular, dan hampir saja kehabisan napas. Namun dengan penuh keberanian, digigitnya ular itu dengan keras sehingga akhirnya lilitan ular itu mengendur. Dan akhirnya ulah itupun jatuh mati.
-
Tak jauh di depan pekarangan, si ibu tengah menenteng seluruh belanjaan yang ia beli di pasar. Dari kejauhan, sayup-sayup ia mendengar tangisan anaknya. Dengan rasa cemas, si ibu bergegas masuk ke dalam rumah. Betapa kagetnya si ibu, ketika melihat Bleki berada di dalam rumah, dengan moncong yang berlumuran darah. Si ibu bergegas melihat kamar Suci, dan ia lihat darah berceceran di lantai. Si ibu pun sedih, marah dan kecewa. Ia pikir Bleki, yang telah ia percaya sebagai bagiandari keluarganya, telah menggigit anak satu-satunya yang sangat ia dambakan. Emosi dan amarah merasuki jiwa si ibu. Ia pergi ke dapur dan mengambil sebuah sapu. Ia genggam sapu itu erat-erat, dan berlari menuju ruang tamu. Di sana ia lihat Bleki dengan napas terengah-engah.
-
Bleki hanya terdiam menatap si ibu. Ia tidak tahu mengapa si ibu memegang sapu dan berlari ke arahnya. Dan dalam waktu yang sangat singkat, ia merasakan pukulan yang sangat hebat. Si ibu telah memukulnya keras-keras menggunakan sapu yang ia pegang. Bleki sangat kelelahan setelah berkelahi dengan si ular, sehingga ia tidak dapat menghindari pukulan yang dilayangkan oleh si ibu. Ia merasa sangat kesakitan. Ia pun belari terpincang-pincang keluar dari rumah. Ia tidak mengerti apa kesalahan yang telah ia lakukan. Yang dapat ia dengar hanyalah si ibu yang yang terdengar sangat marah dan berteriak sambil menangis.
-
Di dalam rumah, ibu menangis sambil meraung-raung. Ia sangat marah atas perlakuan Bleki yang dulu sangat ia percayai. Setelah beberapa saat, saat amarah si ibu mulai mereda, ia teringat akan bayinya yang terbaring di atas ranjang. Ia pun menghapus air matanya dan bergegas menggendong bayinya yang masih menangis. Si ibu menggendong Suci dengan erat, ia berharap luka Suci tidaklah parah. Namun anehnya, ketika si ibu memeriksa tubuh Suci, ia tidak menemukan satupun luka di tubuh Suci. Si ibu pun merasa sangat heran. Darah berceceran di lantai namun Suci tidak terluka. Lalu, darah siapakah ini?
-
Betapa kagetnya si ibu ketika ia melihat tepat di bawah ranjang terdapat bangkai ular yang lumayan besar. Cukup besar untuk dapat menelan bayi yang baru lahir. Si ibu terdiam. Ia baru sadar bahwa Bleki bukanlah hendak mencelakai bayinya, namun sebaliknya, ia ingin menyelamatkan bayinya. Bleki, seekor anjing kampung yang tidak begitu besar, telah mempertaruhkan dirinya untuk melindungi si bayi. Si ibu pun terduduk lemas. Ia telah melakukan kesalahan besar. Tak seharusnya ia memukul Bleki. Dengan gemetar, ia melangkah kakinya ke arah pintu, berharap Bleki masih disana. Namun tak seperti yang ia harapkan. Bleki tidak disana. Ia tidak disana seperti biasanya, dan tidak akan pernah seperti biasanya. Si ibu pun menangis. Penyesalan kini menyelimuti dirinya.
-
*Ah, dari sekian banyak dongeng yang Mama ceritakan padaku dulu saat aku masih kecil, cerita ini yang paling melekat. Kenapa harus sad ending? mungkin di situ letak menariknya. Life doesn’t always have a happy ending.